
"Kalian...?"
Teman-temanku tampak bingung melihat aku dan Farel yang sudah kembali berangkat sekolah bareng. Aku hanya membalas kebingungan mereka dengan anggukan sembari tersenyum. Lalu mereka berlalu.
"Ya udah. Aku masuk kelas dulu ya. "
Pamitku pada Farel yang sudah selesai memarkirkan motornya.
"Gitu doang?"
Pertanyaan Farel membuat langkahku terhenti saat ingin menuju kelas. Aku menoleh padanya. Aku mendapati wajah Farel yang sedang cemberut.
"Kenapa?"
Aku bertanya Farel sembari mengelus pipinya dan membuatnya terpejam sejenak.
"Gitu doang ngomong nya? Gak peka banget sih!"
"Gak peka gimana? Oh pasti karena aku lupa bilang makasih ya? Ih dasar perhitungan banget sama pacar sendiri."
Gumam ku tak mau kalah dengan Farel, aku memasang wajah cemberut ku.
"Bukan itu maksud aku"
"Terus apa dong?"
Aku mulai bingung dengan ucapan Farel.
"Gak jadi . Ya udah aku mau ke kelas. Oh iya aku Anter kamu dulu deh ke kelas kamu ,baru aku masuk kelas aku."
Farel menarik tangan pelan. Tapi aku tak menggubris langkah Farel. Aku masih terdiam di posisiku yang membuat Farel menatapku.
"Kenapa Diem? Ayuk aku Anter ke kelas kamu"
Farel kembali menggenggam tanganku. Tapi aku tak merubah posisiku.
"Kamu bilang dulu. Tadi kamu maunya apa?"
"Aku Gak mau apa-apa sayang. Tadi cuma Becanda aja"
"Bohong"
"Beneran"
"Ih ngeselin. Bilang Gak tadi kamu mau apa?"
"Ya udah aku bilang. Tumben kamu tadi langsung mau pergi gitu aja. Biasanya kamu Elus pipi aku dulu sambil bilang makasih, sayang atau apa gitu . Kalau tadi enggak , kamu Elus pipi aku nya pas aku udah ngambek"
"Oh. Ya udah makasih sayang"
Ucapku sembari mengelus pipi Farel lembut ,yang kini aku mengerti kemauan Farel tadi.
"Iya sama-sama, sayang. Ya udah yuk . Aku Anter kamu ke kelas"
Tanganku kembali di genggam oleh Farel sampai akhirnya kami sampai di depan kelasku.
"Ya udah aku tinggal dulu ya. Aku mau masuk ke kelas. Byee. I love you"
Farel mengelus lembut pipiku.
"I love you to"
Setelah mendengar jawaban dariku, Farel bergegas menuju kelasnya."
************
"Cieee yang udah baikan. Gimana cerita nya tuh?"
"Udah Gak galau lagi dong? Selamat deh. "
"Sekarang sudah terbebas dari kegalauan hati ya rel?"
Begitu aku memasuki kelas, aku sudah di cecar dengan berbagai godaan. Padahal aku belum duduk di bangku. Ya itu lah mereka. Selalu penasaran dengan keadaaku.
Bel istirahat....
"Hai. Ke kantin yuk aku udah lapar."
Kini Farel sudah berada di ambang pintu kelasku. Dan menghampiriku saat hendak keluar dari kelas. Aku hanya membalas dengan anggukan dan tersenyum. Di ikuti temanku
"Eh Farel. Ke kantin bareng yuk"
Tiba-tiba suara itu menghentikan Langkahku , Farel dan teman-temanku. Aku menatap sinis ke arah perempuan yang kini sudah ada di hadapanku Dia tak mau kalah menatapku dengan tatapan sinis juga aku mengeratkan genggamanku pada Farel. Pertanda kalau aku tak mau kehilangan dia. Seperti nya farel mengerti genggaman kuat yang berasal dariku. Farel melirik ke arahku. Sepertinya benar dia mengerti arti genggaman ini.
"Sorry ya Ra. Gue mau ke kantin bareng Aurel. Lo sendiri aja"
Ucap Farel pada perempuan itu. Ya, wanita yang kini berada di hadapan kami adalah Laura. Perempuan yang kemarin mencari masalah denganku
"Ekhheem"
Aku berdehem dengan sengaja . Agar dia pergi dari hadapanki sekarang. Tapi nihil , dia tak juga pergi. Sebenarnya apa sih mau nya?
