
Setelah sampai di kamarku yang cukup luas ini aku langsung menghempaskan tubuhku di ranjang kingsize milikku. Setelah ku rasa tubuhku lumayan segar, aku langsung menyambar handuk yang terletak di nakas dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk mandi .
Setelah aku selesai mandi aku mendengar bunyi ponsel menandakan ada pesan yang masuk. Aku tersentak kaget saat melihat nama sang pemilik pesan itu " Farel " ya nama itu berhasil membuat mataku terbelalak. Untuk apa dia mengirim pesan?. Ini lah yang aku takutkan kalau aku memberi nama seluruh akun sosial media milikku, dia pasti akan menggangguku.
"Hai"
"Ngapain lo ganggu gue? Gue lagi sibuk!!"
"Lo lagi sibuk ya? Ya udah deh maaf kalau gue ganggu"
"Udah deh kalau Lo lagi ada perlu sama gue cepetan bilang. Gak usah pake basa basi."
"Gue Gak ada perlu kok sama Lo. Gue cuma mau ngobrol aja sama Lo. Tapi kalau Lo sibuk Gak papa kok. Gue ngerti. Sekali lagi maaf yaa."
"Gak papa kok"
" eh Lo lagi ngapain?"
"Gak lagi ngapa-ngapain. Baru selesai mandi"
"Oh pantas wangi."
Ucapan itu berhasil membuat pipiku merona.
"Oh jadi maksud Lo selama ini gue bau? Gitu? Ihh ngeselin lo"
"Gak gitu maksud gue. Justru setiap gue di dekat Lo gue selalu nyaman sama aroma wangi tubuh Lo. Udah gitu cantik lagi. "
Ucapan itu lagi dan lagi membuat pipiku merona.
"Dih apaan sih Lo. Bisa aja gombal nya."
Aku berusaha menutupi kesalahan tingkahann yang sedang aku alami saat ini.
"Gue Gak gombal kali. Gue ngomong sesuai fakta dan kenyataan. Lo emang wangi dan cantik banget"
"Tau ahh. Ehh ngomong-ngomong gue banyak tugas nih dari Pak surya. Gue boleh ngerjain tugas gue dulu Gak? sorry yaa"
Aku baru teringat kalau aku memiliki tugas yang menumpuk dari Pak surya. Walaupun besok lusa baru di kumpulkan tapi aku Fikir tidak cukup waktu dalam sehari mengerjakannya. Aku memang berniat mengerjakan tugas itu mulai sore ini. Dan kini waktunya sudah datang.
"Ya boleh lah. Masa orang mau ngerjain tugasnya Gak boleh?ya udah Lo kerjaan Gih sana. Maaf banget yaa udah ganggu waktu Lo. Makasih udah mau ngobrol sama gue. Walaupun hanya sebentar. Nanti lain kali kita sambung lagi yaa obrolan kita"
Jawab Farel dengan pengertian.
"Oke Sipp. Byee"
Entah kenapa jariku memaksaku membalas chatting nya dengan lembut.
Setelah itu aku bergegas mengambil buku-buku tebal ku dengan menarik nafas dalam. Entah kenapa aku haru ini sangat malas mengerjakan tugas. Padahal selama ini aku sangat rajin mengerjakan tugasku jauh sebelum waktunya untuk di kumpulkan, apalagi setelah tadi Farel mengajak aku mengobrol , aku jadi berat meninggalkan obrolan kami yang lagi asyik itu, mungkin itu salah satu alasan aju sangat malas mengerjakan tugas
"Dih kok gue jadi kesel berhenti ngobrol sama Farel? Harusnya Gak perlu kesel. Bukannya selama ini gue sangat malas bila di ajaknya ngobrol. Tapi kenapa saat ini berbeda? Entah kenapa Gue sangat berat meninggalkan obrolan gue dan Farel. Entahlah ini sungguh aneh!!"
Aku berbicara di dalam batinku.
pagi ini entah kenapa aku sangat bersemangat untuk menuntut ilmu.
********
"hai rel. Syukur deh Lo Gak hampir telat lagi."
Ucap Sherly.
"iya dong gue Gak mau ngelakuin kesalahan lagi."
Balasku mantap.
"Ehh tapi bentar deh . Kok Lo kayaknya semangat banget hari ini? Emang ada apaan?"
Tanya Audy padaku.
