
"Tunggu bentar deh"
Ucap Farel tiba-tiba sembari menatap aneh wajah kekasihnya. Hal itu sontak membuat Aurel mengerinyit kan dahinya. Kenapa Farel menatap nya aneh Sepeti itu? Tidak biasanya.
"Kenapa?"
Tanya Aurel yang masih bingung.
"Kamu kok jelekan ya? Liat nih mata kamu sembab, hidung kamu merah. Kok pacar aku jadi jelek?"
Ucap Farel sembari memperlihatkan wajah anehnya.
"Ih kamu nih. Ini semua tuh gara-gara kamu. Aku kayak gini karena nangis terus tau karena kamu Cuekin aku."
Balas Aurel sembari cemberut.
"Oh ya? Oh jadi ini semua gara-gara aku ya? Duh kasian banget sih pacar aku. Yaudah deh aku minta maaf ya. Lagian ngapain juga nangis cuma karena aku Cuekin. Kamu Lebay sih"
Ledek Farel sembari mencubit pelan hidung Aurel yang kini masih memerah karena terlalu banyak menangis itu.
"What? Lebay? Kamu bilang aku Lebay? Dasar cowok! Emang Gak pernah ngerasain sih di Cuekin. Sakit nya tuh disini."
Ucap Aurel pura-pura bersedih sembari menunjuk dimana hatinya berada. Farel terkekeh melihat tingkah Aurel yang Seperti sedang menangis.
"Apaan sih kamu. Jadi Gak nih? Katanya tadi mau makan diluar?"
Tanya Farel.
"Jadi lah. Tapi kamu tunggu di bawah aja. Aku mau siap-siap dulu."
Ucap Aurel yang dibalas anggukan oleh Farel. Akhirnya Farel memutuskan untuk menunggu kekasihnya di lantai bawah. Sembari menunggu Aurel, Farel terlibat obrolan seru dengan papa Aurel, di ruang tamu. Banyak hal yang mereka perbincangkan.
"Oh iya, om dengar kamu baru abis dari singapore ya? Untuk ngewakilin sekolah di Olimpiade internasional?"
Tanya papa Aurel pada Farel. disela obrolannya dengan Farel.
"Iya om."
Jawab Farel santun.
"Wah. Terus gimana, apa kamu menang?"
Tanya papa Aurel lagi dengan penasaran.
"Belum ditentukan om. Babak final nya akan dilaksanakan tiga minggu lagi."
"Oh begitu. Kamu hebat banget bisa di pilih sama sekolah."
Ucap papa Aurel yang bangga dengan kekasih dari anaknya itu. Farel tertawa kecil mendengar ucapan dari papa Aurel.
"Aku udah siap nih"
Ucap Aurel yang tiba-tiba datang mengahampiri papanya dan Farel. Keduanya langsung beralih fokus pada Aurel yang kini sudah dihadapkan mereka. Aurel tampak terlihat menawan malam ini menggunakan dress santai yang tidak berlengan. Dengan panjang sebatas lutut berwarna hijau tosca yang dilengkapi hiasan bunga berwarna-warni di bagian bawahnya.
Farel tak berkedip sedetik pun saat melihat penampilan gadisnya. Walaupun ini memang sudah biasa bagi Farel. Gadisnya memang selalu terlihat cantik. Respons Farel yang tak beralih tatapan itupun, langsung membuat Aurel salah tingkah.
"Ya udah. Kami berangkat dulu ya om."
"Pa Aurel jalan dulu ya "
Pamit Aurel dan Farel pada papanya.
"Iya. Kalian hati-hati ya. Farel tolong jaga anak om ya."
"Siap om"
Balas Farel dengan mantap.
Lalu Farel menggandeng tangan Aurel menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan rumah aurel.
"Kita mau makan dimana?"
Tanya Aurel saat sudah berada didalam mobil Farel.
"Di warteg aja"
Balas Farel santai. Ia ingin tau gimana ekspresi kekasihnya saat akan diajak makan ke warteg. Apakah Aurel sama seperti perempuan di luar sana yang tak level dengan warteg?
"Yeaayyy makan di warteg. Aku jarang loh makan di warteg. Akhirnya bisa juga makan di warteg."
Pekik Aurel dengan girang.
Farel mengerinyit kan dahinya bingung. Bagaimana bisa Aurel tak menolak ajakan nya makan di warteg?Ternyata Aurel sangat berbeda dengan perempuan di luar sana yang sangat enggan makan di warteg. Farel berdecak kagum pada kekasihnya. Ia sangat sederhana sekali.