"Eh ternyata ada Lo? Sorry gue Gak liat."
Dia bilang Gak liat? Sebenarnya dia itu buta , atau bagaimana?
"Ya.. Ya.. Terserah Lo"
Ucapku sembari menarik tangan Farel agar cepat pergi dari tempat ini sekarang juga.
"Eh tunggu dulu dong. Santai aja kali. Farel dia pacar Lo?"
Apa maksud pertanyaan nya?
"Iya dia pacar gue"
Farel membalas pertanyaan itu. Farel kini membalas genggamanku lebih erat.
"Kok Lo mau sih? Dia kan ketus"
What? Pertanyaan macam apa itu. Benar-benar sudah keterlaluan. Perempuan ini sudah membuat kU kembali naik pitam dengan pertanyaan nya.
"Eh maksud Lo apa sih? Dari tadi gue Gak mau ngladenin Lo. Tapi kok lama-lqma Lo makin kurang ajar ya sama gue? Mulut tuh di jaga woyy! "
Aku mulai emosi dan mendorong tubuhnya. Farel berusaha menahan emosik dengan kata lembutnya. Dan Farel makin menggenggam tanganku.
"Weiitss santai aja kali. Gue kan nanya Farel, bukan nanya Lo?"
"Laura cukup ya! Gue cinta sama Aurel apa ada nya. Gue Gak peduli sama kekurangannya. Mending Lo pergi deh dari hadapan gue sekarang!"
Farel mulai angkat bicara. Nada nya terdengar sangat tinggi. Wajahnya mulai memerah karena emosinya yang meluap.
"Kalau bicara soal kekurangan, dan Lo bilang gue ketus, apa kabar sama Lo yang udah kegenitan mau Rebut cowok orang? Hah?"
Aku berbalik bertanya . Perempuan itu tak menjawab ia hanya diam lalu pergi dari hadapan kami. Akhirnya dia pergi juga. Perasaanku sangat lega.
"Sengklek tuh cewek. Dasar cewek gila!"
Aku masih kesal menatap kepergiannya.
"Udah sayang Gak usah di ladenin. Mending kita ke kantin. Aku udah laper banget nih."
Farel berusaha mereda emosi kU.
"Gak usah di ladenin? Terus Lo mau sama dia? Dia itu mau Rebut Lo dari tangan gue tau Gak? Kok Gak usah di ladenin sih?"
Kini aku bingung dengan sikap Farel yang cuek dengan Laura yang jelas ingin merebut Farel dariku.
"Gak gitu sayang. Maksud aku, ngapain cewek gila kayak dia di ladenin? Yang ada malah bikin kamu pusing. Ya aku Gak mau lah sama dia. Aku kan udah punya kamu. Jangan marah lagi . Pliess. "
Farel mencolek pipiku. Tapi aku tak menggubris godaan nya.
"Tau ah"
Aku memutuskan untuk kekantin sendiri , tapi tangan Farel dengan sigap menahan pergelangan tanganku.
"Kamu marah lagi? Ya ampun sayang terus sekarang aku harus ngelakuin apa? Kalau menurut kamu sikap aku tadi itu salah, sekarang kasih tau aku sikap yang benar menurut kamu kayak gimana?"
Farel menangkup wajahku. Tapi aku memalingkan wajahku. Aku tak menatap Farel sedikit pun .
"Sayang. Hei, Please liat aku . Ayo kamu kasih tau aku sekarang harus gimana?"
Farel mengarahkan wajahku dengan tangan nya agar menatapnya .
"Please liat aku. Ayo dong sayang. Aku mohon . Maafin aku yaa"
Farel kembali menangkup wajahku dan mengarahkan wajahku agar menatapnya.
"Hhmm udah di maafin"
Balaskudengan dingin. Dan masih enggan menatap mata hitam legam yang menjadi candu untukku milik Farel.
"Kok udah di maafin , tapi masih Gak mau natap mata aku?"
Tanya Farel yang membuat aku akhirnya dengan pasrah menatap mata nya.
