Aurel

Aurel
13



"Sayang ... Hei bangun. Kita udah sampai nih di rumah kamu. Kamu lanjutin tidurnya di kamar kamu aja yaa."


Ucapan itu berhasil membuatku terbangun dari tidur. Ternyata di perjalanan tadi aku tertidur?


"Oh udah sampe ya? Ya ampun aku ketiduran maaf ya."


Ucapku sembari mengerjapkan mataku.


"Gak papa kok. Kamu istirahat nya di dalem aja yaa. Sekarang aku Anter yuk masuk ke dalam."


Tawar Farel padaku dengan lembut.


"Gak usah. Aku bisa sendiri kok. Kamu pulang aja nanti kamu ke malaman kalau harus nganter aku masuk. Makasih yaa buat malam ini. Aku Gak nyangka akan dapat ini semua dari kamu. "


Aku menolak tawaran Farel.


"Kamu bilang makasih mulu sama aku. Ya udah kamu masuk Gih ke dalem, terus langsung istirahat yaa."


Ucap Farel dengan lembut sembari mengelus lembut rambutku. Aku balas dengan angguka sembari tersenyum.


"Ya udah aku masuk yaa. Sekali lagi makasih. Kamu hati-hati ya pulangnya. Byee"


Ucapku pada Farel . Lalu aku memutuskan untuk keluar dari mobil Farel. Tapi saat aku ingin membuka pintu mobilnya, ada tangan yang menahan lenganku dengan sangat lembut. Tangan siapa lagi kalau  bukan tangan Farel.


"I  Love You"


Ucap Farel lalu melepaskan genggamannya dari tanganku.


"I Love You too"


Aku membalas ucapan Farel dengan lembut. Lalu aku bergegas masuk ke dalam rumah.


"E, Rel, Lo udah pulang? "


Tegur Audy.


"Iya "


Jawabku singkat sembari tersenyum


"Gimana dinner nya ? Happy Gak?"


Tanya Jessica padaku. Aku tak membalas pertanyaan itu dengan ucapan tapi dengan senyuman.


"Kok di tanya in malah senyum? "


Sherly ikut bertanya.


"Cepetan, Rel. Cerita sama kita gimana dinner Lo sama Farel? "


"Pasti happy kan?"


"Jawab dong, Rel. Kok Lo Diem aja si?"


"Happy dong pastinya? Udah bisa ditebak dari wajah Lo yang senyum-senyum gitu."


"Farel nembak Lo ya?"


"Dih kok Lo Diem aja si? Cerita sama kita."


Mereka mencecar dengan beragam pertanyaan mereka.


" I 'm So Happy"


Ucapku dengan memekik kegirangan. Mereka hanya menatapku heran sembari mengerinyitkan dahi mereka .


"Tuh kan bener kata kita , kalau Lo itu pasti happy malam ini. "


"Cieeee yang seneng"


"Cerita dong sama kita. Seneng nya kenapa?"


Mereka kembali penasaran dengaku.


"Lo jadian ya sama Farel?"


Pertanyaan itu membuat pipiku makin merona.


"Waaah ada yang blush nih. Berarti bener kalau Lo jadian sama Farel?"


"Serius, Rel, Lo jadian sama Farel?"


Pertanyaan mereka kembali berlanjut. Aku kembali tak menjawab pertanyaan mereka dengan ucapan tapi dengan anggukan sembari tersenyum girang.


"What? Oh my god. Sumpah gue ikut seneng Denger nya"


"Lo serius rel? Ya ampun seneng banget gue Denger ini semua"


"Gue seneng liat Lo sama Farel. Gue yakin Farel bisa buat Lo bahagia. Selamat ya rel. Semoga langgeng sampai maut memisahkan." Mereka memekik kegirangan mendengar kabar ini. Nampaknya Mereka sangat bahagia .


"Makasih buat do'a nya. Makasih juga buat semua dukungan kalian. Pokoknya makasih buat segalanya."


