Aurel

Aurel
18



*Author's POV*


Hari ini, Aurel sibuk membolak-balikan koran di meja ruang tamu nya. Ia tertarik dengan satu topik berita. Bahwa pekan depan akan di selenggarakan Balapan motor yang sangat bergengsi di sebuah stadion balapan yang terletak di Jakarta..Ini sangat menarik. batin Aurel.


"Bik ini koran terbitan hari ini ya?"


Tanya Aurel pada bik imah


"Iya non. Seperti biasa ,tukang koran langganan mang Udin nganterin koran terbitannya hari ini buat mang Udin."


Ucap bik imah.


"Oh gitu. Kok bisa ada disini? Kalau aku mau pinjam boleh Gak?"


Tanya Aurel lagi.


"Pinjam saja non. Nanti bibik bilangin sama mang Udin."


Balas bik imah.


"Ya udah. Makasih ya bik kalau gitu aku berangkat dulu ya bik. Assalmua'alaikum."


Ucap Aurel pada bik imah sembari mencium punggung tangan nya lalu bergegas pergi berangkat sekolah. Karena Farel sudah menunggu di ambang pagar.


"Hai,"


Sapa Farel pada Aurel. Sembari mengelus wajah cantik milik Aurel.


"Hai juga."


Aurel membalas sapaan Farel. Dan menggenggam tangan Farel yang sedang mengelus wajahnya.


"Udah siap berangkat? "


Tanya Farel pada Aurel dan di balas oleh anggukan setuju dari Aurel.


***************


"Hai. Eh gue punya kabar gembira loh"


Ucap Aurel pada teman teman nya saat sudah memasuki ruang kelas.


"Kabar gembira? Apa?"


Tanya Sherly pada Aurel.


"Pekan depan ada balapan motor yang sangat bergengsi. Kalian ikut kan?"


Ucap Aurel pada teman-temannya. Seketika wajah mereka jadi berubah. Cemberut? Ya saat ini wajah mereka berubah menjadi cemberut.


"Oh kalau itu Kita udah tau kali rel"


Balas Audy.


"Terus kenapa kalian Gak semangat buat ikut balapan kali ini? Kalian udah daftar kan? Gue juga udah daftar tadi ke panitia nya."


Ucapan Aurel berhasil membuat mata mereka membulat sempurna.


"What? Lo mau ikut balapan ini?"


Tanya Jessica yang sangat kaget mendengar penuturan Aurel dan di balas oleh Aurel dengan anggukan pasti sembari tersenyum.


"Rel Lo jangan gila deh! "


Ucap Audy pada Aurel.


"Ya ampun, Rel. Farel bisa marah banget sama Lo. Kalau dia tau Lo ikut balapan motor ini."


Ucap Jessica .


"Farel Gak akan tau, kalau Gak ada yang ngasih tau dia soal ini."


Balas aurel pada Jessica.


"Makanya Kita Gak ikut balapan motor kali ini, karena selain peserta nya yang udah pada profesional, tantangan di balapan ini sulit banget, Rel. "


Jelas Audy pada Aurel. Ia berharap kalau Aurel mendengar ucapan nya.


"Gimana katerjadi sesuatu sama lo? Farel pasti marah banget sama Lo. Mungkin dia Gak akan maafin Lo. Karena Lo udah Gak nurutin perkataan dia."


Ucap Sherly.


"Iya rel. Farel nge larang lo demi kebaikan lo,"


Ucap Jessica pada Aurel.


Mereka terus menasihati Aurel. Agar Aurel tak mengikuti balapan ini.


"Gue Gak papa kok, kalian tenang aja ya, dan gue akan tetap ikut balapan motor kali ini. Lagi pula ini bukan balapan liar. "


Ucap Aurel santai dan berlalu dari mereka.


Kini mereka masih mematung menatap kepergian Aurel. Dari dulu sampai sekarang Aurel memang keras kepala. Tidak bisa diatur. Padahal dia di atur demi kebaikannya.


"Ya ampun guyyss gue jadi khawatir banget sama Aurel. Gue takut dia kenapa kenapa"


Ucap Sherly .


"Gue juga gitu . Gue Takut kalau sampe terjadi apa-apa ama Aurel."


Ucap Jessica.


