
"Maaf non ganggu. Saya cuma mau kasih tau kalau Den Farel sudah menunggu non di ruang tamu."
Bik imah mengetuk pintu kamarku. Aku yang sangat tertidur pulas, masih belum mengumpulkan seluruh nyawaku . Aku tadi dengan samar mendengar ucapan bik imah. Dengan mata yang masih tertutup aku membuka pintu kamarku.
"Kenapa bik?"
Tanyaku pada bik imah. Mataku masih juga belum terbuka. Aku sepertinya, masih terbawa ke alam mimpi. Aku belum berhasil mengumpulkan seluruh nyawaku.
"Ada Den Farel di bawah. Dia sudah menunggu non di ruang tamu."
Yup, ucapan bik imah berhasil membuat nyawaku terkumpul kembali. Aku langsung membuka mataku. Kaget? Ya itu lah aku rasakan. Sepertinya, tidak ada tanda kalau Farel ingin datang di ke rumahku. Ia bahkan sama sekali tak mengirim pesan untukku? Sebenarnya ada apa?
"Ngapain Farel kesini?"
Tanyaku pada bik imah.
"Bibik juga kurang tau non. Tapi Den Farelbilang sama bibik, kalau dia mau ngajak non Aurel jalan,"
Jalan-jalan? Gak salah Denger? Setelah mendengar ucapan bik imah, aku langsung bergegas turun ke lantai bawah untuk menghampiri Farel.
"Hai,"
Farel langsung menyambutku yang sedang menuruni anak tangga.
"Kamu ngapain kesini?"
Aku langsung memberikan pertanyaan untuk Farel. Tanpa mempedulikan say hai darinya tadi.
"Gak boleh ya? Maaf deh kalau aku ganggu kamu. Ya udah kalau gitu aku pulang aja deh."
Aku hanya bertanya . Tapi sepertinya dia sudah merasa mengganggu waktuku. Saat ia sudah selesai memakai jacket kulit miliknya dan hendak pergi, Dengan sigap aku menahan pergelangan tangannya.
"Kan aku cuma nanya. Dih baper banget si jadi cowok."
Aku langsung melipat kedua tanganku di depan dada.
"Oh kamu cuma nanya? Kirain aku , kamu ngerasa terganggu dengan kehadiran aku disini."
Kini Farel menangkup wajahku menggunakan kedua tangannya . Agar aku menatap nya.
"Jangan marah kali. Aku kan Gak tau. Kalau kamu cuma nanya."
Lanjut Farel sembari masih memegang wajahku. Ia mengelus pipiku dengan lembut.
"Aku mau ngajak kamu jalan. Mau Gak? Gak mau ya?"
Kini Farel bertanya padaku.
Aku menoleh padanya. Dan menatapnya tajam. Aku sengaja, supaya dia mengira ku masih marah padanya.Padahal aku tak marah lagi dengan nya.
"Gak!"
Ucapku tegas. Aku masih menjauhi Farel. Aku melihat ekskresi Farel yang langsung berubah. Kini wajahnya cemberut. Sepertinya aku tak mampu lagi menahan tawaku di dalam hati. Karena melihat wajah cemberut milik Farel , yang menurutku sangat menggemaskan. Tapi tidak mengurangi kadar ke tampanan nya.setelah beberapa saat menahan tawa, akhirnya tawaku kelas juga. Aku tertawa, Farel hanya menatapku dengan tatapan heran sembari ia mengerinyit kan dahinya.
"Kok kamu ketawa? Tadi perasaan marah."
Ucap Farel, saat tawaku mulai reda.
"Abisnya, muka kamu lucu kalau lagi cemberut. Aku kira, aku doang yang bisa cemberut. Ternyata kamu juga bisa. Malah aneh banget kalau lagi cemberut."
Ucapku yang kini sudah Melihat ekspresi wajah Farel yang lucu tapi aneh membuat aku tertawa.
"Oh. Kirain aku, kamu sakit. "
Ucap Farel padaku sembari memegang dahiku. Aku langsung memukul pelan lengan Farel dan mencubit pinggangnya.
"Maksud kamu, aku gila? Enak aja. Ya udah aku ngambek lagi sama kamu."
Ucapku sembari ingin berlalu dari Farel untuk kembali ke kamarku. Tapi dengan cepat ia menahan lenganku.
"Jangan marah lagi sama aku pliess. Mendingan kita jalan sore. Daripada marahan? Kamu mau ya? "
Kini Farel kembali mengajak aku.
"Gak "
Ucapku pada Farel . Tapi kini sembari cekikikan.
"Iya.. Iya aku mau. Aku cuma Becanda. Jangan baper jadi cowok."
Ucapku pada Farel sembari mencubit pipinya dengan gemas.
