Aurel

Aurel
26



"Lo yakin rel mau nerima tantangan Laura?"


"Sebaiknya Lo pikirin baik-baik deh rel. Kata dokter, syaraf Lo belum pulih banget. Kalau lo ikut lomba itu, pasti Lo akan belajar mulu. Terus gimana sama keadaan syaraf Lo? Kalau Lo paksa gitu buat belajar."


"Iya rel. Kita tau bahkan semua murid di sekolah ini juga tau akan kemampuan otak Lo yang sangat jenius itu. Tapi sekarang waktu nya Gak tepat. Keadaan Lo belum baik banget. Apalagi syaraf Lo yang kemarin sempet rusak. "


"Ayo lah rel. Jangan berfikir gegabah. Ini semua menyangkut keselamatan Lo. Kalau Lo lebih milih menerima tantangan itu tanpa memikirkan kesehatan Lo, akibatnya bisa fatal rel. Lo ingat kata dokter kan?"


"Kita Gak mau kalau sampai terjadi apapun sama Lo."


Ya, Aurel memang sudah menceritakan soal tantangan Laura pada ketiga temannya. Jelas tiga temannya itu kurang setuju. Alasan mereka adalah keadaan Aurel yang belum terlalu pulih. Mereka hanya tak ingin, Jika nanti terjadi sesuatu yang buruk pada sahabat mereka. Jika syaraf Aurel di paksa untuk terus-menerus belajar, apakah semuanya akan baik-baik saja? Tentu tidak!


Karena dokter sudah mengatakan, kalau Aurel memaksa syaraf nya untuk terus-terusan berfikir keras, akibatnya sangat fatal.


"Gak bisa guyyss. Gue harus menerima tantangan itu. Lagian syaraf gue udah Gak papa kok. Keadaan gue juga udah semakin baik. Gue yakin kalau gue itu Pantes buat Farel. "


Ucap Aurel dengan mantap.


"Kalau Lo yakin, Lo itu Pantes buat Farel, terus ngapain lo nerima tantangan itu? Kalau Lo nerima tantangan itu, Laura akan semakin besar kepala. Dan dia akan membuat Lo kehilangan Farel kalau sampai Lo kalah dalam pertandingan itu."


Penuturan Audy membuat Aurel terdiam sejenak. Oh no!


Aurel tidak mungkin kehilangan Farel. Aurel tidak ingin kehilangan sosok laki-laki yang sempurna seperti Farel.


"Kalau gue Gak terima tantangan itu, justru Laura akan menganggap kalau gue takut Sama dia. Lagian ini semua gue lakuin, untuk mempertahankan Farel. Kalian Harus tau, kalau gue menang di pertandingan ini, Laura udah janji sama gue, kalau dia akan berhenti untuk menganggu hubungan gue sama farel."


Ucap Aurel.


"Tapi kalau Lo kalah? Lo udah rela kehilangan Farel? Apa Lo juga udah rela untuk menyerahkan Farel secara sia-sia untuk Laura? "


Oh Tuhan, ucapan Sherly berhasil membuat Aurel terdiam lagi. Bagaimana mungkin ia rela kehilangan Farel? Dan ia juga tak akan mungkin menyerahkan Farel secara sia-sia kepada Laura.


"Gak! Sampai kapan pun gue Gak akan rela Farel jatuh ke tangan orang lain. Dan gue akan berusaha semampu gue, untuk mempertahankan Farel. Supaya dia tetap jadi milik gue sepenuhnya."


Balas Aurel penuh dengan keyakinan.


"Tapi rel, kalau Lo ngelakuin ini, itu artinya Lo menjadikan Farel sebagai bahan taruhan. "


Ucap Jessica.


"Sumpah rel, jangan sampai Lo jadiin Farel sebagai bahan taruhan. Dia itu cowok yang sangat sempurna. Dia Gak Pantes untuk Lo jadiin bahan taruhan."


Ucap teman-teman Aurel dengan tak percaya atas jalan Fikiran sahabat mereka itu.


"Impossible guys. Gue Gak mungkin menjadikan Farel bahan taruhan. Kalian Fikir, gue Gak punya otak? Gue juga tau kalau Farel itu sosok laki-laki yang sempurna. Oleh karena kesempurnaan dia itu yang menjadikan alasan gue untuk mempertahankan dan menjaga dia dari siapapun yang mau Rebut dia dari gue."


Ucap Aurel yang tak setuju dengan ucapan teman-teman nya itu dengan penuh keyakinan.


"Farel sangat sempurna, Makanya gue Gak akan rela kalau sampai Farel jatuh ke tangan orang lain."