"Aurel keras kepala banget si . Kalau sampe terjadi sesuatu dan Farel tau. Gimana jadinya? Apa Farel masih peduli sama aurel? Ini kan jelas salah Aurel. Gue takit,"


Balas Audy.


"Gimana kalau kita coba sekali lagi untuk bujuk Aurel supaya dia Gak jadi ikut balapan ini?"


Tanya Audy pada Jessica dan Sherly. Dan di balas Sherly dan Jessica dengan anggukan. Setelah itu mereka bergegas untuk menghampiri Aurel. Dan membujuk Aurel agar tidak mengikuti balapan ini.


"Rel, Lo yakin mau ikut balapan ini? "


Ucap Sherly yang sedang menghampiri Aurel dan di ikuti oleh Jessica dan Audy.


"Balapan ini di ikuti oleh peserta yang udah profesional semua. Dan tadi gue juga udah bilang kalau tantangan di balapan kali ini sulit bange, Rel. Apa Lo yakin mau ikut balapan ini?"


Tanya Audy pada Aurel.


"Kita cuma takut Lo terluka, Itu aja,"


Ucap Jessica pada Aurel.


"Gue yakin kok. "


Ucap Aurel dengan yakinnya.


"Gimana sama Farel?"


"Gimana kalau Farel tau?"


"Gue takut Lo terluka. Dan kalau Farel Gak mau peduli lagi sama Lo? Gara-gara lo Gak dengar ucapan dia gimana?"


"Tadi kan gue udah bilang. Farel Gak akan tau masalah ini. Kalau Gak ada yang ngasih tau dia ."


Ucap Aurel pada teman-temannya. Sepertinya ini sudah menjadi keputusan yang bulat untuk Aurel.


----------------------------------------------


Waktu yang di tunggu kini sudah tiba.


Aurel sedang bersiap menuju area balapan. Di kursi penonton sudah ada ketiga Aurel yang setia menunggu Aurel.


"Lo hati-hatu yaa. Kita Gak mau kalau Lo sampai terluka,"


"Lo yang semangat, Tel. Hati-hati juga,"


"Lo jangan ngelamun kalau lagi balapan."


Ucap mereka Aurel memberi semangat kepada Aurel.


"Makasih buat semangatnya."


Ucap Aurel sembari memeluk ketiga temannya dengan erat.


"Apakah sudah siap? Pertandingan akan segera di mulai."


Ucap seseorang yang sepertinya adalah panitia penyelenggara .


Aurel mengangguk dengan yakin.


"Take care ya rel."


Ucap teman-teman Aurel dengan sedikit berteriak. Aurel menoleh ke belakang dan tersenyumbmendengar ucapan mereka. Kini Aurel memang sudah jauh dari mereka. Aurel sudah mulai memasuki area balapan.


************


Priiittt .... Priiittt


Bendera yang di pegang oleh seorang perempuan telah di lempar ke udara. Pertanda balapan telah di mulai.


Teman-teman Aurel tak henti nya berdo'a untuk keselamatan teman nya, yaitu Aurel. Terjadi persaingan sengit di antara mereka. Terlihat Aurel selalu berada di posisi depan. Ia selalu memimpin balapan kali ini. Peserta lain juga tak mau kalah . Mereka terus melajukan motornya dengan kencang. Begitu pun dengan Aurel, Ia sangat gesit mengendarai motornya. Tak terlihat rasa kaku sedikit pun saat Aurel mengendarainya motornya . Maklum saja, Aurel sudah sangat sering mengikuti balapan. Tapi bukan balapan liar. Aurel tak pernah mengikuti balapan liar. Ini adalah balapan bergengsi yang kesekian kalinya untuk Aurel. Jadi, Aurel tidak merasa kaku lagi dengan motornya. Setiap mengikuti balapan yang bergengsi, Aurel jarang sekali kalah. Tak sedikit juara yang ia sandang di berbagai pertandingan bergengsi. Ia selalu berhasil menjadi sang juara.


Dwaaarr....


Tiba tiba Suara benturan keras menggema di area balapan ini. Seketika suasana menjadi panik. Ya, telah terjadi kecelakaan dengan salah satu peserta balapan.


