
Ruang Aula yang di pakai untuk acara cerdas cermat ini sudah di padati oleh para murid. Beberapa perwakilan dari masing-masing kelas sudah ada yang berlomba. 5 menit lagi giliran kelas Aurel dan kelas Laura lah yang akan berhadapan. Laura sudah tampak bersiap-siap. Namun Aurel? Dimana dia? Ia sama sekali tak terlihat di aula ini.
"Duh kamu dimana sih sayang?"
Ucap Farel khawatir sembari mencari Aurel. Namun tak juga di temukan. Tadi pagi Farel tak menjemput Aurel. Karena Aurel mengatakan, kalau ia akan pergi sendiri. Awalanya Farel menolak karena alasan Aurel yang menurutnya tak jelas. Namun Aurel memaksa, ya sudah akhirnya Farel menyetujui nya.
"Farel Lo liat Aurel Gak?"
Tanya Jessica yang tiba-tiba datang mengahmpiri Farel di ikuti Audy dan Sherly pula.
"Dari tadi gue juga cari dia, tapi Gak kelihatan."
"Loh, bukan nya Aurel berangkat bareng Lo?"
"Tadi dia bilang mau pergi sendiri."
Jessica mendesah kecewa. Sama halnya dengan Audy dan Sherly.
"Yah alamat nih Laura yang menang di perlombaan ini."
Ucap Sherly. Farel yang mendengarnya langsung menatap Sherly bingung.
"Laura? Maksudnya?"
Tanya Farel yang masih bingung dengan ucapan Sherly barusan.
"Lo Gak tau? Lawan Aurel kan Laura."
Farel membelalakan matanya saat mendengar penuturan Sherly. Jadi orang yang akan berhadapan dengan Aurel di perlombaan ini adalah Laura? Kenapa Aurel tidak memberitahunya?
Farel mulai merasa khawatir. Bukan nya ia meremehkan kemampuan kekasihnya itu. Namun keadaan Aurel saat ini membuat Farel tak yakin kalau kekasihnya itu bisa mengalahkan Laura. Walaupun jika di bandingkan, kemampuan Aurel dengan kemampuan Laura, jelas kemampuan Aurel lebih unggul daripada kemampuan Laura. Tapi, apakah semuanya akan sesuai dengan harapan Farel? Apakah kemampuan Aurel masih sama seperti saat sebelum kecelakaan itu terjadi?
"Baiklah peserta selanjutnya adalah Aurel Carelia dari kelas 11 IPA 1 melawan Laura Rebecca dari kelas 11 IPA 3"
Ucap sang pembawa acara.
Laura tampak sudah mengambil posisi di atas panggung. Suara riuh pendukung Laura pun sudah mulai terdengar memenuhi ruang aula ini.
Dimana Aurel? Aurel belum juga datang.
"Aduh Aurel dimana Nih"
Ucap Audy yang mulai khawatir.
Farel terus berusaha mencoba menghubungi Aurel. Namun nihil.
"Panggilan kepada Aurel Carelia untuk segera mengambil posisi."
Ucap sang pembawa acara lagi.
Laura tersenyum penuh kemenangan. Apa Aurel takut melawan nya hingga memutuskan untuk tak datang? Kalau memang begitu, sangat bagus.
"Baiklah. Kalau Aurel tidak datang, berarti dia di..."
"Tunggu"
Ucap Aurel yang berlari dan langsung mengambil posisinya. Nafasnya masih terengah-engah.
Farel dan ketiga teman Aurel langsung bernafas lega. Akhirnya Aurel datang juga.
Laura menatap Aurel sambil tersenyum sinis. Aurel pun membalas tatapan Laura dengan senyum penuh arti.
Sang pembaca soal sudah mulai membacakan soalnya. Aurel dan Laura mendengarkan nya dengan seksama.
Tinnnn
Tombol Aurel nyala terlebih dahulu, itu artinya Aurel yang menjawab. Dengan percaya diri Aurel menjawabnya.
"Ya jawaban kamu benar."
Ucap sang juri.
Riuh suara pendukung Aurel pun terdengar tak terkecuali Farel dan ketiga teman aurel.
Soal kedua.
Lagi-lagi di jawab oleh Aurel dan jawaban nya benar.