Ucapku tulus sembari memeluk teman-temanku


"Sama-sama, Rel. "


Ucap temanku tak kalah tulus dan membalas pelukanku.


"Ya udah kita ke kamar gue yuk. Udah malam mending kita tidur. Biar besok Gak kesiangan lagi."


Ajakku pada mereka dan di balas oleh anggukan setuju. Lalu kami bergegas menuju kamarku untuk segera tidur.


----------------------------------------------


"Rel, bangun . Ntar telat lagi"


"Hhmm. Bentar lagi ya. Gue masih ngantuk"


"Gak ada benta-bentar. Cepetan bangun. Lo mau nanti telat? Ayo buruan bangun."


"Ay, Rel bangun. Lo Kebo banget sih. Sudah banget di bangunin kalau tidur"


"Gimana kalau Farel tau ceweknya itu Kebo. Dih  kalau gue sih malu banget."


"Ih kenapa bawa-bawa Farel si? Gak ada hubungannya juga"


Aku terbangun dari tidur ku  sembari mendengus kesal dengan temnaku yang mengganggu tidurku.


"Ya udah kalau Farel Gak boleh tau , buruan sana mandi Ntar telat lagi"


Perintah mereka padaku.


"Iya bawel. Ini udah mau mandi"


Aku menuruti perintah mereka dan segera menyambar handuk di stand hanger lalu berlalu ke kamar mandi. Begitu pun temanku yang berpencar untuk mandi di kamar mandi yang berada di rumahku ini.


"Cieee yang hari ini punya status baru. "


Ledek Audy padaku.


"Apaan si? Gak usah Lebay deh"


Aku tak terima dengan ledekan mereka. Sekarang kami memang sedang berada di meja makan untuk sarapan.


"Eh, Rel , ngomong-ngomong Lo belum cerita soal semalam sama kita loh"


"Iya, Rel, Lo belum cerita apapun sama kita soal dinner Lo sama Farel semalam"


"Romantis ya, Rel?"


Teman-temanku kembali membahas soal itu.


"Banget. Dia bermain dengan piano yang ada di atas panggung itu dengan indahnya. Pas selesai main piano, dia menyatakan perasaan nya dengan kata yang membuat hati gue tersentuh. sampe akhirnya air mata gue jatuh juga setelah mendengar dia mengucapkan kata-kata indah itu dengan tulusnya,"


Aku memberi penjelasan pada teman-temanku. Dan aku lihat tema-temanku sanggar antusias mendengar ceritaku itu.


"Aaaa sosweet."


"Jadi mau. Hhuuuu"


"Pengen kayak Lo rel. Yang bisa dapat cowok romantis"


Ucap mereka penuh harap hang membuatku terkekeh.


"Udah ah kita lanjutin sarapan nya. Ntar kita telat"


Aku memutuskan pembicaraan ini. Dan kini kami melanjutkan menyantap sarapan yang sudah di siapkan bik imah untuk kami.


Tiinn... Tiinnn..


"Pasti itu Farel. Cieee yang di jemput sang pujaan hati"


Ucap Jessica sembari mencolek daguku.


"Farel tuh. Buruan pakai sepatunya ."


Sherly ikut memperingatkan kU.


"Iya bawel."


Ucapku pada mereka.


"Selesai. Ya udah berangkat yuk"


Ajakku pada teman-temanku. Dan mereka membalas dengan anggukan sembari tersenyum. Aku mendapati Farel yang sudah di ambang pagar. Dia langsung melemparkan senyum padaku. Lalu aku segera membuka pagar rumahku.


"Kok kamu jemput aku? Aku kan Gak minta di jemput."


Aku bertanya pada Farel. Memang seingatku Farel semalam tak mengajakku untu berangkat sekolah bareng.


"Ya Gak papa dong? Emang nya Gak boleh berangkat bareng sama pacar sendiri? Lagian Semalem aku WA kamu tapi Gak di balas. Mungkin kamu udah tidur."


Farel berbicara denganku sembari tersenyum menatap dalam mataku.