"Kamu Gak nolak aku ajak makan di warteg? Ya ampun sesederhana itu ya kamu? Aku kira kamu bakal nolak atau marah sama aku, Kalau aku ajak makan di warteg. Tapi ternyata dugaan aku salah. Kamu sederhana banget sayang."
Batin Farel sembari menatap Aurel sejenak lalu kembali fokus menyetir.
Farel melajukan mobil nya menuju sebuah mall. Ia berencana akan mengajak Aurel makan malam di salah satu restaurant yang berada di mall itu.
*********
Kini mobil Farel sudah terparkir di mall yang ia inginkan.
Aurel mengerinyit kan dahinya, ia menatap bingung ke tempat yang sedang ia dan farel kunjungi.
"Ayo sayang kita turun"
Ajak farel. Saat farel hendak turun dari mobilnya untuk membuka pintu mobil nya untuk Aurel, tiba2 lengan farel di tahan oleh Aurel. Farel hanya menatap kekasihnya dengan bingung.
"Kok kita kesini? Bukannya kita mau makan di warteg ya?"
Tanya Aurel dengan wajah polos nya. Farel terkekeh geli mendengar pertanyaan kekasihnya. Mana mungkin ia mengajak Aurel makan di warteg?
"Kok ketawa? Ayuk kita ke warteg. Ngapain ke mall sayang?"
Tanya Aurel lagi yang membuat Farel kembali tertawa.
"Ih kok kamu ketawa lagi sih? Aku kan serius. Ayo dong sayang Kita ke warteg. Aku udah laper nih. Lagian kamu ngapain sih ke mall? Ada yang mau di beli?"
Tanya Aurel lagi. Kini Farel sudah menghentikan tawanya.
"Sayang dengerin aku ya."
Ucap Farel sembari menangkup wajah kekasihnya agar menatap nya.
"Aku Gak mungkin ngajak pacar aku makan di warteg. Tadi aku cuma bercanda sayang. Kita Gak makan di warteg, tapi makan disini."
Jelas farel sembari menatap kekasihnya.
"Loh, kok makan disini? Aku maunya di warteg sayang"
Rengek Aurel manja.
"Apaan sih kamu? Masa makan di warteg? Udah ah ayuk turun, kita cari restaurant di mall ini."
Ajak Farel. Saat ia telah membuka pintu mobilnya untuk Aurel, Aurel malah tak ingin beranjak dari posisinya.
"Ayo sayang"
Ajak Farel lagi yang sudah menunggu Aurel keluar di depan pintu mobilnya, namun Aurel tak kunjung keluar juga.
"Aku gak mau makan disini. Mau nya makan di warteg."
Ucap Aurel yang masih bersikeras ingin makan di warteg.
"Sayang, Ayo dong keluar. Kita makan nya di sini aja ya. "
"Gak mau!"
Farel menghela nafas jengah. Kekasihnya ini benar-benar keras kepala. Ia sangat susah di atur.
"Katanya mau ngerubah sifat keras kepalanya demi aku, tapi mana buktinya? Masih aja tetap keras kepala tuh."
Sindir Farel pada Aurel.
Tiba-tiba Aurel terdiam mendengar ucapan kekasihnya. Ia teringat akan janjinya pada Farel.
"Ya udah deh. Kita makan disini"
Balas Aurel pasrah, lalu ia turun dari mobil Farel. Farel langsung tersenyum penuh kemenangan.
"Nah gitu dong. Kalau aku bilangin tuh nurut. Jangan bandel. Masa mau makan di warteg? Kamu aneh-aneh aja deh."
Ucap Farel sambil mencubit pelan pipi Aurel.
"Ih itu Gak aneh tau! Warteg kan juga tempat makan. Apa bedanya sama restaurant?"
Balas Aurel sembari melipat kedua tangannya di depan dadanya.
"Ya jelas beda dong sayang. Warteg kurang cocok buat pacar aku yang cantik ini. Masa cewek cantik makan di warteg? Nanti kalau digodain sama tukang ojek yang lagi makan di warteg juga gimana? "
"Biarin aja"
Balas Aurel dengan Santai. Aurel masih melipat kedua tangannya di depan dada. Ucapannya itu Membuat Farel membelalakan matanya. Biarin? Jadi maksud Aurel, ia ingin digoda oleh tukang ojek? Yang benar saja?
"Biarin? Jadi kamu mau digodain sama tukang ojek?"
Tanya Farel yang masih tak yakin dengan jawaban kekasihnya tadi.
"lagian kamu pake tanya sih mau atau enggak, ya jelas aku Gak mau lah"
Balas Aurel yang membuat Farel tersenyum senang.
"Ya udah yuk masuk. Kamu pasti udah laper kan?"
Tanya Farel yang langsung di balas anggukan cepat oleh Aurel.
