
"benar..lagi pula pasti aku sudah tidak di butuhkan di party sialan itu!"
"hei? bagaimana? apa kau mau?"
"oh..tentu aku mau..mohon bimbingannya yah.."
"hahah..pilihan yang bagus..kalau begitu ikut aku.."
sesaat orang itu pun menarik Nadin dan menekan tombol teleport di layar elektronnya.
"aku adalah ketua party ini..namaku Fredrick.. kau bisa memanggilku Fred..sebagai anggota party kau membutuhkan atribut , aku akan memberikanmu gelang sihir ini.."
"agar aku bisa tau kemana pun kau akan pergi ," kata Fred lalu mengeluarkan sebuah gelang dari layar eletronnya.
"huaw..terima kasih..ini sangat bagus ,"
"hahah..kenapa tidak sejak dulu saja aku bergabung di party ini..cih..aku bahkan tak pernah di beri barang couple sperti mereka.." batinnya sambil mengerutkan kening ,
"sekarang kau bebas pergi kemana pun , lalu besok kita akan menjalankan quest bersama di wilayah timur , ku harap kau bisa bekerja sama dengan kami.."
"oh..tentu saja.."
"aku tak akan memberitahukan ini pada orang orang sialan itu! aku akan berangkat subuh agar mereka tak menyadari keberadaanku.."
tak kusangka ini akan sangat mudah..hahah!" batinnya saat berjabat tangan dengan ketua party barunya itu..
di istana..
"huft..mengapa makhluk egois itu belum pulang..apa dia memintaku untuk mencarinya..ah sudahlah aku tak peduli.." batin Riko lalu merebahkan dirinya di tempat tidur..
tak lama kemudian ,
"Hei Rikko!!! ambillah ikat Rambut jelek ini!"
"kembalikan padaku!!!" teriak seorang anak kecil berambut panjang dan terurai..
"cih!! bodoh! kau sampai seperti itu untuk ikat rambut jelek ini?puft! sana ambil!" kata orang itu melemparkannya ke genangan lumpur di belakang Riko kecil itu..
"duh! basah! huaaa! ibu pasti marah! kalau aku tidak ikat rambut..hiks!" ujar Riko kecil itu
"hei..mengapa kau menangis?"
"ik..ikat rambutku..kalau aku tidak mengikat rambut..ibu akan marah.." balasnya sambil tetus mengusap air matanya..
"mm..apa ibu mengizinkannya?"
"itu lebih baik di banding tidak mengikat rambut bukan? ehe.."
"mm..baiklah.." Riko kecil itupun pergi bersama lelaki seumurannya itu ,
selang beberapa menit kemudian ,
"akhirnya selesai juga..hehe..ku rasa sekarang kau semakin cantik..!" kata anak itu tersenyum manis ke arah Riko ,
"benarkah!?"
"iya , sekarang kau bisa pulang dan menunjukannya pada ibumu..aku yakin dia tidak akan marah.."
"huaa! terima kasih! aku akan segera pulang!" ucap Riko kecil lalu berlari keluar namun sekejap ia berhenti ,
"hei kau! aku belum menanyakan namamu! siapa namamu?"
"namaku..."
"BRUK!"
"hah!!?" sesaat Rumah anak itu terbakar dan anak itu sekejap hilang di telan api..
"APA YANGH!??" teriak Riko kaget saat ia terbangun dari tidurnya..
"apah...itu cu..cuma mimpi.." ujar Riko dengan nafas terengah engah dan mata yang terbelalak..
"apa itu hanya mimpi..siapa anak itu?"
"aku..benar benar lupa!.." sesaat Riko pun berdiri dan berniat pergi ke perpustakaan untuk melihat Rekaman masa lalunya bersama Lumi.
namun langkahnya terhenti saat melihat Rambut pendeknya di depan Cermin meja Rias milik Nadin.
"apa benar itu hanya mimpi?"
"mengapa aku merasa begitu mengenalnya..jika dia temanku mengapa sampai sekarang aku tidak mengingatnya , sebaiknya aku tanyakan pada Lumi di per--"
"IAAAA! TO!..TOLONG AKU!"
"hah!? LUMI!?"