"Ya boleh aja si. Emang iya kamu Semalem WA aku? Aduh maaf ya aku Gak tau kalau kamu WA aku. Semalem aku ngantuk banget , jadi langsung tidur deh abis jalan sama kamu,:


Aku memberi penjelasan pada Farel. Aku memang semalam tak membuka ponselku. Karena mataku sangat berat.


"Iya Gak papa kok."


Ucap Farel dengan pengertian. Lalu ia mengelus pucuk rambutku dengan lembut.


"Ekhem. Maaf ya mba , mas ganggu sebentar Pagar nya mau di buka dulu. Kita mau ngeluarin motor"


Ucap teman-temanku sembari tertawa kecil.


Aku dan Farel memang tepat berada di ambang pagar. Yang membuat pagar sulit di buka. Karena kehadiran kami. Mendengar ucapan mereka , aku dan Farel juga tertawa kecil. Lalu kami sedikit menyingkir dari ambang pagar menuju sudut pagar.


"Ya udah kita berangkat yuk"


Ajak Farel padku. Teman-temanku memang sudah lebih dulu berangkat ke sekolah.


**********


Kriinggg ... Kriinggg


Bel masuk telah berbunyi. Masing-masing murid bergegas menuju kelas mereka.


"Ya udah aku masuk kelas dulu ya"


Ucapku pada Farel yang sedang meletakkan motornya di parkiran.


"Iya. Belajar yang bener yaa pacar aku"


Ucap Farel dengan senyum manis nya dan mengelus pucuk kepala ku. Lalu aku balas dengan anggukan sembari tersenyum juga, setelah itu bergegas ke kelas.


*******


"Rel, Lo mau makan apa? Biar sekalian gue pesenin."


Ucap Sherly padaku . Aku lagi bingung. Tumben Farel Gak ngajak ke kantin bareng? mungkin dia masih ada jam pelajaran. Tapi sekarang kan waktunya istirahat? Entahlah.


"Gue nanti aja deh makan nya"


Jawabku pada Sherly. Lalu di balas oleh Sherly dengan anggukan. Aku hanya melamun di kantin ini sembari menunggu Farel datang. Tapi Farel tak juga datang. Tiba-tiba mataku memicing saat melihat  di seberang sana ada Farel dengan seorang perempuan. Sepertinya perempuan itu anak baru di sekolah ini. Karena aku belum pernah melihat dia sebelumnya di sekolah ini. Kenapa mereka tampak akrab? Sesekali aku melihat di sela obrolan mereka melepaskan tawa mereka.jadi ini yang membuat Farel tak ke kantin menghampiriku? Sungguh keterlaluan. Geramku dalam hati kecilku.


"Rel Lo ngeliatin apaan si?"


Tanya Jessica.


"Hah? Gak kok Gak liatin apa2"


Jawabku berdusta. Aku melihat Jessica yang mengangguk paham. Perhatianku kembali terfokus saat Aku melihat perempuan itu berjalan ke arah kantin. Di ikuti Farel di sampingnya. Walau aku duduk di paling ujung kantin ini, tapi aku bisa melihat jelas mereka sedang bersama ke kantin. Setelah itu aku melihat mereka sama-sama memesan makanan. Aku pura-pura tak memperhatikan kejadian itu. Aku berusaha untuk berfikir positif. Ya sudah. Kurasa perutku sudah lapar aku memutuskan untuk Memesan makanan di kantin ini. Aku memesan makanan sendiri karena temanku sudah lebih dulu membeli makanan. Tiba - tiba...


Brrukkk


"Oh my god. "


Aku kaget ketika melihat seragam yang telah penuh dengan kuah bakso. Di tambah lagi tubuhku sangat terasa panas dengan kuah bakso itu.


"Eh Lo bisa jalan yang bener Gak si? Bakso gue sekarang tumpah gara-gara Lo"


Ucap perempuan dengan kasar  itu yang ternyata adalah perempuan yang bersama dengan Farel tadi. Jelas, dia yang salah tapi kenapa dia  yang marah - marah?