"Aureell"


Suara teriakan teman-teman Aurel sangat kencang. Ya, peserta balapan yang sudah mengalami kecelakaan adalah Aurel . Mereka Aurel berlari dengan panik menghampiri Aurel yang kini sudah terbaring lemah di area balapan. Setelah sampai di tempat dimana Aurel terbaring lemah , ketiga teman Aurel langsung membuka helm yang Aurel gunakan. Setelah helm itu di buka. Mereka Aurel sangat kaget dan panik. Mereka langsung menangis tak percaya. Kepala dan mulut Aurel telah di penuhi dengan cairan yang berwarna merah itu. Ya, cairan berwarna merah yang telah memenuhi kepala dan mulut Aurel adalah Darah.


"Rel bangun, tolong! Bangun!"


"Gue mohon, Rel. bangun, Rel."


"Gue tau Lo kuat . Ayo, Rel, bangun. Rel bangun!"


Ucap merekadengan teriakan histeris. Mereka menangis kencang.


"Tolong teman kita. Jangan diam aja dong panitia nya! tolong!! "


Mereka kembali berteriak histeris berusaha memanggil panitia penyelenggara.


****************


Kini di Rumah Sakit tempat aurel di rawat, telah ada bik imah. Bik imah memang tadi sudah di hubungi oleh ketiga Aurel . Mereka sudah bercerita semuanya pada bik imah. Bik imah sangat histeris mendengar kabar yang di sampaikan teman2 Aurel lewat telepon rumah itu. Bik imah benar-benar tak percaya dengan apa yang terjadi dengan majikan yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri itu dan mereka meminta bik imah Agar datang ke rumah sakit membawa pakaian Aurel.


"Bagaimana dokter, dengan keadaan non Aurel?"


Bik imah langsung menyambut dokter yang baru saja keluar dari ruangan Aurel setelah memeriksa keadaan Aurel. Bik imah menyambut sang dokter dengan pertanyaan. Wajah nya sangat khawatir dan panik menunggu jawaban dari sang dokter.


"Apa ibu adalah keluarga pasien?"


Tanya sang dokter pada bik imah.


"Saya asisten di rumahnya , dok."


Jawab bik imah.


"Kalau boleh tau, dimana keberadaan orangtua pasien? Ada yang mau saya bicarakan dengan orangtuanya."


Ucap sang dokter lagi.


"Orang tua non Aurel masih ada urusan di luar negeri. Tapi saya sudah memberi kabar kepada mereka soal non Aurel. Mereka akan secepatnya kembali ke Indonesia, dan akan langsung ke sini."


Jelas bik imah.


"Baiklah . Kalau begitu saya perlu bicara dengan ibu. Ibu bisa keruangan saya sebentar?"


Tanya sang dokter, bik imah membalas dengan anggukan mantap . Setelah itu ,bik imah langsung mengikuti sang dokter untuk ke ruangannya."


"Begini, Bum. Keadaan pasien masih sangat kritis. Benturan keras di bagian kepala pasien , menyebabkan ada nya penyumbatan di otak pasien. Dan saat ini pasien dalam keadaan koma. Saya belum tau pasti kapan pasien akan siuman. Tapi Jalan satu-satunya adalah operasi,"


Jelas sang dokter.


"Baiklah, Terimakasih dokter."


Ucap bik imah. Lalu, keluar dari ruangan dokter.


"Bik . Dokter bilang apa?"


"Gimana keadaan Aurel, bik?"


"Jawab, bik. Gimana keadaan Aurel."


Bik imah langsung mendapat pertanyaan yang bertubi-tubi dari ketiganya


"Ada penyumbatan di otak non Aurel. Non Aurel koma, dan Sekarang dia masih dalam keadaan kritis, "


Ucap bik imah singkat. Seketika merasa tubuhnya lemas dan menutup mulut mereka dengan rasa tak percaya. Mereka kini langsung terduduk lemas.


"Aurel koma?"


Mereka tak percaya. Mereka langsung Terisak ketika mendengar penjelasan bik imah.


"Tapi Aurel bisa di sembuhin kan bik?"


Kini ketiganya kembali bertanya.


"Kata dokter, jalan satu-satunyya adalah operasi,"


Jelas bik imah kembali. Mereka Aurel kembali Terisak. Mereka tak percaya dengan keadaan buruk yang menimpa sahabat mereka.


