
"Jordan?"
Tanyaku ragu pada lelaki yang dari tadi membuatku bingung.
"Iya gue Jordan. Gue kira Lo beneran lupa."
Balasnya, ternyata benar namanya adalah Jordan. Ya, Jordan adalah sahabatku ketika SMP.
"Enggak mungkin lah gue lupa sama Lo."
Balasku pada Jordan.
"Ekheem"
Sepertinya Farel dengan sengaja berdehem agar memecahkan suasana yang sempat canggung ini.
"Oh iya. Sayang kenalin ini Jordan. Dan Jordan , kenalin ini Farel."
Ucapku memperkenalkan Farel pada Jordan .
"Farel"
Farel mulai memperkenalkan dirinya sembari mengajak Jordan untuk berjabat tangan dengannya.
"Jordan"
Jordan membalas perkenalan dan jabatan tangan dari Farel.
"Lo belum cerita sama gue."
Ucap Jordan padaku sembari tersenyum kecil. Aku mengerti ucapan Jordan. Aku memang sudah lama tak bertemu Jordan. Semenjak lulus SMP. Makanya, aku belum sempat cerita pada Jordan kalau aku sudah memiliki kekasih. Lalu aku membalas ucapan Jordan hanya dengan anggukan sembari tersenyum.
"Kita duluan ya dan"
Pamitku pada Jordan lalu aku berlalu darinya sembari menggandeng tangan Farel.
"Dia siapa kamu?"
Pertanyaan Yang keluar dari mulut Farel berhasil membuat Langkahku terhenti saat hendak menuju kelas.
"Dia Temen SMP aku."
Aku menjawab pertanyaan Farel.
"Temen? Yakin?"
Ucapan Farel membuatku menatapnya heran. Apa maksud pertanyaan nya?
"Yakin. Emang kenapa si?"
Aku balik bertanya pada Farel. Aku masih bingung dengan pertanyaan yang ia lontarkan tadi.
"Gak papa. Ya udah aku wnter kamu ke kelas ya."
Farel mengalihkan pembicaraan . Lalu menggandeng tanganku menuju kelasku.
***********
Bell istirahat berbunyi...
"Kamu kenapa si? Dari tadi Diem aja"
Aku tersadar kalau Farel dari tadi dia lebih banyak diam. Bahkan saat menyantap bakso nya. Ia terlihat sangat malas. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Gak papa."
Ia hanya menjawab pertanyaanku dengan singkat. Wajahnya juga sangat masam. Ini sangat berbeda dengan ke sehariannya. Biasanya ia selalu memasang wajah ceria miliknya.
"Kamu bohong sama aku. Sebenarnya kamu kenapa? Dari tadi aku perhatiin kamu Diem terus"
Aku menangkup dan mengarahkan wajah Farel menggunakan tanganku ,agar dia menatapku. Tapi nihil, dia memalingkan wajahnya dariku.
"Serius aku Gak papa"
Lagi-lagi dia berkata Gak papa? Bosan dengan kata itu. Aku melepaskan wajahnya dari tanganku dengan lembut. Ya sudah, kalau memang dia tak mau jujur denganku. Itu haknya . Yang penting aku sudah berusaha mencari tau sebenarnya masalah apa yang sudah terjadi?
"Oh .Ya udah"
Aku memutuskan untuk segera masuk ke dalam kelas. Tapi tiba-tiba pergelangan tanganku di tahan oleh Farel. Setelah merasa pergelangan tanganku di tahan oleh Farel, aku langsung menoleh pada nya.
"Kenapa lagi si? Aku mau masuk kelas."
Sikap ketus kembali muncul. Karena aku sudah mulai geram dengan sikap Farel.
"Aku cemburu sayang"
Ucapan Farel membuatku menatapnya heran. Aku bingung dengan ucapannya itu. Dahiku sedikit berkerinyit.
"Cemburu?"
Tanyaku pada Farel. Dan di balas oleh Farel dengan anggukan.
"Sama?"
Tanyaku pada Farel . Aku masih belum mengerti dengan ucapan Farel.
