
Semenjak kejadian itu, Farel sangat berbeda dari biasanya. Aurel terus berusaha meminta maaf. Aurel juga selalu menghubungi Farel tapi tak pernah di tanggapi farel. Semarah inikah farel pada Aurel? Apa rasa kecewanya sebesar ini? Aurel selalu merutuki kebodohan yang telah dilakukannya. Namun apakah semua itu akan membuat Farel tak marah lagi padanya? Tentu tidak! Nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Tak ada gunanya lagi penyesalan yang selalu dirasakan Aurel. Penyesalan memang selalu datang di akhir, tak pernah datang di awal.
"Sayang? Kamu udah makan malam belum? Istirahat ya. Good night, I love you sayang"
Aurel kembali mengetik pesan entah sudah yang ke berapa kali nya untuk Farel.
Dengan setia aurel menunggu balasan dari Farel. Namun nihil. Sudah tiga puluh menit ia menunggu balasan Farel tapi tetap saja tak di respons Farel. Padahal biasanya, Bila Aurel mengirim pesan untuk farel, Ia sangat cepat membalas pesan yang di kirim Aurel untuknya. Namun Ntah mengapa kali ini Farel tak secepat itu. Bahkan tak membalasnya.
Aurel mendesah kecewa. Apakah Farel tak berniat membalas pesannya dengan hanya sekedar mengucapkan selamat malam padanya?
Aurel berjalan gontai Menuju balkon kamarnya. Di tatapnya langit malam yang penuh dengan bintang itu.
Jika aurel sedang ada masalah, inilah yang akan di lakukan Aurel. Curhat dengan bintang yang sedang menemani malam. Ia melamun sembari menatap bintang. Tanpa ia sadari, air matanya sudah jatuh dengan Sangat tenang. Ia kembali teringat pada masalah yang kini sedang ia hadapi bersama Farel.
"Bintang... Aku mohon. Sampein permintaan maaf aku sama Farel. Aku sayang banget sama dia. Aku Gak bisa dicuekin terus kayak gini sama Farel. Aku mohon bintang tolong aku."
Ucap Aurel lirih sembari masih menatap bintang yang bertebaran di angkasa itu dengan sangat indah nya.
Disaat yang sama....
"Sayang? Kamu udah makan malam belum?"
Farel membaca pesan yang ia terima dari Aurel. Farel sama sekali tak berniat membalas pesan dari gadisnya itu.
Farel meletakkan Ponsel nya dinakas. Pandangan nya terhenti pada bingkai foto Aurel yang sengaja ia pajang di nakas nya.
"Good night too sayang. I love you," ucap Farel seolah membalas Pesan dari Aurel tadi, sembari mengelus bingkai foto itu.
Farel sangat mencintai Aurel. Apakah Aurel tak menyadari akan hal itu, sehingga ia membuat perjanjian bodoh itu dengan Laura?
Jujur, ini adalah hal yang paling berat buat Farel. Mengacuhkan kekasihnya? Itu sangat sulit. Namun rasa kecewa itu, sudah mengelabui perasaan Farel. Ia paling tak suka di bohongi. Dan ia juga paling tak suka di jadikan bahan taruhan. Siapapun tidak akan mau dijadikan bahan taruhan. Termasuk Farel. Walaupun sebenarnya Aurel tidak bermaksud untuk menjadikannya bahan taruhan, tapi tetap saja ia kecewa dengan sikap kekasihnya yang dengan seenaknya menerima tantangan Laura.
Apakah kekasihnya itu tak berpikir dengan baik? Dengan ia menerima tantangan Sepeti itu dari Laura, itu artinya ia sudah siap menyerahakan Farel pada Laura. Mungkin Dewi Fortuna sedang berpihak pada Aurel, sehingga membuat nya menang, namun jika ia kalah? Berarti sudah jelas-jelas Aurel menyerahkan Farel pada Laura.
Farel memutuskan untuk berjalan menuju balkon kamarnya. Mungkin dengan ia menatap langit malam, perasaan nya akan tenang.
Ternyata hal ini juga sering menjadi pilihan Farel untuk ia lakukan saat ia sedang memiliki masalah.
"Aku kangen banget sama kamu. Sebenarnya aku juga Gak mau kayak gini sama kamu. Tapi, aku mau buat kamu sadar atas apa yang udah kamu lakuin. Aku Gak bisa sayang, cuek gini sama kamu. Tapi Aku cuma butuh waktu. Aku harap kamu ngerti."
Batin Farel sembari menatap lurus ke langit. Tatapan nya sangat kosong. Walaupun raga nya ada di sini, namun tidak dengan jiwanya. Jiwa Farel melayang entah Kemana.
****
"Aku ngerti, kamu cuma butuh waktu. Dan aku akan nunggu sampai kamu benar-benar maafin aku. Aku akan tunggu waktu itu sampai datang."
Tiba-tiba Aurel mengucapkan kata itu.
oh god! Ini seperti cerita khayalan. Bagaimana Bisa Aurel tau apa yang sedang di Fikirkan oleh Farel? Sepertinya perasaan mereka memang sangat menyatu. Lihatlah! Entah dorongan darimana, seakan-akan Aurel menjawab ucapan batin Farel. Apa Aurel tau, hal apa yang sedang di batinkan oleh Farel? Tapi bagaimana bisa? Apa ini hanya kebetulan saja? Entahlah.
****
"Aku sayang banget sama kamu."
Ucap Farel lagi sembari tersenyum kecil yang masih menatap langit.
