Aurel

Aurel
17



Kini hari sudah berganti menjadi malam. Aku mengusap lenganku sendiri. Rasa Dingin sudah mulai menusuk ruas tulangku.


"Kamu dingin ya?"


Tanya Farel padaku . Lalu ia melepas jacket kulit berwarna hitam miliknya, dan memakaikannya di tubuhku. Lalu Ia mendekap tubuhku agar tak merasakan dingin lagi. Aku sangat merasa hangat dalam pelukan laki-laki yang sangat aku cintai ini.


"Kita pulang ya"


Ajak Farel padaku dan aku membalasnya dengan anggukan. Setelah itu Farel menggandeng tanganku menuju area dimana mobil Farel terparkir. Farel membuka pintu mobilnya dan mempersilakan aku masuk.


"Maaf ya. Karena aku ngajak kamu ke taman ini, jadi kamu dingin deh. Tahan sebentar yaa dinginnya."


Ucap Farel lembut dengan rasa bersalah yang menyertainya.


"Kok minta maaf? Aku kan seneng di ajak jalan. Ini bukan salah kamu kok. Aku emang Gak kuat dingin."


Jelasku pada Farel dengan lembut. Farel hanya melirik ke arah ku. Sepertinya ia khawatir dengan keadaanku. Padahal aku hanya dingin. Bukan karena penyakit parah. Segitu khawatirnya dia padaku.


"Udah sampe. Turun yuk, Aku anter kamu masuk ke dalem."


Ucap Farel padaku. Aku hanya mendengarnya samar. Tak ada jawaban sama sekali yang keluar dari mulutku.


"Sayang... Heii . Kita udah sampe sayang di rumah kamu."


Lagi-lagi farel mengelus pipiku lembut, ia berusaha membangunkan aku. Tapi mataku sangat enggan sekali terbuka. mulutku tak juga menjawab. Aku sangat mengantuk dan tak ingin membuka mataku sama sekali. Meskipun tidurku sangat lelap, tetapi aku bisa mendengar suara Farel. Aku juga sekarang bisa merasakan kalau tubuhku sedang di gendong oleh seseorang. Aku mengerjapkan mataku berusaha melihat siapa yang telah menggendongku. Ternyata adalah Farel. Setelah membuka mata sebentar, bodohnya, aku justru melanjutkan tidurku. Entah kenapa aku sangat malas sekali untuk bangun dari tidur ku.manja! Ya mungkin aku memang manja dengan Farel.


"Ya ampun Den Farel ada apa sama non Aurel? Non Aurel sakit?"


Aku bisa mendengar samar suara bik imah. Aku masih sangat enggan sekali membuka mataku.


"Enggak kok bik . Aurel cuma tidur. Kamarnya Aurel mana ya bik? Farel boleh antar Aurel ke kamarnya?"


Farel meminta izin pada bik imah. Farel memang sama sepertiku sangat menghargai bik imah.


"Boleh Den. Ayo bibik antar "


Ucap bik imah di ikuti Farel yang mengekori bik imah.


"Ini Den kamarnya non Aurel. Silakan masuk."


Sepertinya kini mereka sudah sampai di ambang pintu kamarku.


"Iya bik. Makasih ya bik."


Balas Farel. Lalu segera membawaku ke dalam kamar milikku yang sangat luas ini . Aku bisa merasakan tubuhku telah di letakkan oleh Farel di ranjang King size milikku.


"Good night sayang."


Aku bisa mendengar ucapan Farel lagi dan masih samar. Setelah itu aku juga bisa merasakan kalau dahiku telah di kecup lembut oleh Farel.


****


"Pagi non. Silakan di nikmati sarapannya ya non."


Sambut bik imah padaku yang sedang menuruni anak tangga.


"Iya bik . Makasih ya bik. "


Ucapku pada bik imah. Bik imah hanya membalas dengan anggukan sembari tersenyum.


"Oh iya aku baru ingat bik. Selesai jalan kemarin sore , Masa Semalam aku mimpi di gendong Farel masuk ke rumah sampai kamar aku, "


Ucapku pada bik imah ,Setelah aku mengingat mimpi aku semalam.