"Emang selama ini gue Gak pernah semangat sekolah? Enak aja lo."
Elakku dengan keras.
"Dari tadi gue perhatiin Lo senyum-senyum sendiri?emang ada apaan sih? Gue juga penasaran nih."
Jessica bertanya denganku sembari memasang muka penasarannya
"Dihh siapa yang senyum sendiri ? Emang gue orang gila? Parah Lo sama Temen sendiri."
Aku kembali mengelak dengan keras.
"Bohong. Pasti ada yang Lo sembunyikan dari kita? Ya kan? Jawab yang jujur rel."
Pinta Sherly menjawab jujur denganku.
"Tau ahh. Terserah deh kalau kalian Gak mau percaya sama gue."
Aku berlalu dari mereka menuju kelas. Mereka tampak mengikuti dari belakang dan menyamai langkahku.
"Ya udah deh kita minta maaf ya rel. Abisnya kita penasaran banget sama Lo . Kayak ada yang beda aja sama Lo. Semangat banget hari ini. Terus pake senyum gitu. Kan jadi buat kita tambah penasaran."
Ucap Jessica sembari menahan lengan kU.
"Nah Bell udah bunyi tuh. Mending kita masuk. Daripada di tegur guru. Ayuuk"
Ajakku pada teman-temanku dan dibalas dengan anggukan setuju dari mereka. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku bisa semangat sekali hari ini. Semenjak kejadian semalam. Membuatku jadi berubah. Setelah sampai di kelas aku langsung bersiap-siap untuk menerima ilmu hari ini.
********
Bell istirahat
Aku mendapati Farel dan teman-tenan nya di ambang pintu kelas ku
"Haii"
"Hai juga"
Balasku sembari tersenyum simpul.
"Boleh ke kantin bareng?"
Tanya Farel denganku. Aku lihat sedari tadi ketiga temanku hanya diam menatap keanehan aku pada Farel. Aku juga bingung pada diriku sendiri , kenapa aku bisa bersikap manis seperti ini dengan Farel? Entahlah.
"Hhmmm"
Aku berkata sembari melirik temanku pertanda aku meminta pendapat mereka.
"Boleh kok"
Jawab Jessica.
"Ya kan rel, Sherly, Audy?"
Pertanyaan Jessica dan sentuhan lengannya membuat aku sedikit kaget.
"Iya"
Balasku. Sherly dan Audy secara bersamaan.
Lalu kami pergi ke kantin bersama. Aku dan Farel berjalan di bagian paling belakang. Sedangkan temanku dan Farel sudah berjalan lebih dulu.
"Hai, Gimana tugasnya udah selesai?"
Sapaan dan pertanyaan farel membuat aku menoleh padanya dan dia langsung memberi senyum manis padaku. Dan hal itu kembali membuat pipiku memanas.
"Hai juga. Belum semua sih tinggal sedikit lagi."
Ucapku dengan wajah yang masih menunduk karena menutupi pipiku yang merah padam ini karena senyumannya tadi tiba-tiba ada sepasang tangan yang mengangkat daguku dengan lembut. Sontak hal itu membuat aku kaget. Dan berhenti melangkah
"Kamu kenapa sih kalau ngomong menunduk?Aku kan disini bukan di lantai."
Ucapan lembut itu keluar dari mulut Farel.
"Gak papa kok. Ehh ngomong-ngomong kok Lo ngomong nya pake aku kamu? Alay tau Gak!"
Aku mengalihkan pembicaraan dan berusaha kembali menutupi pipiku yang merona . Entah kenapa aku jadi salah tingkah berhadapan dengan Farel sekarang.
"Ya Gak papa dong? Kok alay? Biar keliatan lebih akrab aja."
Ucap Farel dengan penjelasannya.
"Tapi alay ah. Gue Gak biasa. Jadi kaku tau kalau kayak gitu."
Aku juga memberi penjelasan.
"Ya udah kalau kamu belum terbiasa Gak papa kok. Tapi kalau aku akan tetap ngomong aku kamu sama kamu. Aku akan nunggu sampai kamu terbiasa."
Ucap Farel dengan nada lembutnya sembari mengacak rambutku pelan.
"Ehh kok kita malah ngobrol di sini. Yang lain pasti udah pada makan di kantin deh. Ya udah yukk"
Ucapan Farel membangunkan aku dari lamunan ku. Ia mengajakku sembari memegang tanganku erat. Mengapa aku tidak marah? Dengan tindakan lancang Farel ini yang memegang tanganku seenaknya.
