
Aku terbangun dari tidur setelah sinar matahari masuk lewat celah jendela kamarku.
"Non sudah pagi. Bibik sudah siapkan sarapan untuk non di meja makan yaa. Bibik tunggu di bawah ya non"
Aku mendengar samar-samar suara bik imah dari ambang pintu kamarku.
"Iya bik. Makasih ya bik"
Jawabku santun.
"Sama-sama non"
Balas bik imah pula dan seperti nya dia sudah berlalu dari ambang pintu kamarku.
Aku melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 06.30. Tak biasanya aku bangun se-siang ini. Sebentar lagi pasti bel masuk berbunyi di sekolahku. Aku langsung menyambar handukku yang berada di nakas dan segera berlalu ke kamar mandi untuk mandi.
"Aduh bik aku pasti telat nih. Aku sarapan di sekolah aja ya bik. "
Aku panik dengan semakin siang nya hari.
"Bagaimana kalau sarapannya bibik bekali yaa biar non bawa ke sekolah" tawar bik imah .
"Ya udah deh bik. Aku bawa aja makanan nya"
Aku menjawab ucapan bik imah lalu bik imah berlalu ke dapur untuk membungkus sandwich yang sudah disiapkan untuk sarapanku pagi ini.
"Makasih yaa bik. Ya udah kalau gitu aku berangkat sekolah dulu ya bik. Assalamu'alaikum "
Aku berpamitan dengan bik imah dengan terburu-buru lalu mencium punggung tangan bik imah dan berlalu pergi ke sekolah dengan motor besarku yang biasa aku gunakan untuk pergi kemanapun.
Aku tergesa gesa memasuki koridor sekolah. Untung saja bel masuk belum berbunyi sehingga pagar sekolah belum di tutup. Gawat kalau aku sampai terlambat karena hari ini pelajaran pertama di kelasku adalah pelajaran fisika yang gurunya paling galak di sekolah.
"Rel, Lo Tumben kesiangan . Biasanya rajin banget dateng pagi ke sekolah."
Tanya audy penasaran padaku.
"Iya Rel tumben banget. Apa Lo sakit makanya kesiangan?"
Jessica juga menyerbu dengan pertanyaan. Aku sudah menduga kalau mereka pasti akan memberi kan pertanyaan yang berderet padaku .
"Kalian tuh ya. Gue baru sampe kelas belum juga nafas, udah diserbu pertanyaan gitu."
Jawabku masih kelelahan karena aku tadi berlari memasuki koridor sekolah.
"Ya sorry abisnya Tumben banget Lo. Gak biasanya kayak begitu?"
Jawab Audy.
"Gue juga Gak tahu. Tadi gue bangun dari tidur karena sinar matahari udah nusuk mata gue. Tumben banget emang biasanya matahari belum terbit guebudah bangun. Gak tahu hari ini bawaannya males aja sekolah"
Jawabku santai.
"Oh gitu. Tapi Lo Gak papa kan? Lo baik-baik aja kan? . Gue takut nya Lo kayak gini karena Gak enak badan,"
Jessica bertanya padaku dengan nada khawatirnya.
"Iya gue Gak papa kok. Gue juga Gak sakit. Kalian tenang aja."
Jawabku sambil menyinggingkan senyum di bibir ku.
Pembicaraan kami terhenti saat guru fisika kami memasuki ruang kelas yang kami tunggu
"Selamat pagi anak-anak,"
"Pagi Pak"
Jawab murid-murid secara bersamaan.
"Baik kita mulai pelajaran kita . Coba kalian buka buku fisika kalian halaman 75!"
Perintah guru fisika itu yang bernama Pak Surya, semua murid langsung membuka bukunya masing-masing.
Pelajaran berlangsung selam tiga jam. Dan itu sangat membosankan.
----------------------------------------------
Kringgg... Kringgggg....
Akhirnya bel istirahat berbunyi dengan nyaring.
"Kerjakan tugas kalian di rumah ya . Besok lusa sudah harus di kumpulkan!"
Pak surya kembali memberi perintah.
"Baik Pak"
Ucap seluruh siswa secara beesamaan.
"Eh guyyss ke kantin yuk."
Ajak sherly kepada aku , Audy dan jessica.
"Ayuk. Gue udah laper banget nih"
Jawab Audy sambil memegang perutnya.
"Ya udah ayuk kita ke kantin "
Ajak Jessica sembari menarik tanganku pelan.
Sesampai di kantin aku bingung ingin memesan makanan apa. Tapi Aku baru tersadar kalau tadi aku di bekali bik imah sandwich . Untung saja aku belum memesan makanan apapun di kantin ini. Yang seharusnya buat sarapan jadi buat makan siang karena tadi pagi aku gak sempet menyantap sandwich yang pastinya lezat itu.
