
Singkat cerita, ayahku beserta kami berempat check up dari kamar hotel yang kami tempati selama semalam. Ayahku mengajak kami berempat untuk pergi ke pantai yang terletak di Gunung Kidul.
"Anak-anak, sekarang kita ke pantai Silli ya."
"Baik om" sahut mereka berempat
Saat di perjalanan Dira merebahkan kepalanya pada pundakku dan langsung saja ku elus rambutnya.
Melihat perlakuanku yang romantis membuat aku kembali mendapatkan ledekan dari Joko.
"iya deh iya. Kalian jadian, kita dikacangin."
"iya, sabar aja kita mah" ucap Panca.
Ayahku yang mendengar suara di bangku belakang tertawa.
'dasar anak-anak ini, rame banget ocehan mereka dibelakang' gumamnya dalam hati.
Akhirnya setelah menempuh dua jam kita sampai di pantai Silli dan kami langsung turun dari mobil yang kita tumpangi.
Saat sedang menuruni mobil yang kita naik, Indira pun kembali bermanjaan denganku. Kali ini dia memanggilku dengan kata sayang.
Aku pun kaget setelah mendengar kata sayang dari bibirnya "Lu ngomong apa Dir ? Sayang ?" Tanyaku.
"Hehehe iya Sul, kan kita udah jadian nih. Yakali ga pakai panggilan sayang ?" Ujarnya.
"Oalah gitu, ya sudah gapapa kok kalau mau dipanggil seperti itu. Gua cuma kaget aja Dir." ucapku
'Woilah buruan sini, lambat banget jalannya kalian berdua !!!" gerutu Panca ke arah kami berdua.
"Iya sabar kenapa ? Bawel banget sih ?" gerutu Dira dengan tergesa-gesa.
Akhirnya kami berlima sampai di Pantai Silli, suasananya sangat sahdu sekali membuat pikiran lega dan hati menjadi sangat tenang.
Dengan alamnya yang mempesona, lautnya biru bak seperti berlian yang terkena sinar matahari, pasir yang putih seperti susu, rindangnya pepohonan membuat pikiran menjadi rileks.
Joko dan Panca menikmati pemandangan pantai dengan bersantai di tikar yang kami bawa sedangkan aku sedang membuat istana pasir sedangkan kekasihku sedang bersama ayahku bercanda gurau bersamanya.
Joko yang melihatku sedang membuat istana pasir langsung memanggilku "Lagi ngapain Sul ?" panggilnya.
Aku yang masih sibuk dengan istana pasir menjawab pertanyaan Joko "Lagi main pasir nih, kenapa Jok ? Mau ikutan juga ? Kalau mau sini" ajakku.
Setelah mendengar ajakanku Joko menghampiriku dan langsung ikut membantuku untuk membuat istana pasir.
Sementara itu ayahku bertanya kepada Dira tentang perkuliahan, tentang Samsul dan tentang percintaannya dengan Samsul.
"Nak Dira, om tanya" tanya ayahku.
"Tanya apa ya om ?" ucap Dira.
"Jadi begini, om kan sudah tau kamu sudah menjalin hubungan dengan Samsul. Om mau tanya aja sih sebenarnya, apakah kamu tulus mencintai anak om tidak ya ?" ujar ayah Samsul.
"Aku sih sangat cinta ke Samsul om" ucap Dira.
"Syukur deh kalau begitu, Om kira kamu tidak mencintai tulus anak Om" pikir ayah Samsul.
"Om tenang saja ya, Dira akan mencintai anak Om apa adanya." janji Dira kepada ayah Samsul.
Senja pun telah tiba, ayahku mengajak kami berempat untuk kembali pulang ke rumah.
"Anak-anak, yuk pulang ke rumah. Udah mau malam nih." ajak ayahku.
"Nanti dulu pak, kita mau tunggu sunset"
"Hah apa ? Keset ?" tanya ayahku.
Kami berempat pun menepuk jidat setelah mendengar ayahku berbicara diiringi oleh ketawa dari kami berempat.
"Apa tuh sunset nak ?" tanya ayahku.
"Sunset itu maksudnya matahari terbenam yah" jelasku.
"Oalah matahari terbenam, ayah kira keset hehehe" canda ayahku.
"Yee ayah mah, bercanda mulu idupnya hehehe" ucapku.
"Ya karena ayah ingin awet muda Sul hehehe" kata ayahku.
"Pantas saja om awet muda lantaran om suka bercanda sih" ujar Panca.
