
Aurel mengerjapkan matanya. Ia berusaha mengumpulkan kesadara. Sampai akhirnya, kini mata Aurel telah terbuka sempurna. Kesadaran nya juga sudah terkumpul kembali. Ia melirik Farel yang tertidur pulas dengan wajah yang sedikit ia tenggelamkan di ranjang milik Aurel. Tangan nya juga masih dengan setia menggenggam tangan Aurel. Seulas senyuman terukir di bibir tipis Aurel saat ia melihat wajah damai milik Farel yang masih tertidur pulas. Di usap nya lembut rambut milik kekasihnya itu. Ternyata aksi aurel ini membuat Farel berusaha membuka mata nya. Sampai akhirnya mata nya terbuka sempurna.
"Sayang ? Kamu udah lama bangunnya?"
Tanya Farel yang kini sudah membuka mata nya dan mendapati Aurel yang sedang menatap nya. Ternyata benar ,aksi Aurel mengelus lembut rambut Farel membuat Farel terbangun dari tidur nya . Padahal, Aurel sama sekali tak berniat untuk menganggu istirahat Farel. Karena ia tau , semenjak Farel mengetahui keadaannya, pasti istirahat Farel tidak tercukupi. Karena Farel harus selalu menjaga Aurel. Ia harus rela waktu istirahatnya berkurang demi menjaga kekasihnya yang sudah menjadi kewajiban nya .
"Nggak kok. Aku juga baru bangun. Maaf ya , aku udah ganggu istirahat kamu."
Jawab Aurel atas pertanyaan Farel tadi.
"Kamu gak ganggu sayang. Justru harus nya aku yang minta maaf karena aku bangun nya telat."
Ucap Farel sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia merasa bersalah dengan Aurel. Aurel hanya mampu terkekeh melihat tingkah kekasihnya itu.
"Badan kamu pegal ya karena tidur di kursi? Lagian kenapa Gak tidur di sofa aja?"
Tanya Aurel yang masih terdengar lemas.
"Aku gak mau jauh dari kamu. Aku mau ada di samping kamu terus. Makanya aku Gak mau tidur di sofa."
Balas Farel .
"Makasih udah mau ngerelain badan nya pegal gara-gara nunggu aku."
Ucap Aurel sembari tertawa kecil.
"Kamu udah ngucapin makasih berapa kali ya? Terlalu sering sampai gak bisa di hitung."
Balas Farel di sertai tawa kecilnya juga.
"Oh iya, Mama mana?"
Tanya Aurel pada farrel.
"Aku juga gak tau sayang. Aku kan baru bangun juga. "
Balas Farel.
"Hai sayang. Udah bangun? Nih mama bawakan sarapan untuk kamu dan semuanya. Pasti kalian udah lapar kan?"
Tanya mama Aurel yang tiba-tiba masuk keruangan Aurel. Kini semuanya telah terbangun dari tidurnya. Semalam teman Aurel , dan kedua orang tua Aurel tidur di sofa yang cukup luas. Dan kebetulan sofa di ruangan Aurel bukan hanya satu buah. Tetapi tersedia dua sofa.
"Ya ampun tante gak usah repot. Btw tante tau aja kalau Audy laper. Makasih ya tante," Ucap Audy yang membuat tawa mereka pecah seketika.
"Sama-sama sayang. Harus nya tante yang bilang makasih karena kalian udah setia banget jaga in Aurel. Ya udah kalau gitu, kalian sarapan nih."
Ucap mama Aurel sembari meletakkan Bubur Ayam yang ia beli di rumah sakit di atas meja yang tak jauh dari ranjang Aurel.
"Aku suapain ya?"
Tanya Farel pada Aurel . Dan Aurel mengangguk setuju sembari tersenyum. Setelah itu, Farel mengambil bubur yang sudah di siapakan mama Aurel untuk Aurel.
"Kalau ada Farel, pasti Aurel Gak mau di suapain mama nya, dia lebih memilih di suapain sama pangeran hidup nya."
Ledek mama Aurel sembari melirik putri nya. Dan di selingi dengan tawa nya.
"Cieee tante udah ngerti urusan anak muda nih?"
Tanya Sherly.
"Iya dong, Tante kan juga pernah muda."