Lanjut Aurel lagi.


"Tapi Gak gini rel caranya. Lo bisa mempertahankan Farel dengan cara lain. Gak harus dengan tantangan yang Gak penting kayak gini."


"Iya rel. Masih banyak cara lain untuk mempertahankan dan menjaga Farel. Ngapain Lo sia-sia kan waktu Lo untuk nerima tantangan dari cewek gila itu."


"Dan Lo harus tau rel, kalau sampai Farel tau tentang masalah ini, dia pasti akan berfikir kalau Lo itu jadiin dia bahan taruhan, walaupun maksud Lo Gak kayak gitu. Lo harus fikirin ini baik-baik. Jangan sampe Lo kehilangan Farel cuma gara-gara tantangan dari Laura kayak gini."


Kini teman-teman Aurel masih membujuk Aurel, agar tak menerima tantangan dari Laura itu.


"Kalian tenang aja. Gue akan berusaha semampu gue, untuk mempertahankan Farel, dengan cara ini. Lagian keadaan gue udah baik-baik aja kok. Kalian Gak perlu khawatir."


Ucap Aurel. Ia masih bersikeras untuk mengikuti pertandingan itu.


Teman-teman Aurel menarik nafas mereka dengan pasrah. mereka harus bagaimana lagi? Mereka sudah berusaha membujuk Aurel untuk mundur dari pertandingan itu. Tapi mereka juga tak bisa pungkiri, kalau sahabat mereka memang memiliki satu sifat yang dari dulu hingga sekarang tak kunjung hilang, yaitu sifat keras kepala. Aurel memang memiliki sifat itu dari kecil. Bahkan hingga sekarang, sifat itu masih sangat nampak. Aurel paling tidak bisa di atur. Sangat sulit untuk membuat Aurel berpaling dari keinginan dan pilihan nya. Dan teman-teman Aurel sudah sangat hafal dengan sifat yang di miliki sahabat mereka itu. Karena mereka memang sudah mengenal Aurel dari mereka masih sangat kecil. Aurel dan teman-teman nya selalu melakukan apapun secara bersama dari kecil, jadi mereka sudah sangat mengenal sifat sahabat mereka itu. hal itulah yang membuat teman-teman Aurel sangat pasrah bila sifat keras kepala Aurel telah datang.


***


Kini Aurel dan Farel telah berada di taman sekolah. Tadi Aurel mengajak Farel ke taman ini karena ada hal yang harus ia bicarakan pada farel.


"Kamu mau ngomong apa sayang?"


Tanya Farel, karena sedari tadi Aurel tak kunjung memulai pembicaraan.


"Hhmm."


Balas Aurel dengan ragu. Dahi Farel berkerinyit melihat sikap aneh kekasihnya itu. Aurel masih tampak ragu untuk menceritakan soal perlombaan cerdas cermat itu.


"Kenapa sayang? Kamu mau ngomong apa sama aku?"


Tanya Farel lembut sembari mengelus rambut kekasihnya itu.


"kamu tau kan kalau minggu depan ada perlombaan cerdas cermat di sekolah kita?"


Tanya Aurel yang di balas anggukan oleh Farel.


"Nah aku bakal ikut lomba itu."


Ucap Aurel dengan ragu-ragu. Dan ucapan Aurel itu sontak membuat Farel membulatkan matanya dengan sempurna.


"Apa? Kamu mau ikut lomba cerdas cermat itu?"


Tanya Farel yang masih tak percaya dengan keputusan kekasihnya itu. Bagaimana ia tak kaget? Kekasihnya itu baru saja menjalani masa pemulihan untuk syaraf nya yang sedikit rusak usai kecelakaan kemarin, dan sekarang mau ikut perlombaan itu?


"Iya. Aku akan ikut perlombaan itu."


"Gak! Kamu Gak boleh ikut perlombaan itu. Kamu harus mikirin kesehatan kamu. Pliess sayang jangan melakukan hal yang bisa bikin aku khawatir sama kamu. Kamu belum sembuh banget. Pokoknya kamu Gak boleh ikut perlombaan itu!"


Ucap Farel dengan tegas tak terbantahkan. Tapi kesan lembut dari ucapan nya itu masih sangat terdengar jelas.


"Gak bisa sayang. Aku harus ikut perlombaan itu. Ini semua aku lakuin karena aku sayang banget sama kamu. Aku Gak mau kehilangan kamu."


Batin Aurel menjerit. Ia tak mungkin menolak tawaran Laura ini. Andai Farel tau tentang semua ini, pasti ia akan sangat marah pada Aurel, Karena Aurel yang mau menerima tantangan dari Laura itu demi membuktikan kalau dia sangat pantas untuk Farel. Tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi keputusan Aurel.