"Ehh seharusnya gue yang marah sama Lo , bukan sebaliknya. Lo yang Gak bisa jalan dengan bener. Bukan gue! Sekarang Lo liat kan seragam gue penuh sama kuah bakso Lo? Liat kan?! Belum lagi badan gue terasa panas banget dengan kuah bakso ini !B_tch!!! "


" Lo bilang gue apa?"


Tanya perempuan itu meyakinkan .


"B_tch!!! "


Aku mengucapkan kata itu penuh penekanan.


"Lo bilang gue b_tch?Kok Lo Songong sih?"


Perempuan itu mendorong tubuhku.


"Makanya kalau jalan itu jangan sambil ngelirik cowok orang. Apa nama nya kalau bukan itu?"


Tanyaku dengan nada tinggi .


Suasana ke ketika berubah menjadi tegang. Semua mata tertuju padaku dan perempuan ini.


"Ya ampun, Rel. Udah jangan di ladeni"


Ucap ketiga temanku meleraikan keributan ini.


"Gimana Gak di ladeni. Jelas dia yang salah. Tapi kenapa gue yang di benta? dasar cewek gila!"


Ucapku kembali dengan penuh penekanan.


"Lo yang gila!"


Tak terima di bilang gila , dia balik mengejekku.


"Lo"


"Lo"


"Lo"


"Lo"


"Udah cukup. Kalian Gak malu apa diliatin sama banyak orang?"


Kini Farel ikut meleraiku dan perempuan itu.


"Sayang udah yaa. Jangan berantem"


Farel kini berbicara padaku.


"Gak usah panggil gue sayang!  Gue Gak butuh panggilan itu. Lebih baik Lo kasih panggilan itu buat perempuan ini. Selamat ya rencana Lo selama ini berhasil. "


Ucapku dengan amarah .


"Rencana apa? Aku Gak ada rencana apapun,"


"Kalau Lo emang cinta sama gue, Lo Gak mungkin deket sama Ni cewek. Lo Fikir gue Gak liat tadi kalian mesra banget? Hah? Berarti ini semua rencana Lo kan yang selam ini pura-purabbaik di depan gue. Gue kecewa sama Lo! Gue kecewa sama Lo Farel!!! "


Ucapku sembari menahan air mata yang sudah ada di pelupuk mataku. Lalu aku segera pergi dari tempat itu. Sebelum emosiku makin meningkat.


"Rel tunggu "


Aku mendengar ucapan temanku dengan samar yang menatap kepergian ku.


"Puas kan Lo sekarang? Hah?Lo udah buat Aurel kecewa sama Lo!"


Aku kembali mendengar ucapan teman-temanku samar yang ditujukan pada Farel. Sedangkan aku masih terus berlari dari ini semua. Aku terlambat sampai di kelas setelah istirahat tadi karena sebelum aku masuk kelas aku membersihkan seragamku dulu di toilet. Setelah istirahat tadi dan setelah kejadian itu juga aku jadi tak konsentrasi belajar.


Kriinggg..kriinggg...


"Rel Lo udah Gak papa kan?"


Tanya temanku khawatir.aku hanya membalas dengan anggukan .


"Rel aku mau ngomong sama kamu. Aku mau jelasin semuanya"


Tiba-tiba suara itu menghampiriku dan aku menoleh ke asal suara itu. Farel. Ya, ternyata dia yang kini sedang dihadapkanku. Aku tak membalas ucapan nya aku lebih memilih berlaku dari hadapannya. Tapi saat aku ingin berlalu, tangan Farel menahan lenganku.


"Pliess kamu dengerin penjelasan aku dulu. Aku mohon"


Ucap Farel lirih.


"Gak ada yang perlu di jelasin. Semua nya udah jelas"


Balasku dengan tak menoleh sama sekali ke Farel. Tapi Farel menangkup wajahku , agar menatap nya. Tapi aku sama sekali tak mau menatap matanya.