"Itu bukan mimpi non. Tapi kenyataan. Semalam , Den Farel memang menggendong non masuk ke dalam kamar non. Karena non tidur nya pulas banget. "


Ucapan bik imah berhasil Membuatku terbatuk saat menyantap sarapan.


"Pelan-pelan, Non. Ini minum dulu."


Ucap bik imah sembari menyodorkan segelas susu hangat.


"Makasih bik."


Ucapku yang batuknya sudah mulai mereda.


"Tapi bibik serius ? Farel beneran gendong aku? Ternyata itu bukan mimpi ya?"


Ucapku sembari menggaruk tengkukku yang tak gatal ,karena malu. Aku kira, kalau semua itu mimpi.


"Bibik sangat serius, Non. Awalnya bibik kira terjadi sesuatu sama Non. Karena bibik liat non sudah ada di gendongan Den Farel. Tapi ternyata, kata Den Farel, non cuma tidur. Perasaan bibik langsung lega deh Denger Den Farel ngomong gitu. Terus Den Farel minta izin sama bibik mau nganter non ke kamarnya non. Tentu bibik izinkan. Setelah itu den Farel meletakkan non di ranjang non dengan sangat lembut. Dia Gak mau membuat non bangun dari tidur non. Setelah dia memastikan non sudah benar-benar tidur di kamar non, Baru den Farel pamit pulang sama bibik."


Bibik mencoba memberi penjelasan padaku. Kini aku sudah mulai mengerti. Aku tertawa sendiri di dalam hatiku. Bagaimana bisa aku mengira kalau itu semua mimpi? Seketika pipiku menjadi merona saat mendengar cerita bik imah tadi. Aku sangat mendapat perhatian lebih dari Farel. Dia selalu memperlakukan aku layaknya seorang putri raja.


"Kalau bibik perhatikan, Den Farel kayaknya cinta banget sama non. Bibik bisa liat itu semua dari tatapan matanya ke non dan semua perhatian yang dia kasih buat non. Gak mungkin dia memperlakukan non layaknya putri dari seorang raja, kalau dia Gak bener-bener cinta sama non. Bibik ikut merasa senang atas hubungan kalian. Sepertinya Den Farel adalah laki-laki yang dapat menjaga non dengan baik. Dia menjaga non penuh dengan rasa tanggung jawab"


Ucap bik imah padaku. Mataku berkaca mendengar ucapan bik imah. Benar kata bik imah, kalau Farel memang menjagaku penuh dengan rasa tanggung jawab. Bahkan saat ia tak bersamaku, bukan berarti dia tak menjaga. Dia selalu mengecek keadaanku walau dia tak berada di sampingku. Apalagi saat aku berada dengan nya, pasti dia sangat over protective.


"Non sepertinya itu Den Farel. suara motornya Den Farel sudah tidak asing lagi di telinga bibik, karena setiap hari Den Farel kesini untuk menjemput non. Jadi bibik selalu dengar suara motor Den Farel"


Ucap bik imah sembari tertawa kecil setelah mendengar suara motor besar. Yang sepertinya adalah suara motor Farel.


Pamit ku pada bik imah sembari mencium punggung tangan nya.sesamlainya aku di depan pintu , ternyata benar Farel sudah menungguku di ambang pagar rumahku. Dia melemparkan senyum manisnya. Setelah itu aku menghampirinya, kemudian membuka pagar sedikit agar aku bisa keluar .


"Hai. Pagi sayang"


Farel langsung menyapaku dan mengelus pipiku lembut.


"Hai juga sayang"


Aku membalas sapaan Farel sembari tersenyum lebar.


"Ya udah berangkat yuk."


Ajak Farel padaku. Tapi aku menahan lengan Farel . Dan sepertinya dia menatapku bingung .


"Kayaknya aku lupa sesuatu."


Ucapku dan langsung kembali mendapat tatapan bingung dari Farel.


"Ya udah ambil dulu sana, kalau ada yang ketinggalan."


Ucap Farel padaku.


"Cieee yang Semalem gendong aku. cieee cocweet banget cih pacal aku"


Kini aku menggoda Farel sembari menjawil pipinya di sertai dengan suara layaknya anak kecil.


"Apaan si kamu? Kok suaranya gitu?"