"Aku akan tetap ikut perlombaan itu. Aku udah baik-baik aja kok. Kamu Gak usah khawatir ya."


Ucap Aurel dengan tersenyum menatap Farel.


"Ya ampun sayang. Kamu kok susah banget sih di bilangin. Aku cuma Gak mau kamu kenapa2. Keadaan kamu belum pulih banget. Ya walaupun aku tau, kalau kemampuan otak kamu Gak bisa di ragukan, tapi tetap aja keadaan kamu belum memungkinkan untuk mengikuti perlombaan itu."


Jelas Farel dengan nada lembut.


"Aku Gak papa sayang. Kamu Gak usah khawatir . Semua nya akan baik-baik aja."


Ucap Aurel dengan sangat yakin. Aurel berusaha meyakinkan Farel kalau keadaan nya sudah baik-baik saja.


"Ya udah lah terserah kamu."


Ucap Farel yang kini sepertinya kecewa dengan Aurel. Bagaimana ia tak kecewa? Aurel sama sekali tak ingin mendengar nasihat nya. Padahal ini demi kebaikan nya.


"Hei. Plies Jangan marah dong sama aku. Aku mohon. Beneran deh keadaan aku udah baik-baik aja sayang"


Ucap Aurel sembari menangkup wajah Farel dan menatap manik-manik mata Farel dengan sangat dalam. Tetapi Farel hanya mengalihkan pandangan nya dari Aurel. Entah Mengapa ia sangat kecewa dengan kekasihnya itu.


"Kamu udah Gak sayang ya sama aku?"


Tanya Aurel pada Farel, karena sedari tadi Farel tak ingin menatap Aurel padahal wajahnya lagi di tangkup oleh aurel. Tetapi saat mendengar pertanyaan kekasihnya itu, farel langsung membalas tatapan hangat dari Aurel, lalu menggenggam tangan Aurel dengan erat.


"Aku bukan Gak sayang sama kamu. Justru aku sayang banget sama kamu. Bahkan aku sayang sama kamu lebih dari aku sayang sama diri aku sendiri. Karena aku sayang sama kamu, makanya aku Gak mau kamu kenapa-kenapa. Kalau kamu ikut lomba itu, otomatis kamu akan memaksa syaraf kamu untuk berfikir terus, dan itu akan berakibat fatal buat kamu sayang,"


Farel berusaha memberi pengertian kepada kekasihnya itu dengan sangat lembut.


"Kalau kamu sayang sama aku, harusnya kamu dukung semua keputusan aku."


Balas Aurel. Kenapa aurel jadi berbalik menasihati Farel?


"Aku akan dukung keputusan kamu, selama keputusan itu baik buat kamu. Tapi kalau keputusan itu, malah bikin kamu kenapa-kenapa, aku Gak akan mendukung Keputusan kamu itu."


Ucap Farel dengan nada tegas tapi kesan lembut nya tak pernah tertinggal.


"Keputusan ini baik kok buat aku. Jadi kamu harus dukung."


Balas Aurel dengan wajah memohon nya. Sehingga membuat Farel tak tega.


Farel menarik nafas nya dengan pasrah. Mau bagaimana lagi? Ia sangat tak tega melihat kekasihnya yang sangat memohon pada nya itu.


"Iya deh iya aku dukung."


Jawab Farel dengan pasrah. Ucapan Farel itu, sontak membuat Aurel tersenyum senang. Dan Aurel langsung berhamburan kedalam pelukan kekasihnya itu.


"Makasih sayang."


Ucap Aurel yang masih di dalam pelukan Farel.


"Tapi kamu harus ingat, jangan terlalu di fikirin lomba nya. Dan yang paling penting belajar nya jangan terlalu banyak supaya syaraf kamu Gak begitu di paksa,"


Perintah Farel yang kini sudah menatap Aurel.


"Gimana bisa aku gak fikirin lomba ini sayang? Ini adalah hal yang paling berarti buat aku. Supaya aku bisa selalu bersama kamu."


Batin Aurel dengan menatap Farel dalam.


"Janji Gak? Kalau kamu akan dengerin ucapan aku tadi?"


Ucap Farel yang memecahkan lamunan Aurel.


"Iya aku janji"


Balas Aurel dengan tersenyum lembut pada Farel. Sesaat kemudian Farel membawa Aurel kedalam pelukan nya lagi.


"Semoga aku bisa menang dalam perlombaan ini. Supaya Laura Gak ganggu hubungan kita lagi."