"Pliess kamu liat aku. Sumpah rel Aku Gak ada rencana apa-apa . Aku Gak berniat buat jebak kamu. Sama sekali Gak ada niat kayak gitu. Aku bener cinta sama kamu tulus. Bahkan lebih tulus daripada aku mencintai diri aku sendiri. Dan aku sama Laura itu Gak ada apa-apa. Tadi kita cuma ngobrol aja. Gak lebih . Kamu jangan salah paham gini, Rel sama aku. Aku jadi ngerasa bersalah sama kamu. Aku Gak bisa kamu diami kayak gini. Aku Gak bisa, Rel. Aku mohon sama kamu. Kamu percaya kan sama aku?  Aku minta maaf kalau aku udah buat kamu kecewa. Sekali lagi aku minta maaf, "


Ucapan itu keluar dari mulut Farel dengan nada lirih nya. Tali tetap saja, sampai dia selesai berbicara aku sama sekali tak menatapnya.


"Aku mohon sama kamu sayang. Maafin aku. Aku Gak ada maksud buat kamu kecewa. Aku sedih kamu  ketus kayak gini sama aku."


Ternyata ucapan Farel masih berlanjut. Entah kenapa aku masih belum bisa menerima penjelasan Farel. Sudah rasanya percaya gitu aja sama dia. Aku memang tipe cewek yang lebih percaya dengan apa yang aku lihat langsung dengan mata kU sendiri daripada dengan ucapan orang lain. Keras kepala? Ya mungkin itu ada lah sifat kU yang dari dulu tidak pernah bisa hilang.


"Gue butuh waktu sendiri"


Jawabku pada Farel  dan segera bergegas meninggalkan Farel dan teman-temanku yang masih mematung di tempatnya. Hari ini aku pulang dengan supir pribadiku yaitu Mang Udin. Dia adalah supir pribadiku yang juga sudah lama mengabdi dengan kedua orang tuaku, sama seperti bik imah.  Setelah aku berlalu dari Farel, aku langsung menaiki mobil Alphard berwarna putih ini. Mobil ini milik papaku . Mobil ini sengaja selalu siap siaga di garasi mobil  yang berada di rumaku. Sebenarnya mobil ini jarang sekali di pakai. Mama dan papaku tak ada dirumah, aku kalau keluar rumah jarang pakai mobil lebih sering menggunakan motor. Mungkin hampir setiap hari aku beraktifitas di luar rumah menggunakan motor. Tapi berhubung tadi pagi aku berangkat ke sekolah bareng Farel, jadi aku Gak bawa motor. Dan setelah istirahat tadi aku juga lagi ada masalah sama Farel ya sudah Sebelum Bell pulang berbunyi, aku memang sudah menelepon mang Udin untuk menjemputku. Hari ini aku sedang malas pulang dengan Farel.


"Eh, Non, sudah pulang. Ayo non makan siang dulu. bibik sudah siapakan makanan kesukaan, Non,"


Ucap bik imah yang melihatku masuk kedalam rumah. Aku lihat bik imah sedang membersihkan rumah, mungkin karena abis masak. Jadi lantai kotor. Sehingga bik imah lagi membersihkannya.


"Nanti aja deh bik. Aku mau istirahat dulu"


Ucapku pada bik imah sembari mencium punggung tangannya setelah itu berlalu dari bik imah untuk ke kamarku. Sampai dikamar, aku memutuskan untuk  segera mandi. Karenaku rasa tubuhku ini bau kuah bakso . Padahal tadi di sekolah sudah aku bersihkan, tapi entah kenapa aroma kuah bakso itu masih sangat menusuk hidungku. Di tambah lagi badanku juga terasa lengket. Aku yakin tubuhku pasti agak melepuh karena tadi kuah bakso itu masih sangat panas mengenai tubuhku. Mungkin kuah bakso itu baru mendidih , sehingga masih sangat terasa panas.