"Eh bentar ya gue mau ke kelas dulu. Gue baru ingat kalau tadi gue di bekali sandwich sama bik imah. Karena tadi gue Gak sarapan jadi sandwich nya di bawa deh ke sekolah .Mau bazir kan kalau Gak di makan. "
Aku segera berlalu dari teman-temanku. Untuk ke kelas mengambil sandwich. Lalu aku kembali ke kantin untuk menyantap makanan kami bersama.
Saat aku sedang asyik menyantap sandwich . Secara tiba-tiba Farel melemparkan senyum sok manis nya padaku. Kebetulan Farel juga sedang ada di kantin. Dan itu membuatku merasa aneh. Apa tujuan Farel melempar senyumnya padaku. Tiba-tiB aku jadi teringat perkataan ketiga temanku waktu itu di rumahku. Mereka bilang kalau Farel itu punya rasa padaku, tapi aku tetap tidak yakin dengan tebakan mereka itu. Menurutku itu sungguh tidak penting. Ternyata bukan aku saja yang menyadari kalau Farel sedang melemparkan senyumnya padamu
" Dih ngapain tuh anak senyum sama Lo rel?"
Tanya Audy membidik.
"Siapa yang senyum sama Aurel?"
Jessica menyambar perkataan Audy
"Siapa lagi kalau bukan Farel. "
Sherly dengan cepat menjawab pertanyaan Jessica.
"Hah serius Lo? Mana Farel nya?"
Tanya jessica
"Mata Lo Siwer apa gimana sih? Itu farel"
Sherly menunjuk Farel kepada Jessica .
"Ehh jangan di tunjuk gitu nanti dia geer. Kalian apaan sih? Gak usah alay deh"
Jawabku sambil mendengus kesal.
"Iyaa sorry. Tapi ngomong-ngomong ada yang lagi Salah tingkah nih karena di beri senyuman manis oleh pujaan hati."
Jawab Sherly ngasal
"Cieeeeee Aurel lagi berbunga-bunga nih hatinya"
Goda Jessica sambil mencolek pipiku
"Waaahh pokoknya Ntar kalau Lo jadian sama Farel jangan lupa traktir Kita makan ya rel."
Ucap Audy ngasal pula. Kini daguku yang menjadi sasaran tangan Audy.
"Apaan sih kalian? Siapa bilang hati gue berbunga? Gue biasa aja tuh. Lagian siapa yang mau jadian sama dia coba?"
Krriinggg... Kriiinggg...
Akhirnya bel masuk berbunyi setelah tiga puluh menit beristirahat. Aku sangat bahagia krena akhirnya ada yang membuat pembicaraan kami tentang Farel terhenti . Kami memutuskan untu kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran. Tidak terasa hari semakin siang
----------------------------------------------
Kriiinggg.. Kringggg...kringggg
Bell pulang sekolah sudah berbunyi nyaring murid-murid segera merapikan buku dan alat tulis mereka untuk bergegas pulang begitu pun denganku dan ketiga temanku. Tapi saat kami hendak menuju parkiran mengendarai motor dan berniat untuk segera pulang , tiba-tiba Farel dan teman-temannya menghampiri aku dan ketiga temanku. Aku kira dia akan membuat masalah baru lagi denganku. Tapi kenapa kali ini mereka tak memasang muka judes mereka. Justru mereka melempar senyum untukku. Entahlah apa yang akan mereka lakukan dengan aku dan ketiga temanku.
"Hai, Sorry ganggu bentar. Gue mau minta nama akun sociall media kalian semua dong"
Ucapan Farel itu berhasil membuat mataku membulat sempurna. Bagaimana aku tidak membulatkan mataku secara sempurna. Ucapannya itu terdengar sangat aneh. Bukannya selama ini perempuan di sekolah ini duluan yang meminta nama akun sosial media milik nya . Bukan dia yang mengemis pada mereka itu justru sebaliknya. Tapi kenapa sekarang jadi Farel yang minta? Aneh.
"Buat apa?"
Tanya Jessica
"Kalian tenang aja gue Gak mau ngapa-ngapain kok. Cuma mau tambah teman aja. Oh iya Mungkin selama ini kalian bertanya-tanya kenapa sikap gue berubah baik kayak gini? "
Farel membidik. Kenapa dia bisa tau pertanyaan yang selama ini ada di benakku.
"Iya Lo aneh tiba-tiba berubah. Emang kenapa sih kok Lo jadi lembut gitu sama orang lain. Biasanya Lo kan sangar banget sama murid-murid di sini."