Batin Aurel lagi saat masih berada di dalam pelukan Farel.


"Siapa yang akan berhadapan sama kamu di perlombaan itu sayang?"


Tanya Farel saat Sudah melepaskan pelukannya dengan Aurel.


"Hhmm"


Aurel tampak berfikir sejenak. Apa ia harus menceritakan nya juga pada Farel?


"Aku belum tau sayang."


Ucap Aurel berdusta pada kekasihnya itu. Ia terpaksa berbohong pada kekasihnya. Ia hanya tak ingin Farel tau, kalau orang yang akan berhadapan dengan nya di perlombaan itu adalah Laura. Kalau sampai Farel tau, bisa-bisa Farel langsung menghajar perempuan itu karena telah berani mengusik kehidupan kekasihnya itu.


"Ya udah. Pokoknya siapapun lawan kamu, aku do'ain kamu menang ya."


Ucap Farel.


"Amiin. Makasih sayang."


Ucap Aurel sembari tersenyum pada Farel. Semoga saja do'a dan harapan Farel itu tercapai.


*****


Sedari pulang sekolah tadi hingga malam tiba, aurel sibuk bergulat dengan buku pelajaran nya. Ia tak henti-hentinya belajar. Semua mata pelajaran ia pelajari, terutama mata pelajaran yang akan di kompetisikan.


"Aurel turun yuk nak. kita makan malam dulu"


Tiba-tiba pintu kamar aurel terbuka dan menampakan mama nya di ambang pintu.


"Iya ma, nanti aja. Tanggung nih."


Jawab aurel yang masih terfokus dengan buku-buku pelajaran nya tanpa menoleh pada mamanya. mendengar ucapan putrinya itu, mama aurel menarik nafasnya dalam-dalam, ia mencoba untuk bersabar atas sikap putrinya yang melalaikan kesehatan nya. Mama aurel sangat khawatir dengan putrinya. Bagaimana tidak? Sedari pulang sekolah tadi, putrinya tidak kunjung keluar dari kamarnya. Ia sibuk bergulat dengan buku-buku pelajarannya, Tanpa istirahat bahkan aurel tidak makan sinag hari ini. Ia lebih mementingkan perlomabaan ini darpada kesehatannya. Ya, Aurel sudah bercerita pada kedua orangatua nya, kalau ia akan mengikuti perlombaan itu. Seperti para teman aurel dan farel, Awalnya mereka tidak setuju dengan keputusan aurel. Tetapi karena sifat keras kepala aurel yang memaksa mereka menyetujui keputusan putri kesanyangan mereka itu.


"Yaudah. Tapi jangan lupa makan ya nak."


Ucap mama aurel kagi yang di balas hanya dengan anggukan dari aurel. Lalu, mama aurel memutuskan untuk keluar dari kamar putrinya itu.


Ting!!


Tiba-tiba Ponsel aurel berbunyi, pertanda ada pesan yang masuk. Ini bukan pesan pertama yang masuk saat ini. Sebenarnya sudah banyak sekali pesan yang sedari tadi menghampiri ponsel aurel. Aurel yang masih sibuk dengan buku nya tak menghiraukan ponsel nya yang berbunyi sedari tadi itu. Ia masih tak beralih fokus dari buku-buku nya.


Ting!!


Ponsel aurel kembali berbunyi,sepertinya ada pesan yang masuk lagi tetapi ini bukan untuk kedua kalianya. Pesan yang masuk kali ini, adalah pesan yang kesekian kalinya masuk ke ponsel aurel. Tetapi tetap saja, aurel tak mengiharukan ponselnya yang sedang berbunyi itu. Sampai segitu nya aurel belajar? Sampai ponselnya berbunyi pun ia tak menghiraukannya? Oh tuhan, sepertinya aurel sangat Ambisius untuk memenangkan perlombaan itu. Bagaiman ia tak Ambisius? Jelas ia sangat ambisius, karena ini semua menyangkut kekasinya, farel.


Kring kring kring


Ponsel aurel kembali berbunyi. Tapi kali ini bukan pertanda pesan yang masuk, tetapi ini adalah pertanda kalau ponsel aurel sedang menerima panggilan yang masuk.


"Siapa sih? Ganggu aja deh."


Ucap aurel denan kesal. Ia merasa terganggu hanya dengan satu pangilan? Akhirnya aurel memutuskan untuk meraih ponsel nya di nakas.


Seketika mata aurel membukat sempurna. Betapa terkejutnya ia, saat mendapati banyak sekali pesan dan panggilan dari kekasihnya, farel. Ya, jadi orang yang sedari tadi menghubungi aurel adalah farel.


