Avoid Differences

Avoid Differences
Episode 23



sesaat Riko meremas baju zirah yang ia kenakan..


"aku sudah tau jawabannya! dan sebenarnya sejak awal aku juga sudah tau..hanya aku tak pernah ingin mengatakan semuanya!"


"apa kau tau arti kesepian yang sebenarnya?"


"kesepian tak berarti sendiri , sepi hening dan gelap.."


"tapi kesepian itu ketika kau harus menanggung semuanya sendirian..!!"


"kesepian itu ketika hanya kau yang dapat mendengar tangisanmu , juga ketika hanya kau yang sesak karnanya.."


"arti seorang teman bukan hanya seseorang yang selalu ada..tapi yang bersedia..menerima dan mendengarkan tangisanmu kapanpun itu.."


"sekalipun aku punya saudara...."


"tak ada yang pernah mendengar isak tangisku yang selalu saja ku tahan , ketika ia memaksa untuk keluar!"


ucap Riko mengutarakan semua isi pikiran dan perasaan nya terhadap Lumi yang telah berhasil membuat air mata Riko kembali mengalir deras sperti saat itu.


"tak pernah ada orang yang bersedia mendengarkanku , memahamiku yang begitu sulit bergaul dan berbaur dengan orang lain.."


"bodoh!! apa yang aku pikirkan! mengapa aku mengatakan semuanya!!!" batin Riko segera mengusap air matanya dan bergegas pergi namun ,


"hey.." panggil Lumi menghentikan langkah kaki Riko saat ia bergegas keluar dari perpustakaan.


"apa kau pernah berpikir penderitaan orang lain akan menghapus penderitaanmu?" tanya Lumi sambil tersenyum tipis.


"apa maksudmu?" balas Riko lalu berbalik dan terkejut melihat tetes pertetes air jatuh dari mata Lumi ,


"apa..maksudmu..?"


"sperti yang orang lain katakan..tentang melihat penderitaan orang yang lebih sulit dari ku.."


"hey..apa kau pikir jika penderitaan orang lain lebih sulit di banding dirimu , itu berarti kau tidak menderita?" tanya Riko stelah mengusap air matanya dan tersenyum manis pada Lumi.


itu pertama kalinya Riko tersenyum manis di dunia aneh itu .


seolah Riko adalah jalan keluar bagi Lumi atas penderitaan dan kesendiriannya yang ia hadapi selama ini.


selang beberapa menit kemudian..


"apa Riko marah padaku?" batin Louis ketika sedang meminum segelas sirup yang di hidangkan di meja jamuan .


"ya sudah aku tak ingin mengganggunya..tapi aku juga tak ingin ia terus terusan marah padaku.." batin Louis beranjak ke kamar Riko.


"tok tok..Riko? apa kau berada di dalam?"


"hmph..apa lagi yang kau lakukan..mengapa kau tidak menikmati pestanya bersama para bangsawan sombong itu?"


"ayolah..apa kau masih marah?" tanya Louis lagi dan seketika..


"krieek.."


"eh? apa pintunya tidak di kunc.." gumam Louis namun ,


kata katanya terhenti saat mendapati Riko memakai kaos santai , tidak terlihat seperti biasanya, Riko saat itu terlihat begitu feminim dan mempesona..


"can..cantik.." ucap Louis dengan wajah semakin memerah ,


"bodoh..apa yang kau lakukan!? cepat tutup pintunya!!!" teriak Riko melemparkan bantal ke arah Louis yang terdiam di pintu kamar.


"ma..maafkan aku..!" ucap Louis lalu bergegas keluar dan menutup pintu kamar Riko.


"huaw..tak kusangka Riko bisa berpenampilan sperti itu!" batin Louis bersandar di balik pintu kamar Riko ,


sambil menutup mulutnya dengan wajah yang semakin lama semakin memerah.


"huft..yang benar saja..masuk ke kamarku tanpa izin!!" ucap Riko lalu kembali ke tempat tidur namun,


ia menginjak sesuatu yang tadi jatuh saat Riko melemparkan bantal ke arah louis.


"eh?!"