Soal ketiga
Soal keempat
Soal kelima
Soal keenam
Soal ketujuh
Soal kedelapan
Soal kesembilan
Semuanya di jawab Aurel dengan Sangat sempurna. Para penonton berdecak kagum pada Aurel. Walaupun ini bukan hal yang baru lagi bagi mereka. Karena mereka memang Sangat tau, kalau Aurel selalu menyandang gelar juara bertahan di setiap perlombaan. Laura menatap Aurel dengan kesal. Laura mulai kalut. Dan ini soal terakhir.
Tinnnn
Lagi dan lagi tombol Aurel lah yang lebih dulu berbunyi.
"Ya lagi-lagi jawaban kamu benar."
Ucap sang juri lagi. Yang membuat suasana kembali riuh.
Farel berdecak kagum pada Aurel. Ternyata harapan nya tercapai. Ia bersyukur atas keberhasilan kekasihnya dalam menjawab soal dengan sangat sempurna.
Aurel tersenyum penuh kemenangan.
"Farel is mine"
Bisik Aurel pada Laura saat telah diumumkan bahwa dialah pemenangnya.
Malu? Ini benar-benar sangat memalukan untuk Laura. Bagaimana bisa ia kalah dengan Aurel? Dan hal yang lebih membuat nya malu lagi, adalah karena dia yang dengan terlalu percaya diri nya memberikan tantangan ini pada Aurel, tetapi justru dia yang kalah atas tantangan nya sendiri.
Aurel langsung berlari menghampiri ketiga temannya dan Farel. Aurel berhamburan ke dalam pelukan teman-temannya.
"Sumpah Lo jenius banget"
"Aaa congrats ya rel."
"Keren banget Lo rel! Gokil!"
"Yeaayy ternyata gue bisa."
Ucap Aurel dengan sangat gembira.
Aurel melepaskan pelukannya dengan ketiga temannya. Kemudian melirik Farel yang sedang tersenyum padanya.
"I'm so proud of you"
Ucap Farel dengan tulus sembari tersenyum menatap kekasihnya itu.
Aurel langsung memeluk Farel dengan sangat erat.
"Makasih sayang"
Ucap Aurel di dalam pelukan Farel. Farel membalas pelukan Aurel tak kalah erat.
"Tapi kok bisa sayang? Ternyata kemampuan kamu masih sama ya?"
Tanya Farel.
Aurel melepaskan pelukannya. kemuadian menatap Farel dan ketiga teman nya sembari tersenyum penuh arti.
Flashback on
Aurel terbangun dari tidurnya.
"Awww"
Aurel merintih memegangi kepalnya yang sangat terasa sakit.
Aurel kemudian mengetik pesan untuk Farel. Agar Farel tak menjemputnya. Tidak mudah membuat Farel setuju. Namun dengan berbagai alasan, akhirnya Farel menyetujui juga.
Aurel memutuskan untuk ke Rumah Sakit terlebih dahulu sebelum ke sekolah. Ia juga sudah lama tak check up
*********
"Apa kamu terlalu banyak belajar, Aurel?"
Tanya sang dokter.
"Iya dokter. Belakangan ini saya banyak belajar."
"Sebenarnya yang kamu lakukan itu sangat fatal. Ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Yang pertama, kamu akan sembuh, Dan yang kedua, kamu akan mengalami pemutusan syaraf-syaraf penting bahkan syaraf pengingat kamu."
Jelas dokter yang langsung membuat Aurel takut.
"Tapi syukurlah, kamu ada pada kemungkinan pertama."
Ucap sang dokter sembari tersenyum.
"Ma...maksud dokter, saya sembuh?"
Tanya Aurel tak percaya. Dokter itu pun mengangguk.
Ini kabar bahagia. Ia sembuh di saat yang sangat tepat. Ia akan lebih mudah mengalahkan Laura.
Flashback off
"Aku sembuh"
Pekik Aurel girang.
Farel menatap Aurel dengan sangat bahagia. Sungguh ini Sangat membahagiakan.
"Yeayyy selamat ya rel."
"Akhirnya lo sembuh juga. Selamat ya. kita ikut seneng"
"Kita emang yakin kalau Lo bakal sembuh. See! Benar kan?"
"Thanks guys"
"Aku yakin ini pasti akan terjadi."
Kata Farel sembari mengelus pucuk kepala kekasihnya itu.
Dalam suasana bahagia ini, tiba-tiba Laura datang.
"Selamat ya rel."
Ucap Laura memberi selamat pada Aurel.
"Thanks Ra"
Balas Aurel pula.