Assalamualaikum


Wa'alaikumsalam. Kamu dari mana aja sih sayang? Dari tadi aku WA gak di balas, telfon juga gak di angkat. Aku khawatir sama kamu, gak biasa nya kamu kayak gitu."


Ucap farel yang sepertinya kecewa dengan sikap aurel yang tak menanggapi pesan dan telfon darinya.


Iya maaf sayang.


Kamu kayak gini pasti karena belajar terus kan? Ya ampun sayang, kamu jangan terlalu maksain keadaan kamu. Keadaan kamu belum sembuh banget. Lagian ini udah malam, seharusnya kamu istirahat."


Ucap farel panjang lebar. Aurel yang mendapat peringatan hanya mampu menarik nafas pasrah.


Farel sangat khawatir dengan keadaan kekasihnya kini. Bagaiman tidak? Ini sudah malam, tetapi aurel masih sibuk belajar. Harus nya ia beristirahat bukan belajar.


Pokoknya sekarang kamu istirahat! Belajar nya uah dulu, besok aja di lanjutin!"


Perintah farel dengan nada lembut namun dengan tegas tak terbantahkan.


Iya deh aku belajarnya udah nih.


Balas aurel padrah. Lalu ia menutup bukunya dengan pasrah pula.


Kamu udah makan malam?


Tanya farel menyelidik pada aurel


Hmmm


Aurel tampak berfikir sejenak. Ia harus bilang apa pada farel? Kalau farel tau ia belum makan malam bahkan belum makan sejak tadi siang? Pasti farel akan makin marah padanya.


Pasti belum deh


Aurel terdiam sejenak, mengapa farel tau dia belum makan malam? Tapi aurel dapat bernafas lega, karena farel hanya tau dia belum makan malam. Bagiaman kalau farel tau dia belum makan sejak tadi siang? Pasti farel akan sangat marah pada kekasinhya itu. Bahkan mungkin farel akan memperingati aurel sedikit keras.


Iya aku belum makan malam. Kamu udah?


Tanya aurel yang berusaha mengalihkan oembicaraan. Agar farel tak marah padanya.


Aku udah makan malam. Yaudah, sekarang kamu makan dan langsung istirahat ya. Jangan belajar lagi!"


Ucap farel dengan memerintah tapi dengan nada lembut.


Iya sayang. Yaudah, aku mau makan dulu ya. Bye, I love you


I love you too


Sambungan telfon pun terputus. Akhirnya, aurel memutuskan untuk merapikan buku-bukunya, lalu bergegas turun ke lantai bawah menuju meja makan untuk makan malam.


*****


"Ma, pa. Aurel berangkat sekolah dulu ya. Assalamualaikum"


Pamit aurel sembari mencium punggung tangan kedua orang tuanya usai sarapan bersama.


"Wa'alaikumsalam. "


Balas mama dan papa aurel secara bersamaan.


"Kamu hati-hati ya sayang."


Ucap mama aurel yang di balas dengan anggukan oleh aurel.


******


"Hai sayang."


Sapa farel saat aurel sudah menghampiri nya di depan pagar rumah aurel. Ya, seperti biasa, farel menjemput aurel di rumah nya untuk berangkat sekolah bersama.


"Hai juga sayang."


Balas aurel dengan senyum nya.


"Oh iya mama sama papa kamu mana? Aku belum pamit nih."


Ucap farel sembari menatap ke sekitarnya. Ya, farel memang selalu berpamitan pada kedua orangtua aurel, saat ia akan pergi bersama aurel.


"Ada tuh di dalem. Mama sama papa belum selesai sarapan. Ya udah hari ini gak usah pamit dulu, lagian tadi udah aku sampein kok pamit nya."


Balas aurel sembari tertawa. Farel yang mendengar ucapan kekasihnya itu pun ikut tertawa.


"Yaudah yuk berangkat. Nanti telat"


Ucap farel saat tawa mereka sudah berhenti. Lalu ia melajukan mobil nya menuju sekolah mereka. Hari ini, farel kembali membawa mobil sportnya, untuk pergi ke sekolah. Tentunya alasan nya masuh sama yaitu, masih belum mau membawa kekasihnya itu pergi dengan nya menggunakan motor, karena trauma. Entah sampai kapan trauma yang dibrasakan farel akan hilang? Padahal yang mengalami kecelakaan itu adalah kekasihnya, tetapi malah ia yang trauma. Sedangkan aurel, ia tak ada rasa trauma nya sama sekali. Sepertinya rasa cinta aurel pada motor telah melenyapkan rasa trauma nya.


