Aurel

Aurel
11



"Rel, bangun. Rel, ayo bangun udah jam segini. Nanti Farel udah dateng."


Jessica sibuk membangunkan aku. Sembari mengguncang tubuhku.


"Hhmm, Iya bentar lagi . Gue masih ngantuk."


Jawabku dengan setengah sadar. Karena memang  masih sangat ngantuk.


"Ih, Rel. Gak pake bentar-bentar. Pokoknya Lo harus bangun sekarang juga! Dan Lo Harus liat sekarang jam berapa? ayo, Rel ."


Lanjut Jessica kembali membangunkan Aku mengerjap kan mataku melihat Audy dan Sherly yang baru bangun juga dari tidur nya.


"Ya ampun udah jam segini. Kenapa kita bisa kesiangan?"


Ucap Sherly. Yang ikut panik dengan pagi ini.


"Gue mau mandi duluan. Byee"


"Enak aja gue duluan yang mandi. Kan gue yang lebih dulu bangun."


"Gak ada . Pokoknya gue duluan yang mandi. Kalian belakangan."


"Ogah Lo kan mandi nya lama. Pokoknya gue duluan! Gak ada nola-nolak,"


"Gue duluan"


"Gue duluan"


"Gue duluan"


"Ya ampun kalian berisik banget sih. Ganggu gue tidur aja deh. "


Ucapku untuk melerai mereka.


"Woyyy. Lo juga harus bangun. Lo Gak liat sekarang jam berapa? Hah? Cepetan bangun, Rel. Ini udah siang banget. Nanti kita bisa telat."


Ucap Audy sembari menarik tanganku dann berhasil membuatku terbangun dari tidur nyenyakku.


"Ya ampun ? Gue Gak salah liat ini jam berapa? 06.30? Kita bisa telat kalau kayak gini. Ayo buruan mandi. Cepetan"


Aku mengajak mereka untuk segera ke kamar mandi. Tapi mereka tidak juga bangkit dari posisi mereka. Kenapa mereka malah diam di tempat? Bukannya tadi mereka yang mau cepetan mandi?


"Kok pada Diem sih? Kalian Gak mau sekolah? Ya udah berarti gue aja yang masuk sekolah. Terserah kalian. "


Aku bertanya heran pada mereka.


"Kamar mandi nya kan cuma 1? "


Ucap mereka secara bersamaan. Lalu mereka saling menatap satu sama lain.


"Enak aja. Kamar mandi di rumah gue ini banyak. Di lantai atas sama di lantai bawah sama-sama ada kamar mandinya. Udah gitu bukan cuma satu. Jadi tunggu apa lagi? Buruan ayo pada mandi. Ya udah gue mandi duluan deh."


Ucapku sembari bergegas ke kamar mandi di kamar kU di ikuti mereka yang memencar ke beberapa kamar mandi di rumahku ini.


********


"Akhirnya selesai juga. Aduh udah jam berapa Nih? Gue takut telat lagi."


Ucapku panik sembari memakai sepatu sekolahku, begitu pun teman-temanku.


"Emang Lo doang yang takut telat kita juga kali"


"Lagian takut telat masuk sekolah apa takut buat Farel nunggu?"


Ucap Sherly yang berhasil mendapat tatapan tajam dariku.


"Takut telat masuk sekolah lah. Kalau masalah dia nunggu mah biarin aja"


Elakku dengan pasti.


"Eh kayaknya itu  Suara motornya Farel deh. Buruan, Rel. Nanti Farel kelamaan nunggu"


"Iya bawel. Sabar. Gue belum selesai makai sepatunya. Dia juga pasti ngerti kok."


"Buruan, Rel. Itu Farel udah nunggu."


"Kalian kalau udah selesai duluan deh ke depan. Bilang ke dia kalau gue belum siap,"


"Oke deh. Tapi Lo jangan lama yaa,"


"Ya udah kita duluan ya rel"


Ucap ketiga temanku lalu bergegas ke pagar. Dan ternyata benar dugaan mereka kalau orang yang udah nunggu di depan pagar itu Farel. Aku dengar Farel berbicara.


