Aurel

Aurel
22



"Farel"


Panggilan itu membuat langkah Farel terhenti saat ia hendak menuju kelas. Farel menoleh ke asal suara.


"Lo Kemana aja? Kayaknya gue Gak liat Lo belakangan ini"


"Gue emang kemarin-kemarin izin Gak masuk sekolah dulu Ra , karena gue harus nemenin Aurel di rumah sakit."


Jawab Farel pada orang itu. Ya, orang itu adalah Laura.


"Cewek Lo sakit?"


Tanya Laura pada Farel. Kenapa ia sangat penasaran?


"Iya. Beberapa hari yang lalu dia kecelakaan."


Jawab Farel pada Laura. Mengapa ekspresi Laura berubah menjadi tersenyum licik? Apa ia bahagia mendengar kabar ini.


"Gue masuk kelas dulu ya."


Ucap Farel yang tak ingin berlama-lama dengan Laura. lalu pergi dari hadapan Laura . Sedangkan Laura masih berdiam diri dan senyum licik itu belum juga pudar dari wajah nya.Seperti nya, ia senang kalau Aurel dalam keadaan seperti ini.


"Ini kesempatan gue buat deketin Farel."


Ucap Laura di sertai senyum dan tatapan licik nya. Oh god! Ternyata benar , di balik senyum licik nya itu ada maksud jahat. Apa maksud nya? Dia berniat untuk merebut Farel dari Aurel? Mungkin ini yang membuat ia senang saat mendengar Aurel mengalami kecelakaan. Karena dia Fikir, kalau Aurel kecelakaan , Aurel tak ada di samping Farel . Dan itu akan membuat nya lebih mudah untuk merebut Farel dari Aurel.


***


"Rel gw boleh pulang bareng Lo Gak?"


Lagi lagi perempuan itu. Ya, Laura siapa lagi kalau bukan perempuan aneh itu? Ia menghampiri Farel yang sedang mengambil motornya di parkiran sekolah.


"Aduh sorry ya Ra. Gue gak bisa pulang bareng Lo. Soalnya gue mau kerumah Aurel dulu. Lo pulang sendiri aja ya."


Tolak Farel secara halus. Ia tak mungkin tak menghampiri kekasihnya demi pulang bareng dengan Laura.


Terlihat jelas raut kecewa di wajah Laura saat mendengar jawaban Farel tadi.


"Plis rel. Sekali ini aja, Lo Anter gue pulang. Mau ya?"


Ia memaksa Farel dengan tatapan memohonnya sembari bergelayut manja di lengan Farel. Ia menggenggam Lengan Farel sangat erat.


"Lepas Ra. Gue Gak bisa."


Farel berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Laura. Tapi Laura tak juga melepaskan nya. Sepertinya ini sangat menguras emosi Farel. Bagaimana tidak? Dia sudah sangat lancang bergelayut di lengan Farel. Memang nya dia siapa? Berani sekali bermanja-manja dengan Farel. Bahkan Aurel saja yang kekasih Farel tak pernah manja seperti itu dengan Farel.


"Lepas Ra!"


Sentak Farel dengan kasar. Ia melepaskan lengannya dari Laura dengan sangat kencang , sehingga mau tak mau Laura melepaskan genggamannya dari lengan Farel.


"Lo jahat banget si rel! Gue cuma mau pulang bareng sama Lo. Lagian ngapain sih Lo peduli sama cewek Lo itu? Ha?Dia aja Gak pernah peduli sama Lo! Dia Gak pantas buat Lo! "


Kini Laura malah balik marah pada Farel. Kenapa dia membawa Aurel yang tidak ada sangkut pautnya dengan permasalahan ini?


" Tau apa Lo tentang cewek yang pantes buat gue? Ha?! Yang bisa menilai pantas atau Gak nya Aurel buat gue itu cuma gue! Dan Lo Harus tau Pantas atau Gak nya Aurel buat gue itu Gak ada urusannya sama Lo! Ngerti Lo!"


Jawab Farel dengan nada membentak. Wajar bukan kalau dia marah? Tau apa dia tentang Aurel? Secepat itu dia memberi kesimpulan dan berfikir kalau Aurel tidak pantas untuk Farel?Itu Fikiran yang sangat bodoh!


