As By Inside

As By Inside
Episode 9 : Api Asmara Dira Dan Samsul Timbul



Setelah ketemu ruangan kelas yang akan digunakan mereka berempat untuk menimba ilmu itu langsung saja mereka berempat duduk di bagian belakang.


Mereka berempat lalu berdiskusi siapakah yang akan mengisi mata kuliah dan mata kuliah yang akan diajarkan oleh para mahasiswa baru tersebut.


"Eh guys, lu pada tau ga ? Kira kira siapa ya dosennya ?" Tanyaku.


"Eh iya, sekarang mata kuliah apa sih ?" Tanya Joko


"Bentar gua cari buku penghubung yang minggu lalu dikasih bagian kemahasiswaan" Ujar Dira.


Selesai ia berkata demikian, Dira langsung mencari dimana letak buku penghubung yang ia taruh tersebut hingga membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Ah lama lu Dir, dahlah ga usah Dir. Tuh udah ada dosennya." Ujar Panca sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu ruang kelas itu.


"Yaudah sih maaf Ca, habisnya sih gua lupa taro dimana ? Ujar Dira yang menunjukkan wajah juteknya.


Sang Dosen itu lalu masuk ke dalam ruangan kelas, perawakan dosen itu sepertinya sudah masuk usia senja.


Sang Dosen itu mulai menyapa murid-murid yang ada di ruang kelas tersebut "Selamat pagi anak-anak.


Mahasiswa yang berada di ruang kelas itu menjawab "Pagi juga pak."


Setelah menyapa mahasiswa yang berada di ruang kelas tersebut, dosen itu memperkenalkan dirinya di hadapan mahasiswanya.


"Nama saya Lee, saya merupakan guru besar universitas Gajah Duduk." Ucapnya.


Setelah mendengar sang dosen tersebut membuat diriku, Panca, Dira, Joko beserta mahasiswa baru itu keheranan dengan ucapan sang dosen sepuh itu.


Dengan keberanian yang aku miliki, aku pun bertanya kepada sang guru besar itu "Mohon maaf pak, arti guru besar itu apa ya ?"


Sang Dosen itu tersenyum mendengar pertanyaanku, lalu dia menjawab pertanyaanku dengan ramahnya "Hmm guru besar itu apa ya ? Guru besar tuh sebenarnya kaya bos di perusahaan gitu deh."


Aku pun mengangguk setelah mendengar penjelasan guru besar tersebut, setelah itu aku berkata kepadanya "Oh begitu ya pak, terima kasih banyak ya pak."


Sang guru besar itu mengangguk setelah mendengar ucapan terima kasih yang aku lontarkan.


Setelah memperkenalkan dirinya, sang guru besar itu langsung melakukan sesi absensi. Satu persatu nama kami dipanggil oleh Dosen itu.


Setelah memakan waktu kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya pembelajaran pun dimulai.


Mata kuliah yang akan dipelajari yaitu pengantar hukum dasar.


Sang guru besar itu lalu bertanya kepada mahasiswanya "Anak-anak, apa yang kalian ketahui tentang hukum ?"


Aku langsung mengacungkan jariku dan langsung guru besar memberi aku kesempatan untuk menjawab "Hukum menurut saya itu sebuah kumpulan aturan yang terdiri atas norma dan sanksi-sanksi."


Disaat aku sedang mencoba untuk menjawab pertanyaan ternyata Dira melihat diriku yang sedang menjawab pertanyaan guru besar.


"Sumpah nih Samsul cowo idaman gua banget sih. Udah fisiknya keker, ganteng, pintar juga. Ahh jadi pengen dijadikan pacarnya." Kagumnya dalam hati.


Melihat tingkah laku Dira yang senyam-senyum sendiri membuat Panca dan Joko menegur Dira.


"Woi Dir, lu kenapa ? Dah kek orang gila aja lu." Tegur Panca.


"Au lu Dir, lu lagi kesambet setan nyengir ? Apa lu emang beneran suka sama si gebong pisang ?" Ledek Joko.


