Aurel

Aurel
30



"Kamu ke singapore pun Gak ngabarin aku? Aku tau kamu marah tapi setidaknya nya kamu bisa ngabarin aku kan rel?"


Batin Aurel lirih.


Kini Aurel sudah sampai di rumahnya, sehabis pulang sekolah tadi, ia tak pernah berhenti memikirkan Farel.


Ia duduk di ranjang nya dengan menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan kepalanya di lututnya. Ia berusaha Menyembunyikan air matanya yang sedari tadi jatuh di dalam lekukan lututnya itu.


Ya Tuhan, kini Aurel benar-benar bingung harus melakukan hal apa lagi agar Farel mau memaafkannya?


Suara isakan terus terdengar. Bahkan memenuhi ruang kamar yang besar ini.


************


Hari telah menjelang sore, namun Aurel tak kunjung keluar dari kamarnya.


Aurel masih tak bergeming dari posisinya. Ia masih terduduk di ranjang, Dan masih setia menenggelamkan kepalnya di lekukan lututnya.


Air mata Aurel tak kunjung berhenti untuk mengalir. Menangis? Ya hanya itulah yang bisa Aurel lakukan. Walaupun dengan menangis, masalah tak akan pernah selesai. Namun Entah mengapa ia Menangis karena ia sudah mulai lelah dengan sikap farel padanya.


Tiba-tiba pintu kamar Aurel terbuka secara perlahan dan menampakan seseorang. Namun Aurel tak menghiraukannya. Ia masih setia dengan posisinya. Padahal ia tahu, kalau sekarang sedang ada yang membuka pintu kamarnya.


Perlahan tapi pasti seseorang itu menghampiri Aurel yang masih menenggelamkan kepalanya itu. Seseorang itu mengusap kepala Aurel dengan sangat lembut.


"Sayang"


Ucap seseorang itu sembari mengelus rambut Aurel dengan sangat lembut.


Aurel masih tak bergeming dari tangisannya. Ia tak perduli akan orang yang kini sedang ada di dekatnya. Yang ia inginkan sekarang adalah kehadiran Farel.


"Sayang"


Panggil seseorang itu lagi.


Tidak mungkin!! Itu hanya halusinasi Aurel. Suara itu tidak mungkin milik Farel! Dan sentuhan itu juga tak mungkin berasal dari Farel!


Entah mengapa, Aurel merasa kalau semua ini nyata. Ia merasa kalau sentuhan dan panggilan itu berasal dari Farel.


Namun ia segera membuang jauh-jauh Fikiran nya. Itu hanya halusinasi Aurel!! Bagaimana mungkin Farel berada disini? Jelas-jelas dia sedang berada di singapore. Lagipula Farel masih marah padanya, jadi rasanya tak mungkin semua yang di rasakan Aurel saat ini adalah berasal dari Farel.


"Sayang kamu kenapa?"


Tanya seseorang itu.


Aurel hanya tak ingin kecewa. Makanya ia tak ingin menoleh pada asal suara. Bagaimana kalau itu bukan Farel?


Oh Tuhan, sekarang Aurel bingung. Ia hanya takut kecewa. Ia Hanya terlalu berharap akan kehadiran Farel disini.


Tapi semakin lama, sentuhan yang dirasakan Aurel Seperti terasa nyata. Ia merasakan kehadiran Farel di dekatnya. Entahlah, itu hanya halusinasi Aurel, atau benar2 nyata.


Tapi ya sudah lah! Akhirnya, Aurel mendongakan kepalanya secara perlahan untuk menatap seseorang itu.


Matanya membulat sempurna saat melihat Sosok yang sudah berada di hadapannya kini.


Aurel langsung berhamburan kedalam pelukan orang itu. Tangis nya benar2 pecah seketika. Orang itu juga dengan senang hati membalas pelukan erat dari Aurel.


"Kamu kenapa sayang? Kok nangis?"


Ucap seseorang itu. Farel! Ya, seseorang yang sedang di peluk erat oleh Aurel itu adalah Farel. Sosok yang sangat ia rindukan.


Aurel masih tak ingin melepaskan pelukan nya pada Farel. Ia sangat rindu akan pelukan ini. Sudah beberapa hari ini ia tak merasakan pelukan kekasihnya itu yang mampu membuatnya merasa sangat nyaman.


"Kamu udah Gak marah lagi sama aku?"


Tanya Aurel saat ia sudah melepaskan pelukan nya.


"Aku gak akan pernah bisa marah sama kamu. Aku cuma kecewa sayang."


Ucap Farel lembut sembari tersenyum menatap Aurel.


"Aku minta maaf ya. Aku Gak bermaksud kayak gitu sama kamu."


Ucap Aurel dengan nada lirih.


"Jauh sebelum kamu minta maaf sama aku, aku udah maafin kamu kok. Udah ya kamu jangan nangis lagi."


Ucap Farel lagi sembari menghapus air mata kekasihnya itu menggunakan jemarinya.


Aurel kembali memeluk Farel dengan Sangat erat. Farel terkekeh melihat sikap kekasihnya ini yang masih sangat manja.


"Aku kangen banget sama kamu."


Ucap Aurel di dalam pelukan farel.


"Aku lebih kangen kamu sayang."