"Nah gitu dong. Ih pacar aku nih ngambek mulu kerjaannya. Kamu tenang aja yaa , aku Gak akan berpaling dari kamu. Cinta ini cuma untuk kamu. Ruang hati ini juga udah penuh dengan kamu. Gak ada celah sedikitpun . Percaya sama deh aku"
Balas Farel dengan mantap . Setelah itu ia kembali menggandeng tanganku untuk ke kantin.
"Eh gimana? Cewek gila itu masih cari masalah sama Lo rel?"
Tanya Audy padaku. Ya, ketiga temanku memang tadi ingin bersama denganku dan Farel untuk ke kantin. Tapi mereka lebih memilih untuk pergi duluanke kantin karena aku dan Farel tadi sedang ada urusan dengan cewek sengklek itu. Mungkin mereka tak mau ikut campur dalam masalah ini.
"Gak tau deh Ntar dia masih ganggu gue lagi atau nggak? Sumpah ya tu cewek bikin emosi gue naik terus. Benci banget gue sama dia. Rasanya pengen gue ulek jadi sambal tau Gak?"
Geramku sembari mengepalkan tanganku . Ucapanku itu Membuat mereka dan Farel yang mendengarnya jadi tertawa kecil.
"Kok kalian ketawa sih? Gue kan lagi kesel."
Ucapku pada mereka yang sedang mentertawakan aku.
"Abisnya kamu lucu kalau lagi marah."
Farel menjawab pertanyaanku.
"Segitu takut nya kehilangan Farel?"
Ucap Sherly sembari tertawa kecil.
" takut banget ya rel kalau Farel di Rebut sama Laura?"
Jessica menyambar Sherly.
"Waktu itu bilang sama kita kalau dia Gak bakal jatuh cinta sama Farel. Eh Gak tau nya sekarang kemakan omongan sendiri deh. Malah sekarang cinta banget sama Farel . Sampai takut gitu Farel di Rebut. Hahaha"
Ucapan Audy berhasil mendapat tatapan tajam dariku. Farel hanya tertawa kecil mendengar ucapan Audy. Bisa kah ia tak membahas hal itu di depan Farel? Oh god! Malu. Ya, rasa itu yang sekarang lagi menyelimuti diriku. Aku hanya tertunduk malu mendengar ucapan Audy. Benar, aku telah termakan dengan omonganku sendiri. Bahkan sekarang aku sangat takut kehilangan Farel. Sangat takut.
"Gak usah gitu kali sayang. Gak perlu malu sama aku. Dulu aku juga sama kayak kamu . "
Ucapan Farel itu berhasil mendongakkan wajahku agar menatap Farel.
"Sama? Maksudnya?"
Tanya aku tak mengerti.
"Iya waktu itu aku juga sempet ngomong sama diri aku sendiri kalau aku Gak akan pernah mungkin jatuh cinta sama kamu. Eh tapi sekarang malah cinta banget. Kita sama-sama kemakan omongan kita sendiri."
"Udah jangan sibuk berdua aja. Bentar lagi masuk loh , makanan kita belum habis"
Ucap ketiga temanku yang membuat aku dan Farel tersenyum kikuk. Lalu kami lanjutkan menyantap jajanan kami ini.
"Aku anter kamu ke kelas ya"
Ucap Farel setelah bel masuk berbunyi.
"Aku bisa sendiri kok. Lagian ada temen-temen aku juga. Udah mendingan kamu langsung ke kelas kamu aja ."
Ucapku pada Farel . Farel melirik ketiga temanku sepertinya minta persetujuan untuk tidak mengantar aku ke kelas dan mereka mengangguk setuju.
"Ya udah kalau gitu aku kelas duluan ya. Byee. Love you "
Pamit Farel sembari mengelus pipiku.
"Gue duluan ya"
Pamit Farel pula pada teman2ku dan segera berlalu dari kami.
**********
"Hai. Maaf ya aku lama. Soalnya tadi Pak surya Gak selesai2 Nerangin pelajarannya."
Ucap Farel yang menghampiriku di depan kelasku.