"Hehehe iya nak, om memang suka bercanda dengan siapapun itu nak" kata ayahku.
"Oalah begitu" Joko menimpali perkataan ayahku.
Setelah melakukan pembicaraan dengan Samsul beserta teman-temannya, ayahku membiarkan mereka berempat berpencar menuju ke spot terbaik versi mereka masing-masing.
Akhirnya aku, Dira, Panca dan Joko bermain- main di pantai dan kami semua saling bercanda dan tertawa bersama sambil menghabiskan senja hari.
Setelah matahari telah terbenam dengan sempurna dan anggun ayahku memanggil kami berempat.
"Anak-anak, yuk kita pulang ke rumah" ajak ayahku.
Aku, Dira, Panca dan Joko menghampiri ayahku, setelah itu kami langsung menuju ke dalam mobil.
Saat berada di mobil Aku, Dira, Panca dan Joko yang merasa lelah setelah beraktifitas seharian akhirnya tertidur.
Akhirnya setelah memakan waktu kurang lebih satu jam dari Pantai Silli kamipun sudah sampai di rumahku.
Ayahku membangun kami berempat dengan sangat pelan dan lembut.
"Nak yuk bangun, kita sudah sampai rumah nih"
ucap ayahku.
Kami terbangun dari tidur setelah ayahku membangunkan kami berempat, dengan muka bantalnya kami keluar dari mobil.
Setelah masuk rumah, kami berempat di sambut oleh ibuku.
"Eh nak, kalian sudah sampai rumah juga akhirnya hehehe. Bagaimana liburannya ?
Dengan suara parau nan serak karena habis bangun tidur kami menjawab dengan kompak "Iya tante, seru banget kok hehehe"
Mendengar suara kami yang lemas membuat ibuku menjadi iba kepada kami.
"Yasudah kalau begitu, kalian istirahat ya"
Dira mewakili kami "Iya tante"
Akhirnya kami menuju kamar, ketika kami sedang berjalan Dira memintaku untuk tidur bersamanya.
"Sul, gua tidur sama lu ya Sul. Gua takut sendirian soalnya. Gua di rumah ortu gua pas di Jakarta juga tidu r sama nyokap gua"
"Sebentar ya sayang, aku tanya orang tua dulu."
Akhirnya aku turun kembali dan meninggalkan mereka bertiga di tangga.
Aku meminta izin kepada orang tuaku untuk tidur bersama Dira.
"Yah, bu. Boleh tidak ya aku tidur dengan Dira ?"
Ayahku bertanya kepadaku "Memang kenapa nak ?"
"Karena dia takut tidur sendirian pak. Setiap hari dia tidur dengan ibunya katanya."
Ayahku menimbang- nimbang setelah mendengar perkataanku.
Setelah berfikir selama lima belas menit kemudian akhirnya ayahku menyetujui aku tidur bersama Dira.
"Boleh kok nak, tapi kamu jangan macam-macam ya dengan dia" katanya.
"Terima kasih banyak ya" ucapku yang kegirangan.
Setelah mendapat persetujuan ayahku, aku langsung kembali ke arah tangga. Ku lihat tidak ada Joko dan Panca di tangga rumahku.
"Dir, lu lihat Panca dan Joko ?" tanyaku.
"Katanya sih mereka ijin duluan tidur beb, oh ya kata ayah kamu gimana ? Aku boleh kan tidur sama kamu ?" Tanya Dira.
"Boleh kok, ya sudah kita ke kamarku aja yuk"
"Yeay terima kasih banyak beb, ya udah yuk kita ke kamar" Ucapnya sambil mencium keningku.
Sesampainya kita di kamarku, aku membuka pintu kamarku.
Disaat aku sedang membuka pintu, Dira dengan manjanya memeluk pinggangku. Melihat Dira yang manja itu membuat refleks tangan kananku membelai rambutnya
"Sabar ya Dir, manja banget lu."
"Iya Sul, sory ya gua manja sama lu, abisnya gua merasa nyaman sama lu."
"Kenapa emangnya ?" tanyaku.
"Karena gua kehilangan sosok bokap yang sayang ke gua beb" keluh Dira.
"Upps sorry Dir, gua ga tau. Ya sudah gua bakal sayang ke lu ya"
"Iya sayang, aku percaya kamu" katanya
Akhirnya kami berdua masuk ke dalam kamar dan beristirahat dan langsung tidur di dalam kamarku