Gadisnya itu sangat berpengaruh besar pada diri Farel. Bagaimana tidak? Sedari ada masalah dengan kekasihnya itu, ia sangat malas melakukan aktivitas apapun. Ia tak kunjung keluar dari kamarnya. Ia hanya murung. Dan fikiran nya melayang entah Kemana.
****
Aurel masih melamun menatap bintang. Air mata nya pun tak pernah berhenti untuk jatuh.
"Aurel? Kamu ngapain di situ? Udah malam loh. Angin malam gak baik buat kesehatan kamu."
Ucap mama Aurel yang menghampiri putrinya di balkon kamarnya. Aurel yang menyadari keberadaan mama nya dengan sigap menghapus air matanya. Lalu ia hanya melirik mama nya tanpa menjawab ucapan mamanya. Kemudian kembali fokus menatap langit yang masih di penuhi bintang itu.
Mama Aurel menatap putrinya dengan bingung. Kenapa raut wajah putrinya sangat sedih? Apa yang sedang ia Fikirkan?Mama Aurel membawa kepala putrinya ke dalam pelukan nya.
"Kamu kenapa? Ada masalah ya?"
Tanya mama Aurel lembut sembari mengelus rambut putrinya dengan halus.
Saat menyadari putri nya menangis, mama aurel langsung menangkup wajah putrinya dari pelukan nya, lalu di tatapnya putrinya itu dengan lembut.
"Kamu kenapa sayang? Apa yang terjadi sama kamu?"
Tanya mama Aurel lagi sembari menghapus air mata Aurel.
"Farel... Farel marah sama aku, ma"
Jawab Aurel dengan nada lirih.
"Marah? Kenapa Farel marah? Pasti kamu ngelakuin sesuatu yang buat dia marah ya?"
Mama Aurel kembali bertanya. Ia sangat yakin, tak mungkin Farel secara tiba-tiba marah pada putrinya. Apalagi, ia tau akan sifat Farel pada Aurel. Jadi rasanya tak mungkin Farel membuat putrinya menangis Sepeti ini tanpa sebab. Pertanyaan nya itu di balas anggukan oleh Aurel.
Benar kan! Pasti semua ini ada sebab nya. Dan sepertinya sebab masalah itu berasal dari putrinya.
Akhirnya Aurel memutuskan untuk menceritakan semua masalah yang sedang ia hadapi kepada mama nya. Dengan seksama, mama nya mendengar ceritanya tanpa ada niat memotong cerita itu sedikitpun. Aurel menceritakan semuanya dari awal. Mulai dari tawaran Laura yang di berikan untuknya, keyakinan ia menerima tawaran itu, menang nya ia dalam perlombaan itu, hingga Farel yang menganggap dirinya di jadikan bahan taruhan, semua cerita itu mengalir dengan sendiri nya dari Aurel.
"Mama yakin Farel hanya kecewa sama kamu. Dia Gak marah kok sayang."
Ucap mama Aurel menenangkan saat Aurel menyudahi ceritanya.
"Tapi aku harus gimana ma? Aku udah berusaha minta maaf. Tapi tetep aja dia Gak mau maafin aku."
Ucap Aurel pasrah.
"Farel masih butuh waktu untuk menerima semuanya. Dia masih belum bisa menerima dengan apa yang sudah kamu lakukan sayang. Tapi mama yakin, cepat atau lambat, dia akan kembali lagi untuk kamu."
Jelas mama Aurel lembut dan membawa anaknya ke dalam pelukan nya lagi.
"Tapi kalau ternyata Farel Gak mau maafin Aurel selamanya, gimana ma?"
Tanya Aurel lirih di dalam pelukan mama nya sembari masih terus menangis.
Saat mendengar ucapan anaknya, mama aurel kembali menangkup wajah putrinya dengan lembut sembari menghapus air mata putrinya itu.
"Farel akan maafin kamu sayang. Tapi belum bisa untuk saat ini. Sekarang mama tanya sama kamu, kalau Farel punya salah sama kamu, apa kamu langsung maafin dia?"
Tanya mama Aurel yang di balas gelengan oleh Aurel.
"Nah, begitupun dengan Farel. Dia belum bisa maafin kamu untuk saat ini. Tapi, cepat atau lambat dia pasti akan memaafkan kamu. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah, kamu harus tetap sabar nunggu Farel maafin kamu."
Ucap mama Aurel meyakinkan putrinya.
Aurel menarik nafas nya dalam. Mungkin benar dengan apa yang dikatakan mama nya. Ia harus bersabar menunggu Farel untuk memaafkan nya.
"Sekarang kamu istirahat ya. Besok kan harus sekolah. Jangan sampai kesiangan"
Bujuk mama Aurel pada putrinya.
"Makasih ya ma. Makasih udah jadi mama sekaligus teman buat Aurel. Aurel sayang banget sama mama."
Ucap Aurel lalu memeluk mama nya itu. Dengan senang hati, mamanya membalas pelukan hangat anaknya itu.
"Sama-sama sayang. Mama juga sayang banget sama kamu."
Balas mama Aurel lembut.
"Yaudah kamu istirahat ya. Mama keluar dulu. Good night sayang."
Ucap mama Aurel sembari mengelus pucuk kepala anaknya.
"Good night too ma"
Balas Aurel sembari tersenyum. Lalu membiarkan mamanya keluar dari kamarnya.
Aurel menarik nafas nya dalam. Ia Mencoba menetralisir kesedihannya. Lalu ia memutuskan untuk beristirahat.
---------