Aurel

Aurel
12



"Oke. Sekarang kita akan mulai memoles wajah Lo. Supaya terlihat lebih menarik. "


"Iya, Pokoknya Lo tenang aja ya. Kita Gak akan buat Lo kecewa sama make up Lo ini"


"Lo harus siap menjadi wanita paling menawan malam ini, Rel."


Aku pasrah dengan tangan mereka yang menarik tanganku agar aku duduk manis di depan meja riasku. Lalu mereka mulai memoles wajahku dengan sangat teliti Aku juga bingung , sejak kapan mereka kenal make up? Selama ini aku dan mereka bertuga adalah cewek yang tomboi. Yang hanya tau masalah motor. Kalau udah nyangkut masalah motor pasti kami ngerti . Tapi kalau masalah make up, jujur aku sendiri aja sama sekali Gak kenal make up. Setiap pergi kemanapun aku mereka selalu tampil natural, tanpa make up sedikit pun.


"Selesai"


Mereka memekik kegirangan .


"Gue Gak nyangka kalian ngerti juga sama make up. Kirain ngerti nya Motor doang. "


Ucapku sambil meledek mereka. Aku melihat ke arah cermin . Aku tersenyum melihat wajahku yang kini sudah di make up senatural mungkin. Jujur aku Sangat tidak suka dengan make up yang berlebihan . Menurutku dengan make up yang tipis dan natural itu akan membuat wanita jauh terlihat lebih cantik. Sebelum wajahku di Poles dengan merek , terlebih dahulu aku sudah berpesan pada mereka kalau aku tak mau di make up terlalu berlebihan. Aku ingin cantik dengan make up yang tipis dan natural. Lalu mereka mengangguk setuju dengan permintaanku. Selain mereka merias wajahku, mereka juga merias rambutku. Aku sangat bahagia dengan penampilanku malam ini.


"Enak aja. Makanya jangan meremehkan kita. Keliatan nya aja tomboy. Tapi sebenarnya ngerti make up kok. Ya kan ? "


Ucap Jessica bangga sembari melirik Audy dan Sherly yang dibalas oleh mereka anggukan pasti.


"Ya udah sekarang buruan lo ganti baju. Nanti Farel udah dateng , Lo belum siap."


"Iya rel cepetan. Gue Gak sabar liat ekspresi Farel saat liat penampilan lo


malam ini."


"Buruan rel. Ngapain Diem aja ? "


mereka menyuruhku agar aku segera mengganti pakaianku.


"Gue ragu"


Tiba-tiba ucapan itu keluar dari mulutkun


"Kenapa harus ragu? Lo Gak boleh ragu. Lo harus yakin sama perasaan Lo"


Ucap Audy sembari menangkap wajaku agar menatapnya.


"Lo Gak boleh ragu rel. Gue yakin kok Farel bisa membuat lo bahagia,"


"Iya, Lo harus yakin sama perasaan Lo. Udah Gak usah pake ragu. Pokoknya Lo harus yakin! "


Ucap mereka memberi keyakinan pada diriku. Aku membalas perkataan mereka dengan anggukan sembari tersenyum.


"Ya udah Gih buruan sana ganti baju."


"Ganti baju sekarang . Supaya Farel Gak lama nunggu."


"Iya. Gue ganti baju sekarang. "