"Ya sama kamu lah. Kamu bilang kalau Jordan itu Temen kamu waktu SMP? Tapi kayaknya kalian tuh deket banget. Makanya aku cemburu.Tadi aja aku sampe di cuek in sama kamu. Gara-gara kamu ngobrol sama dia."
Ucapan Farel membuat tawaku pecah.
"Kok ketawa si? Gak ada yang lucu. Kamu seneng ya liat aku cemburu?"
Farel bertanya padaku.
"Ya ampun sayang , jadi karena hal ini, yang buat kamu dari tadi Diem aja?"
Aku kembali bertanya. Lalu Farel menjawab dengan anggukan . Aku kembali tertawa renyah dengan hal konyol ini. Farel cemburu dengan Jordan? Ini sungguh konyol dan tak masuk akal.
"Kok ketawa lagi si? Gak ada yang lucu sayang. Oh ,atau kamu emang mau ya deket sama Jordan? Ya udah sana, terserah kamu."
Tanya Farel dengan Menyelidik sembari melipat ke dua tangannya di depan dadanya.
Jelaski pada Farel.
"Tapi tetep aja aku cemburu sayang. Lagian kalau aku liat , tatapan matanya ke kamu itu beda."
Aku kembali bingung dengan ucapan Farel.
"Beda?"
Tanyaku pada Farel. Kini Aku masih di buat bingung dengan ucapan Farel tadi.
"Iya beda. Dia kayaknya suka deh sama kamu."
Ucapan Farel berhasil membuat mataku membulat sempurna. Segitu cemburu nya Farel pada Jordan? Sampai Farel berbicara seperti itu.
"Gak mungkin sayang. Lagian kalau dia suka sama aku , Gak ada pengaruhnya buat aku. Aku cuma cinta sama kamu."
Ucapku meyakinkan Farel. Aku melirik Farel yang tersenyum kecil mendengar ucapanku tadi.
"Kamu janji gak bakal berpaling dari aku? Aku sayang banget sama kamu. Aku Gak mau kehilangan kamu. Pliess jangan tinggalin aku."
Kini Farel menatapku dalam2 . Ia menggenggam tanganku erat. Sepertinya ia benar-benar tak mau kehilanganku.
"Kamu tenang aja. Aku Gak akan pernah berpaling dari kamu. Aku akan selalu ada bersama kamu."
Aku mengucapkan kalimat itu dengan lembut entah kenapa itu keluar dari mulutku secara spontan.
"Kamu Gak perlu cemburu lagi sayang. Aku janji akan jaga perasaan kamu saat di deket Jordan nanti"
Ucapku sembari mengelus wajah tampan milik Farel.
"Bener ya?"
Tanya Farel meyakinkan.
"Iya sayang. Ya udah masuk kelas yuk. Bentar lagi bel masuk bunyi."
Ajak aku pada Farel. Lalu kami memutuskan untuk ke kelas. Tapi seperti biasa, Farel selalu mengantarkan aku le kelas aku dulu.
"Hai, Rel, eh ada Farel juga"
Ucapan itu membuat langkah kami terhenti. Ternyata Jordan yang mengeluarkan ucapan itu.
"Hai"
Balas kU singkat.
"Kalian udah pada makan belum di kantin? Kalau belum, bareng yuk"
Ajak Jordan padaku dan Farel.
"Kita tadi udah makan di kantin. Lo telat datengnya."
Balaskubpada Jordan. Aku melirik Farel yang sudah memasang wajah kesalnya. Aku menyadari akan hal itu.
"Ya udah deh gue ke kantin dulu ya. Perut gue udah laper banget. Bye"
Ucap Jordan lalu segera bergegas ke kantin.
"Janji"
Ucapku pada Farel sembari menoleh padanya. Aku sudah berjanji padanya soal hal ini. Farel hanya membalas ucapanku dengan tawa kecilnya lalu menggandeng tanganku menuju kelas.
Sesampainya aku di depan pintu kelas, aku sudah di sambut oleh kwtiga temanki.