"Serius kamu mau? Ya udah kamu siap-siap ya. Aku tunggu di sini yaa"
Ucap Farel dan aku balas dengan anggukan. Kemudian ,aku bergegas menuju kamar Sangat jarang aku jalan sore, dulu aku sering jalan sore dengan kedua orang tuaku, sebelum mereka se sibuk ini. Tapi kini, jangankan jalan sore. Ketemu aja jarang banget. Aku memutuskan untuk segera mandi. Lalu aku mengenakan Dress santai yang panjang nya sampai lutut. Ini dress santai favorite milikku. Ini pemberian mama pada saat aku ulang tahun yang ke 16 tahun. Dress ini berwarna pink pastel, warna favoriteku. Dengan Hiasan bunga perpaduan warna antara putih dan pink magenta yang warnanya sedikit lebih terang di banding pink pastel.
"Cantik,"
Gumam Farel. Walaupun suaranya sangat pelan, tapi aku bisa mendengar nya dengan jelas . Karena sekarang aku sudah berada di hadapan nya.
"Ayo berangkat. Aku udah siap nih"
Aku menggandeng tangan Farel. Tapi aku merasa kalau Farel tak mengikuti Langkahku. Dia hanya berdiam di posisi nya dengan mematung.
"Kok malah bengong? Ayuk berangkat. "
Aku kembali menggandeng tangan Farel.
"Kamu cantik banget. Aku Gak salah pilih."
Ucapan Farel kembali membuat wajahku merah merona.
"Kamu bisa aja. Kamu juga ganteng. Ya udah, ayo berangkat"
Kali ini Farel mengikuti langkahku setelah tangan nya kembali aku tarik dengan pelan.
"Kita naik mobil?"
Tanyaku pada Farel , ketika kita sampai di depan rumah. Di sana sudah terparkir mobil sport berwarna biru. Sepertinya ini bukan mobil yang Farel bawa waktu dinner bersamaku. Karena mobil yang ia bawa waktu dinner denganku, berwarna merah. Farel hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Kenapa Gak naik motor? Kan lebih seru."
"Pacar aku ini tomboy nya Gak pernah hilang. Masa mau naik motor mulu . Lagian ini udah sore, aku Gak mau kamu sakit karena kena angin sore menjelang malam ini."
Ucap Farel dengan lembut memberi pengertian padaku. Lalu ia membukakan pintu mobilnya , mempersilakan aku masuk. Di dalam mobil suasan hening menyeruak di antara kami. Farel fokus dengan menyetir mobil, sedangkan aku fokus melihat pemandangan sore haru lewat jendela mobil Farel ini. Sesekali aku melihat Farel melirik ku sembari tersenyum. Hingga akhirnya aku berusaha memecahkan suasan hening ini dengan pertanyaan.
"Baru lagi?"
Tanyaku pada Farel. Farel melirikku dengan memperlihatkan wajah bingung nya.
"Baru? Maksudnya?"
Tanya Farel tak mengerti , sembari ia masih fokus dengan mengendarai mobil nya.
"Mobilnya,"
Aku menjawab kebingungan Farel. Lalu Farel tersenyum tipis mendengar pertanyaan kU.
"Bukan punya aku. Tapi punya orang tua aku."
Jelas Farel padaku Aku hanya mengangguk paham. Setelah itu Farel mengelus pucuk kepalaku.
"Tapi aku Gak mau ngerepotin kamu. Aku jadi Gak enak hati sama kamu dan orang tua kamu. Kamu seharusnya gak perlu bawa mobil orang tua kamu. Apalagi ini bukan mobil biasa. Ini kan mobil mahal. Aku naik apa aja mau kok, asalkan sama kamu."
Ucapku pada Farel.aku rasa dengan Farel meminjam mobil orangtuanya, itu sangat membuatku merasa tak enak hati. Aku merasa telah merepotkan Farel.
"Kamu gak ngerepotin aku sayang. Menurut aku ini wajar kok. Kamu gak perlu merasa gak enak gitu sama aku dan orang tua aku. Lagi pula orang tua aku juga gak merasa di repotkan. Kamu tau gak dulu itu aku punya mantan. Mantan aku itu mau nya banyak banget. Beda sama kamu yang gak pernah minta apapun sama aku. Makanya aku putusin dia, karena aku udah lelah dengan semua permintaannya. Dan orang tua aku juga gak setuju kalau aku pacaran sama dia. Kata orang tua aku , dia gak pantas untuk aku. Karena cuma mau harta aku aja. Dia gak benar-benar cinta sama aku."
Jelas Farel padaku sembari sesekali melirik ke arahku dan kembali fokus menyetir .
"Kamu udah cerita sama orangtua kamu, tentang hubungan kita?"
Kini aku bertanya pada Farel.
"Udah kok. Mereka seneng banget Aku bisa punya pacar kayak kamu. Mereka juga tau , kalau kamu itu Gak banyak mau nya. Aku kadang suka Gak enak sama kamu. Soalnya aku Gak pernah ngasih apapun sama kamu. Hanya fasilitas kayak gini aja yang pernah aku kasih. Itu juga Gak setiap hari aku jalan sama kamu pake mobil kayak gini. Kalau mantan aku dulu, dia udah dapat semuanya dari aku. Fasilitas, uang, barang dan lainnya. Tapi kalau kamu? Kamu Gak pernah dapat apapun dari aku. "
Farel kembali memberiku penjelasan.