*************


Kini teman-teman Aurel memasuki ruang rawat milik Aurel. Ruang ICU, ya kini Aurel di rawat di ruang ICU. Mereka memasuki ruangan dengan kaki bergetar, tubuh bergetar karena mereka berusaha menahan Isakan tangis milik mereka. Dengan ragu mereka menginjakkan kaki mereka di ruangan yang hening ini. Hanya ada suara alat pendeteksi detak jantung yang menggema di ruangan ini. Isakan mereka makin menjadi setelah melihat sahabat mereka terbaring lemah di ranjang dengan oksigen yang melekat di hidung dan mulutnya. Nafasnya sangat teratur karena bantuan oksigen itu.


"Hai, Rel. Masih betah tidur ya?"


Ucap Jessica dengan suara lembutnya dan nada lirihnya.


Ucap Audy sembari tertawa kecil. Kini Audy berusaha menutupi kesedihannya dengan menggoda Aurel. Walaupun ia tau Aurel tak akan mendengar canda nya.


"Bangun, Rel. Kita gak bisa ngelihat Lo terbaring lemah kayak gini."


Kini Sherly yang berbicara sembari menahan Isakan tangisnya.


"Kita tau, Lo itu Temen kita yang kuat."


"Sekarang kita ngerasa sepi Gak ada Lo yang selalu care sama kita."


"Gue kangen dengan semua yang pernah kita lalui bersama. "


Mereka masih Terisak sembari mengelus lembut rambut milik Aurel. Mereka berusaha untuk menahan Tangisan demi Tangisan. Karena mereka tak ingin sahabatnya tau, kalau mereka sedang rapuh dan bersedih. Mereka harus terlihat kuat di depan sahabatnya. Walaupun hati mereka menangis histeris melihat keadaan sahabat yang sangat baik dan peduli pada mereka kini harus terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dan bergelut dengan alat2 medis yang sangat rumit ini.


"Kita akan selalu ada buat Lo. Seperti Lo yang selalu ada juga buat kita."


**********


Keesokan pagi nya......


"Saya ingin memeriksa keadaan pasien pagi ini."


Ucap sang dokter.


"Silakan dokter."


Ucap Audy mempersilakan dokter itu masuk keruangan Aurel. Meskipun mereka tak tahu, apa saja yang di periksa sang dokter terhadap Aurel, tapi mereka berharap kalau pagi ini ada kabar gembira mengenai keadaan Aurel.


"Bagaimana dokter keadaan Aurel? Apa ada kemajuan?"


Baru saja sang dokter memeriksa keadaan Aurel, dokter itu sudah di sambut oleh Audy dengan pertanyaan yang tentunya mengenai keadaan aurel.


"Semua nya nor al. Tapi , sepertinya belum ada tanda kalau pasien akan siuman sebelum pasien dioprasi. Kami akan lakukan secepatnya,"


Ucap sang dokter. Sembari menepuk pelan pundak Audy. Setelah itu ia pamit bergegas keluar dari ruangan rawat Aurel.


"Kita lewati ini bareng-bareng yaa. Kita harus yakin kalau Aurel bisa bertahan."


Ucap Jessica yang sedang duduk di sofa. Audy, Sherly dan bik imah hanya mengangguk sembari tersenyum.


***********


"Bik gimana keadaan Aurel?"


Pagi ini orangtua Aurel sudah satang ke rumah sakit dimana putri mereka di rawat intensif.


Kedua orangtua Aurel tampak sangat panik saat melihat keadaan anak mereka yang masih lemah tak berada ya di atas ranjang rumah sakit.


"Papa mau temui dokter dulu ya. Supaya Aurel segera di operasi."


Pamit papa Aurel yang dibala anggukan lemah oleh istrinya.


"Dokter bagaiman jika operasi anak saya di laksanakan sekarang?"


Papa Aurel langsung bertanya dengan panik saat memasuki Ruangan dokter.


"Tenang Pak. Pihak rumah sakit akan menyiapkan semua keperluan operasi. Tapi sebelumnya bapak tanda tangani dulu surat persetujuan operasi ini."