"Loh Aurel mana? Kok kalian sendiri?"


"Aurel belum selesai pake sepatu. Tunggu bentar yaa. Bentar lagi juga selesai."


Aku dengar Sherly menjawab pertanyaan Farel.


Sesampainya aku di depan pagar. Ternyata ada Bik imah di sana yang sedang menyiram tanaman.


"Bik aku berangkat sekolah dulu yaa. Bibik hati-hati di rumah. Assalamu'alaikum"


Pamit ku pada bik imah sopan . Sembari mencium punggung tangan bik imah lembut.


"Iya non. Hati-hati yaa. "


Entah kenapa jawaban bik imah itu disertai dengan senyum jail nya sembari melirik Farel. Oh ternyata aku baru tersadar kalau bik imah sedang menggodaku. Aku hanya membalas senyum bik imah simpul.


"Bik kita juga berangkat sekolah dulu yaa. Makasih bik udah ngasih numpang kita tidur disini"


Ucap mereka sembari tertawa kecil. Lalu mereka juga mencium punggung tangan bik imah.dan di balas bik imah dengan anggukan sembari tersenyum.


"Saya juga permisi ya bik ke sekolah dulu. Assalamu'alaikum."


Tak ingin kalah Farel juga ikut berpamitan dengan bik imah.


"Wa''alaikumsalam kalian hati2"


Pesan bik imah pada kami lalu kami segera berlalu dari rumahku.


"Lama ya nunggu nya? Maaf ya. Soalnya tadi gue sama temen-temen gue bangun kesiangan "


Ucapku sebelum berangkat ke sekolah.


"Enggak kok. Aku juga baru dateng. Ya udah ayo naik ke motor. Nanti kita telat"


Farel mengajakku agar segera menaiki motor gedenya.


**********


Bell masuk berbunyi....


" apa kalian sudah siap untuk ulangan hari ini?"


Pertanyaan dari Bu Siska guru Kimia berhasil membuat mata teman-temanku membulat  sempurna.


"Ulangan? Wah aneh nih guru. Gue belum belajar sama sekali guyyss. Lagian emang Bu siska udah bilang minggu kemarin kalau kita mau ulangan? "


Audy bertanya padaku, Jessica dan Sherly dan di balas oleh Jessica dan Sherly dengan mengangkat bahu mereka . Pertanda kalau mereka tidak tahu.


"Udah kok. Minggu kemarin Bu Siska udah bilang sama kita kalau hari ini mau ulangan kimia"


Aku menjawab dengan santai. Aku terlihat santai karena aku memang setiap hari belajar. Aku bukan tipe pelajar yang belajarnya kalau mau ulangan aja. Belajar sudah menjadi aktivitas wajib ku setiap hari untuk mengisi waktuku dirumah.


"Ya ampun, Rel. Kok Lo Gak bilang sama kita? Lo jahat banget sih rel sama kita?"


"Dih mana gue tahu . Lagian emang kalian gak dengar minggu kemarin Bu Siska bilang apa? "


Teman-temanku menjawab dengan gelengan secara bersamaan.


"Kirain gue kalian udah tau, makanya gak gue kasih tau lagi.  Lagian nih ya, kalian itu kalau belajar jangan karena mau ulangan doang. Setiap hari kita harus belajar. Jadi kalau ada ulangan kayak gini kalian gak panik lagi. Karena kalian ngerasa kalian udah belajar. Belajar itu harus menjadi aktivitas yang wajib kita lakukan setiap hari."


Aku memberi penjelasan pada mereka. Dan mereka hanya membalas dengan mengangguk paham.


"Ya udah kalian ber do'a aja. Semoga ada keajaiban yang datang. Gue yakin kok kalian bisa. Tenang aja yaa. Semangat,"


Aku memberi mereka motivasi .


***********


Krringgg...kriinggg


"Akhirnya selesai juga. Sumpah ulangan nya susah banget cuyy.eh tapi  Lo kok santai aja sih rel Gak ada rasa khawatir gitu?"


Tanya Jessica.