"Aku dapat cinta dari kamu, itu udah lebih dari cukup buat aku. Aku cinta sama kamu, bukan karena harta kamu. Tapi aku cinta sama kamu, karena kamu udah rela ngasih sayang kamu, cinta kamu, perhatian kamu dan nyawa kamu untuk aku. Makasih yaa kamu udah kasih semua itu buat aku."
Balasku dengan tulus sembari menatap wajah Farel yang sangat tampan itu.
"Kamu gak perlu bilang makasih sama aku. Itu memang kewajiban aku, sebagai orang yang sama kamu."
Ucap Farel tak kalah tulus. Dia juga menatap wajahku sejenak karena ia masih harus fokus menyetir dan mengelus pucuk kepalaku dengan lembut.
"Udah sampe,"
Ucapan Farel membuat aku tersadar dari tatapanku saat memandangi wajah Farel.
"Oh udah sampe ya? Ya udah turun yuk. "
Ucapku pada Farel. Dan Farel hanya membalas dengan senyum manisnya. Setelah itu, ia keluar dari mobil membuka kan pintu mobilnya untuk aku.
"Makasih"
Ucapku pada Farel sembari tersenyum memperlihatkan gigi rapi milikku setelah ia membukakan pintu mobil itu untukku.
"Sama-sama princess"
Balas Farel sembari mengacak pelan pucuk kepalaku.
"Wow"
Itu kata yang mampu mewakilkan perasaan Kagum pada taman yang sangat indah ini. Aku sangat terlalu melihat pemandangan di taman ini. Aku sangat kagum.
"Kamu suka?"
Tanya Farel padaku yang masih terpukau dengan keindahan taman ini. Banyak bunga yang tumbuh di taman ini. Warna-warni bunga membuat taman ini makin indah. Udara di sini juga sangat segar. Banyak rerumputan hijau yang tumbuh sangat rapi di sini.
"Banget"
Jawabku singkat. Tapi aku masih terfokus dengan taman ini. Aku dan Farel masih menyusuri taman yang sangat luas ini. Tidak ada sedikit pun lahan yang kosong. Semua kahan sudah di tim uji oleh bunga yang indah nan cantik.
"Indah"
Gumam ku pelan. Sembari masih terpukau dengan keindahan yang di sajikan taman ini.
"Keindahan taman ini Gak ada apa-apa nya di banding keindahan kamu."
Aku langsung menoleh ke asal suara. Ternyata Farel yang mengucapkan kalimat itu. Aku pikir, tadi dia tak mendengar ucapanku. Aku hanya melempar senyum padanya.
"Kita duduk yuk. Aku capek nih"
Ucap Farel sembari menahan lenga ku yang dari tadi terus menyusuri taman ini bersama Farel.
"Ya udah, Tapi kita duduk dimana?"
Aku bertanya pada Farel. Sembari melihat keadaan sekitar. Samaku akhirnya aku melihat bangku taman yang kosong.
"Gimana kalau Kita duduk di sana aja?"
Ucapku pada Farel sembari menunjuk ke suatu arah yang terdapat bangku tamannya. Farel yang tampaknya masih mencari tempat duduk , langsung mengikuti arah yang aku tunjuk. Lalu ia mengangguk setuju.
"Aku Gak nyangka bisa ke taman yang indah ini bareng kamu. Aku bahagiaaa banget dengan semua yang kamu kasih buat aku."
Ucapku pada Farel .
"Aku juga seneng bisa bawa orang yang aku cinta ke tempat ini. Maaf yaa. Mungkin selama ini aku udah buat kamu kesel, buat kamu marah,"
Ucap Farel padaku. Lalu aku mendongakkan kepalaku agar bisa menatapnya.
"Terimakasih ya, Selama ini kamu menganggap bahwa aku adalah utusan Tuhan yang pantas kamu bahagia kan. Tapi kalau ternyata utusan Tuhan itu bukan aku gimana? Apa kamu akan merasa nyesel karena udah membuat aku bahagia?"
Aku kembali berbicara sembari mendongakkan kepalaku agar bisa menatapnya lagi. Karena memang sekarang aku masih dalam dekapannya.
"Apa kamu pikir sebelumnya matahari tau kalau dia adalah utusan Tuhan untuk menemani pagi? Apa kamu juga berpikir bintang tau sebelumnya kalau dia di takdir kan Tuhan untuk menjadi teman nya malam. Nggak kan? Yang mereka tau, mereka harus membuat teman hidupnya tak merasa sendiri. Mereka harus membuat teman hidupnya bahagia.Mereka juga tak pernah menyesal dengan apa yang telah mereka berikan pada teman hidupnya. Buktinya matahari tak pernah berhenti menyinari pagi, bintang juga tak pernah berhenti untuk menemani malam.Walaupun nantinya mereka tak tahu akan takdir."
Ucap Farel tulus sembari menatap mataku dalam. Kami kembali menikmati suguhan keindahan yang di berikan oleh taman ini.