"Ehh kalian dari mana sih? Lama banget datengnya"
Ucap Ryan teman Farel
Saut Audy dengan rasa sok tau nya.
Aku menatap tajam ke arah Audy yang membuat Audy takut dengan tatapan tajamku.
"Ya udah deh maaf"
Ucap Audy dengan tampang memelasnya.
"Ya udah kamu mau makan apa? Biar aku pesenin yaa"
Tawar Farel denganku sembari tersenyum manis. Yang lagi dan lagu membuat aku salah tingkah.
"Gue mau bakso aja deh"
Ucapku dengan mantap. Karena perutku memang sudah sangat lapar sedari tadi.
"Ya udah aku pesenin dulu yaa"
Ucap Farel dan berlalu segera memesan makanan yang aku pesan. Tak butuh waktu lama Farel sudah membawa dua mangkuk bakso di tangannya.
"Ini bakso nya. Di makan yaa"
Ucap Farel dengan perhatiannya. Aku langsung menatap makanan itu dengan tidak sabarnya untuk melahap bakso itu.
"Ya iyalah masa Gak gue makan? Ngapain pesan kalau Gak mau di makan"
Jawabku dengan jutek. Dan membuat tawa temanku dan Farel pecah seketika.
"Heran deh gue sama Lo rel. Dari dulu sampe sekarang masih aja jutek sama Farel. Awas Ntar nyesel."
Ucap Jessica memperingatkanku dan dia langsung aku hadiahi sebuah tatapan tajam yang terlihat seperti singa lapar.
"Ya udah lanjut lagi makan nya . Ntar keburu masuk. Makanan nya belum habis."
Farel mengingatkan kami agar tak membuang waktu jstirahat yang singkat ini.
Krriinggg...krriiingggg...
Bell masuk telah berbunyi dengan nyaring.
"Ya udah masuk kelas yuk"
Ajakku pada temanku dan di balas dengan anggukan setuju dari mereka.
Tapi dengan sigap Farel menahan lengan dan membuat dahiku mengerinyit tak mengerti.
"Aku mau ngajak kamu pulang bareng. Kamu mau Gak?"
Pertanyaan Farel membuat mataku membulat sempurna. Apa maksudnya ingin pulang bersama denganku.
"Hhmm"
Aku bingung dengan tawaran Farel.
"Terima aja. Kasian dia . Masa Lo mau buat dia kecewa? . Dia udah berubah kok Rel. Lo Gak perlu takut di apa-apain."
Jessica berbisik di telingaku. Sembari menyentuh lengan kU.
"Bukan gitu maksud gue. Gue tau dia udah berubah. Tapi gue Gak mungkin ninggalin temen gue.
Aku membalas perkataan Jessica dengan berbisik juga.
"Lo tenang aja. Kita Gak papa kok. Kita juga ngerti perasaan Lo gimana. Lo terima yaa tawaran dia. Kasian loh dia."
Ucap Jessica memperingatkan kU.
"Kalau Lo Gak mau Gak papa kok"
Ucapan Farel berhasil membuat aku dan Jessica menghentikan pembicaraan kita yang berbisik tadi.
"Kita liat nanti aja yaa. Yukk masuk kelas."
Ajakku pada temanku. Sedangakan Farel dan teman-teman nya masih terlihat mematung di depan kelasku.
"Rel. Lo apaan sih? Gue kan udah bilang terima tawaran dia. Lo Gak perlu khawatir in kita. Kasian Farel. Dia udah berharap banget sama Lo. Tapi Lo hancur in harapan itu. "
Ucap Jessica. Jessica mungkin kaget mendengar ucapanku tadi dengan Farel.
"Iya rel Lo Gak perlu mikirin kita. Lo tenang aja Kita baik-baik aja kok. Kenapa Gak Lo terima tawaran Farel?"
Audy ikut berbicara.
"Apa susah nya sih rel . Cuma pulang bareng doang? Kita ngerti perasaan Lo. Kita bisa liat dari mata Lo . Lo natap Farel itu beda banget. Gue Gak pernah sebelumnya ngliat Lo Natap cowok sedalam itu rel. Dan gue yakin itu tatapan cinta kan rel?"
Sherly kembali bertanya padaku. Dan membuat mataku membulat sempurna.