****


"Rel ke kantin yuk."


Ajak teman-teman aurel saat bel istirahat berbunyi nyaring.


"Kalian duluan aja. Gue lagi belajar nih."


Tolak aurel sembari masih dokus oada buku Biologi yang ia baca. Teman-teman aurel menarik nafas jengah. Semenjak aurel menerima tantangan laura, ia sangat mati-matian belajar. Walaupun, belajar memang sudah menjadi aktivitas wajib untuk aurel seriap hari, tapi kali ini ia sangat over protective untuk belajar. Bahkan saat istirahat tiba, aurel masih setia belajar? Apakah ia tak merasakan lelah? Sedari tadi sudah belajar terus saat jam belajar di mulai dari pagi hingga waktu istirahat yang menjelang siang seperti ini.


"Yaudah deh."


Ucap teman-teman aurel dengan padrah, lalu segarra bergegasa keluar kelas menuju kantin.


"Loh aurel mana? Kok tumben kalian gak bareng sama aurel?"


Pertanyaan farel menghentikan langkah ketiga teman aurel yang hendak menuju kantin.


"Aurel ada di kelas, lagi belajar"


Jawab teman-teman aurel. Dan di balas anggukan paham dari farel.


"Yaudah kalau gitu makasih ya. "


Ucap farel sembari tersenyum pada ketiga teman aurel. Setelah itu, farel langsung menuju kelas aurel untuk mengajak nya ke kantin.


Sesampainya farel di ruang kelas kekasihnya itu, ia enarik nafas jengah dan menggelengkan kepalanya saat melihat kekasihnya itu masih belajar. Hanya aurel sendiri yang berada di dalam kelas nya, karena teman-teman nya yang lain sudah sejak tadi bergegas ke kantin untuk beristirahat.


Akhirnya, farel untuk mengahmpiri kekasihnya itu yang masih fokus membaca buku. Sepertinya aurel tidak menyadari kehadiran farel yang kini sudah ada di hadapannya. Ia masih belum beralih fokus dari buku biologi nya.


"Sayang."


Panggil farel. Namun tak ada jawaban dari aurel. Farel kembali menggelngkan kepalanya jengah. Akhirnya, farel memutuskan untuk mengambil buku yang kini sedang di baca aurel. Sehingga membuat aurel tersentak kaget.


"Ih kamu mah. Bikin aku kaget aja. Sini balikin buku aku."


Ucap aurel semari bangkit dari diduknya dan erudah meraih buku nya yang kini sudah bedada di tangan farel.


"Gak akan aku balikin. Kalau kamu belum istirahat juga. Ini udah jam istirahat, tapi kamu masih sibuk belajar."


Balas farel sembari menjauhkan buku yang ia pegang itu dari aurel. Tetapi tetap saja, aurel masih berusaha untuk mengambil buku itu semabri meloncat-loncat.


"Sini balikin buku aku sayang. Plies balikin dong."


Ucap aurel dengan wajah memelasnya. Aurel masih berusaha meraih buku nya itu.


"Ini waktunya istirahat sayang, tapi kamu masih sibuk belajar. Sebenarnya omongan aku itu kamu anggap apa sih? Angin lalu? Kamu ngerti gak, kalau aku itu khawatir sama kamu. ngerti gak? Kalau kamu kayak gini terus, itu sama aja kamu gak perduli sama kesehatan kamu."


Ucapan farel sontak membuat aksi aurel yang masih berusaha meraih bukunya menjadi terhenti.


"Kamu jawab omongan aku itu kamu anggap apa, sayang? Aku khawatir sama kamu kalau kayak gini caranya. Kamu itu sebenarnya ngerti gak sih kalau di bilangin? Ini semua aku lakuin karena aku sayang sama kamu. Aku gak mau kamu sakit lagi."


Ucap farel lagi dengan nada lembut.


"Maaf"


Ucap aurel lirih, lalu ia menundukan kepala nya dengan merasa bersalah karena sudah tak menghiraukan ucapan kekasihnya itu.


Farel menaik dagu aurel lembut, lalu menatap aurel dengan tatapan hangat. Ia bisa melihat mata kekasihnya itu yang kini sedang berkaca.


"Sekarang kamu dengerin aku ya. Kalau kamu sayang sama aku, kamu jangan bikin aku khawatir kayak gini. Kamu harus dengerin ucapan aku. Karena ini untuk kebaikan kamu. Aku gak mau terjadi apapun sama kamu. Aku tau sifat kamu keras kepala, Tapi aku mohon singkirkan sedikit sifat kamu itu demi kebaikan kamu. Kamu mau kan berubah untuk aku?"