"Khawatir kenapa? Gak ada yang perlu di khawatirin juga? gue udah pasrah. Apapun hasilnya insyaallah gue bisa terima. Karena gue udah usaha  setiap hari sebisa gue,:


Ucapku mantap


"Haii kita ke kantin  bareng yuk"


Tiba-tiba suara itu berhasil membuat aku dan teman-temanku menoleh pada sumber suara itu. Aku mendapati Farel dan teman-temannya yang tengah tersenyum pada kami.


"Ayo,"


Ajak Jessica sembari melirik aku, Audy dan Sherly.


Kita ke kantin bersama. Tapi saat tengah di perjalanan menuju kantin...


"Oh iya , aku boleh ngomong sama kamu sebentar gak?"


Farel bertanya sembari menarik tanganku lembut agar berhenti melangkah. Aku yang mendengar ucapan Farel hanya mampu menatapnya heran .


"Ya udah ngomong aja"


Jawabku pada Farel.


"Nanti malam aku mau ngajak kamu ke suatu tempat. Kamu dandan yang cantik yaa. Walaupun setiap hari udah cantik . Tapi aku mau liat kamu berpenampilan lebih cantik dari sehari-haru kamu . Aku akan jemput kamu jam 07.00 malam.  Ada yang mau aku omongin  juga sama kamu . Kamu mau kan?"


Apa? Ucapan Farel berhasil membuat mataku terbelalak sempurna. Tumben dia ngajak aku jalan. Sebenarnya ada apa ini? Tidak biasanya Farel sok romantis gini ngajak aku jalan.


"Hei kamu kok melamun? Aku mohon sama kamu. Sekali ini aja aku ngajak kamu pergi. Dan aku janji akan jaga kamu . Aku Gak akan ngapa-ngapain kamu. Aku mohon sama kamu."


Ucapan itu berhasil membuat aku sadar dari kebingunganku. Aku harus menjawab apa ? Aku bingung.


"Hhmm. Gimana ya? Kita liat nanti aja deh. "


Aku memutuskan untuk pergi dari hadapan Farel. Tapi dengan sigap Farel menahan lenganku lembut.


"Terserah kamu mau atau nggak jalan sama aku. Tapi aku akan tetap datang nanti malam ke rumah kamu. Itu akan membuktikan , kalau aku bener-bener serius ngajak kamu jalan. Bukan cuma bicara aja. Kalau nanti malam aku liat kamu udah rapi, dengan dandanan yang membuat kamu makin cantik berarti kamu mau aku ajak jalan. Tapi kalau kamu Gak mau nerima ajakan aku, kamu Gak perlu dandan. Kamu cukup datang nyamperin aku ke pagar rumah kamu, dan kamu bilang kalau kamu Gak bisa nerima ajakan aku. Aku akan terima kok. Kamu Gak perlu sungkan bilang itu. Oke?"


Ucap Farel dengan nada lembutnya .


"Ya udah. Kita ke kantin yuk. Nanti keburu masuk"


Ajak Farel sembari menggenggam tanganku.


"Lama amat si bro berduaan nya?"


Tanya Ryan, teman Farel.


"Apaan si Lo?"


Elak Farel.


Berbeda dengan Ryan dan Farel yang berbicara  dengan volume yang lumayan terdengar, aku dan teman-temanku justru sedikit berbisik pelan.


"Lo abis darimana aja si sama Farel. Lama banget datengnya."


"Tau Kemana aja Lo, Rel? Berduaan mulu. Kalau udah berduaan sama Farel pasti lupa sama kita"


"Buruan kasih tau. Lo abis darimana sama Farel? Terus ngomongin apaan?"


Teman-temanku bertanya denganku seenaknya mereka.


"Sstt. Berisik banget si. Udah ah lanjut aja makan. Daripada ngurusin gue sama Farel"


*********


Krriinggg...kriinggg...


Tak terasa bel pulang telah berbunyi nyaring. Dengan cepat murid berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Begitu pun aku dan tema-temanku.


"Eh, Rel, Lo kenapa? Kok semenjak selesai istirahat tadi Lo jadi banyak melamun? Ada masalah? Cerita dong sama kita."