Ucap sang dokter sembari menyerahkan seberkas surat perjanjian yang harus ditandai tangani oleh papa Aurel.


Dengan sangat terburu-buru papa Aurel menanda tangani surat Persatu Juanda itu agar putri nya cepat di operasi.


*********


Sore ini Aurel akan di operasi sesuai jadwal yang sudah di tentukan dokter. Dokter mengatakan operasi akan berlangsung kurang lebih selama tujuh jam.


Dan kini sudah memasuki jam ke enam Aurel di operasi tapi belum ada tanda bahwa operasi sudah usai.


Mama Aurel sedari tadi hanya gelisah mondar mandir di depan ruang operasi menunggu kabar mengenai operasi anaknya.


"Aduh Pa kok lama banget ya operasi nya,"


Ucap mama Aurel dengan menggigit buku-buku jarinya karena gelisah.


Papa Aurel menenangkan istrinya dengan mengelus punggung sang istri.


"Tenang dulu ma. Ini baru enam jam. Masih ada waktu satu jam lagi."


Ucap papa Aurel menenangkan istrinya.


***********


Dan kini sang dokter telah keluar dari ruangan operasi Aurel dan langsung disambut tidak sabar oleh kedua orangtua, dan teman Aurel.


"Gimana dokter, keadaan anak saya? Apa operasinya berhasil?"


Mama Aurel langsung menyerbu sang dokter dengan semua pertanyaan yang sedari tadi ada di benak hatinya karena gelisah dan panik.


"Alhamdulilah operasi pasien berjalan dengan baik tanpa halangan sedikitpun,"


Ucap sang dokter yang langsung membuat kedua orangtua dan semua yang ada di sana bernafas lega.


"Alhamdulilah,"


Ucap kedua orangtua dengan menguasai wajah mereka pertanda bersyukur kepada sang pencipta.


"Sebentar lagi, kami akan membawa ke ruang perawatannya"


Uap sang dokter menjelaskan yang dibals anggukan oleh semuanya.


"Saya permisi"


Pamit sang dokter.


"Ya dokter. Terimakasih"


Balas papa Aurel dengan wajah sumringah nya.


***************


Sampai menjelang pagi, Aurel masih belum juga sadar usai operasi yang kemarin sore ia lakukan.


"Kalian kenapa gak sekolah sayang?"


Tanya mama Aurel dengan nada yang lembut pada teman-teman Aurel yang masih duduk di sofa kamar Aurel menunggu aurel yang belum sadar.


"Kita gak sekolah dulu tante. Sampai Aurel sadar."


Jawab Jessica dengan sopan.


"Loh kok gak sekolah? Kalian sekolah aja biar nanti Aurel tante yang di sini. Kalian Gak boleh mengorbankan pendidikan kalian cuma karena Aurel."


Mama Aurel membantu ketiga teman Aurel nasihat agar mereka semua sekolah.


"Iya bener kata mamanya Aurel. Kalian harus sekolah. Jangan cuma karena Aurel kalian Gak sekolah."


Papa Aurel yang baru saja memasuki ruang perawatan Aurel langsung menyambar menasihati ketiga teman Aurel.


Ketiga teman Aurel akhirnua bangkit dari duduk mereka hendak bersekolah.


"Ya udah kalau gitu kita permisi dulu ya om, tante. "


"Maaf ya tante, om kita gak bisa nemenin dulu. Tapi nanti pulang sekolah kita kesini lagi buat jenguk Aurel."


Ucap Sherly dan Audy saat hendak pergi.


"Iya sayang. Ya udah kalian hati-hati ya."


Uca mama Aurel saat ketiga teman Aurel mencium punggung tangannya dan suaminya.


**********


Ketiga teman Aurel sudah memasuki pekarangan sekolah dengan wajah yang sedikit lesu. Mungkin karena teman mereka sedang mengalami musibah?


"Audy, Sherly. Jessica"


Tiba-tiba ada yang berteriak memanggil ketiga teman Aurel yang sudah mulai memasuki koridor sekolah.


Ketiga teman Aurel menoleh ke asal suara yang sepertinya bersumber dari belakang mereka.


Seketika Jessica, Audy dan Sherly menekan salifa sudah payah karena ternyata yang memanggil mereka adalah Farel.