Balas mama Aurel yang membuat suasana menjadi hangat karena tawa mereka yang lepas begitu saja. Seolah berbanding terbalik dengan kemarin saat Aurel Belum sadarkan diri. Saat itu semuanya tak pernah berhenti menangis, bersedih Tapi saat Aurel sudah dalam keadaan baik, mereka seolah melupakan kesedihan yang pernah terjadi.
"Ada apa nih? Kayak nya seru pada ketawa-tawa,"
Seketika pandangan mereka beralih pada sumber suara yang datang ke ruangan Aurel.
"Papa mau tau aja? Kalau kata anak zaman sekarang itu nama nya kepo. Bener gak sih?"
Tanya mama Aurel pada mereka dan dan di balas oleh mereka dengan anggukan .
"Ya udah deh kalau papa gak di ajak."
Balas papa Aurel dengan nada yang sedikit kecewa.
"Ini urusan anak muda, Pa. Papa Gak boleh tau."
Ucap mama Aurel . Sembari tertawa dan di ikuti yang lain nya. Suasana kembali hangat oleh kebahagiaan mereka.
"Ooh jadi main rahasia yaa sama papa? Oke.."
Balas papa Aurel.
"Eh sayang kamu udah bangun? Udah sarapan belum ?"
Tanya papa Aurel yang baru menyadari kalau anak nya sudah terbangun dari tidur lelap Nya.
"Udah, pa."
Jawab Aurel sembari tersenyum. Suaranya masih terdengar lemah
"Farel loh Pa yang nyuapin Aurel. "
Ucap mama Aurel yang kembali meledek putrinya.
"Oh ya? Jadi makin napsu dong makan nya?"
Tanya papa Aurel yang ikut menggoda putrinya.
"Papa apaan m si."
Balas Aurel sembari tersipu malu.
"Farel kamu udah sarapan? "
Kini papa Aurel beralih bertanya pada Farel.
"Belum om. Nanti aja sara mpan nya, gampang."
Jawab Farel .
"Loh kok belu mm? Jangan bilang gampang. Nanti kalau kamu sakit, Aurel juga makin sakit karena mikirin kamu."
Kini papa Aurel kembali menggoda putrinya.
"iihh papa."
Balas Aurel yang mulai bosan dengan sikap papanya yang selalu menggodanya.
"Becanda saya mng. Ayo Farel kamu sarapan sana."
Balas papa Aurel sembari mengelus pucuk kepala anak nya. Dan menyuruh Farel sarapan.
"Iya om."
Balas Farel patuh.
"Audy , Sherly , Jessica kalian udah sarapan belum? Om Gak mau ya kalau kalian sampai sakit? Begitu juga Farel jangan pada melalaikan kesehatan,"
Ucap papa Aurel tegas. Ia tak mau kalau semua orang-orang yang Aurel sayangi sampai jatuh sakit juga.
"Udah kok om. Kita juga udah sarapanm Nomor pertama malah."
Ucap mereka dengan tawa kecil.
*************
"Kamu kalau butuh apapun bilang aku yaa."
Ucap Farel pada Aurel. Kini di ruangan itu hanya mereka berdua yang tinggal di sana. Karena kedua orangtua Aurel, teman Aurel sedang pulang ke rumah mereka masing-masing. Tadi Farel juga memutuskan untuk pulang kerumah nya untuk beristirahat sebentar. Awalnya ia tak mau pulang kerumahnya dengan alasan tak mau meninggalkan Aurel. Tapi dengan Paksaan kedua orang tua Aurel, akhirnya ia mau pulang kerumahnya untuk sekedar beristirahat sebentar dan mandi. Orangtua Aurel sangat kasian dengan Farel yang sangat jarang beristirahat karena menjaga Aurel. Makanya mereka sedikit memaksa Farel agar ia mau pulang kerumahnya. Setelah Farel kembali lagi kerumah sakit sehabis beristirahat dan mandi di rumahnya, kini saat nya kedua orang Aurel dan teman-teman Aurel yang bergegas pulang sebentar untuk melakukan hal yang sama dengan Farel . Yaitu, istirahat dan mandi.
"Kamu gak tidur? Tidur Gih . Tadi kan tidurnya cuma bentar gara-gara aku bangunin."
Tanya Aurel pada Farel.