Penjelasan Sherly membuat Farel tersenyum simpul.
"Gue baru sadar Ternyata dengan kita memiliki sikap jutek dalam bergaul justru membuat orang lain menjauh dari kita. Tapi kalau kita bersikap santun itu justru membuat orang tertarik untuk berteman dengan kita. Gue kira dulu omongan itu cuma bohong. Tapi Gak tau nya bener kalau kita itu butuh sikap yang baik dalam bergaul, kalau kita mau mendapatkan teman yang baik juga."
Jawabnya sambil tersenyum.
"Ooh kami kira Lo itu lagi ada masalah keluarga makanya berubah kayak gini."
Jelas Jessica
"Iya kita berfikir kayak gitu abisnya Lo tuh berubah tiba-tiba banget. Makanya kita bisa simpulkan kayaknya ada sesuatu yang buat Lo berubah kayak gini. Gak tau nya ini yang buat Lo berubah? Karena Lo di jauhi sama temen-temen sebaya Lo ya?"
Tanya Audy dengan membidik .
Lalu Farel tersenyum sembari mengangguk kecil mendengar pertanyaan Audy. Ternyata karena di jauhi teman nya yang membuat cowok aneh ini berubah. Aku sempat tertawa kecil di dalam hati. Jadi ternyata cowok yang selama ini seperti jagoan di sekolahnya tidak bisa di jauhi teman nya. Ini hal yang lucu menurutku. Berarti dia selama ini butuh teman lain. Kirain cukup dengan teman Genk nya ia sudah bahagia ternyata tidak. Ia justru merasa kekurangan teman. Terlihat pula teman Genk nya berdiri di belakang Farel wajah mereka terlihat sedang menjelaskan hal yang sama pada kami walaupun mereka hanya diam mendengar Farel yang berbicara.
"Gue minta maaf yaa selama ini udah nyakitin perasaan kalian dengan perkataan gue dan sikap gue terhadap kalian."
Farel berbicara dengan wajah serius dan terlihat sangat memohon pada kami dan ia juga memasang wajah memelasnya. Tak lama teman Genk nya pun ikut berbicara.
"Kita juga yaa minta maaf sama kalian karena udah buat kalian benci sama kita dengan perkataan dan sikap kita selama ini "
Mereka pun tampak memohon juga aku masih tidak percaya dengan semua ini. Kenapa begitu cepat mereka menghilangkan rasa gengsi mereka untuk meminta maaf padaku dan ketiga temanku. Mereka kan juga terkenal dengan sikap angkuh dan gengsi yang di miliki mereka. Tapi kenapa begitu cepat rasanya mereka melenyapkan rasa gengsi itu.entahlah. Sedari tadi aku memang memilih untuk diam tidak menjawab satu pun perkataan mereka. Berbeda dengan teman-temanku yang masih sempat menjawab Farel.
"Rel kok Lo Diem aja ? "
Tanya Sherly berbisik sembari menyentuh lenganku menggunakan lengan nya yang berhasil membuatku terbangun dari lamunanku
"Lo ngelamun ya?"
"Hah? Gue Gak ngelamun kok"
Jawabku mantap
"Tau Lo rel dari tadi orang ngomong tuh di dengerin bukannya ngelamun ."
Jawab jessica sambil berbisik pula
"Siapa yang ngelamun?orang Gak ada yang ngelamun. "
Aku menjawab sembari mendengus kesal.
"Eheemm"
Farel berdehem dengan sengaja membuat aku dan temanku berhenti berbisik.
"Kalian ngomongin apa sih? Jadi kalian mau Gak maafin kita? Kalau kalian belum bisa menerima permintaan maaf kita Gak papa kok. Kita bakal tunggu. KIta juga sadar kalau kesalahan kita banyak banget makanya kalian belum bisa maafin kita. Yang penting kita udah minta maaf. Kita bakal tunggu sampai kalian mau maafin kita. "
Ucapan yang keluar dari mulut Farel sepertinya sangat terdengar tulus. Teman nya pun membalas dengan anggukan yang pertanda kalau mereka setuju dengan perkataan Farel. Bahwa mereka akan menunggu sampai aku dan memaafkan mereka.
"Kita udah maafin kalian kok. Ya kan Rel , jess, Audy ? Tapi kalian harus janji bahwa kalian tidak akan mengulangi kesalahan yang pernah kalian buat. "
Ucapan Sherly berhasil membuat mataku kembali membulat sempurna.semudah itu kah Sherly memaafkan kesalahan mereka? Hhufft aku tidak habis pikir dengan Sherly. Entah lah apa maksudnya .