Setelah Beberapa saat , akhirnya aku selesai mengganti baju piyama hello kittyku dengan dress. Malam ini aku mengenakan dress berwarna pink pastel yang panjang nya sebatas lutut ku. Dress tanpa lengan ini sentuhan berlian di bagian pinggangnya. Ini memang dress favoritku. Selain warna nya yang merupakan warna favoriteku, model dress ini juga sangat aku sukai. Model dress ini sangat modern dan sangat modis. Malam ini rambutku di gulung ke atas yang menunjukkan leher jenjangku Mereka yang menyarankan agar rambutku di gulung ke atas. Agar selain memperlihatkan kan leher jenjangku yang putih dan mulus ini , tujuan di gulung nya rambut ke atas juga sekalian memperlihatkan kan sedikit sentuhan berlian juga di bagian leher pada dress favoritku ini. Menurut ketiga temanku, sayang bila berlian ini tidak di nampak kan. Aku hanya mengikuti saran mereka dengab pasrah. Tapi aku juga cukup puas dengan make up yang mereka beri untuk wajah kU. Aku merasa sangat beda malam ini. Yang biasanya tak pernah memakai make up, justru malam ini terlihat sangat berbeda dengan make up yang natural seperti ini. Ketika aku keluar dari kamar gantiku, aku melihat wajah mereka yang sangat terfokus dengan kehadiranku yang sudah mengganti pakaian. Respon mereka adalah mata mereka tak berkedip sedetik pun dan mulut mereka sedikit terbuka. Menurutku ini respons yang sungguh berlebihan. Aku jadi bingung mengapa respon mereka seperti ini? Apa dandananku terlalu berlebihan? Atau dressku yang kurang bagus?


"Kalian kok ngliat in gue gitu banget si? Dandanan gue berlebihan ya? Atau dress gue yang jelek? Oh atau gue terlalu heboh? Ya udah deh gue cari dress lain yaa"


Ucapku dengan nada kecewa kepada mereka yang masih terfokus denganku Tapi saat aku Mau menuju lemari pakaian untuk mencari dress lain, tiba-tiba lenganku di tahan oleh mereka.


"Sumpah Lo sempurna banget rel. Lo cantik banget"


"Ya ampun Lo cantik banget. Kayak princess yang ada di dongeng,"


"Sempurna. Lo cantik . Lo Gak perlu ganti dress . Karena ini udah sempurna. Gak ada yang perlu di ubah. Sumpah lo cantik bangett"


Ucapan mereka membuat aku tersenyum kecil.


"Mulai deh Lebay nya"


Aku meledek mereka dengan tawa kecilku.


"Kita Gak Lebay . Lo bener-bener cantik banget. Menurut kita Lo sempurna dengan penampilan Lo malam ini. "


"Iya kita Gak bohong. Lo perfect banget rel. Gue yakin Farel akan makin tertarik sama Lo."


"Kalian bisa aja"


Ucapku sembari tertawa kecil menggoda mereka.


"Makasih yaa. Kalian udah mau bantu gue malam ini tampil beda. Kalau Gak ada kalian, gue Gak tau apa jadi nya dandanan gue malam ini. Kan gue sama sekali Gak ngerti make up"


Aku mengucapkan terimakasih oleh mereka sembari memeluk mereka erat.


"Sama-sama, Rel. Itu udah tugas kita sebagai sahabat . Yaitu membuat Lo bahagia"


Ucap Audy dengan tulus.


Tingnong...tingnong...


"Eh bel rumah Lo udah bunyi . Pasti itu Farel yang dateng. Dia udah dateng tuh rel buat jemput Lo"


"Iya itu pasti Farel. Dia datang tepat waktu untuk jemput Lo."


"Selamat berbahagia yaa rel."


"Take care ya rel."


"Take care cewek cantik. Udah buruan sana nanti Farel kelamaan nunggu."


"Ya udah gue jalan dulu yaa. Sekali lagi makasih. Byee "


Aku berpamitan pada mereka dan segera berlalu dari hadapan mereka.