Tanya farel dengan lembut dan di balas anggukan cepat oleh aurel. Aurel langsung berhamburan kedalam pelukan farel. Dengan senang hati, farel membalas pelukan hangat dari kekasihnya itu.


"Yaudah sekarang kita ke kantin ya. Kamu harus makan. Pasti udah laper kan?"


Tanya farel saat sudah melepaskan pelukannya dari aurel. Aurel menjawab dengan anggukan sembari tersenyum atas pertanyaan farel tadi. Setelah itu, farel menggenggam tangan aurel menuju kantin.


Saat menunggu farel yang sedang memesankan makan untuknya, aurel memutuskan untuk duduk di meja yang masih kosong di kantin ini.


"Gimana persiapan lo untuk ngadepin gue? Apa lo yakin bisa ngalahin gue? Kalau Gue sih lebih yakin lagi bisa ngalahin lo."


Ucap laura yan tiba-tiba datang menghampiri aurel sembari yersenyum licik pada aurel.


"tapi kayaknya lo harus siap-siap kehilangan farel deh. Karena gue yakin pemenang di perlombaan itu adalah gue,"


Lanjut laura lagi. Apa? Begitu yakin nya laura? Apa ia sangat yakin kalau aurel akan kalah dan menyerahkan farel untuknya? Oh tidakk! Itu tidak akan kernah terjadi. Sampai kapan pun farel akan tetap kadi milik aurel.


"Gak usah bermimpi terlalu tinggi laura! Sampai kapan pun gue gak akan pernah biarin farel jatuh ke tangan siapa pun, termasuk lo!"


Balas aurel dengan penuh penekanan.


"Laura? Lo ngapain di sini?"


Tiba-tiba farel datang dan memecahkan susana tegang di antara aurel dan laura. Seketika laura dan aurel beralih fokus, aurel berusaha terlihat biasa saja di depan farel.


"Ya gak papa dong gue di sini. Gw kan cuma mau ngobrol sama aurel. Ya kan rel?"


Jawab laura atas pertanyaan farel tadi. Aurel yang mendapat pertanyaan dari langsung tersenyum kecut.


"Iya tadi laura ngajak aku ngobrol."


Balas aurel sembari tersenyum dengan farel. Aurel berharap, kalau farel percaya atas ucapan nya barusan. Tetapi farel menatap aurel dengan tatapan menyelidik, seperti sedang mencari kebohongan yang di sembunyikan oleh kekasihnya itu. Berharap dengan tatapan itu, ia mengetahui hal apa yang sedang di sembunyikan aurel.


"Yaudah kalau gitu, gue masuk kelas dulu ya aurel, farel"


Pamit laura lalu hendak pergi.


"Kamu lagi gak nyembunyiin sesuatu dari aku kan?"


Tanya farel pada aurel dengan menyelidik.


"Eng..enggak kok. Aku gak nyembunyiin apa-apa"


Jawab aurel gelagapan. Ketika mendengar jawaban yang gugup dari kekasihnya itu, farel menarik nafas dalam. Jawaban aurel yang gugup itu, membuat farel semakin yakin, kalau kini kekasihnya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Makan yuk."


Ajak aurel yang mengalihkan suasana. Farel kembali menarik nafas nya dalam-dalam. Oke, farel akan menunggu aurel bercerita pada nya tentang apa yang terjadi tadi dengan laura.


****


"Sayang, kamu pulang duluan aja ya. Aku mau ke perpustakaan dulu nih."


Ucap aurel saat farel yang sudah menghampirinya untuk pulang bersama. Ya, kini sudah waktunya pulang sekolah. Dan seperti biasa juga, farel selalu pulang bersama aurel.


"Aku tungguin ya."


Jawab farel. Ia tak mungkin membiarkan kekasihnya itu pulang sendiri.


"Gak usah sayang. Kamu pulang duluan aja. Nanti aku bisa pulang sendir naik taxi."


Tolak aurel atas penawaran farel tadi.


"Gak! Pokonya aku mau nunggu kamu. Aku gak akan biarin kamu pulang sendiri."


Ucap farel tegas.


"Yaudah terserah kamu aja ya. Tapi aku nanti lama nih di perpustakaan nya, karena buku yang mau aku cari banyak."


Ucap aurel lembut.


"Gak papa. Aku akan tungguin kamu. Sampe kiamat juga aku tungguin. Apa sih yang enggak buat kamu."


Balas farel sembari tertawa yang membuat aurel juga ikut tertawa. Dan wajah aurel juga pasti merona saaat mendengar ucaoan kekasihnya itu.