"Iya, Rel. Gue perhatiin semenjak istirahat tadi Lo jadi banyak Diem. Ah Gak asik Lo."


"Cerita aja rel sama kita kalau Lo ada masalah. Kita siap Denger cerita Lo kok. "


"Hai. Kalian udah dari tadi pulangnya?"


Pertanyaan itu berhasil mengalihkan pembicaraan aku dengan mereka. Pertanyaan itu keluar dari mulut Farel.


"Eh Farel. Enggak kok. Kita juga baru keluar dari kelas."


Jawab Audy. Di balas dengan anggukan paham oleh Farel.


"Rel, pulang bareng yuk.  Kamu kan Gak bawa motor. Aku anter Kamu sampe rumah kayak kemarin"


Ajak Farel padaku.  Aku merasa lenganku mendapat senggolan dari lengan Sherly. Dia berbicara sembari berbisik.


"Lo Gak bawa motor kan? Ya udah ikut aja sama Farel"


Sherly menyuruhku dengan semangat.


"Iya, Rel. Lo bareng Farel aja pulangnya. Lo kan Gak bawa motor. Buruan sana. Bilang mau"


"Gue pulang bareng Kalian aja deh"


Aku menolak suruhan teman-temanku dengan berbicara berbisik juga.


Dan ucapanku barusan membuat mata mereka membulat sempurna.


"Gak ada. Kita Gak terima tumpangan. Sorry ya."


Jahat! Aku yakin pasti mereka sengaja gak mau menerima aku sebagai penumpang di motor mereka. Karena mereka mau nya aku pulang bareng sama Farel bukan sama mereka.


"Dih jahat banget si kalian. Gue males ah pulang bareng Farel."


Ucapku dengan kembali berbisik.


"Ayo lah, Rel. Sana buruan pulang bareng Farel. Lo kenapa si aneh banget. Tadi pas berangkat sekolah perasaan baik-baik aja. Eh semenjak ngobrol berdua tadi sama Farel, jadi berubah gini. Udah cepetan sana"


Ucap Jessica sembari menyenggol lenganku sembari berbisik juga.


"Eheem. Kebiasaan kalian Nih kalau lagi ada gue pasti bisik-bisik . Emang kedengaran apa kalau ngomong bisik-bisik? Kan bukannya Gak nyaman juga ya?"


Pertanyaan itu membuat aku dan temanku berhenti berbisik sembari menggaruk tengkuk kami yang tak gatal.


"Hehe. Ya gitu deh kebiasaan. Jadi susah deh ngilanginnya."


Ucap Sherly sembari tertawa kecil.


"Iya kebiasaan. Maaf deh kalau bikin Lo Gak nyaman."


"Bukannya kalian yang Gak nyaman? Kalau gue sih biasa aja. Lagian kalau gue ngomong bisik-bisik gitu Gak enak aja jadi susah ngerti nya karena suaranya pelan banget."


Ucap Farel sembari tertawa kecil pula.


"Ya kalau itu sih emang Lo nya aja yang lemot. Susah ngerti. Kalau kita fine aja bisik-bisik . Yaa namanya juga cewek. Biasa lah."


Omongan  Jessica itu membuat tawa kami pecah.


"Ya udah pulang yuk. Nanti keburu sore. Rel, Kamu mau Gak pulang bareng aku? "


Lagi dan lagi Farel bertanya soal itu. Aku kembali mendapat senggolan lengan dari Audy.


"Iya bawel"


Bisikkubpada Audy dan berhasil membuat Audy senyum penuh kemenangan. Dan aku hanya mengangguk pasrah menerima ajakan Farel.


"Rel nanti kita ke rumah Lo ya. Mau ngobrol kayak biasa"


Ucap Audy sedikit berteriak agar aku mendengarnya. Karena aku memang sudah sedikit jauh dari mereka. Lalu aku balas dengan anggukan.


**********


"Rel udah sampe rumah Kamu nih."