Aku segera membuka pintu rumah untuk segera membuka pagar. Begitu aku membuka pintu rumah , Ternyata benar yang sudah di ambang pagar itu Farel dan aku juga melihat sudah terdapat mobil sport berwarna merah yang terparkir di depan pagar rumahku. Seperti nya itu mobil yang belum lama di beli karena boddy mobil itu masih sangat mulus belum ada lecet sedikit pun. Aku melihat Farel yang tampak sangat tampan menggunakan jas berwarna biru pastel dan di dalam nya terdapat kemeja putih yang tak di kancing di bagian atasnya . Aku melihat respon Farel yang sama dengan respon teman-tenabku tadi saat melihat aku tampil seperti ini. Tampaknya dia tidak berkedip sedikit pun. Dan mulut nya sedikit terbuka. Ini sungguh membuat aku salah tingkah . Aku takut nanti Farel berpendapat kalau dandanan aku ini terlalu berlebihan. Ini membuat aku makin ragu menghampiri Farel. Tapi Farel sepertinya mengisyaratkan aku agar aku menghampirinya dengan senyum nya yang manis itu . Aku yang mengerti isyarat Farel memutuskan untuk berjalan menghampirinya dengan rasa ragu yang masih menyelimuti diriku. Lalu aku membuka pagar rumahku.


Dia masih menunjukkan Responnya yang tak berkedip itu. Setelah aku sampai di hadapannya, aku melihat dia yang sedang memperhatikan penampilanku dari atas sampai bawah.


"Kenapa? Aneh ya? Dandanan gue berlebihan? Maaf deh kalau menurut Lo dandanan gue terlalu berlebihan"


Ucapku dengan nada lirih . Tapi tiba-tiba aku merasa bibir ku di sentuh oleh telunjuk Farel . Pertanda kalau aku harus diam.


"Ssstt. Siapa bilang kamu dandan berlebihan? Ini natural banget. Kamu terlihat sangat cantik menggunakan make up natural ini. Kamu perfect"


Farel mengucapkan kalimat itu dengan tulus dan lembut. Sembari telunjuknya masih berada di bibir ku. Setelah dia berbicara , ia tarik kembali telunjuknya.


"Tapi gue ragu. "


Ucapku pada nya. Dan dia mengerinyit kan dahinya heran mendengar ucapanku itu.


"Kenapa ragu? kamu bener-bener cantik malam ini. Kamu sempurna Aurel"


Dia kembali berbicara tulus. Dan ucapan nya itu kembali berhasil membuat wajahku bersemu.


"Jadi kamu mau jalan sama aku?"


Farel bertanya padaku.


"Menurut Lo? Emang Dandanan gue ini Gak bisa jawab pertanyaan Lo?"


Ucapku ketus. Lagian make tanya lagi. Dia udah liat aku dandan gini , masa iya Gak ngerti sama jawaban aku?Dia hanya terkekeh mendengar jawaban ketus dariku.


"Ya udah ayo masuk ke mobil."


Farel menggandeng aku masuk ke dalam mobil. Lalu membuka pintu mobil itu untukku.


"Tumben bawa mobil. Kenapa Gak bawa motor aja? Ah Gak seru Lo."


Ucapanku itu membuat Farel yang sedang membukakan pintu mobil nya untukku langsung menoleh padaku. Lalu ia tersenyum mendengarnya


"Masa malam-malam bawa cewek cantik naik motor? Nanti kalau kamu kenapa-enapa aku kan jadi sedih," jawaban Farel itu kembali membuat pipiku merona , dan tersipu malu.


"Silakan masuk princess"


Farel mempersilakan aku masuk ke dalam mobilnya sembari tersenyum. Lalu aku memutuskan untuk masuk kedalam mobil sport berwarna merah ini. Di perjalanan suasana hening tercipta di antara kami. Sesekali Farel hanya melirik, tapi aku sama sekali tak menghiraukannya.


Sedari tadi pandanganku hanya ke arah luar jendela mobil. Aku ingin melihat pemandangan pada malam hari lewat jendela mobil ini.


"Ayo, Rel, masuk udah sampai nih."


Lamunanku terhenti saat Farel berkata seperti itu padaku. Aku melihat keadaan sekitar mobil ini. Sepertinya mobil ini terparkir di sebuah restaurant mewah tapi dengan suasana yang klasik. Dilihat dari luar , nampaknya restaurant ini sangat sepi sekali. Tak lama Farel membukakan pintu mobilnya untuk .


"Selamat datang princess."