"Cinta? Siapa yang cinta sama dia? Gue Gak cinta sama Farel!"
Ucapku dengan tegas.
"Ya udah terserah. Lo bisa bohong sama kita. Tapi Lo Gak bisa bohong sama perasaan Lo sendiri. Kalau Lo masih melakukan hal itu, gue bisa pastikan Lo akan tersiksa bohong sama perasaan Lo sendiri. "
Ucap Jessica memperingati kU.
"Gak tau ah. Kita ganti topik pembicaraan aja. Jangan ngomongin Farel terus."
Aku mencoba mengalihkan pembicaraan ini.
"Gue harap Lo ngerti in perasaan Farel. Cuma pulang bareng rel. Dia Gak minta apa-apa kan dari lo? Gue mau liat lo sama Farel bahagia. Itu doang."
Ucap Jessica dengan nada lirih. Kenapa teman-temanku sangat menginginkan aku pulang dengan Farel.
"Gue yakin Rel, Farel itu cowok yang tepat buat Lo. Dia rela ngerubah sikap sombong dan angkuhnya demi Lo. Apa semua itu kurang sebagai bukti kalau Farel itu bener cinta sama Lo?"
Tanya Sherly .
"Kalian kenapa secepat ini yakin kalau Farel cinta sama gue?Sedangkan dia sendiri belum menyatakan apa-apa soal perasaannya ke gue?"
Aku kembali berbalik bertanya kepada temanku.
"Gimana dia mau nyatain perasaannya sama Lo? Sikap Lo yang masih cuek dan jutek sama dia membuat dia jadi makin takut Menyatakan perasaannya."
Ucap Audy.
"Lo harus coba rel menerima dia datang kedalam kehidupan Lo. Walaupun ini menurut Lo terlalu cepat. Tapi gue yakin Lo pasti bisa nerima dia yang tiba-tiba aja dateng kedalam kehidupan Lo . Dan gue juga yakin kalau dia bisa bahagia in Lo meskipun dia baru kenal Lo dan sebaliknya. "
Ucap Sherly sembari mengelus pundakku.
"Bukankah ini terlalu cepat buat gue nerima dia?"
Tanya aku bingung. Sekarang aku jadi serba salah.
"Kalau emang Lo cinta sama dia , begitu pun sebaliknya, kenapa harus Lo tolak?"
Lagi dan lagi Sherly menjawab dengan yakin. Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan yang sangat berbaik hati denganku karena mengirimkan teman yang baik untukku. Mereka selalu ada untuk ku. Aku memeluk erat ketiga temanku. Dengan perasaan bingung menyelimuti diriku.
**********
Bell pulang telah berbunyi.
"Rel Lo ingat kan ucapan kita tadi? Lo harus coba bersikap manis sama dia."
Audy memperingatkan aku dengan lembut. Aku balas dengan anggukan sembari tersenyum kecil. Sebenarnya aku juga bingung dengan perasaan ini. Apa cinta itu udah mulai tumbuh? Diantara gue dan Farel? Entahlah.
"Hai. Jadi Kamu mau Gak pulang bareng sama aku? Aku janji Gak berbuat macam-macam sama kamu. Aku janji."
Terlihat sekali wajah memohon yang di tunjukkan Farel denganku. Aku masih terdiam dengan pertanyaan Farel ini.
"Hhmmm
Aku melirik temanku. Mereka mengangguk sembari tersenyum mengisyaratkan kalau mereka setuju.
"Iya gue mau kok"
Ucapku singkat sembari tersenyum simpul.
"Serius mau? Ya udah kalau gitu ayukk ikut aku. Aku mau ambil motor aku dulu."
Aku baru teringat sesuatu . Jika aku pulang bersama Farel , bagaimana dengan motor kesayanganku? Tidak mungkin Motorkubaku biarkan tinggal di sekolah. Aarrgggh!!
"Eh tapi kalau gue pulang bareng sama Lo, terus motor gue gimana? Masa iya mau di tinggal?"
Ucapku sembari mengerucutkan bibirku.
"Kamu tenang aja . Nanti aku suruh supir aku buat datang ke sekolah terus bawa motor kamu. Gimana?"
Tanya Farel meminta persetujuan kepadaku.
"Ya udah deh"
Jawabku pasrah. Aku melirik teman-temanku yang tersenyum senang melihat sikapku yang mulai sok manis ini.
------------------------------------