Farel menggandeng tangan Aurel. Mereka mulai menyusuri mall yang sangat besar ini untuk mencari restaurant.
Sesampainya Farel dan Aurel di sebuah restaurant siap saji yang terdapat di mall ini, mereka kembali menjadi pusat perhatian. Semua orang di restaurant ini menatap kagum pada keduanya.
Di restaurant ini banyak sekali laki-laki yang sepertinya seumuran dengan Farel dan Aurel sedang berkumpul. Semua lelaki itu menatap Aurel dengan tatapan yang Sangat kagum. Hal itu sontak membuat Farel lebih waspada menjaga gadisnya. Tangan Aurel selalu digenggamnya dengan erat. Ia tak ingin kekasihnya itu di sentuh apalagi sampai disakiti oleh semua laki-laki itu.
"Kenapa mereka ngeliatin aku kayak gitu? "
Tanya Aurel yang masih bingung mendapat pandangan yang sangat dalam dari semua laki-laki itu.
"Kamu cantik kali"
Balas Farel ketus. Sungguh ia sangat menyesal telah mengajak Aurel makan di tempat ini. Karena pemandangan nya sangat membuat hati Farel panas. Bagaimana tidak? Sedari tadi semua lelaki itu tak ada hentinya menatap kekasihnya.
"Lumayan ganteng juga cowok-cowok nya."
Ucap Aurel ngasal. Aurel sengaja mengucapkan hal itu. Ia ingin melihat bagaimana reaksi kekasihnya? Seketika mata Farel terbelalak mendengar penuturan kekasihnya. Aurel berusaha menahan tawanya saat melihat ekspresi kekasihnya bila cemburu.
"Ya udah sana pilih deh jadi pacar kamu."
Jawab Farel yang tampak kesal. Kini Farel dengan sok sibuknya menyantap makanan di hadapannya. Ia tak menatap kekasihnya sama sekali. ia berusaha menutupi kecemburuan nya itu sesantai mungkin.
"Beneran boleh?"
Jawab Aurel lagi dengan seenaknya. Sebenarnya Aurel berusaha menahan tawanya karena sudah berhasil membuat kekasihnya cemburu.
"Boleh. Pilih aja."
Ucap Farel lagi yang masih sibuk mengunyah makanannya. Tanpa menatap Aurel sedikitpun. Jangan kan menatap, melirik pun ia sangat enggan. Sepertinya ia benar-benar panas karena rasa cemburu yang merasuki hati dan perasaan nya.
"Meskipun mereka ganteng, Tapi aku Gak tertarik ah. Aku juga udah punya yang lebih ganteng. Satu aja gak abis-abis ngapain Nambah lagi."
Canda Aurel yang membuat Farel menatapnya sejenak.
"Bercanda kali Pak. Aku Gak akan tertarik sama mereka. Kan aku udah punya kamu yang udah buat aku mengunci rapat-rapat hati aku. Sehingga Gak ada lagi cowok lain yang bisa membuat aku tertarik."
Ucap Aurel lagi yang kini sedang terlihat serius.
Farel melirik Aurel sejenak sembari tersenyum simpul. Entah mengapa ia masih tak suka dengan canda yang di buat oleh kekasihnya itu.
"Gak usah cemburu."
Ledek Aurel sembari memcubit wajah kekasihnya yang mulus dan tampan itu.
"Aku Gak cemburu"
Sanggah Farel dengan cepat. Benarkah ia tak cemburu? Lalu mengapa sikap nya berubah sangat drastis saat Aurel membicarakan soal laki-laki yang menatap Aurel tadi?
"Masa sih Gak cemburu? Kalau Gak cemburu kenapa mukanya tegang gitu? Pasti kamu lagi Menahan api yang sedang bergejolak di dalam hati kamu kan?"
Ledek Aurel lagi.
"Enggak. Kamu apaan sih? "
Elak Farel lagi yang berusaha sesantai mungkin.
"Kamu dengerin aku ya."
Ucap Aurel sembari mengarahkan wajah Farel agar menatapnya.
"Kamu Gak perlu cemburu sayang. Aku Gak akan tertarik sama mereka. Kamu udah buat hati aku terkunci rapat. Jadi kamu Gak perlu khawatir kalau aku akan tertarik sama cowok lain."
Ucap Aurel sembari masih menangkup wajah Farel lalu menatap mata kekasihnya.
"Lagian kamu ngeselin sih. Bercanda kamu Gak lucu. Aku Gak suka kamu kayak gitu bercandanya."
Ucap Farel sembari menatap kekasihnya juga.