Ucap Farel menahan senyumnya.


"Cieeee. Perhatian banget cih cama aku. Sampe di gendong segala."


Aku masih menggoda Farel dan tak berhenti menjawil pipi nya. Kini Farel membawa aku ke dalam pelukannya. Aku bisa merasakan pelukan erat dari Farel.


"Aku sayang banget sama kamu. Jangankan gendong kamu dari sini ke kamar kamu, dari Bogor ke Jakarta juga aku jabanin."


Ucap Farel sembari tertawa kecil padaku. Aku mendongakkan wajahku agar bisa menatap Farel. Tak berapa lama, aku menggenggam tangannya erat dengan satu tanganku dan sembari mengelus pipinya dengan satu tanganku lagi.


"Makasih yaa untuk semua yang udah kamu kasih buat aku. Aku sangat bersyukur, Tuhan menitipkan satu ciptaan nya yang sangat sempurna untuk aku. Aku sangat bahagia memiliki kamu. Aku gak nyangka, kalau aku akan memiliki pangeran hidup yang sangat luar biasa baik sama aku. Sekali lagi makasih yaa sayang."


Ucapku tulus sembari masih mengelus pipi nya dan menggenggam tangannya erat.


"Sama-sama sayang. Apapun akan aku kasih buat kamu. Asalkan kamu bahagia. Kalaupun aku harus mengorbankan nyawa aku, untuk bahagia in kamu. Aku akan lakukan itu dengan tulus dan ikhlas. Demi perempuan yang sudah menjadi bagian terpenting dalam hidup aku , yaitu kamu."


Ucap Farel tak kalah tulus. Mataku tampak berkaca mendengar ucapan tulus dari Farel.


"Jangan nangis. Masa anak motor cengeng."


Farel berusaha menghibur ku agar aku tak menangis. Tangis bahagia, itulah yang aku rasakan saat ini .


"Biarin. Aku kan bukan anak motor lagi. Karena kamu Ggak izin in aku buat jadi anak motor. Nyebelinn!"


Ucapku pada Farel sembari melipat kedua tanganku di depan dada. Farel terkekeh melihat tingkahku


"Iya lah, Aku gak bakal izinin kamu buat jadi anak motor lagi. Aku sayang banget sama kamu . Jadi Aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu, sayang. Eh ngomong-ngomong kamu tau dari siapa? Kalau aku gendong kamu?semalam kamu kan tidur. kok bisa tau, kalau aku gendong kamu? Atau kamu pura-pura tidur yaa biar aku gendong?"


Farel bertanya pada aku sembari menjawil pipiku. Aku langsung memukul lengannya dan mencubit pinggang nya. Farel terlihat meringis kesakitan dengan cubitan ku.


"Enak aja. Siapa juga yang mau kamu gendong? Yeee geer. Aku tuh tau dari bik imah."


Ucapku pada Farel dan di balas oleh Farel dengan anggukan paham.


"Eh kita kenapa belum berangkat? Nanti telat lagi. Ayuk kamu naik ke motor aku. Biar kita berangkat ke sekolah. Sebelum telat"


Ucap Farel yang berhasil membuatku panik.


*************


"Makasih udah mau nganter aku ke sekolah kang supir."


Ucapku meledeki Farel ketika menuruni motornya.


"Tapi kang supirnya ganteng kan?"


Balas Farel menggodaku.


"Enggak. biasa aja. "


Ucapku yang sedang menahan senyumku karena pipiku diusap Farel.


"Halah bohong. Kalau gak ganteng kenapa mau jadi pacarnya kang supir ini?"


Lagi-lagi Farel menggodaku. Sembari belum berhenti mengusap pipiku. Dan kini ia beralih mencubit pelan hidung mancung milikkum Dan... Blush aku merasa pipiku telah merona. Setiap kali di goda Farel, pasti kayak gini kelakuan pipiku.


"Eeaaa pagi-pagi udah mesra aja nih"


Ucap seseorang yang telah berhasil membuat canda kami terhenti. Sepertinya suara itu berasal dari arah belakang tubuhku. Aku langsung menoleh ke belakang. Dan mendapati seseorang yang telah mengeluarkan ucapannya tadi.