Seusai mandi aku memutuskan untuk beristirahat. Aku ingin mencoba menetralisir emosi yang ada di tubuhku ini. Cukup lama aku tertidur pulas. Bisa di bilang sanalah menjelang malam.


"Assalamu'alaikum . Non maaf mengganggu istirahat non. Ini bibik bawakan susu hangat dan makanan  untuk non.  Dari tadi siang non belum makan"


Aku mendengar bik imah berbicara dengan samar di ambang pintu kamarku. Tak lama aku membuka pintu kamarku. Dan benar saja, kini di tangan bik imah sudah ada nampan yang berisi susu dan sepiring nasi beserta lauk pauknya.


"Makasih ya bik"


Ucapku pada bik imah yang kini masuk kedalam kamarku untuk meletakkan makanan itu.


"Iya sama-sama non. Oh iya , dari tadi bibik perhatikan non agak sedikit berbeda. Apa non sakit? Biar bibik ambil kan obat yaa"


Ucap bik imah penuh khawatir. Bik imah memang sangat khawatir bila aku sakit. Dia sangat perhatian padaku.


"Enggak kok bik. Aku Gak sakit."


Ucapku pada bik imah sembari duduk di tepi ranjang. Dan aku lihat bik imah juga mengikutiku duduk di ranjangku ini.


"Terus kalau tidak sakit, non kenapa?  Kalau non ada masalah , non cerita aja sama bibik. Siapa tau bibik bisa bantu."


"Aku ada masalah sedikit sama Farel bik. Tapi Gak papa kok. Aku bisa mengatasinya sendiri."


Ucapku dengan ragu.


"Kalau begitu , non  segera selesaikan masalah non . Biar non Gak lagi murung seperti ini. Oh Iya Den Farel itu yang suka nganter non pulang ya? Dan suka ngajak non berangkat sekolah bareng?"


Tanya bik imah padaku dan aku hanya membalas dengan anggukan.


"Waah Den Farel hebat yaa. Bisa membuat non tampak murung gini. Itu tandanya Den Farel sangat berperan penting dalam kehidupan non. Buktinya kalau non ada masalah sedikit dengan Den Farel, non jadi sedih dan tampak murung seperti ini"


Ledek bik imah padaku. Di Saat seperti ini , bik imah memang sangat sering menghibur ku . Aku hanya membalas bik imah dengan senyuman kecil.


"Ya sudah . Bibik keluar dulu ya. Jangan lupa susu dan makanan nya di habiskan. Non jangan terus-terusan seperti ini. Nanti non bisa sakit. "


Ucap bik imah sembari bergegas keluar  Dari  kamarku.


Ya Tuhan, aku bingung dengan ini semua. Farel se enaknya membuat Aurel jatuh cinta padanya. Dan kini dia mengecewakaku. Jujur ada rasa menyesal yang menyelimuti diriku. Kenapa dengan mudahnya aku mencintai Farel? Kenapa? Memang sebenarnya ini semua terjadi terbilang sangat cepat. Cinta ini tumbuh saat melihat berubahnya sikap Farel dari yang kasar menjadi sangat lembut. Di iringi berubahnya sikap Farel itu , mengapa  hati ini jadi menumbuhkan rasa cinta?


"Arrrgghh . Lo bodoh Aurel. Lo bodoh! Kenapa begitu cepat Lo cinta sama dia? Dan sekarang lihat , dia ngecewain Lo Aurel! Dia ngecewain Lo!"


Aku berteriak menutupi diriku sendiri. Aku benar-benar tak habis Fikir. Bisa-bisanya dia bilang kalau tadi hanya sekedar ngobrol biasa? Padahal jelas-jelas aku sangat melihat kebahagiaan yang hadir diantara mereka. Mereka mampu tertawa lepas. Sedangkan selama aku memiliki hubungan dengan Farel, aku tak pernah melihat Farel sebahagia itu? Memang apa yang di lakukan perempuan itu? Sehingga Farel sangat Bahagia saat sedang bersamanya. Apa selama ini Farel tidak bahagia denganku?