"Iya kita udah maafin Lo kok. Santai aja. "
Ucap Audy
"Kita juga mau punya Temen lebih banyak lagi. Ya kan rel? "
Jawab Jessica sembari menyenggol lenganku dengan pelan. Pertanda kalau aku juga harus menjawab permintaan maaf Farel dan teman nya.
"I.. I.. Iya"
Jawabku dengan dingin dan berat hati. Sembari tersenyum kecut menatap Farel dan teman-teman nya.
"Makasih yaa kalian udah mau maafin kita"
Ucap Farel dengan senyum sumringah di ikuti oleh teman nya.
"Iya sama-sama"
Jawab Jessica, Audy, dan Sherly secara bersamaan. Sedangakan aku lebih memilih diam. Entah kenapa aku belum bisa melupakan perktaan dan sikap kasar yang mereka miliki.
"Oh iya gue kan tadi minta nama akun sociall media kalian ya? Sampai lupa karena terlalu seneng udah di maafin."
Ucap Farel sembari tertawa kecil. Lalu aku dan temanku. memberi semua nama akun sociall media milik kami.
"Sekali lagi makasih ya"
Ucap Farel. Lalu kami membalas dengan anggukan kecil sembari tersenyum. Lalu kita memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing . Aku sudah pergi ke parkiran terlebih dahulu daripada temanku. Untuk mengambil motor.
"Rel tunggu dong"
Pinta teman-temanku sembari mereka menyamai langkahku.
"Rel Lo kenapa sih?"
"Gue Gak habis pikir aja sama kalian ? Semudah itu kalian melupakan kejahatan Farel dan temannya? hah? Sampai kalian gampang banget ngomong kalau kita itu udah maafin mereka"
Ucapku dengan penuh amarah. Sambil terus berjalan.
"Bukan nya setiap manusia punya hak mendapat kesempatan kedua? Tuhan aja yang berkuasa di bumi ini mau memberi kesempatan kedua buat makhluk-Nya yang sudah ingkar. Dan kita? Kita ini hanya Mahkluk Tuhan yang Gak bisa apa-apa yang sama derajatnya kayak manusia yang lain. Itu yang membuat kita tinggi hati? kita Gak mau memaafkan sesama? Gue rasa itu pemikiran yang dangkal Rel,"
Ucapan itu berhasil membuat Langkahku terhenti. Dan aku menoleh ke asal suara. Ternyata yang sudah mengucapkan kata-kata itu adalah Audy. Aku menatapnya tajam.
"Ya kan rel? Itu hanya pemikiran yang dangkal. Gue kenal Lo udah dari SMP, Rel. Dan gue tau Lo itu orang yang memiliki hati lembut dan mudah memaafkan. Tapi kenapa sekarang sikap Lo berubah kayak gini Rel? Lo jadi Gak mudah maafin seseorang. Padahal dulu Lo yang sering Nasihatin kita kalau kita itu harus saling memaafkan,"
Ucap Audy kembali melanjutkan ucapan nya tadi. Entah kenapa aku memang sangat Sulit memaafkan Farel dan seluruh temannya itu. Mereka sudah terlalu jahat dengan teman satu sekolah. Sering menindas yang tidak selevel dengan mereka dengan seenaknya.
"Gue juga Gak ngerti kenapa gue jadi kayak gini. Susah banget buat lupa in semua kejahatan mereka. Gue udah terlalu benci dengan mereka."
Ucapku dengan nada lirih.
"Ya udah mulai sekarang Lo harus bisa belajar untuk memaafkan mereka dan menerima mereka jadi teman baru kita. Lo harus bisa rel. Kita Gak boleh terus-terusan punya musuh kayak gini. Punya musuh itu Gak enak rel. Rasanya selalu takut setiap kita melangkah karena kita merasa punya musuh. Langkah kita jadi Gak tenang."
Ucap Audy sembari tersenyum padaku.
Lalu aku balas dengan anggukan sembari membalas senyumnya.
"Tau Ni Aurel aneh deh Lo. Susah banget maafin Farel. Nanti giliran jatuh cinta baru Lo nyesel."
Ledek Jessica sembari mencolek pipiku.aku membalas dengan tatapan tajam.
"Gue juga takutnya gitu. Ntar giliran Aurel udah mulai jatuh cinta sama Farel. Baru deh dia nangis darah karena sempet Gak mau maafin Farel. Cieeeeee"
Sherly kembali menggodaku. Aku memukul pelan lengannya sambil mendengus kesal. Setelah itu aku dan teman-temanku berpelukan. Hal yang selalu kami lakukan. Lalu setelah puas berpelukan kami memutuskan untuk segera kembali kerumah masing-masing
********