Balas Farel sembari mengelus lembut punggung kekasihnya.


"Bohong! Kangen apaan? Masa aku di jauhin terus di Cuekin. Mana ada kangen kayak gitu?"


Ucap Aurel yang masih mengerucutkan bibirnya.


"Aku kan mau kasih kamu pelajaran. Supaya jangan diulangi lagi. Sekarang kamu udah ngerasain kan aku Cuekin? Enak gak?"


Tanya Farel sembari tersenyum jail. Aurel langsung membalas dengan gelengan cepat. Farel terkekeh melihat kekasihnya yang sangat menggemaskan itu. Farel mencubit pelan pipi Aurel.


"Makannya jangan diulangi lagi ya. Sebenarnya Aku juga Gak bisa Cuekin kamu kayak kemarin. Cuma aku harus lakuin itu, supaya kamu jengah. Kamu harus janji ya jangan kayak gitu lagi."


Ucap Farel sembari menatap manik mata kekasihnya itu.


"Iya aku janji. Sekali lagi aku minta maaf ya sayang"


Balas Aurel dengan mantap dan yakin. Farel membalas ucapan kekasihnya dengan mengangguk sembari tersenyum. Lalu ia membawa kekasihnya itu kedalam pelukan nya lagi.


"Kamu Gak perlu buktiin ke siapapun kalau kamu itu Pantes buat aku. Kamu cukup buktiin ke aku, itu udah lebih dari cukup sayang."


Ucap Farel lembut yang masih memeluk kekasihnya sembari mengelus punggung Aurel dengan sangat lembut. Aurel yang mendengar ucapan kekasihnya itu langsung mengangguk patuh di dalam pelukan Farel.


"Kamu kok bisa disini? Bukannya kamu lagi di singapore ya?"


Tanya Aurel yang sebenarnya sudah sedari tadi penasaran dengan hadirnya Farel secara tiba-tiba di rumahnya.


"Iya, aku abis dari singapore. Karena ditunjuk sekolah buat ngewakilin sekolah di Olimpiade internasional yang diadakan di singapore, tapi cuma tiga hari aja. Nah, begitu aku sampe di Indonesia lagi, aku mutusin buat langsung kerumah kamu. Aku udah Gak sanggup nahan kangen sama kamu. Aku Udah Gak sabar liat wajah cantik nya pacar aku."


Ucap Farel menjelaskan sembari tersenyum jail ingin menggoda kekasihnya.


"Apaan sih kamu? Gombal."


Aurel memukul lengan Farel pelan. Kini wajahnya terasa memanas, pasti sudah merona. Farel terkekeh geli melihat tingkah Kekasihnya itu yang selalu merona tiap kali di goda nya.


"Kamu kenapa sih kalau aku godain muka nya merah kayak gitu?"


Tanya Farel sembari tersenyum menggigit bibir bawahnya. Aurel membelalakan matanya mendengar ucapan kekasihnya. YaTuhan, jadi selama ini Farel tau? Kalau wajahnya akan merona tiap kali di goda nya.


"Ih kamu mah. siapa bilang pipi aku merah kalau di goda kamu. Dih geer."


Ledek Aurel sembari menjulurkan lidah nya membuat Farel terkekeh.


"Oh jadi kalau di goda sama cowok lain juga merah ya pipinya?"


Tanya Farel dengan nada kecewa nya. Sebenarnya ia tak serius dengan ucapannya, namun ia Hanya ingin tau tanggapan Aurel saat ia seperti itu.


"Enggak kok. Iya deh iya pipi aku merah kalau di goda kamu. Tapi kalau di goda cowok lain juga deh."


Ledek Aurel lagi yang membuat Farel membelalakan matanya Setelah itu ia mengerucutkan bibirnya. Aurel berusaha menahan tawanya saat melihat ekspresi Farel yang sangat menggemaskan saat sedang kesal.


"Yaudah deh aku marah lagi sama kamu."


Ucap Farel lalu hendak pergi dari kamar Aurel. Namun dengan cepat, Aurel menahan pergelangan tangannya.


"Jangan marah lagi dong. Aku kan cuma bercanda sayang."


Ucap Aurel yang memohon pada Farel membuat Farel terkekeh.


"Abisnya, ngeselin banget. Masa kalau di goda cowok lain juga merona pipinya? Kan aku Gak mau ngliat pipi kamu merona sama cowok lain. Aku maunya pipi kamu merona cuma karena aku bukan karena cowok lain."


Balas Farel.


"Iya deh iya. Cuma digoda sama kamu pipi aku jadi merona."


Ucap Aurel pasrah.


"Nah gitu dong."


Balas Farel sumringah.


"Oh iya, kamu pasti belum makan malam kan?"


Tanya Farel yang langsung dibalas gelengan cepat dari Aurel.


"Kita makan di luar yuk. Sekalian cari angin."


Ajak Farel. Yang langsung membuat wajah Aurel sumringah.


"Ayuk."


Aurel dengan gembira menerima tawaran Farel.


"Tunggu bentar deh"


Ucap Farel tiba-tiba sembari menatap aneh wajah kekasihnya. Hal itu sontak membuat Aurel mengerinyit kan dahinya. Kenapa Farel menatap nya aneh Sepeti itu? Tidak biasanya.