Aurel

Aurel
20



"Bagaimana dokter dengan keadaan putri saya?"


Kini semua nya tak sabar dengan hasil pemeriksaan dokter pagi ini terhadap Aurel.


"Syukurlah keadaan putri bapak sudah sangat baik. Dan besok, putri bapak sudah di perboleh kan pulang. "


"Alhamdulillah. Terimakasih dokter."


Ucapan sang dokter sontak membuat semua yang berada di ruangan Aurel tersenyum sumringah.


"Walaupun sudah di perbolehkan pulang, pasien masih harus istirahat total. Karena khawatir keadaan nya kembali drop. Dan pasien juga masih harus menjalani pemeriksaan rutin untuk mengetahui keadaan syaraf nya yang kemarin sempat terganggu."


Ucap sang dokter mengingatkan.


"Baik dokter. Saya akan selalu mengecek secara rutin keadaan anak saya. Terimakasih banyak dokter."


"Sama sama Pak. Kalau gitu saya permisi."


Pamit sang dokter pada papa Aurel.


"akhirnya kamu udah boleh pulang sayang."


Bisik dengan sumringah pada Aurel yang di balas dengan senyuman manis khas Aurel.


"Kamu masih harus istirahat total ya nak. Jangan banyak gerak dulu"


"Iya Pa"


Balas Aurel patuh atas perintah papa nya.


**************


"Yeaayy akhirnya aku bisa keluar dari ruangan yang membosankan ini."


Pekik Aurel kegirangan . Pagi ini Aurel sudah di perboleh kan pulang kerumahnya .


"Iya sayang alhamdulilah."


Balas Farel sembari mengelus rambut kekasihnya itu.


"Udah siap kembali ke rumah?"


Pertanyaan papa Aurel menyelesaikan ke romantisan mereka.


"Udah Pa"


Bala Aurel sangat antusias.


"Udah gak betah lagi ya rel di ruangan kayak gini?"


Tanya Sherly yang langsung di balas dengan anggukan cepat oleh Aurel.


"Gimana mau betah. Tiap hari hidung ggue harus nyium bau obat di tambah suara alat alat medis yang berisik itu. Belum lagi harus tidur mulu. Akhirnyaa gue bisa terbebas dari ruangan ini. Beosan gue! Ya walaupun ini salah gue sendiri."


Ucapan Aurel membuat Tawa mereka pecah seketika.


"Ya udah. Kita ngerayain kebahagiaan nya di rumah aja. Katanya udah mau pulang. Yuk."


Ucap mama Aurel yang menghentikan tawa mereka.


***********


"Kamu pulang aja ya. Aku udah gak papa kok."


Ucap Aurel pada Farel yang baru selesai menggendong nya ke kamar nya dan meletakkan Aurel di ranjang.


"Aku nanti aja pulang nya. Oh iya kalau kamu butuh apa-apa bilang aku ya, nanti aku ambilin. Sekarang kamu istirahat biar keadaan kamu semakin membaik."


Balas Farel semua di mengelus pucuk kepala Aurel. Aurel hanya mengangguk patuh atas perintah Farel. Saat Farel hendak keluar dari kamar Aurel, tiba-tiba pergelangan tangan Farel di tahan oleh Aurel. Sehingga Farel hanya menatap Aurel bingung .


"Kenapa?"


Tanya Farel lembut.


"Makasih ya."


Jawab Aurel atas pertanyaan Farel.


"Buat?"


"Buat semuanya."


Balas Aurel dengan tersenyum lembut.


Ucap Farel sembari mencium dahi Aurel lembut. Setelah itu ia memutuskan keluar dari kamar Aurel, agar tak mengganggu istirahat Aurel.


*************


"Farel"


Ucapan seseorang itu yang ternyata adalah papa Aurel membuat Farel mempercepat langkahnya saat menuruni anak tangga sehabis mengantar Aurel ke kamarnya.


"Iya om. Ada apa om?"


Tanya Farel pada papa Aurel.


"Om sangat berterima kasih sama kamu ."


Ucap papa Karel sembari menepuk pundak Farel.


"Makasih buat apa om?"


"Buat kesetiaan kamu dengan Aurel. Dan om berharap selamanya kamu akan selalu seperti itu pada anak om. Om tidak pernah melihat mata anak om menatap laki-laki manapun dengan sangat berbinar nya kecuali saat menatap mata kamu. Oleh karena itu om yakin kalau Aurel sangat bahagia memiliki kamu. "


"Iya om sama-sama. Saya lebih bahagia memiliki Aurel , om. Karena Aurel sudah membuat saya bisa berubah menjadi lebih baik lagi."


Balas Farel dengan tulus.


"Apa kamu akan selalu setia untuk memberi kebahagiaan anak om?"


Tanya papa Aurel . Di dalam hati papa Aurel ia sangat menginginkan jawaban yang memuaskan dari Farel. Karena ia yakin kalau anaknya akan bahagia bersama Farel . Papa Aurel sangat menyayangi anaknya, karena memang Aurel hanya anak semata wayang nya. Yang tentu nya harus ia jaga dan harus ia berikan ke Laki -laki yang tepat untuk menjadi pendamping hidup anaknya. Ia tak mau kalau anaknya sampai salah memilih. Dan Farel, sepertinya dia adalah laki-laki yang pantas untuk anaknya. Karena Farel sangat bisa membuat Aurel nyaman dan sifat tanggung jawab nya sangat besar dalam menjaga Aurel. Akan tetapi, apakah Farel akan terus setia memberikan kebahagiaan untuk anak nya?