"Iya gak papa kok. Pak surya emang gitu kalau ngajar. Aku aja suka ngantuk nge dengerin dia Nerangin pelajaran. Mending neranginnya pake suar tegas. Ini mah pake suara lagu nina bobok"
Ucapku ngasal uang membuat Farel terkekeh.
"Ya udah ayuk pulang."
Farel menggandeng tanganku menuju parkiran.
"Farel gue boleh minjem buku catatan fisika lo Gak? Soalnya tadi gue Gak sempet mencatat karena udah di hapus dari papan tulis."
Ucapan itu membuat aku menoleh ke asal suara. Suara itu seperti minta berasal dari orang yang kini berada di hadapannya. Aku memutuskan untuk mendongakan wajahku . Laura. Ternyata dia lagi? Ya Tuhan , mau apa lagi dia? Apa yang mau dia perbuat?
Aku menggenggam tangan Farel lebih erat dan membuat Farel membalas genggaman tanganku lebih erat.
"Kayaknya di sekolah ini banyak muridnya deh. Tapi kenapa harus sama Farel Lo minjem buku catatan fisika itu?"
Tanyaku pada perempuan yang bernama Laura itu.
"Emang nya kenapa sih? Gak boleh? Lagian kan gue minjemnya sama Farel, bukan sama Lo!"
Ucap Laura santai. Yang membuat aku makin geram.
"Ya udah . Bentar gue ambil dulu."
Kini Farel sedang membuka tasnya lalu mencari buku yang ingin di pinjam Laura.
"Nih gue pinjamin. Tapi besok baliin ya"
Ucap Farel padanya.
"Makasih yaa Farel . Iya besok gue balik in."
Ucap perempuan itu sembari tersenyum sok manis pada Farel . Bisa kah ia tak segenit itu pada Farel? Bukankah ia sudah tau kalau Farel sudah menjadi milik aku.
"Ya udah ayuk aku Anter kamu pulang"
Ucapan Farel membangunkan aku dari tatapanku pada Laura. Aku hanya membalas ajakan Farel dengan mengangguk sembari tersenyum.
"Makasih ya udah mau nganter aku pulang. Masuk dulu yuk. Aku buatin minum."
Tawarku pada Farel.
"Gak usah sayang. Aku langsung pulang aja yaa"
"Ya udah deh. Kamu hati2 yaa. Byee"
Saat aku hendak masuk kerumah, aku merasa pergelangan tanganku di pegang oleh Farel. Aku langsung menoleh padanya.
"I love you"
Ternyata kalimat itu yang ingin diucapkan Farel, sehingga menahan tangaku.
"I love you too"
Aku membalas ucapan Farel sembari mengelus pipi yang sangat tampan ini. Kulihat Farel memejamkan matanya merasakan sentuhan tanganku.
"Ya udah , kamu masuk Gih. Langsung istirahat ya. Jangan lupa makan. "
"Iya bawel. "
Balaski sembari tertawa kecil.
"Byeee"
Lalu aku bergegas masuk ke rumah. Farel memastikan aku sampai masuk ke rumah , baru ia bergegas pulang ke rumahnya.
***************
"Hai rel"
Suara itu berhasil mengalihkan pandanganku ke ambang pintu kamar aki Sudah ada ketiga temanku di sana. Memasang senyum sok manis milik mereka.
"Boleh masuk ya? Ya? Ya?"
Tanya Audy padaku.
"Masuk aja kali. Biasanya juga asal masuk ke kamar gue."
"Hehehe"
Mereka tertawa mendengar ucapanku . Lalu masuk ke kamar dan langsung duduk di ranjanku Kami bercerita dan selingi oleh tawa lepas dari kami. Jika sudah berada di dekat mereka pasti tertawa terus. Lawakan mereka tak ada habisnya.
"Eh ngomong-ngomonh , kayaknya Laura suka deh sama Farel."
"Dasar cewek gatel. Mau ngerebut cowok orang aja kerjaan nya."
"Tapi kalau Farel tiba-tiba ninggalin Lo rel. Terus dia lebih milih cewek itu gimana?"
Mereka tiba-tiba bicara soal Laura. Seketika tawa kami terhenti . Lalu aku kembali tertawa mendengar ucapan mereka.
"Hahaha. Kalian Gak perlu khawatir. Farel Gak akan kemanapun kok."