Ucap Farel saat aku turun dari mobil nya. Aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Farel itu.lalu aku dan Farel mulai memasuki restaurant ini. Ternyata benar restaurant ini sangat sepi. Seperti restaurant yang sudah di Booking saja. Saat kami sudah sampai di sebuah meja, Farel menarik satu buah kursi di dekat meja itu dan mempersilakan aku untuk duduk. Di ikuti dengan dirinya yang duduk juga. aku duduk sambil masih terpesona dengan suasana di restaurant ini. Saat aku sedang asyik menikmati suasana klasik di restaurant ini aku di kaget kan dengan lampu restaurant yang tiba-tiba saja mati. Hanya menyisakan satu lampu yang menyala dan terfokus pada sebuah panggung di depan sana. Aku baru menyadari kalau di restaurant ini ada panggung yang lumayan megah dengan design yang mewah dan klasik juga sama seperti suasana restaurant ini. Aku mendengar suara alunan piano yang sangat indah yang ternyata bersumber dari piano yang berada di atas panggung itu.Aku sangat menghayati nada demi nada yang di alunkan oleh piano itu . Aku sangat penasaran dengan orang yang sudah berhasil membuatku terpikat dengan permainan piano nya. Tapi sayangnya aku tak dapat melihat orang yang sedang bermain piano itu dengan jelas. Karena wajah orang itu yang menunduk dan Masih terfokus dengan permainan piano nya di tambah lagi piano yang besar itu kembali menutup wajahnya. Aku baru tersadar kalau Farel sudah tak ada lagi di sampingku Kini hanya aku sendiri yang berada di restaurant mewah ini. Tapi entah kenapa, Bukannya aku takut dengan suasana yang sepi ini ditambah lampu yang masih padam, aku justru menikmati suasana ini. Aku menikmati alunan musik yang di lantunkan oleh piano itu sampai selesai tanpa takut sedikit pun karena aku sendiri. Aku juga tak begitu memikirkan Farel yang tidak ada di sampingku . Aku lebih memilih menikmati suasana ini daripada harus memikirkan Farel . Setelah aku sadar kalau pemain piano itu telah selesai memainkan piano nya. Setelah ia selesai memainkan pianonya ia bangkit dari posisinya. Tapi aku masih samar-samar melihat pemain piano itu yang kini sudah berdiri Tegap di Atas panggung itu dia sudah menunjukkan jati dirinya. Dia tak di balik piano besar itu lagi.


"Aku mencintai kamu ,layaknya matahari mencintai pagi. Aku mencintai kamu , layaknya bintang yang mencintai malam. Dan aku juga mencintai kamu layaknya pasir yang juga mencintai pantai. Tapi kamu harus tau, aku akan selalu mencintai kamu. Aku tak akan pernah berhenti mencintai kamu. Walau nanti jantungku berhenti untuk berdetak, walau nafasku tak lagi bisa berhembus , dan Darahku tak lagi Berdesir. Aku akan terus mencintai kamu sampai bumi berubah bentuk tak lagi bulat, sampai matahari lelah menemani pagi, dan sampai bintang berhenti untuk bersinar di malam hari"


Ucapan yang keluar dari mulut Farel membuatku menutup mulutku tak percaya, kalau Farel yang mengucapkan kalimat itu dengan tulus. Mataku tampak berkaca. Aku tak menyangka kalau Farel yang ada di panggung itu . Ucapan tulus dari Farel akhirnya mampu membuat cairan bening yang sudah sedari tadi aku tahan keluar juga dari pelupuk mataku. Aku masih terdiam di posisiku. Aku masih terhipnotis dengan semua ini. Setelah Farel selesai mengucapkan kata-kata itu lampu kembali di nyalakan. Kini suasana kembali terang. Aku melihat Farel yang berjalan menghampiriku.


"Hei . Kok kamu nangis? Kamu Gak suka ya sama ini semua? "


Ucap Farel dengan nada lirihnya setelah dia sampai di tempat kU. Aku membalas ucapan Farel dengan gelengan cepat. Gelengan itu pertanda kalau aku tidak setuju dengan ucapan Farel yang mengatakan kalau aku tidak suka dengan semua ini. Ini sangat menakjubkan . Sungguh tak bisa di gambarkan ke takjub an kU atas semua ini.