Kini Farel meninggalkan Laura yang masih mematung dengan wajahnya yang sudah di penuhi oleh air mata . Kenapa ia menangis? Bukannya ia baru saja menghina Aurel? Terus kenapa dia yang menangis?


Laura masih tak menyangka atas semua perlakuan kasar Farel tadi. Bukankah Farel sudah berubah dari sifat nya yang dulu? Bukankah dia sudah tak kasar lagi?


Tapi perlakuan kasar Farel tadi memang sangat wajar dia berikan kepada perempuan yang telah menilai kekasihnya dengan seenaknya tanpa menyadari apakah dia sudah lebih sempurna dari kekasihnya itu, Aurel ? Apa Laura sudah lebih baik dari Aurel? Rasa nya tidak. Mengapa dikatakan tidak? Karena menurut Farel , kekasihnya itu sudah membuat nya merasa nyaman , dengan kenyamanan itu Farel yakin kalau Aurel sangat pantas untuknya. Dan Farel juga yakin , dengan kenyamanan yang di berikan Aurel untuknya , itu pertanda kalau Aurel lebih sempurna di mata nya.


***************


Sesampai nya Farel di depan pintu kamar Aurel ia mencoba menarik nafas nya dalam-dalam untuk meluapkan emosinya yang tersisa kini. Setelah ia merasa hati nya sedikit lega , ia mulai membuka pintu kamar Aurel yang kebetulan tak di kunci oleh sang pemilik kamar.


"Eh kamu udah dateng."


Sapa Aurel yang menyadari kehadiran Farel . Farel hanya menjawab dengan senyuman kecil. Sepertinya sikap Farel itu, membuat Aurel bingung. Tak biasanya kekasihnya itu kalau di sapa hanya membalas dengan senyum. Dan senyum itu seperti nya sangat enggan terukir dengan indah.


"Kamu kenapa?"


Tanya Aurel pada Farel sembari mengerinyit kan dahinya dan menatap Farel dengan heran.


"Gak papa kok sayang. Oh Iya ini aku bawa makan siang untuk kamu. Di makan ya. Aku suapain mau Gak?"


Tanya Farel berusaha mengalihkan pembicaraan. Aurel hanya menarik nafasnya dengan kasar. Oke, dia akan coba menunggu Farel untuk jujur padanya.


"Boleh."


Jawab Aurel atas pertanyaan Farel tadi. Dan Farel dengan sabar memberi suapan-suapan makanan untuk kekasihnya itu. Bahkan saat menyuapi Aurel, wajahnya tampak sedang murung. Sebenarnya hati dan pikiran Aurel tak tenang melihat keadaan kekasihnya Sepeti ini. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa Farel sedang dalam masalah besar?


Awalnya Farel ingin bercerita pada Aurel tentang kejadian tadi. Tapi, Farel Berubah Fikiran. Ia tak mau kalau kekasihnya itu banyak beban pikiran. Ia juga tak mau keadaan kekasihnya yang sudah berangsur baik, menjadi memburuk lagi saat mendengar cerita Farel. Makanya , Farel enggan bercerita soal ini pada Aurel. Ia hanya tak ingin kekasihnya kenapa-kenapa.


Suasana hening menyelimuti sepasang kekasih ini. Farel sibuk dengan pikiran nya, sedangkan Aurel sibuk memperhatikan Farel yang semakin aneh. Sedari tadi Farel tak banyak bicara. Ia Hanya diam, di kursi tempat ia duduk di samping ranjang Aurel.


"Hai rel."


"Ya ampun rel gue kangen banget Sama Lo"


"Gimana keadaan Lo rel?"


Suara yang tiba-tiba datang , berhasil menyelesaikan suasana hening di antara Aurel dan Farel. Mereka berdua sama-sama menoleh pada asal suara yang sepertinya berasal dari ambang pintu kamar Aurel. Kini Aurel dan Farel beralih fokus kepada teman-teman Aurel yang baru saja datang ke kamar Aurel.


"Gue udah baikan kok."


Jawab Aurel menjawab pertanyaan Jessica tadi.


"Syukur deh."


Balas Jessica dengan senyum sumringah.


"Eh ada Farel juga. Lo udah lama ya dateng nya?"


Tanya Audy yang menyadari keberadaan Farel.