"Eh, Reel. Tau Gak , Jordan kan sekolah di sini rel."
Ucap Audy. Yang langsung menyambutku dengan pertanyaan .
"Iya, Rel. Kayaknya dia baru pindah dari Bandung. Kita kan udah lama banget gak ketemu sama Jordan semenjak lulus SMP."
Rupanya Sherly tak mau kalah menyambutku dengan pertanyaan.
"Lo masih ingat Gak, Rel , waktu..."
Ucap Jessica tapi Perkataan itu berhenti saat aku dengan sengaja mengentakan kakiki pada kaki Jessica. Sepertinya Jessica sedang meringis kesakitan. Bagaimana aku tidak kesal dengan mereka? Apa mereka tidak bisa melihat keberadaan Farel yang masih setia berada di samping kU sembari terus Mengenggam tanganku?Mereka tidak mengerti perasaan Farel? Oh Tuhan risiko punya teman seperti mereka aku menatap tajam ke arah mereka. Lalu aku kembali melirik Farel. Sepertinya Farel masih penasaran dengan Apa yang ingin Jessica ucapkan tadi.
"Gak usah di pikirin. Kayak gak tau mereka aja , kalau ngomong emang asal keluar . Ya udah kamu ke kelas Gih. Makasih udah nganter aku ke kelas."
Ucapku pada Farel. Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Farel hanya membalas ucapanku dengan anggukan sembari tersenyum, lalu bergegas menuju kelasnya.setelah aku pastikan Farel sudah masuk kedalam kelasnya. Aku langsung memarahi mereka.
"Maksud kalian apa sih? Kalian Gak liat, barusan ada Farel? Apa kalian Gak mikirin perasaan dia? "
Aku memarahi ketiga temanku. Aku memang kecewa dengan mereka. Aku jadi tak enak hati pada Farel.
"Ya maaf, Rel. Kita Gak tau. Kirain kita Gak ada masalah kalau kita mau cerita soal Jordan ke Lo . "
Ucap mereka meminta maaf pada aku.
"Emang Gak ada masalah sama gue. Karena Jordan Temen gue. Tapi masalahnya kalian Gak mikirin perasaan Farel. Kalian tau Gak? Barusan gue sama Farel di kantin ,baru bahas soal ini. Kayaknya Farel Gak suka kalau gue terlalu deket sama Jordan. Gue sadar gue salah. Gue emang Gak boleh terlalu deket sama cowok lain , karena sekarang gue udah milik Farel. Beda sama waktu itu , gue belum milik siapa pun."
Aku mencoba menjelaskan permasalahannya.
"Iya rel kita minta maaf."
"Maafin ya rel. Eh tapi ngomong-ngomong ucapan farel itu bener. sekarang Lo Gak boleh terlalu deket lagi sama cowok lain , karena Lo udah punya Farel . Kalau dulu kan Lo belum punya pacar."
"Bener tuh rel. Dulu sama sekarang udah beda. Kalau dulu , Lo masih sendiri . Jadi bebas deket sama cowok manapun . Asal jangan cowok orang. Tapi kalau sekarang Lo harus jaga perasaan Farel. Lo Gak boleh terlalu deket sama cowok lain. Termasuk Jordan. Walaupun dia Temen Lo dari SMP. "
mereka menasihati ku.
"Maka nya gue sekarang Gak mau terlalu deket sama Jordan. Karena gue harus jaga perasaan Farel. Kalian juga gitu. Jangan asal ngomong kalau lagi di depan Farel,"
Ucapku pada mereka .
"Siap Mrs. Darwin"
Ucap teman-temanku secara bersama dengan meletakkan tangan kanan mereka di pelipis mereka. Seperti hormat bawahan pada atasan nya. Tunggu dulu. Tadi mereka bilang apa?
Mrs. Darwin? Ya , Darwin adalah nama belakang Farel. Batinku hanya tertawa mendengar panggilan itu. Menurutku itu masih lama. Sekarang saja, kami baru kelas 2 SMA. Masih jauh untuk berpikir menikah.