Ucapan Farel membuat aku terbangun dari kebingunganku soal ajakan Farel tadi. Entah kenapa aku masih bingung dengan ajakan Farel. Jujur aku memang sering di ajak laki-laki untuk hanya sekedar dinner. Tapi aku selalu menolaknya. Karena aku memang sangat kaku berjalan dengan cowok.


"Eh iya. Udah sampe ya? Cepet juga Lo bawa motornya."


Farel hanya tersenyum mendengar. Ucapanku sembari mengacak rambutku lembut.


"Ya udah masuk sana.  Langsung Mandi abis itu istirahat ya. Jangan lupa makan. Nanti kamu sakit."


Farel memberiku perhatian yang membuat perasaanku menghangat.


Aku membalas perkataan Farel dengan mengangguk paham sembari tersenyum.


"Makasih yaa Lo udah mau antar gu pulang. Ya udah gue masuk yaa. Lo hati-hati pulangnya. Byee"


Ucapku sembari tersenyum pada Farel. Entah mengapa mulutku menuntut ku untuk berbicara seperti itu pada Farel.


Lalu aku masuk kedalam rumah. Yang sudah di sambut dengan bik imah.


"Cieee non sekarang ada teman cowok? Biasanya non nggak mau berteman dengan cowok"


Ucap bik imah sembari tersenyum jail.


"Bibik ngapain senyum gitu?"


"Nggak. Bibik Gak senyum-senyum. Non kali yang lagi senyum karena lagi bahagia "


Ledek bik imah sembari mencolek daguku. Ini godaan entah yang ke berapa kali yang aku dapatkan dari bik imah. Setelah kemarin bik imah melihat aku diantar pulang oleh Farel dan hari ini juga seperti itu.


"Ah bibik mah ledekin aku terus. Tau ah mending aku mandi terus tidur. Daripada di ledekin mulu sama bik imah"


Ucapku sembari meninggalkan bik imah yang masih tersenyum jail menggodaku.


**********


Seusai mandi tadi aku masih bingung soal ajakan Farel itu. Aku bingung harus bagaimana?


Tiba-tiba knop pintu kamarku terbuka.


Aku memang sengaja tak mengunci pintu kamarku . Karena tadi bik imah bilang dia mau mengantarkan susu hangat untukku. Tapi ketika aku lirik bukan bik imah yang membuka pintu kamarku. Ya siapa lagi kalau bukan teman-temanku. Mereka merasa ini kamar mereka, jadi tak mengetuk pintu nya terlebih dahulu.


"Hai, Rel. Ngelamun aja Lo. Ntar kesambet Lo"


"Iya, Rel, jangan ngelamun Ntar Farel dateng"


Ucapan yang keluar dari mulut Sherly itu memuatku menatapnya tajam. Kenapa Sherly jadi membawa-bawa Farel dan Sherly hanya ter kekeh kecil melihat tatapan tajam dariku.


"Lo kenapa si? Dari tadi Diem mulu,"


"Siapa yang Diem? Dari tadi gue ngomong mulu,"


Jawabku dengan santai.


"Lo bohong. Iya kan? Lo bohong sama kita? Rel kita itu temen an baru kemarin sore ya? Perasaan enggak deh. Jadi pasti kita tau  kalau lagi ada yang Lo sembunyikan dari kita."


"Enggak ada yang gue sembunyikan. "


Jawabku tanpa menoleh pada mereka. Lalu Sherly mengarahkan pundakku agar menghadap padanya.


"Kenapa Lo selalu lakuin ini sama kita? Lo udah Gak percaya lagi sama kita sebagai teman ? Kenapa lagi dan lagi Lo bohong sama kita? Gue bisa liat dari mata lo kalau Lo lagi mikirin sesuatu. Lo cerita sama kita siapa tau kita bisa bantu. Kita bisa jaga rahasia Lo kok . Kalau emang yang lagi Lo pikirin ini mengandung rahasia."


Ucap Sherly.


"Iya, Rel. Lo cerita sama kita. Lo lagi ada masalah? Ayo dong rel Lo jangan kayak gini terus kita jadi sepi ngliat Lo Diem terus."


Ucap Audy.