"Belum begitu lama."


Jawab Farel. Dan Audy Hanya mengangguk paham.


"Farel, Lo tadi ada masalah apa sama Laura?"


Pertanyaan Sherly berhasil membuat Farel mengangkat wajahnya menatap Sherly. Ia bingung harus menjawab apa? Aurel hanya mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan Sherly itu. Apa ini ada hubungannya dengan sikap Farel yang berubah? Aurel sama sekali tak mengerti.


Jawab Farel gelagapan. Kini Aurel semakin yakin kalau Farel sedang berbohong pada nya.


"Ooh. Kirain gue Lo ada masalah sama cewek aneh itu. Soalnya tadi kita liat kalian di parkiran sekolah kayak lagi ribut gitu."


Balas Sherly. Oh god! Ternyata teman-teman Aurel melihat pertengkaran Farel dengan Laura tadi? Ini gawat! Kalau sampai mereka cerita semuanya ke Aurel.


"Kayak nya dia suka tuh rel sama lo. Makanya jangan sampe punya masalah sama dia. Ntar bisa-bisa masalah lo itu di jadiin alasan sama dia buat dia nge deketin Lo."


Saran Audy pada Farel.


"Iya deh kayaknya Laura tuh suka sama Lo. "


Timpal Jessica.


"Lagian kalau dia suka sama gue, Gak ada pengaruhnya sama guem Cewek yang gue cinta itu cuma Aurel."


Balas Farel sembari melirik Aurel dan tersenyum. Aurel membalas senyum Farel. Tetapi di balik senyum yang terukir di bibir Aurel, ia masih menyimpan rasa penasaran nya pada ucapan Sherly tadi .


"Cieee Aurel. Cewek satu-satunya yang Farel cinta."


"Ekheem. Seneng Gak rel? Jadi nomor satu?"


Teman-teman Aurel mulai menggoda Aurel sembari menjawil wajah sahabatnya itu.


"Apaan sih kalian"


Balas Aurel sembari tersipu malu.


Kini teman-teman Aurel sibuk memainkan gadget nya masing-masing sembari duduk di sofa yang berada di kamar Aurel. Sedangkan Farel dan Aurel hanya terdiam. Entah mengapa mereka sama-sama canggung untuk berbicara. Sesekali Aurel melirik Farel yang dari tadi tak kunjung berbicara, ia hanya diam sembari menunduk. Tak salah lagi, kalau Kini Farel sedang memikirkan suatu masalah.


"Rel kita pulang dulu ya. Belum ganti baju nih."


Ucap Sherly yang memecahkan suasana hening. Ketiga teman Aurel memang belum mengganti seragam mereka. Karena sepulang sekolah tadi, mereka langsung bergegas ke rumah Aurel, untuk sekedar menjenguk Aurel Tanpa mengganti seragam mereka dulu.


"Ya udah kalian hati-hati ya."


Balas Aurel.


Setelah berpamitan dengan Aurel dan Farel , ketiga teman Aurel bergegas pulang kerumah mereka masing-masing.


Kini tinggal Aurel dan Farel di kamar ini. Farel sama sekali tak bergeming. Sepertinya sudah cukup penantian Aurel atas kebohongan Farel yang tak kunjung di sampaikan Farel padanya. Akhirnya ia menarik nafas nya dalam-dalam, ia ingin mencoba menghilangkan suasana hening dan canggung ini dengan pertanyaan yang sedari tadi mengganggu Fikiran nya.


"Kamu sebenarnya kenapa sih?"


Ucap Aurel memecahkan suasana hening diantara mereka berdua.


"Aku gak papa sayang."


Balas Farel lembut yang kini menatap Aurel.


"Bohong! Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku. Dari tadi aku perhatiin kamu Diem terus. Kayak lagi ada yang di pikirin."


Ucap Aurel yang tak puas dengan jawaban Farel tadi. Farel hanya diam tak menjawab ucapan Aurel tadi.


Kini Aurel meraih wajah Farel dengan kedua tangannya. Ia menatap Farel sangat dalam. Berharap dengan tatapan itu, ia bisa menemukan sesuatu yang di sembunyikan Farel.


"Ayo cerita sama aku. Kamu kenapa?"


