Aurel

Aurel
33



"Iya deh iya. Gue minat maaf. Lagian Lo tenang aja gue Gak bakal Rebut Aurel dari Lo bro."


Balas Aldo sembari menepuk pelan bahu Farel. Farel hanya meliriknya Malas.


"Lagian emang Aurel mau sama Lo? Dih kepedean banget Lo, do. Meskipun Lo ngerebut dia dari Farel, tapi kan dia belum tentu mau"


Ryan kembali meledek Aldo yang mendapat tatapan tajam dari Ryan.


"Kalian berisik baget sih! Ganggu tidurnya Aurel tau Gak?! Mendingan kalian cabut deh!"


Bentak Farel yang sudah mulai malas meladeni teman-temannya.


"Santai bro. Ini kita juga udah mau ganti baju. Ya udah kita duluan ye bro"


Pamit Aldo yang di ikuti Ryan dan temannya yang lain.


"Rel jangan sampe Lo apa2in anak orang. Nanti dia bisa lari loh"


Ledek Ryan sebelum dia pergi dari hadapan Farel.


"Hhmm ada apaan sih berisik banget?"


Aurel bergumam sembari mengerjapkan matanya dan berusaha mengumpulkan kesadarannya. Saat membuka matanya, sosok lelaki yang ia cintai lah yang pertama kali ia lihat.


"Eh sayang kamu udah bangun. Maaf ya mereka berisik. "


Sambut Farel saat Aurel sudah membuka matanya dengan sempurna.


"Eh gara-gara kalian berisi Aurel jadi bangun. Cabut Gak Lo pada! "


Ucap Farel dengan mendorong tubuh temannya agar mereka menjauh.


"Ya elah, Rel. Maaf deh kalau kita ganggu. "


"Gak usah banyak omong! Dari tadi katanya mau pergi tali Gak pergi-pergi juga. Sekarang pergi!"


Suruh Farel lagi dengan nada yang lebih tegas. Akhirnya teman-teman Farel meninggalkan Farel dan Aurel. terlihat jelas mata Aurel masih sangat merah dan sayu. Sepertinya kantuk nya belum hilang. Farel merasa salah dengan gadisnya.


"Maaf ya udah bangunin kamu pagi-pagi"


Ucap Farel sembari mendekap tubuh Aurel yang masih sangat lemas. Aurel menenggelamkan wajahnya di dada bidang Farel. Wangi tubuh Farel masih sangat menyengat Indra penciuman Aurel walau Farel telah mengeluarkan keringat usai bermain basket tadi.


"Kalau gue gak cinta sama Lo mungkin udah gue cincang kali Lo. Untung aja gue cinta sama Lo. Eghh Farel!! Kau sudah menghancurkan mood kU pagi ini. Ini Sangat menyebalkan!"


Teriak Aurel di dalam hatinya. Aurel masih setia berada di dekapan Farel. Nyaman? Itulah yang dirasakan Aurel saat ini. Mungkin pelukan Farel adalah tempat ternyaman yang busa dirasakan oleh Aurel.


"Kamu belum sarapan kan?"


Tanya Farel lembut sembari mengusap lembut rambut Aurel yang masih berada diperlukannya.


Aurel mengangguk di dalam dekapan Farel.


"Ya udah kita kekantin ya? Lagian jam masuknya masih lama. Tapi aku ganti baju dulu ya"


Ucap Farel yang lagi-lagi mendapat anggukan dari Aurel. Aurel terpaksa melepaskan pelukannya agar Farel mengganti baju basket nya dengan kemeja putih dan almamater sekolah mereka.


"Duh kamu masih ngantuk ya? "


Farel mengelus pipi Aurel. Farel melihat jelas mata Aurel Masih sayu, dan juga tampak memerah. Apakah Aurel benar-benar belum bisa menghilangkan kantuk nya?


"Nggaakkk!! Pake tanya lagi! Sumpah kesel banget pagi ini. Kamu udah buat aku bangun pagi sekali Farel Darwin!! Ini adalah rekor untuk aku. Aku gak pernah bangun sepagi ini."


Aurel menggerutu di dalam hatinya namun ia tak menjawab pertanyaan Farel sama sekali.


"Ya udah deh aku ganti baju dulu. Nanti kita ke kantin sarapan biar kamu Gak ngantuk lagi."


Ucap Farel lagu lalu beranjak pergi ke toilet untuk mengganti Jersey kebanggaan nya itu.


Sambil menunggu Farel mengganti baju, Aurel hanya diam menatap sendu sekitarnya. Ia seperti orang yang sedang menyerah dilihat dari matanya yang Sangat sayu.


Aurel mengusap wajahnya kasar. Ia mencoba menghilangkan rasa kantuk yang terus menyerang dirinya.


"Hei sayang maaf ya lama "


Kini Farel sudah berada dihapan Aurel dengan Jersey yang sudah berganti dengan kemba yang diselimuti almamater sekolah itu.


Farel mengerinyit kan dahinya saat melihat raut wajah Aurel yang masih belum berubah juga. Aurel benar-benar akan tidur. Lihat saja matanya masih tak berubah, masih sayu. Wajahnya pun Seperti sedang kelelahan.


"Sayang?"


"Ih aku kesel tau Gak sama kamu! Kamu harus tau kalau Semalem aku itu tidur jam 5 gara-gara nemenin Siska nonton film drama!"