*********


"Eh non sudah siap berangkat sekolah? Ya sudah ayo silakan non sarapan. Bibik sudah siapakan semuanya di meja makan. "


Bik imah menyambutku kehadiranku. Saat aku menuruni anak tangga. Sebenarnya hari ini aku sangat malas sekali untuk sekolah . Tapi sayangnya aku harus mengubur rasa malas itu dalam-dalam karena hari ini aku ada ulangan. Tak mungkin aku tidak mengikuti ulangan itu cuma gara-gara sedang ada masalah dengan Dia.


Aku memakan sarapan ku dengan sangat tidak bersemangat. Bukan karena tak lapar atau tak menghargai masakan bik imah, tapi karena memang aku sangat beraktivitas apapun hari ini. Mooku benar-benar hilang.


"Bik aku berangkat sekolah dulu yaa. Assalamu'alaikum "


Pamitku pada bik imah lalu mencium punggung tangan bik imah lembut.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya non. "


Pesan bik imah padaku dan aku balas dengan anggukan sembari tersenyum. Saat aku sudah sampai pagar, ingin mengeluarkan motor ku . Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kehadiran Farel di ambang pagar rumahku. Aku hanya memutar bola mataku malas. Aku tak menggubris Farel sama sekali. Aku mencoba membuka pagar ku. Karena sekarang aku sudah siap untuk mengeluarkan motor dan berangkat ke sekolah.


"Rel, aku mau minta maaf sama kamu. Pliess rel kamu jangan kayak gini. Aku mohon maafin aku. Kamu jangan buat hubungan kita renggang gini, Rel."


Ucapan Farel berhasil membuatku menatapnya tajam.


"Gue Gak salah Denger? Gue yang buat hubungan kita renggang? Lo tuh punya kaca Gak sih ? Hah? Lebih baik Lo ngajak dulu yang bener baru ngomong kayak gitu. Yang ada itu Lo yang udah buat gue kecewa! Lo yang udah buat gue benci sama Lo! Dan lo juga yang udah buat hubungan ini renggang!"


Suaraku bergetar. Aku berusaha menahan tangisku. Marah dan kecewa, itulah yang sedang aku rasakan.


"Ya aku emang salah. Makanya aku bener-bener minta maaf sama kamu. Aku Gak ada hubungan apa-apa sama dia. Dan aku Gak ada maksud buat kamu kecewa. Ini bukan rencana aku untuk buat kamu cinta sama aku. Awalnya aku emang ragu mau deketin kamu. Tapi aku coba meyakinkan diri aku supaya aku bisa dapat in kamu. Aku Gak pernah minta kamu buat cinta sama aku. Bahkan aku berfikir, lebih baik aku aja yang menyimpan rasa cinta ini. Aku Gak mau kamu tau soal perasaan aku. Karena  aku juga berfikir kamu Gak akan mungkin menerima aku. Tapi Aku udah Gak sanggup nutupin rasa ini sama kamu."


Ucap Farel dengan nada lirihnya. Sejak Farel berbicara aku hanya memalingkan wajahku tak ingin menatap Farel.


"Lo emang Gak pernah minta gue untuk cinta sama Lo! Tapi Lo yang udah  buat rasa cinta ini tumbuh di hati gue. Dan sekarang Lo Se enaknya buat gue kecewa."


Ucapku sembari Terisak. Akhirnya bulir bening yang sedari tadi aku tahan, tumpah juga. Kini air mataku benar-benar sudah membasahi pipiku.


"Aku Gak mau liat kamu nangis . Aku benar2 nyesel udah bikin kamu kayak gini. Aku emang laki2 bodoh yang udah sia-siain kamu. Please liat aku, Rel. Aku bener-bener minta maaf sama kamu. Aku minta maaf ."


Kini Farel mengarahkan wajahku dengan lembut agar menatapnya. Tapi tetap saja aku memalingkan pandanganku.