"Enggak ah. Lagian tadi aku udah tidur di rumah. Kamu kalau mau tidur, tidur aja. Aku bakalan terus di sini kok sama kamu. Jangan takut yaa"
"Aku juga gak mau tidur. Kerjaan aku tidur mulu. Nanti masuk sekolah mata aku bengkak lagi."
Ucap Aurel sembari tertawa kecil.
"Ya enggak lah. Lagian meskipun mata kamu bengkak. Kamu tetep cantik kok."
Balas Farel sembari tersenyum dan mengelus rambut Aurel penuh sayang serta menatap mata kekasihnya itu. Sumpah demi apapun ia sangat mencintai Aurel. Ia tak sanggup kalau harus di tinggalkan Aurel. Ia tak akan mampu melupakan semua kenangan indah nya dengan Aurel.
"Hei, Kok kamu ngeliatin aku gitu banget?"
Tanya Aurel yang sadar kalau sedari tadi Farel menatap matanya penuh arti. Sepertinya Farel tak menyadari akan pertanyaan Aurel untuk nya. Buktinya, ia masih menatap mata Aurel lekat dan tak menjawab pertanyaan Aurel.
"Sayang?"
Tanya Aurel sekali lagi pada Farel membangunkan Farel dari lamunannya. Karena pertanyaan nya tadi tak di hiraukan Farel .
"Eh iya. Kenapa sayang?"
Kini Farel telah terbangun dari tatapan nya pada Aurel.
"Kamu kenap ma ? "
Tanya Aurel ada Farel.
"Kenapa apanya? Aku gak papa kok"
Jawab Farel berusaha menutupi beban pikiran nya.
"Kamu liat aku. Aku bisa liat dari mata kamu kalau kamu itu lagi Bohong sama aku."
Kini tangan Aurel menangkup wajah Farel agar menatap nya. Mata Aurel benar-benar menatap mata Farel dengan Tatapan penasaran. Ia berusaha mencari kejujuran yang di rahasiakan Farel melalui mata Farel yang sekarang ia tatap .
"Aku cuma takut kehilangan kamu."
Jawab Farel sembari menunduk . Tapi masih dalam keadaan wajah yang di pegang oleh Aurel.
"Aku gak akan kemanapun sayang. Aku akan terus bersama kamu. Kamu percaya kan sama aku? "Jawab Aurel berusaha meyakinkan Farel.
"Iya aku percaya kok sama kamu."
Balas Farel yang kini beralih menatap Aurel dengan tatapan sayang.
"Lagian kamu kenapa tiba-tiba ngomong gitu? Siapa juga yang mau ninggalin kamu?"
Timpal Aurel yang masih merasa bingung dengan ucapan Farel itu. Kenapa Farel berpikiran seperti itu ? Aurel sudah berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tak kan meninggalkan Farel.
"Dengan kamu ngelakuin hal ini , kamu udah buat aku takut untuk kehilangan kamu. Aku mohon sama kamu, jangan pernah mengulangi hal ini lagi. Karena aku gak mau kehilangan kamu. Aku gak sanggup sayang ."
Balas Farel sembari menatap Aurel nanar dan disertai tatapan memohon. Ia benar-benar tak sanggup kalau harus kehilangan Gadis yang sangat ia cintai itu.
"Maaf udah buat kamu takut . Cuma kalimat itu yang bisa aku ucapin sama kamu. Tapi aku janji, aku Gak akan melakukan hal bodoh kayak gini lagi. I Promise"
Kini Aurel beralih menatap Farel dengan tatapan meyakinkan Farel. .
"Janji?"
Tanya Farel memastikan.
"Janji,"
Balas Aurel mantap.
"Aku sayang k mamu."
Kini Farel menatap Aurel sangat dalam. Sembari mengelus pipi Aurel dengan sayang.
"Aku lebih sayang kamu"
Balas Aurel sembari Mengenggam tangan Farel yang berada di pipi nya.
***************
"Gimana dokter keadaan anak saya? Apa ada kemajuan?"
Pertanyaan papa Farel langsung menyambut dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan anaknya.
"Keadaannya semakin membaik. Kalau keadaan nya sema mkin membaik lusa mungkin sudah bisa pulang."
