Avoid Differences

Avoid Differences
Episode 22



9 tahun yang lalu..


"Tak!...tak!!" terdengar suara keras dari Ruang tengah,..


tak lama setelah suara keras itu berhenti..terlihat seorang anak kecil berambut panjang berusia sekitar lima tahunan terpojok di sudut Ruangan saat itu .


"ma..maafkan aku ibu.." kata anak itu gemetaran dan terus menutupi dirinya yang di pukuli habis habisan oleh ibunya dengan kayu tipis yang panjang ,


"RIKO! SUDAH KUKATAKAN BERKALI KALI UNTUK TIDAK CENGENG! DAN JANGAN PERNAH MEMBANTAH KAKAK KAKAKMU!"


yups..anak itu adalah Riko..anak yang lemah dan di pilih kasihkan oleh kedua orang tuanya hanya karena alasan yang TIDAK MASUK AKAL!.


ibu itu pun melanjutkan pukulannya Hingga Riko kecil terluka ,


"ma..maafkan aku ibu.." hanya kata itu saja yang dapat ia utarakan ketika itu , terutama emosi yang meluap luap dari ibunya membuatnya takut dan terus menahan air matanya.


"anak spertimu! sbenarnya APA GUNA MU DI DUNIA INI!" teriak ibu Riko lagi dengan nada tinggi dan masih terus meluapkan emosinya pada anak kecil yang lemah dan tak berdaya itu.


"ma..ma..maafkan..aku ibu.." lagi lagi ia hanya bisa menjawab dengan kata kata yang sama dan dengan berlinang air mata.


"aku bosan mendengarnya! sudahlah! dasar!" keluh ibu itu lalu melemparkan kayu tipis itu ke arah Riko kecil dan bergegas pergi.


walau ibunya telah pergi, Riko kecil masih saja gemetaran di sudut ruangan itu.


ia terus saja gemetaran dengan luka luka di sekujur tubuhnya.


"apa aku seburuk itu?"


Riko kecil terus bertanya tanya dalam hatinya selagi menahan air matanya yang memaksa untuk keluar..


"aku tak boleh menangis..jika tidak..ibu akan marah.." kata Riko kecil lagi dengan mata yang semakin berkilauan .


Riko kecil pun menatap ke samping tempat ia duduk dan berkata...


namun anak itu terus menahan mulutnya agar tak mengeluarkan suara yang dapat terdengar sampai ke telinga ibunya..hingga ia pun merasakan sakit ketika menangis TANPA SUARA..


dadanya terasa begitu sesak..karna tak sperti anak anak lain yang ketika menangis mereka berteriak memanggil ibu mereka ,


Riko malah harus menahan perihnya menangis sembunyi sembunyi tanpa mengeluarkan suara.


apa ini yang membuat seeorang begitu menyedihkan ketika kesepian.." batin Riko kecil perlahan lahan menguatkan dirinya untuk kembali berdiri tegak.


Riko , anak yang kini tengah berusia 14 tahun dan sekolah di smp terbaik di kotanya ,


anak terakhir dari empat bersaudara, dan dengan ketiga kakaknya yang melanjutkan pendidikan di luar kota, hingga mengharuskannya untuk tinggal di rumah hanya bertiga dengan ke dua orang tuanya.


tentu tidak mengherankan jika seorang ibu dan ayah merindukan anaknya yang sekolah ke luar daerah namun , yang mengherankan adalah sikap berlebihan ke dua orang tuanya , yang melebih lebihkan mereka dalam segala hal.


sejak hari itu , Riko pun tak pernah menunjukan air matanya lagi pada siapapun terkecuali dirinya sendiri .


Riko pun tumbuh menjadi seseorang dengan hati sedingin es..juga tatapan dan gaya bicara layaknya menggambarkan hatinya yang beku karna tak pernah mendapatkan kehangatan.


usai melihat Rekaman masa lalunya, Riko pun terdiam dan tertunduk .


"apa..itu aku?" ucap Riko seolah tak percaya ,


"apa aku melupakannya? atau apakah aku..sengaja tak peduli?"


satu demi satu pertanyaan terus bermunculan di pikiran Riko.


"Hey..apa aku bisa menangis?" tanya Riko sambil mengepal tangan dan katana yang ia bawa.


mendengar itupun Lumi hanya terdiam tanpa menjawab atau memberi sepatah kata pun..


"apa hal sperti itu harus kau tanyakan?" balas Lumi , ....