"Please, Rel. Aku mohon maafin aku. Aku janji Gak akan buat kamu nangis lagi. Aku janji sayang. "


Farel masih memegang wajahku dengan lembut. Kini aku mulai menatap mata yang berwarna hitam legam ini. Mata yang selalu membuatku jatuh cinta, mata yang selalu membuat pipiku merona saat di tatapnya. Aku bisa melihat ketulusan yang terpancar dari mata indah milik Farel ini. Aku terpejam merasakan lembut  nya sentuhan Farel untuk wajahku ini. Kini aku menggenggam tangan Farel yang masih setia memegang pipiku.


"Aku akan coba maafin kamu untuk kali ini. Tapi aku Gak janji kalau aku bisa maafin kamu lagi setelah kamu mengulangi kesalahan kamu kembali."


Jawabku yang masih menggenggam tangan Farel yang masih berada di pipiku ini. Aku lihat wajah sumringah yang langsung terpancar saat aku mengucapkan kata-kata itu.


"Makasih sayang. Aku janji Gak bakal mengulangi kesalahan aku lagi. I promise"


Balas Farel sembari membawaku kedalam pelukannya.


"Sekarang kamu jangan nangis lagi. Aku Gak bisa liat kamu kayak gini. Sekali lagi aku minta maaf ya udah buat air mata kamu terbuang sia-sia. "


Ucap Farel dan merenggangkan pelukannya padaku lalu mencium dahiku lembut.


"I love you"


Ucap Farel tulus yang masih memeluk ku.


"I love you too"


Aku menjawab dengan tak kalah tulus


"Ya udah sekarang kita berangkat ya"


Ajak Farel lalu menggandeng tanganku. Tapi aku tak mengiri langkah Farel. Mereka yang sadar dengan hal itu lalu menoleh menatap aku heran.


"Kenapa? Ada yang ketinggalan?"


Tanya Farel padaku. Aku hanya membalas dengan gelengan.


"Terus kenapa? Kok kamu Diem?"


Farel kembali bertanya denganku dengan heran.


"Aku mau berangkat sekolah pakai motor aku sendiri. Boleh ya?"


Aku merengek layaknya anak kecil dengan Farel.


"Gak sayang. Pokoknya mulai sekarang kamu akan aku antar jemput. "


"Yah. Tapi aku kangen sama motor aku. Sekali aja deh. Boleh ya? Ya? Ya?"


"Kalau kayak gitu caranya. Apa gunanya aku jadi pacar kamu? Aku Gak jadi pelindung kamu dong?Sama aja kan pacaran atau Gak nya sama aku , toh kamu pulang pergi sekolah dengan sendiri juga"


Kini Farel bertanya sinis padaku. Apa ada yang salah dengan keinginanku? Aku hanya ingin memakai motor ku hari ini untuk berangkat sekolah. Karena memang sudah beberapa hari aku tak menggunakan motor ku. Selama pacaran dengan Farel aku selalu berangkat dan pulang sekolah bersama.


"Ya udah deh. Iya. Aku berangkat sama kamu."


Aku pasrah. Kalau audah berdebat dengan Farel Biasnya aku selalu menang. Tapi untuk hari ini sepertinya aku harus rela kalah.


"Nah gitu dong. Aku ini pacar kamu. Aku mau jadi pelindung kamu. Dengan Kita kemanapun selalu bareng, itu akan memudahkan aku untuk menjaga kamu dari bahaya apapun"


Kini Farel menangkup wajahku. Dia mengelus pipiku dengan sangat lembut membuat aku sejenak memejamkan mataku.


"Ya udah kita berangkat yaa. Ayuk naik."


Ucap Farel  dengan menggenggam tanganku menuju motor sport miliknya. Setelah itu kami bergegas menuju sekolah.


Tuhan... Jika memang dia adalah kebahagiaanku. Tolong jaga dia untukku. Kalau memang dia yang membuat jantung ku terus berdetak, selalu bantu aku untuk membuat nya merasa nyaman. Agar dia tak pergi meninggalkan ku, sehingga ia akan terus membuat jantungku berdetak.


**********