"Ini semua Lo yang nyiapin?"


Tanyaku pada Farel. Dan di balas oleh Farel dengan anggukan pasti sembari tersenyum.tanpa sadar aku memeluk Farel sangat erat. Aku menumpahkan semua haru di pelukan Farel. Aku merasa dia mengelus lembut rambutku.


"Kamu jangan nangis. Aku ngelakuin ini, karena aku sayang dan cinta sama kamu. Maaf kalau semua ini Gak sesuai dengan apa yang kamu harapkan."


Ia meregangkan pelukan kami dan mengeluarkan Ucapan Itu yang terdengar sangat tulus. Aku mendongakkan kepalaku di pelukan Farel agar aku bisa menatap Farel. Aku meletakkan telunjuk ku di bibirnya.


"Sstt. Lo salah kalau menurut Lo , gue berfikir kayak gitu. Gue justru Gak nyangka dengan apa yang udah Lo persiapkan . Gue bahagia banget. Gue kira acara kita malam ini Gak akan se romantis ini. Tapi Gak taunya sangat romantis. "


Ucapku tulus.


"Itu kewajiban aku untuk membuat kamu bahagia."


Balas Farel tak kalah tulus.


"Aduh sorry. Gue Gak maksud. Tadi gue terlalu seneng. Jadi kelepasan deh meluk Lo"


Ucapku sembari melepaskan pelukanku dari Farel. Farel terkekeh melihat sikapku yang masih malu-malu ini.


Tiba-tiba ada tangan Farel yang menarik daguku dengan lembut.


"Sekarang aku mau tanya sama kamu. Barusan aku udah menyatakan perasaan aku . Kalau aku sangat mencintai kamu. Aku tau ini semua ini terlalu cepat. Tapi itulah yang aku rasakan sekarang ini. Aku sangat berharap kalau kamu bisa menemani hari-hari aku. Kamu mau kan nerima aku apa adanya untuk jadi pelindung kamu? Dan aku siap untuk melindungi kamu dari bahaya apapun"


Ucap Farel sangat terdengar tulus yang masih memegang daguku lembut. Setelah dia selesai berbicara , baru daguku di lepaskan dari tangan nya secara lembut. Ia sepertinya sangat menunggu jawabanku. Karena aku belum juga menjawab pertanyaan nya. Lalu aku memutuskan untuk menjawab pertanyaan Farel dengan anggukan sembari tersenyum.


"Kita jalani aja dulu. Gue mau Lo buktikan semua ucapan Lo tadi. Oke?"


"Jalani? Jadi maksud kamu, sekarang kita udah berganti status?"


Tanya Farel dengan ragu. Lalu aku membalas kebingungan Farel itu dengan anggukan sembari tersenyum. Aku bisa melihat ekspresi wajah Farel yang tiba-tiba berubah menjadi sangat sumringah .


"Aku seneng banget. Bisa menaklukkan hati Aurel Carrelia Raisya yang selama ini ketus banget sama aku"


Ucap Farel sembari mencolek daguku. Dan tertawa kecil.


"Tapi Lo harus janji , kalau Lo bisa menjadi pelindung hidup gue, selain papa"


Aku memperingati Farel dengan tawa kecil .


"Aku janji, sayang. Aku janji akan selalu melindungi kamu dari bahaya apapun . Kalau perlu nyawa aku akan aku serahin untuk ngelindungi kamu. Aku Gak peduli sama nyawa dan diri aku sendiri. Aku lebih peduli sama ke selamatan hidup kamu. Kamu tenang aja yaa"


Ucap Farel dengan tulus sembari mengelus pipiku. Dan membawaku ke dalam pelukannya. Di peluknya erat tubuhku.


"Dih modus Lo. Pakai peluk-peluk lagi."


Ledekku pada Farel Setelah Ia melepaskan pelukannya.