Ucapku pada mereka. Aku yakin kalau Farel akan selalu bersamaku.
**************
"Pagi bik"
"Pagi non. Sepertinya sudah kembali seperti biasa"
Ucapan bik imah membuatku menatapnya heran. Bik imah hanya tersenyum padaku.
"Kembali? Maksudnya apa bik?"
Tanyaki tak mengerti.
"Iya hari ini non sudah kembali ceria . Syukurlah berarti masalah non Aurel dan Den Farel sudah selesai kan"
Jawaban bik imah kini sudah dapat aku mengerti .
"Oooh. Iya, Alhamdulilah bik masalahnya udah selesai."
Ucapku dengan sumringah .
"Alhamdulilah . Ya sudah, Sekarang non sarapan yaa. Bibik mau Melanjutkan pekerjaan bibik lagi."
Ucap bik imah lalu bergegas ke dapur. Mungkin masih ada pekerjaan yang belum selesai. Setelah sarapan , aku langsung bergegas berpamitan pada bik imah. Lalu aku bergegas ke depan pagar untuk menghampiri Farel. Aku memang sudah mendengar suara motor Farel dan bel rumahku. Aku yakin pasti itu adalah Farel. Ternyata benar saja dia sudah ada di ambang pagar ku.
"Pagi sayang."
Farel menyapaku yang kini sudah ada di hadapannya.
"Pagi juga"
Aku membalas dengan senyuman.
"Kamu udah siap kan? Ya udah kita berangkat sekarang yuk ,nanti telat."
Aku hanya membalas ucapan Farel dengan anggukan lalu segera menaiki motornya.
Dan kini kami sudah di area parkiran sekolah.
"Oh iya. Kemarin kamu kenapa Gak dateng di rapat OSIS? Padahal aku udah nunggu kamu. "
Tiba-tiba ucapan Farel membuat aku memukul dahi kU pelan. Aku lupa kalau kemarin OSIS mengadakan rapat. Dan aku salah satu dari anggota OSIS sama seperti Farel. Pasti kakak-kakak kelas geram dengan ulah ku. Arrgghh! Kenapa aku bisa lupa?
"Oh iya. Ya ampun aku bener lupa. Maaf yaa aku lupa. Pasti kemarin kakak kelas marah ya sama aku? Ya ampun kenapa aku bisa lupa gini sih?"
Aku merutuki diriku sendiri. Bagaimana tidak? Ini adalah tugas dan kewajiban ku menjadi seorang anggota OSIS. Dan kini aku telah melanggarnya. Minggu lalu , OSIS di sekolahku memang berencana akan mengadakan rapat mengenai acara PENTAS SENI yang akan di selenggarakan minggu depan.
"Gak papa kok . Namanya juga lupa. Kakak kelas Gak ada yang marah kok sayang. Jadi kamu Gak usah khawatir. Lagian kalau mereka berani marahin kamu, Langkahin dulu mayat aku"
Ucap Farel sembari tertawa kecil.
"Ih kamu mah. Aku serius "
Aku tak puas dengan jawaban Farel.
"Aku lebih serius kali. Beneran deh mereka Gak ada yang marah sama kamu. Percaya sama aku."
Farel mulai serius dengan ucapan nya. Aku hanya membalas dengan mengangguk paham saja.
"Ya udah . Aku kelas dulu yaa. Byee"
Ucapku pada Farel.
"Aku mau Anter kamu ke kelas."
Ucap Farel sembari menggandeng tanganku.
"Aduh sorry gue Gak sengaja."
Ucap lelaki itu padaku.aku menatap lelaki ini yang sudah tak sengaja menabrakku
"Lo?"
Tanya dia. Aku hanya menatapnya dengan heran.
"Lo Aurel ya?"
Kembali dia membuatku menatapnya heran. Begitu pun dengan Farel. Sepertinya Farel juga bingung dengan dia ini. Tapi mengapa dia bisa tau nama ku? Tunggu sebentar. Sepertinya aku pernah mengenal orang ini sebelumnya. Tapi kapan ya?
"Lo udah lupa sama gue, Rel."
Aku mulai mengingat. Siapa sebenarnya lelaki ini? Sampai akhirnya aku sudah mulai mengingatnya.
------------