"Aduh kita mau ngomong apa sama Farel? Kalau dia nanya Aurel?"


"Gue juga Gak tau. Mau ngomong apa ya kalau Farel nanya. "


"Kalau kita jujur, gue gak siap lihat reaksi Farel,"


Ketiganya berbisik dengan bingung karena harus mengatakan apa pada Farel kalau Farel bertanya mengenai Aurel.


Kini Farel sudah berada dihadapkan ketiga teman Aurel. Dengan napas yang tersengal karena tadi sedikit berlari saat menghampiri ketiga teman aurel.


"Gue mau tanya sama kalian,"


Ucap Farel pada mereka bertiga.


Ketiga teman Aurel semakin bingung.


"Kalian tau kabar Aurel gak? Soalnya dia gak ada kabar. Bahkan gue udah kerumahnya tapi kayaknya rumah Aurel kosong,"


Degg


Ternyata benar dugaan ketiga teman Aurel kalau Aurel menghsmpiri mereka karena ingin berkata ya kabar Aurel.


"Hhmm"


Jessica terlihat gugup dan bingung harus menjawab apa.


"Kalian tau kabar Aurel?"


Tanya Farel sekali lagi.


"Hmmm-- itu--"


Audy menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Farel mengerinyit saat melihat kegugupan ketiga teman Aurel. 'Sepertinya ada yang di sembunyikan dari gue'


Batin Farel.


"Kalian kenapa sih? Kok kayak gugup gitu?"


Tanya Farel sembari memandang secara bergantian saja Audy, Jessica dan Sherly.


"Itu--- Aurel--"


Sherly terbata


"Aurel?"


Farel mengulang pertanyaanya.


"Aurel-- Aurel kecelakaan"


Dwaarr


Seketika hati Farel Sepeti di hantam petir pada siang hari.


"Aurel kecelakaan?"


Tanya Farel yang masih belum bisa peraganya.


Ketiga teman Aurel mengangguk dengan wajah mereka yang menunduk.


"Sekarang alamat rumahnya sakitnya dimana? Gue mau kesana"


Ucap Farel dengan panik.


Setelah Farel mendapatkan alamat rumah sakit tempat Aurel dirawat, ia langsung menancapkan gas motornya menuju rumah sakit agar ia bisa melihat keadaan kekasihnya.


"Syukurlah Farel kayaknya gak marah."


Ucap Jessica lega saat Fare sudah meninggalkan pekarangan sekolah.


"Lagian kalau dipikir-pikir Gak mungkin juga lah Farel marah sama Aurel. Dia kan sayang banget sama Aurel dan jeadaan Aurel lagi gak baik-baik aja,"


"Tadi kenapa kita kayak orang bego ya karena takut Farel marah. Tapi gak taunya Farel Gak marah sama sekali malah dia panik gitu sama Aurel."


*************


Kini Farel berjalan dengan tergesa di koridor rumah sakit karena rasa khawatir yang menyelimuti dirinya.


Farel melihat papa Aurel yang sedang duduk di kursi yang berada didepan ruangan rawat Aurel.


"Om gimana keadaan Aurel? Saya boleh masuk ya om?"


Tanya Farel dengan tak sabaran.


"Nak Farel ya?"


Tanya papa Aurel yang ternyata sudah mengenal Farel. Aurel memang sering cerita pada kedua orangtua nya saat kedua orangtuanya masih berada di singapore mengenai Farel. Banyak hal yang  diceritakan Aurel tentang huungannya dan Farel.


"Iya om"


"Ya udah kamu langsung masuk aja."


Farel melangkahkan kakinya memasuki ruangan yang dipenuhi dengan suara alat dan aroma obat-obatan itu.


Farel duduk di samping ranjang Aurel sejak menggenggam tangan kekasihnya dengan erat.


Farel berusaha menahan kesedihannya yang harus melihat Aurel yang masih setia menutup matanya.


Kini di punggung tangan Aurel sudah basah karena air mata Farel yang sedari tadi mengalir.


"Maaf ya sayang. Aku baru dateng sekarang. Aku bener-bener gak tau kalau keadaan kamu kayak gini"


Ucap Farel lirih sembari memandangi wajah pucat kekasihnya dengan dalam.