"Saya akan selalu setia memberi kebahagiaan untuk Aurel ,om. Karena kebahagiaan terbesar saya juga terletak pada diri Aurel."


Ucap Farel dengan yakin dan mantap. Ia sangat yakin kalau kebahagiaan nya ada pada diri Aurel. Jadi untuk apa ia meninggalkan Aurel? Kalau dia meninggalkan Aurel, berarti ia juga akan meninggalkan kebahagiaan nya bukan? Kebahagiaan di takdir kan untuk di cari dan di jaga bukan untuk di tinggalkan dan di sia-sia kan. Dan kini Tuhan sudah memberi takdir agar Aurel menjadi kebahagiaan Farel. Jadi itu pikiran yang bodoh kalau Farel harus meninggalkan kebahagiaan yang sudah di berikan Tuhan pada nya.


"Om sangat Puas dengan jawaban kamu yang sangat yakin itu. Om juga yakin kalau kebahagiaan Aurel terletak pada kamu. Terimakasih atas semua yang telah kamu berikan untuk anak om satu-satunya yang sangat om sayang."


Bala papa Aurel dengan tak kalah yakin sembari menepuk pelan pundak Farel . Ia yakin kalau kebagian anak nya juga terletak pada Farel.


***********


Hari sudah beranjak malam. Farel tak kunjung meninggalkan Aurel. Ia masih tetap setia berada di rumah Aurel untuk menjaga Aurel. Kini ia memasuki kamar Aurel dengan sangat hati-hati karena ia tak ingin menganggu istirahat kekasihnya. Sepertinya Aurel sangat terlelap. Ia menelungkupkan tubuhnya di dalam selimut hingga sebatas dada. Farel mengambil kursi yang berada di bawah meja belajar Aurel untuk duduk di samping ranjang Aurel. Ia menggenggam tangan Aurel lembut tanpa berniat membuat Aurel bangun sembari mengelus lembut rambut Aurel. Namun sepertinya , aksi Farel itu membuat Aurel mengerjap-ngerjapkan mata nya berusaha mengumpulkan kesadarannya. Saat ia membuka matanya sempurna , sosok laki-laki yang ia cintai lah yang pertama ia lihat. Farel menyambut Aurel dari tidurnya dengan senyum khas nya yang membuat ia terlihat lebih tampan.


"Loh , kam ?u belum pulang? "


Ucap Aurel pada Farel yang ternyata belum pulang juga dari mengantarnya ke kamarnya tadi siang. Farel hanya menggeleng sembari tersenyum lembut.


"Kenapa belum pulang? Aku udah gak papa kok. Kamu pulang aja ya. biar kamu istirahat ."


Aurel berusaha menyuruh Farel pulang kerumah nya. Bukan apa-apa, Aurel hanya ingin Farel istirahat. Kalau Farel terus berada di rumahnya, pasti Farel tak akan istirahat.


"Farel? Ternyata kamu masih ada disini? Kamu pasti capek nemenin Aurel terus. kamu mau istirahat di kamar tamu? Biar tante suruh bik imah merapikan kamar tamu nya ya."


Ucap mama Aurel yang tiba-tuba masuk ke kamar Aurel mengalihkan perhatian Aurel dan Farel . Mereka sama-sama menoleh ke asal suara.


"Gak usah tante makasih. Lagian Farel juga Gak capek kok nemenin Aurel."


Ucap Farel meyakinkan mama Aurel


"Tante gak percaya kalau kamu gak capek. Masa iya Berhari-hari nemenin Aurel sambil duduk gitu gak capek?"


Balas mama Aurel sembari terkekeh ia tak percaya dengan ucapan Farel yang mengatakan kalau ia tak lelah menunggu anaknya.


"Kamu dengerin tante ya. Tante cuma gak mau kalau kamu sakit. Nanti kalau kamu sakit, Aurel nya juga ikut sakit. Jadi kalau kamu gak mau istirahat di rumah Aurel, kamu pulang ya. Biar kamu istirahat nak. Kalau kamu selalu di sini nemenin Aurel, terus kamu istirahat nya kapan? "


Balas mama Aurel memberi pengertian. Farel melirik Aurel untuk bertanya pada Aurel apakah ia boleh meninggalkan nya sebentar untuk sekedar beristirahat. Aurel mengangguk sembari tersenyum. Pertanda , kalau Aurel juga setuju dengan ucapan mama nya yang menyuruh Farel pulang dan beristirahat.


"Ya udah kalau gitu Farel pulang dulu ya tante. Terimakasih Banyak buat semuanya. "


Setelah memdapati jawaban dari Aurel, kini ia pamit pada mama Aurel.


"Harusnya tante yang bilang makasih sama kamu? Ya sudah kamu hati-hati ya."


Balas mama Aurel sembari tersenyum.


"Iya tante."


"Sayang , aku pulang dulu ya. Besok aku kesini lagi. Kamu istirahat ya, jangan banyak gerak. Makan nya juga Gak boleh telat."


Pamit Farel dengan Aurel sembari memberi peringatan untuk kekasih nya .


"Iya sayang. Kamu hati-hati ya pulang nya. Makasih banyak."


Ucap Aurel patuh. Dan di balas Farel Dengan anggukan sembari tersenyum. Setelah ia mencium punggung tangan mama Aurel, Farel langsung bergegas pulang ke rumah nya.