"Biarin pacar aku ini. "


Ucap Farel yang kini balik menggodaku sembari mencolek pipiku.


"Kamu cantik banget. Kamu sempurna. Aku beruntung banget sekarang , kamu udah milik aku. Jadi aku Gak takut lagi kalau kamu bakal di deketin cowok lain"


Ucapan Farel membuat aku terkekeh sembari mengalihkan perhatian Farel. Karena aku tak mau kalau sampai Farel melihat wajahku yang kini kembali merona.


"Mulai deh gombal nya. Udah ah kamu jangan bikin pipi aku tambah blush"


Tanpa aku sadari . Ucapan itu keluar dari mulutku. Kenapa aku bisa mengakui kalau pipiku sedang blush kepada Farel? Oh Tuhan. Aku keceplosan mengakui ini pada Farel.


"Pipi kamu blush? Cieee Ngaku nih sama aku. Terus juga tadi perasaan aku Denger kamu ngomongnya aku kamu? Udah mulai biasa ya?"


Goda Farel sembari menjaw daguku. Oh ternyata aku baru tersadar juga kalau aku barusan ngomong aku kamu sama Farel. Padahal selama ini aku Gak mau ngomong aku kamu ke Farel, karena menurut aku , itu alay. Tapi ternyata aku juga keceplosan dengan hal itu.


"Nyebelin!! Di godain mulu"


Ucapku pada Farel sembari memasang wajah cemberut . Dan sikapku itu membuat tangan Farel mencubit pipiku pelan karena mungkin dia gemas dengan sikapku.


"Mulai sekarang ngomong nya jangan Lo gue lagi dong. Tapi aku kamu aja ya? Gak romantis kalau ngomong lo gue"


Ucap Farel dengan nada memohon.


"Insyaallah bakal di coba. Tapi nih ya kalau mau romantis itu bukan di liat dari cara ngomongnya . Tapi dari gimana cara pasangan itu menciptakan suasana romantis di antara mereka."


Ucapku dengan sok bijak.


"Cieee pacar aku bijak banget sih ngomong nya. Jadi makin cinta."


Farel kembali membuat pipiku bersemu.


"Dih kamu mah, dari tadi godain aku mulu. "


Aku kembali menunjukkan ekspresi kesal.


"Iya deh maaf pacar aku yang cantik . Jangan cemberut gitu dong nanti cantik nya berkurang .Oh iya kamu pasti lapar kan? "


Tanya Farel padaku. Dan aku langsung menjawab dengan anggukan cepat. Karena memang aku sudah sangat lapar. Farel hanya terkekeh melihat sikap ku yang seperti anak keci ini lalu Farel memanggil satu orang pelayan. Dengan cepat pelayan itu menghampiri kami.


"Silakan mau pesan apa ?"


Tanya pelayan itu santun.sembari memberi buku menu di restaurant ini.


"Saya mau steak dan orange juice,"


Ucapan itu keluar dari mulutku dan Farel secara bersamaan. lalu aku dan Farel saling menatap. Setelah itu tawa kecil di antara kami pun pecah. Aku melihat pelayan itu juga tertawa kecil melihat kekompakan aku dengan Farel. keinginan kami ternyata sama.


"Kompak sekali. Mudah-mudahan kalian Berjodoh ya"


Ucap pelayan itu sembari berlalu. Aku dan Farel saling menatap lagi mendengar ucapan pelayan itu , setelah itu tawa kami kembali pecah.


"Amin ya sayang"


Ucap Farel sembari melirik padaku setelah tadi tertawa. Aku hanya mampu menahan senyumku di iringi dengan kembali merona nya pipiku.


"Kalau mau senyum, senyum aja Gak usah di tahan. Liat tuh pipi kamu blush lagi. Aku jadi makin Gemes tau "


Ucap Farel sembari mencubit pelan wajahku.


"Emang kalau Gemes kenapa?"


Tanyaku pada Farel.


"Jadi mau cium."