Setelah mendengar ledekan dari Joko dan Panca membuat Dira langsung naik pitam dan langsung membalas ledekan mereka berdua "Eh sialan, gua suka sama pohon pisang ? Jangan gila ye."


Melihat bangku belakang yang berisik membuat sang guru besar itu menghentikan pembelajarannya.


Mereka bertiga pun langsung terdiam, Dira pun menjawab pertanyaan Dosen itu "Maafkan kami ya pak karena sudah membuat kelasnya tidak kondusif, tadi kami itu bercanda saja kok."


Tuan Guru Besar itu lagi-lagi dengan bijaknya menjawab "Ya sudah, lain kali kalau mau bercanda dilihat dahulu situasinya ya"


Mereka bertiga mengangguk setelah mendapatkan teguran dari sang dosen itu.


Setelah dua jam pembelajaran akhirnya mata kuliah pengantar hukum telah selesai dilakukan. Samsul, Dira, Panca dan Joko keluar dari ruang kelas.


"Dir, lu tadi kenapa dah ? Sampai di tegur sama dosen tadi." Tanyaku.


Dira yang salah tingkah itu menjawab "Hehehe, gapapa kok Sul."


"Masa Sih ?" Ujarku sembari menyubit pipinya.


"Ihh paan sih Sul, sakit tau." Ujarnya.


"Ekhem, Ekhem, teros aje teros berduan ae teros." Ledek Joko.


"Au nih, serasa kita hidup di bumi ini kontrak aja nih." Ledek Panca ke arah kami berdua.


"Ihh apaan sih kalian ? Au ah males gua sama kalian, gua cabut dulu yak. Bye." Ujarnya


"Dih, malah ngambek tuh anak" Ujar Panca


Kataku dengan bijak "Ya lu pada sih, lagian lu ngapain ngeledek Dira gitu ?"


Joko dan Panca membalas pertanyaan dariku "Maafin kita ya Sul."


Aku yang menghela nafas itu menjawab "Hmm, iya. Yaudah gua samperin anaknya dulu ya."


Setelah meninggalkan mereka berdua, aku langsung bergegas mencari Dira, aku mencoba menelpon Dira namun sayangnya telfon dariku tak diangkat olehnya.


Setelah menelfon Dira yang tak diangkat olehnya, aku mencari keberadaan Dira hingga saat ku melihat Dira sedang di sentuh oleh kaka kelas dan mahasiswa lain di kantin kampus.


Aku pun langsung lari menghampiri dirinya, tak selang lima belas menit kemudian aku pun langsung menarik tubuhnya Dira namun hampir saja dirinya jatuh dan langsung aku tangkap tubuhnya.


"Woi, sana kalian semuanya, ini cewe punya gua. Sana kalian pergi dari dia !!!" Ketusku.


Akhirnya mereka yang tadinya menjahili Dira itupun langsung pergi dari Dira, sementara itu Dira yang tertahan di tanganku matanya menatapku.


"Aaa dia gentle banget. Apalagi pelukan ini membuat aku semakin nyaman di pelukannya." Gumamnya.


Sementara itu tatapanku yang tadinya menatap ke arah pengganggu Dira kini tak sengaja menatap matanya yang cantik itu.


"Aahh dia cantik banget sih, apakah sudah timbul benih-benih cinta di hatiku ini ?" Gumamku dalam hati.


Akhirnya aku mendirikan tubuhnya, dan dirinya langsung menjauhi aku.


Aku bertanya kepada dia "Eh tepung terigu, lu gapapa kan ? Kok bisa lu di sentuh ama para begundalan ?"


"Ye pohon pisang, iye gua gapapa. Thanks yak dah selametin gua." Ujar Dira.


Dira melanjutkan penjelasannya "Iya gua kesel ama Joko dan Panca, abis itu gua datang kesini sambil nangis abis itu ada kaka kelas yang ngerayu gua dan ternyata dia bawa temen-temennya dah."


"Oh gitu, ya udah sekarang lu aman ama gua, apapun yang terjadi gua akan selalu sama lu Dir." Ujarku.


"Iya Sul, thanks ya." Ucap Dira.