"Sekarang Farel jadi milik lo. Karena Lo menang, jadi Lo Pantes buat dapetin Farel."
Kata Laura sambil tersenyum licik.
Aurel benar-benar kaget dengan ucapan Laura. Apa maksudnya?
"Dapetin gue? Maksud Lo?"
Tanya Farel yang tak mengerti.
"Gue sama Aurel udah janjian. Siapa pun yang menang dalam cerdas cermat ini, berarti dia lah yang Pantes dapetin Lo seutuhnya."
Kata Laura.
Aurel menggelengkan kepalnya tak percaya dengan ucapan Laura. Bukankah perlombaan ini hanya untuk membuktikan bahwa ia pantas untuk Farel? Bukan untuk mempertaruhkan Farel.
Farel menatap Aurel tak percaya dengan apa yang sudah di lakukan gadisnya ini.
"Kamu jadiin aku bahan taruhan?"
Tanya Farel lirih.
Aurel langsung menggeleng cepat.
"A...aku..."
Aurel bingung bagaimana cara menjelaskannya pada Farel.
"Jadi ini yang bikin kamu belajar mati-matian? Kamu boleh sekarang menang. Tapi kalau kamu kalah? Kamu mau nyerahin aku gitu aja ke Laura? Kamu kira aku barang? Iya?"
Tanya Farel dengan penuh emosi.
Kecewa! Ia benar-benar kecewa pada Aurel.
"Dan Lo Laura! Dengar gue bai-baik! Gue sama sekali Gak punya perasaan sama Lo! Jadi berhenti untuk ngelakuin apapun buat dapetin gue!"
Ucap Farel pada Laura penuh penekanan.
Farel kembali menatap Aurel.
"Aku benar-benar kecewa sama kamu."
Ucap Farel kemudian berlalu dari Aurel.
"Farel... Farel Gak gitu"
Teriak Aurel agar Farel mau mendengar penjelasan nya dulu. Namun tetap saja, Farel melanjutkan langkahnya tak menghiraukan teriakan aurel.
Kini air mata aurel sudah membasahi wajah cantiknya. Ia tak pernah menyangka kalau akhirnya akan seperti ini. Ia sangat menyesal karena sudah menerima tawaran Laura. Ia juga Benar-benar merasa bersalah karena sudah membuat orang yang dicintainya kecewa.
"Puas kan Lo! Sekarang Farel marah sama gue. Dan ini semua gara-gara Lo!"
Pekik Aurel pada Laura di dalam tangisnya.
Ketiga teman Aurel berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Aurel memutuskan untuk berlari mengejar Farel.
Hingga Aurel melihat Farel yang sepertinya sedang berjalan menuju kelasnya.
"Farel tunggu."
Ucap Aurel sembari berlari mengahampiri Farel. Lalu ia menahan lengan Farel agar Farel tak pergi dan mau mendengarkan penjelasannya.
Farel hanya diam tak menatap Aurel yang kini sudah ada di hadapan nya.
"Aku mohon sama kamu. Dengerin penjelasan aku dulu."
Ucap Aurel di di dalam tangisnya. Air matanya benar-benar tumpah.
Farel menatap aurel nanar. Ingin sekali rasanya Farel menghapus air mata yang telah jatuh di wajah kekasihnya itu menggunakan jemarinya. Namun rasa kecewanya sangat besar pada Aurel.
"Gak ada yang perlu di jelasin lagi. Semuanya udah cukup jelas. Kamu sangat berarti buat aku. Tapi apa aku Gak bisa berarti juga buat kamu? Sampai kamu jadiin aku bahan taruhan. Ini hati rel yang bisa sakit kalau di kecewain."
Jelas Farel dengan nada lirih.
"Tapi aku Gak bermaksud buat jadiin kamu bahan taruhan. Aku cu..."
"Aku butuh waktu sendiri. Dan kamu jangan ganggu aku dulu."
Ucap Farel lalu bergegas pergi meninggalkan Aurel yang masih Terisak.
Aurel Hanya mampu menatap kepergian kekasihnya dengan nanar. Tangis nya tak kunjung berhenti. Air matanya terus mengalir di wajah nya dengan sangat deras.
"Kamu sangat berarti buat aku. Sangat! Makanya aku ngelakuin ini. Apa aku salah memperjuangkan kamu agar aku bisa terus bersama kamu?"
Batin Aurel yang masih menatap kepergian Farel.
---