Aurel

Aurel
29



"Rel?"


Panggil Jessica ragu. Jessica melirik ke arah Audy dan Sherly yang juga sedang menatap Aurel yang sedang melamun.


"Rel?"


Panggil Jessica lagi. Kini panggilan nya berhasil membuat Aurel tersadar dari lamunannya.


"Eh iya? Kenapa jes?"


Tanya Aurel yang baru tersadar dari lamunannya.


"Lo Gak papa kan? Gimana sama Farel?"


"Hmm. Farel belum mau maafin gue."


Ucap Aurel dengan nada lirih.


"Lo yang sabar ya. Farel Gak beneran marah kok sama Lo. Dia cuma kecewa aja dan butuh waktu untuk sendiri."


"Iya, Jes. Semoga aja "


"Yaudah sekarang kita ke LAB kimia yuk."


Hari ini, kelas Aurel memang sedang ada jam pelajaran kimia. Dan murid di perintahkan oleh Pak surya untuk segera ke LAB kimia saat bel masuk telah berbunyi.


Tiba-tiba saat Aurel dan teman-teman nya berjalan menuju laboratorium kimia, Aurel berpapasan dengan Farel. Aurel menatap Farel dengan nanar. Sedangkan Farel Hanya mengalihkan pandangannya dari Aurel, lalu bergegas pergi dari hadapan Aurel.


Aurel mendesah kecewa. Ternyata Farel masih belum memaafkannya.


Akhirnya ia kembali melanjutkan langkahnya menuju laboratorium kimia.


****


Aurel sedikit berlari menyusuri koridor sekolah untuk mencari seseorang. Ia mengalihkan pandangannya ke setiap sudut sekolah.


Sampai akhirnya ia menemukan orang yang sedari tadi ingin ia temui.


"Farel"


Panggil Aurel pada Farel, agar Farel menghentikan langkahnya. Namun Farel tetap saja melanjutkan langkah nya tanpa Menghiraukan panggilan Aurel. Aurel berlari menghampiri Farel dan berusaha menyamai langkahnya dengan Farel.


"Farel tunggu."


Akhirnya Aurel bisa menyamai langkahnya dengan Farel sembari menahan pergelangan tangan Farel.


Farel mengalihkan pandangannya dari Aurel. Ia tak menatap Aurel sama sekali.


"Aku mau ngomong bentar, boleh?"


Tanya Aurel sembari menatap Farel dengan memohon.


Farel menghela nafas sejenak. Ia menjawab Aurel dengan hanya mengangguk pelan.


Aurel meraih wajah Farel dengan tangan nya. Ia berharap Farel akan membalas tatapannya.


Farel Menatap Aurel sangat dalam. Ia Sangat rindu akan tatapan hangat milik gadisnya ini.


"Aku mau minta maaf sama kamu soal kemarin. Aku sama sekali Gak jadiin kamu bahan taruhan. Aku cuma mau buktiin ke Laura kalau aku itu Pantes buat kamu."


Jelas Aurel dengan suara bergetar. Ia berusaha menahan tangisnya.


"Terus kalau kemarin kamu Gak menang, kamu gak Pantes buat aku? Gitu maksud kamu? Tau apa sih kamu tentang cewek yang Pantes buat aku?"


"Tapi aku cu..."


"Gak usah bahas masalah ini dulu ya. Aku mau pulang. Kamu bawa mobil kan? Sampai rumah jangan lupa makan, Terus istirahat. Aku pulang dulu ya"


Ucap Farel sembari mengelus wajah cantik milik gadisnya lalu bergegas pergi dari hadapan Aurel.


Aurel menarik nafas dalam. Ia menatap kepergian kekasihnya dengan nanar. Air mata Aurel kembali membasahi wajah mulus miliknya.


Ya Tuhan. Ia benar-benar sudah membuat orang yang sangat mencintainya kecewa. Rasa bersalah selalu merasuki diri Aurel. Sungguh ia berjanji pada dirinya sendiri, kalau ia tak kan mengulangi hal yang akan membuat kekasihnya kecewa lagi.


Bahkan saat Seperti ini, Farel masih menunjukkan perhatian nya pada Aurel. Apakah yang di lakukan Aurel sudah keterlaluan untuk Farel? Sehingga Farel sangat kecewa padanya.


******


Sepertinya sudah tiga hari belakangan ini, Aurel tidak melihat Sosok Farel di sekolah. Kemana dia? Apa dia berniat untuk meninggalkan Aurel dan tak akan pernah kembali?


Aurel sangat murung karena ia tak kunjung mengetahui keberadaan Farel. Ia sudah berusaha menghubunginya, namun nihil. Tak ada satupun tanggapan dari Farel.


"Sayang, sebenarnya kamu dimana sih?"


Ucap Aurel sembari menyusuri sekolah mencari sosok Farel.


Tiba-tiba pandangan Aurel terhenti pada teman-teman Farel yang sedang berjalan menuju kantin.


"Ryan, Aldo, Haris"


Panggil Aurel pada mereka sembari berlari menghampiri mereka. Mereka langsung menoleh pada asal suara.


"Kenapa rel?"


Tanya Ryan pada Aurel saat aurel sudah berada di hadapan nya. Nafas aurel masuh terengah karena tadi berlari saat menghampiri mereka.


Aurel menarik nafas nya dalam


"Hhmm. Gue mau tanya sama kalian."


Ucap Aurel ragu. Apa ia harus bertanya dimana keberadaan Farel pada teman-temannya? Lalu apa kata mereka nanti? Bukankah Aurel kekasihnya? Masa tak tahu dimana keberadaan Farel.


"Tanya apa?"


Tanya Ryan yang akhirnya membuat Aurel mau tak mau harus bertanya pada teman2 Farel. Mau bagaimana lagi? Daripada ia penasaran di mana keberadaan kekasihnya kini? Lebih baik dia bertanya bukan?


"Kalian tau Gak Farel Kemana? Soalnya udah tiga hari belakangan ini gue gak liat dia."


Ucap Aurel. Dengan sangat penasaran ia menunggu jawaban dari teman Farel.


"Loh, emang nya Lo gak tau? Farel kan ke singapore buat ngewakilin sekolah kita di Olimpiade internasional yang di adakan di singapore."


Penjelasan Ryan membuat nafas aurel tak beraturan. kaget? Ya, Aurel benar-benar kaget mendengar penuturan Ryan. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Singapore?"


Tanya Aurel lirih yang masih tak percaya. Ryan membalas dengan anggukan pasti.


Bagaimana bisa Farel tak memberi nya kabar bahwa ia akan ke singapore? Ya Tuhan, ini sangat membuat Aurel kecewa. Kalau memang Farel masih marah padanya, sepaling tidak ia cukup mengabarkan nya lewat pesan singkat.


"Yaudah kalau gitu makasih ya"


Ucap Aurel lalu berlalu dari mereka.