Balas Farel dengan santai sembari tersenyum jail.


"Dih apaan sih Lo. Dasar modus!"


Ucapku pada Farel dan mencubit pelan lengan dan pinggang nya.


Sepertinya Farel meringis kesakitan.


"Aww sakit sayang."


Ucap Farel sembari memegang pinggang dan lengan nya.


"Rasain aja! Lagian dari tadi ngledekin aku mulu."


Ucapku pada Farel sembari menjulurkan lidahku meledek Farel. Farel hanya terkekeh melihat sikap


Kami menunggu pesanan kami dengan Becanda gurau.


Tak perlu waktu lama, pesanan yang kami tunggu akhirnya datang juga. Aku menatap makanan itu dengan tatapan lapar.


"Selamat menikmati"


Ucap pelayan sembari meletakkan makanan kami di meja .


"Makasih ya mbak"


Ucapku dan Farel , dan di balas dengan anggukan oleh sang pelayan Kemudian pelayan itu pergi dari Hadapanku dan Farel.


Aku dan Farel langsung menyantap makanan lezat ini dengan lahap Apalagi aku yang memang sudah sangat lapar.


"Pelan-pelan dong sayang makan nya. "


Ucap Farel sembari membersihkan noda makanan yang terletak di sudut bibir ku. Perasaanku menghangat mendapat perhatian yang besar ini dari Farel.


"Ehh ngomong-ngomong kok restaurant ini sepi banget ya cuma ada kita berdua. Kamu sengaja ya Booking restaurant ini khusus buat kita?"


Tanyaku pada Farel yang memecahkan suasana hening yang tercipta di antara kami.


"Iya aku sengaja Booking restaurant ini untuk kita berdua. Aku Gak mau diner kita malam ini ada yang ganggu."


Ucap Farel memberi aku penjelasan.


"Berarti kalau Seandai nya tadi aku Gak mau kamu di ajak jalan, gimana sama Bookingan kamu? Gak mungkin kan kamu batalin gitu aja?"


Tanya kU pada Farel dengan penasaran.


"Aku yakin kamu mau aku ajak jalan. See bener kan apa yang aku bilang?"


Ucap Farel dengan pede.


"Dih pede banget si Lo. Hhmm coba tadi aku Gak mau kamu ajak jalan. Pasti kamu kecewa kan? Ngaku deh sama aku. Pasti kecewa kan? "


Aku meledek Farel sembari menjawil dagunya. Tapi dengan cepat tangan ku yang aku gunakan buat menggodanya kini malah di genggam nya erat.


"Iyalah pasti kecewa banget. Kalau sampai kamu tadi Gak mau jalan sama aku. "


Ucap Farel sembari mencium punggung tanganku dengan lembut.


"Udah kamu lanjutin makan nya. Nanti kita terlalu malam pulangnya."


Ucap Farel padaku dan aku balas dengan anggukan .lalu kami lanjutkan menyantap steak kami lagi.setelah beberapa saat akhirnya kami selesai juga menyantap makanan ini yang sungguh lezat.


"Udah lega perutnya? Kita pulang ya? Biar kamu bisa istirahat."


Farel berbicara denganku sembari mengelus rambutku dengan sangat lembut . Dan aku balas dengan anggukan sembari tersenyum. Mataku memang terasa sudah sangat berat. Lalu kami berjalan menuju parkiran. Farel membuka pintu mobilnya untukku , dan mempersilakan aku masuk kedalam mobilnya. Farel melajukan mobilnya keluar dari restaurant klasik dan mewah ini menuju rumahku. Di dalam mobil hanya keheningan yang terjadi.


"Makasih yaa buat malam ini. Kok kamu bisa si romantis kayak gini? Kirain kamu Gak bisa romantis."


Hingga akhirnya aku memutuskan untuk memecahkan suasan hening di dalam mobil Farel.


"Dengan kamu, aku bisa melakukan apapun yang mampu membuat kamu bahagia,"


Balas Farel dengan tulus sembari mengelus pucuk kepalaku.