"Iya deh maaf. Ternyata cowok aku baper"
Balas Aurel sembari menekan kata baper, yang membuat Farel terkekeh. Dan langsung membawa gadisnya itu kedalam pelukannya.
"Aku sayang banget sama kamu. Makanya aku Gak mau kehilangan kamu."
Ucap Farel lembut sembari mengelus punggung Aurel.
"Aku juga sayang banget banget banget sama kamu. "
Balas Aurel berulang kali di dalam pelukan Farel.
"Kita jalan di sekitar mall ini yuk. Kan makan malam nya udah."
Ajak Aurel yang langsung mendapat anggukan dari Farel.
Farel menggandeng tangan Aurel keluar dari restaurant itu. Mereka berkeling mengitari mall yang sangat besar ini.
"Sayang"
Panggil Aurel tiba-tiba pada Farel, saat mereka sedang asyik berjalan.
"Hhmm?"
Farel hanya berdehem lembut menjawab panggilan kekasihnya itu.
"Kamu punya mantan Gak?"
Pertanyaan Aurel berhasil membuat langkah Farel terhenti. Aurel ikut menghentikan langkahnya saat ia menyadari Farel berhenti melangkah. Lalu farel menatap gadisnya dengan bingung.
"Emang nya kenapa?"
Tanya Farel yang masih menghentikan langkahnya.
"Ya Gak papa. Aku cuma tanya aja."
Jawab Aurel lagi.
"Banyak. Udah gitu cantik-cantik semua"
Bala Farel ngasal dan kembali melanjutkan langkahnya, Meninggalkan aurel. Aurel yang mendengar jawaban Farel langsung sedikit berlari menyamai langkahnya dengan Farel.
"Banyak? cantik-cantik?"
Tanya Aurel meyakinkan yang kini sudah berhasil menyamai langkahnya dengan Farel.
"Iya. Mantan aku banyak, terus cantik-cantik semua."
Jawab Farel lagi. Aurel mengerucutkan bibirnya kesal. Farel terkekeh melihat ekspresi Aurel. Ternyata ia berhasil membuat kekasihnya kesal.
"Tapi yang bisa bikin aku merasa nyaman cuma kamu doang"
Lanjut Farel lagi .
Blush! Oh no!! Seketika wajah Aurel merah padam. Kini wajahnya telah merona.
"Gombal! Gombalan Lo garing!"
Ledek Aurel sembari menampar pelan wajah Farel.
"Siapa yang gombal? Aku serius. Mantan aku emang banyak terus cantik juga. Tapi yang bisa bikin aku merasa nyaman, cuma kamu aja. Mantan aku Yang lain Gak Bisa buat aku nyaman."
Jelas Farel lagi yang kembali membuat wajah Aurel kembali merona.
"Emang kamu nyaman sama aku?"
Tanya Aurel lagi.
"Banget. Aku nyaman banget sama kamu."
Balas Farel mantap dan yakin.
"Aaaa kamu bisa aja. Sosweet banget sih pacar aku."
Ledek Aurel sembari mencubit pelan wajah mulus nan tampan milik Farel.
Farel hanya mampu menggelngkan kepalnya melihat sikap gadisnya.
Sungguh Farel tak akan sanggup bila harus kehilangan Aurel. Aurel sangat berarti dalam hidupnya. Lihatlah! Betapa bahagianya mereka. Mereka saling melengkapi satu sama lain.
"Sayang mau Ice cream"
Rengek Aurel manja saat ia dan Farel berjalan dan melewati sebuah kios Ice cream di mall ini.
"Pacar aku mau Ice cream?"
Tanya Farel meyakinkan. Aurel mengangguk dengan cepat dan pasti.
"Cium dulu"
Ucap Farel sembari menunjuk wajahnya dengan telunjuknya.
Blush!!!
Lagi dan lagi wajah Aurel kembali merona.
"Apaan sih kamu. Modus!!!"
Ledek Aurel sembari menampar pelan wajah Farel.
"Ya udah deh kalau Gak mau."
Ucap Farel dengan nada kecewa.
Aurel yang merasa tak tega, langsung mencium wajah Farel dengan sangat singkat. Farel langsung tersenyum sumringah mendapat satu kecupan yang mendarat di wajahnya dari gadisnya. Sedangkan Aurel, hanya tertunduk malu. Ia berusaha menutupi wajahnya yang kini sedang merona. Karena mengingat ciuman pertamanya tadi untuk Farel.
Jujur ini adalah ciuman pertama yang di berikan Aurel pada Farel. Tentu Aurel sangat tersipu.
"Cieee yang cium aku."
Ledek Farel sembari mencolek dagu Aurel. Wajah Aurel kembali merona setelah mendapat ledekan dari Farel.