Balas sang dokter. Dan berhasil membuat wajah Farel, kedua orangtua Aurel dan teman Aurel seketika menjadi sumringah. Mereka sangat gembira menyambut kabar bahagia ini.
"Alhamdulillah. Kalau gitu terimakasih banyak dokter."
Ucap Papa Aurel pada dokter.
"Sama-sama Pak. Tapi, walaupun sudah pulang kerumah , pasien harus tetap istirahat total. Dan harus rutin menjalankan check up untuk mengetahui keadaan syaraf otak yang kemarin mengalami masalah."
Ucap sang dokter memberi peringatan.
"Baik dokter."
Balas papa Aurel patuh. Setelah itu sang dokter, pamit untuk bergegas keluar dari ruangan Aurel.
"Kamu dengar sendiri kan sayang , kalau kamu masih harus istirahat total. Jadi gak usah mepalukan apapun dulu yaa."
Ucap Farel pada Aurel untuk memberi peringatan pada Aurel agar ia tetap beristirahat walau nanti sudah pulang kerumahnya. Farel tau, kalau kekasihnya ini adalah orang yang sangat aktif. Tak pernah bisa diam. Selalu menjalankan aktivitas untuk mengisi Waktunya.
"Iya Aurel. Kamu gak boleh bandel lagi kalau di atur . Kamu kan orang nya gak bisa Diem."
Ucap mama Aurel yang ikut memberi peringatan pada anaknya.
"Jangan sampai kayak gini lagi ya nak. Ini adalah pelajaran buat kamu."
Kini papa Aurel yang ikut menasihati anaknya sembari mengelus lembut rambut anaknya yang masih di ranjang .
"Iya Pa."
Balas Aurel dengan suara yang masih terdengar lemas sembari tersenyum menatap papa nya yang masih mengelus lembut rambut nya.
"Oh iya, papa sudah suruh anak buah papa untuk menyita motor kamu sementara. Motor itu lagi di asingkan. Supaya kaki kamu gak gatel mau makai nya"
Ucap papa Farel di sertai tawanya.
"Yaaa kok papa gitu?"
Ucap Aurel tak terima dengan sikap papanya yang mengasingkan motornya dari hadapannya.
"Gak ada penolakan. Ini sudah menjadi keputusan papa dan kamu harus nurut. Ini Demi kebaikan kamu nak. Papa sayang sama kamu. Apa si artinya motor itu buat kamu? Kamu itu lebih berharga . Kamu lebih penting daripada motor itu. Pokoknya papa gak akan izin in kamu pakai motor lagi. Kecuali, kalau kamu janji gak akan mengikuti balapan yang gak gunanya itu."
Ucap papa Aurel dengan tegas tak terbantahkan. Tapi kesan lembutnya masih terdengar.
"Aurel janji gak akan ikut balapan motor lagi. Tapi pliess Pa, jangan jauhin Aurel dari motor Aurel. Itu motor kesayangan Aurel."
Balas Aurel dengan nada memohon ya.
"Sayang... Kamu kan bisa kalau pergi kemanapun sama aku. Aku pasti Mau kok nganter in kamu Kemana pun. Gak usah kenal motor lagi yaa."
Kini Farel menasihati kekasihnya. Ia berharap kalau kekasihnya tak mengenal motor lagi. Karena ia trauma atas semua yang terjadi dengan Aurel.
"Kamu dengar kan? Farel aja gak mau kamu kenal motor lagi. Papa trauma sayang dengan kejadian yang menimpa kamu. Papa gak mau kalau ini terjadi lagi sama kamu."
Kini papa Aurel berusaha membujuk anaknya.
"Ya udah deh aku akan coba. Tapi kalau sesekali aku naik motor boleh kan? boleh ya Pa, Rel"
Tanya Aurel dengan Farel dan papanya dengan memasang wajah melasnya.
"Liat nanti aja ya sayang. Tapi yang jelas untuk sekarang kamu gak boleh kenal motor dulu yaa."
Jawab Farel pada Aurel.
"Papa setuju dengan Farel. Karena papa yakin ucapan Farel itu juga untuk kebaikan kamu."
Jawab papa Aurel mantap yang menyetujui ucapan Farel tadi. Aurel hanya Menghembuskan nafasnya pasrah. Ia harus menerima Keputusan yang sudah di ambil oleh Farel dan papa nya.