"Apaan sih kamu. Ya udah deh, aku ke perpustakaan dulu ya. Kamu mau ikut?"


Tawar Aurel pada Farel.


"Boleh. "


Balas farel lalu mengikuti aurel ke perpustakaan.


Aurel sibuk menyusuri tiap lorong perpustakaan untuk mencari buku yang ia incar. Sedangkan Farel, ia duduk di bangku yang telah di sediakan di perpustakaan sembari membaca buku ilmiah. Aurel berusaha menggapai buku yang ia cari di salah satu rak buku di perpustakaan ini. Tapi rasanya sangat sulit, karena buku itu berada di rak bagian atas.


"Kalau Gak bisa minta tolong sayang."


Ucap Farel yang entah sejak kapan sudah ada di belakang Aurel. Saat langsung menoleh ke belakang. Seketika hidung mancung serta dahi Farel dan Aurel bertemu. Hal itu membuat mereka sama-sama gugup. ini untuk pertama kalinya aurel menatap wajah Farel sangat dekat. Begitu pula dengan Farel, ini adalah kali pertama ia menatap wajah cantik milik kekasihnya itu. Aurel langsung kembali ke posisinya awalnya dengan kikuk. Wajah nya tampak merona saat ini. Farel terkekeh saat melihat sikap malu-malu kekasihnya itu. Akhirnya, Farel langsung mengambil buku yang di inginkan Aurel lalu Memberikan nya, sembari tersenyum lembut pada kekasihnya itu.


"Makasih"


Ucap Aurel setelah mendapatkan buku yang ia inginkan dari Farel. Setelah itu, ia langsung bergegas pergi dari hadapan Farel. Ia hanya tak mau Farel melihat wajah nya yang kini sedang merona. Farel hanya menatap kepergian kekasihnya itu dengan gelengan kepala sembari tersenyum. Farel tau akan sifat malu kekasihnya itu.


***


"Aku udah selesai nih sayang pinjam buku nya."


Ucap Aurel menghampiri Farel yang sedang sibuk membaca buku ilmiah. Saat mendengar ajakan Aurel, Farel langsung menutup buku yang sedang ia baca itu, lalu tersenyum kepada Aurel.


"Yaudah. Aku balikin buku ini dulu ya. Baru kita pulang."


Ucap Farel yang di balas anggukan oleh Aurel.


***


Seperti biasa, suasana hening menyelubungi Aurel dan Farel di dalam mobil Farel menuju rumah Aurel. Aurel menatap ke arah luar jendela. Sedangkan Farel fokus menyetir sembari sesekali melirik kekasihnya itu.


"Sayang?"


Panggil Farel yang memecahkan lamunan Aurel.


"Iya?"


Jawab Aurel dengan lembut sembari menatap kekasihnya yang sedang fokus menyetir. Dilihat dari sisi manapun, Farel memang amat menawan. Bahkan saat menyetir saja Farel sangat tampan. Bagaimana perempuan-perempuan di luar sana tak ingin berusaha mendapatkan Farel? Laki-laki ini sungguh mendekati kata Sempurna.


"Aku beruntung banget dapetin kamu. Aku bersyukur, karena aku menjadi wanita satu-satunya yang bisa memiliki kamu seutuhnya."


Batin Aurel sembari masih fokus menatap Farel yang sedang menyetir.


"Kamu kenapa sayang? Kok ngeliatin aku gitu banget?"


Tanya Farel yang kembali memecahkan lamunan Aurel yang sedang menatap wajahnya.


"Kamu ganteng. Aku bersyukur bisa punya laki-laki yang sempurna kayak kamu."


Balas Aurel sembari tersenyum menatap Farel. Farel yang mendengar penuturan tulus dari kekasihnya itu, langsung menoleh sembari tersenyum pada kekasihnya.


"Sejak kapan pacar aku ini bisa gombal?"


Ledek Farel sembari tertawa kecil yang diikuti Aurel juga.


"Aku Gak gombal. Itu semua fakta, sayang."


Balas Aurel usai tertawa.


"Kamu juga cantik banget. Aku sangat bersyukur bisa milikin kamu yang sempurna."


Ucap Farel dengan tak kalah tulus sembari menatap kekasihnya sejenak sembari tersenyum lembut.


Blush!


Seketika wajah Aurel menjadi merona saat mendapat pujian tulus dari kekasihnya itu. Farel hanya terkekeh geli melihat wajah merona milik Aurel. Entah mengapa, ia sangat menyukai wajah merona milik kekasihnya itu. Karena menurutnya, itu sangat menggemaskan.