Ucapan Aurel secara tiba-tiba. Ya Tuhan! Aurel sudah keceplosan berbicara Sepeti itu. Ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Pasti Farel akan memarahinya karena ia sudah tidur melampaui batas jam tidurnya. Siska adalah sepupu Aurel yang sedang berkunjung ke rumah Aurel untuk beberapa hari karena ia sedang berlibur. Siska mengenyam pendidikan di London, Inggris. Aurel memang menganggap sidak sebagai saudara kandungnya. Oleh karena itu setiap sidak meminta sesuatu apapun, pasti Aurel menurutnya. Termasuk kejadian tadi malam yaitu Siska meminta Aurel untuk menemaninya menonton Film drama samaku jam 5 pagi. Bayangkan saja?! Jam 5?! Aurel sangat takut Farel akan marah padanya karena ia sudah melanggar perintah Farel yang melarangnya tidur lebih dari jam 9 malam. Farel akan sangat marah besar. Gawat!


"Apa?! Jam lima?!"


Tanya Farel tak percaya. Ia menatap Aurel yang menunduk takut padanya.


"Aduh! Mampus gue! Ih lagian nih mulut pake keceplosan segala sih?! Lagian ini gara-gara Siska sih yang ngajak gue nonton drama. Tapi gue juga salah sih kenapa gue mau? Eghh pasti Farel marah Nih sama gue karena gue tidur jam segitu."


Di dalam hati Aurel merutuki kebodohannya.


Farel menarik lembut dagu Aurel agar menatapnya. Aurel dengan pelan mengangkat wajahnya yang menunduk peralahan menatap Farel. Ia melihat tatapan mata Farel yang sulit diartikan. Marah? Kasian? Tak tega? Sepertinya sebagian arti tatapan Farel Sepeti itu.


"Kamu Gak mikir kesehatan kamu ya? Hmm? "


Tanya Farel lembut dengan tangan yang masih memegang dagu Aurel.


"Maaf"


Ucap Aurel dengan lirih.


"Apa kamu masih ingin melakukan ini? "


Tanya Farel yang langsung mendapat gelengan cepat dari Aurel. Sungguh Aurel merusak telah melakukan ini. Ia berjanji tak akan mengulanginya.


"Maaf sayang aku Gak bermaksud cuek sama aturan kamu."


Ucap Aurel dengan nada lirih dan wajahnya yang tampak memohon pada Farel agar Farel mau memaafkannya.


Farel menghela nafas panjang. Ia berusaha untuk menghilangkan rasa kecewanya pada gadisnya itu.


"Aku akan maafin kamu. Tapi kamu janji jangan pernah melakukan ini lagi. Ini demi kesehatan kamu. Kamu ngerti kan?"


Ucap Farel lembut yang langsung mendapat anggukan patuh oleh Aurel. Farel tersenyum tipis laku Emawati gadisnya kedalam pelukannya.


"Kamu udah buat aku khawatir, sayang. Pantes aja kamu hari aneh banget. Gak biasanya kamu lemas kayak gini."


Kini Farel Mengelus punggung Aurel memberinya kenyamanan.


"Eh  aku hari ini seneng baget."


Ucap Farel tiba-tiba yang membuat Aurel mendongak di dalam pelukan Farel untuk menatap Farel.


"Kenapa?"


Tanya Aurel sembari mengerutkan keningnya heran.


"Karena pagi ini aku main basket di temenin pacar aku. Jadi aku tambah semangat deh mainnya. Makasih ya udah mau nemenin aku. Tapi maaf juga udah bangunin kamu pagi2. Hehehe"


Farel terkekeh sendiri karena melihat Perubahan dari raut wajah Aurel yang berubah menjadi kesal saat mendengar ucapannya.


"Ih kamu mah malah di ingetin lagi. Padahal aku kan udah mulai lupa sama kemarahan aku sama kamu,"


Balas Aurel dengan mengerucutkan bibirnya yang langsung memuat Farel tertawa saat melihat Aurel yang ngambek.


"Bibirnya Gak usah di maju-maju in gitu. Kode ya? Biar aku cium?"


Ledek Farel yang membuat Aurel menatapnya tajam.


"Ih mesummm! Siapa yang kasih kode?! Woy geer banget kamu!"


Pekik Aurel yang sepertinya Sangat geli mendengar ucapan Farel itu. Farel tertawa terbahak melihat Aurel yang berteriak histeris saat mendengar kata-katanya.


Tapi tiba-tiba saja pipi Aurel terasa memanas. Pasti kini wajahnya terlihat seperti kepiting rebus yang sangat merah. Ya, saat ini wajah Aurel terlihat sangat merona.


"Cie blush gara-gara aku godain. Liat tuh pipi kamu merah baget kayak tomat."


Ledek Farel sembari menoleh pipi Aurel. Aurel yang sedari Yadi menuang wajahnya, kini beralih menatap Farel tetapi dengan tatapan tajamnya. Sepertinya ia tak rela bila harus menerima ledekan dari lelakinya.


"Tau ah aku males sama kamu,"


Ucap Aurel yang berpura-pura ngambek.  Ia melipat kedua tangannya dan di letakkan di dadanya sembari mengangkat dagunya angkuh.


"Cie ngambek. Jangan ngambek dong. Aku minta maaf deh,"


Ucap Farel membawa Aurel kepelukannya.