"Lo Gak perlu takut sama masalah Lo ada kita di sini. Tapi gimana kita bisa tau masalah Lo, kalau Lo Gak pernah mau cerita sama kita."


Jessica ikut berbicara menasihatiku.


"Sebenarnya gue Gak papa. Gue cuma lagi bingung aja,"


Aku menjawab pertanyaan mereka.


"Bingung kenapa? "


Tanya Jessica


"Tadi kalian ingat kan waktu istirahat, gue sama Farel nyampe di kantin belakangan?"


mereka membalas dengan anggukan cepat.


"Makanya kita sampe belakangan karena tadi Farel ngomong sesuatu sama gue,"


Lagi-lagu omongan ku terputus. Aku bingung ingin memulainya dari mana.


"Ngomong apa rel? Buruan ngomong"


Teman-temanku sudah benar-benar tidak sabar dan sangat penasaran.


"Dia ngajak gue jalan malam ini jam 07.00.  katanya ada yang mau dia omongi  sama gue"


"Terus Lo terima kan? Terima kan rel?"


Tanya mereka dengan nada penasaran mereka.


"Gue belum jawab apa-apa. Tapi katanya di terima atau nggaknya tawaran dia itu sama gue. Dia akan tetep dateng kerumah gue nanti malam, karena dia mau buktikan kalau dia bener-bener serius ngajak gue jalan. "


"Lo harus terima, Rel. Fix Lo pokoknya Harus terima ajakan dia"


"Bener, Rwl. Lo pokoknya harus terima ajakan itu. Lo Gak boleh sia-siain kesempatan langka ini. Perdana loh Farel ngajak in cewek jalan. Biasanya kan dia terus yang di ajakan jalan sama cewek-cewek di sekolah kita"


"Kalian mah dari kemaren nyuruh gue nerima gitu aja semua tawaran dia. Emang Gak susah apa?"


"Susah apanya sih rel. Lo tinggal duduk manis. Semuanya udah di sedia in sama Farel. Dimana letak susahnya?"


"Tau lo, Rel. Udah pokoknya Lo harus terima diner pertama Lo sama Farel  ini. Lo harus dandan yang super cantik supaya Farel makin cinta sama Lo,"


"Dih apaan sih? Ngomongnya cinta mulu. Dia sendiri aja Belum ngomong apa-apa sama gue. Kalian malah udah Mastiin gitu aja kalau dia cinta sama gue."


"Udah bawel Lo. Gue yakin pasti yang mau Farel omongan nanti malam ke Lo itu tentang perasaannya. Kalau dia itu cinta sama Lo."


"Bener gue setuju. Gue juga mikir gitu. Pasti Farel ngajak Lo jalan malam ini karena dia mau jujur sama perasaannya,"


"Kalau dia nembak Lo. Pokoknya Lo harus terima. Karena gue yakin, Hal yang mau dia bicara in ke Lo itu soal perasaan cinta nya ke Lo. Dan lo Gak boleh nolak . Lo harus terima"


"Ehh di kira gampang apa ? Main terima-terima aja. Biar namanya pacaran tapi tetep aja susah jalani nya"


"Orang aja Bisa jalani nya. Masa Lo Gak bisa. Ah payah Lo,"


Aku kini tak menjawab mereka.


"Kita akan dandanin Lo secantik mungkin. Malam ini kita akan membuat Lo merasa menjadi wanita paling cantik sejagat raya ini. Oke?"


"Yuupss bener banget. Kita akan membuat Lo menjadi lebih menarik. Pokoknya Semenarik mungkin. Biar Farel makin jatuh hati sama Lo"


"Kalian apaan si? Lebay banget. Cuma mau jalan sama Farel aja heboh nya setengah mati."


"Biarin yang penting Lo bahagia"


Lalu kami berpelukan setelahnya. Aku terharu dengan kebersamaan ini. Mungkin aku tidak akan pernah menemukan sahabat seperti mereka yang selalu bersamaku di saat aku sedih dan bahagia ini. Oleh karena itu aku berharap , kalau aku dan teman-temanku akan selamanya bersama melewati rintangan hidup ini.


*********