Tangan Aurel lagi yang masih memegang wajah Farel. Namun tetap saja, Farel tak berbicara sepatah kata pun.


"Apa ada hubungan nya sama Laura?"


Tanya Aurel lagi. Kini Farel tertunduk. Tetapi wajahnya masih di pegang oleh Aurel. Ia bingung harus menjawab apa? Apa ia harus menceritakan semuanya dengan Aurel? Ya Tuhan, Farel merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia Harus merubah sikap nya di depan Aurel? Kalau ia tak merubah sikapnya di depan Aurel, mungkin Aurel tak akan curiga.


"Sebenarnya apa yang tadi di bilang sama Sherly itu benar. Aku sama Laura tadi berantem di parkiran sekolah."


Jawab Farel sembari menatap sendu ke arah Aurel. Jawaban Farel itu sontak membuat Aurel mengerinyit kan dahinya bingung.


"Emang nya ada apa? Kok bisa berantem?"


Tanya Aurel lembut.


"Dia ngajakin aku pulang bareng dengan cara maksa sambil megang-megang tangan aku. Ya aku gak suka aja dia udah lancang ngelakuin itu sama aku. Aku marah sama dia karena dia udah maksa aku. Udah gitu dia bawa-bawa kamu . Dia bilang kamu gak Pantes lah buat aku. Emang nya dia siapa ? Seenaknya menilai kamu. Aku Gak terima dengan semua penilaian dia tentang kamu, makanya aku bentak dia."


Jelas Farel pada Aurel. Farel menatap kekasihnya itu dengan wajah sendu. Sekarang hati dan Fikiran Farel rasanya tenang , karena dia sudah menceritakan semua nya dengan kekasihnya itu. Aurel tersenyum mendengar ucapan Farel. Jadi Farel telah membela nya di depan perempuan itu?


"Terus kamu kenapa jadi berubah gini? Bukannya masalah nya udah selesai?"


Tanya Aurel lagi.


"Aku cuma takut aja , kalau nanti kamu jadi sasaran dia . Karena aku udah marah sama dia. Aku takut kamu kenapa. Kamu kan tau sendiri kalau Laura itu cewek yang nekat. "


Ucap Farel kembali menjelaskan sembari menggenggam tangan Aurel yang masih berada di wajahnya. Lalu ia kecup berkali-kali punggung tangan kekasihnya itu.


"Aku Gak akan kenapa-kenapa kok. Kan ada kamu yang selalu jagain aku."


Balas Aurel sembari tersenyum lembut.


"Iya sayang. Aku akan selalu jagain kamu. Aku Gak akan biarin siapa pun untuk nyakitin kamu."


Balas Farel mantap. Sembari masih menggenggam tangan kekasihnya itu. Ia harus selalu menjaga Aurel, dari siapa pun. Termasuk dari Laura. Ia tak akan membiarkan siapapun menyentuh apalagi menyakiti wanita yang sangat ia cintai itu.


"Kenapa kamu baru mau cerita sama aku?padahal dari tadi aku nunggu kamu buat cerita semuanya."


Tanya Aurel . Ia masih bingung saja . Kenapa kekasihnya menutupi semua ini dari nya? Apa yang harus di sembunyikan?


"Aku Gak mau kamu sakit lagi sayang. Makanya aku Gak mau cerita sama kamu."


Balas Farel lembut.


"Kamu Denger aku ya. Dengan kamu berubah jadi murung kayak gini, itu malah buat aku kepikiran . Seharusnya kamu jujur aja sama aku. Jangan kamu simpen sendiri ."


Nasihat Aurel dengan nada yang sangat lembut. Ia berusaha memberi pengertian pada Farel.


"Maaf sayang."


Balas Farel yang merasa bersalah dengan Aurel.


"Ya udah sekarang kamu jangan murung lagi ya"


Ucap aurel sembari menatap mata Farel lembut dan mengelus lembut wajah tampan Milik Farel. Farel Membalas tatapan yang selalu membuat nya nyaman itu. Di genggam nya tangan Aurel yang sedang menjelajahi wajahnya. Lalu di kecupnya dalam-dalam. Sumpah Demi apapun ia sangat mencintai Aurel. Ia bahagia karena bisa mendapatkan perempuan yang sangat mengerti keadaan nya.


**