As By Inside

As By Inside
Episode 6 : Joko Dan Samsul Diganjar Hukuman Oleh Kakak Tingkat



"Hehehe iya kak, alhamdulillah aku dapat kuliah di sini karena beasiswa dan Joko lewat jalur SBMPTN" Ujarku menjelaskan kepada kaka tingkat.


Kaka tingkat itu mengangguk "Kalian serius ? Wih hebatnya kalian berdua." Ujarnya dan bertepuk tangan ke kami berdua.


"Alhamdulillah kak, ini semua karena doa aku, doa Joko dan doa kedua orang tua kita. Iya ga Jok ? " Ujarku merespons perkataan kaka tingkat itu.


Joko mengangguk setelah mendengar perkataanku "Iya kak, alhamdulillah kita diberikan rezeki dari Allah SWT sehingga kita bisa berkuliah di kampus idaman kita."


Saat kami bertiga melakukan perbicangan dengan Kak Siti, salah seorang laki-laki dengan penampilan rambut layaknya sangkar burung, kurus seperti tiang listrik yang aku rasa bertugas sebagai koordinator lapangan menghampiri kita bertiga.


"Ada apa nih, mengapa mereka ada disini ? Bukannya mereka harusnya ada di kursi yang sudah kita siapkan ?"Tanyanya kepada kak Siti.


"Oh ga kok bro, ini gua lagi tanya-tanya aja ke mereka berdua." Sahut kak Siti.


"Kenapa memangnya ?" Tanya pria berambut gondrong itu.


Kak Siti menjawab pria itu "Oh, tadi gua memergok dua adik kita yang sepertinya terjadi keributan sedikit bro Wil, mangkanya gua tarik mereka untuk maju kesini."


"Oh begitu, btw gua boleh ikut juga ga disini ?" Tanyanya.


"Boleh banget kok bro. Karena lu senior gua, nih gua kasih tempat duduk gua. Santai aja Wil" Sahut kak Siti.


Pria yang berambut gondrong itu dengan bijanya berkata "Eh jangan Sit, itu kursi punya lu. Bentar ya Sit gua ambil kursi dulu."


"Ok bro." Sahutnya.


Akhirnya laki-laki itu meninggalkan kami bertiga, setelah itu aku bertanya ke kak Siti "Kak Siti, itu laki-laki yang rambutnya seperti sangkar burung namanya siapa ?"


Kak Siti langsung memperingatkan aku "Hust dek jangan begitu"


Aku pun merasa malu setelah mengeluarkan perkataanku "Maaf kak, aku tidak tau siapa dia soalnya kak."


Joko pun meledek diriku "Yee, lu sih. Ada-ada saja lu, nahloh lu kena tegor kak Siti tuh." Ujarnya.


Aku pun berbisik kearah Joko "Iya Jok, maafkan gua. Gua kan ga sengaja"


Kak Siti tertawa kecil setelah melihat kelakuan kami berdua, setelah itu datanglah kaka tingkat yang berambut gondrong. Kami berdua saat dia menuju ke arah kami langsung membuat kami khawatir apalagi dia yang membawa kursi yang lumayan berat.


"Duh bahaya nih, dia sepertinya mau pukul kita Sul." Bisik Joko kepadaku.


"Betul banget Jok, sepertinya seram sekali dia." Bisikku.


Kak Siti yang melihat kami berdua yang tertekan "Hei kalian, kenapa kalian tertekan seperti itu ?"


Kami menjawab "Kita takut kak, apalagi kalau d kita dipukul bangku berat seperti itu ke kita ?"


Kak Siti itu tersenyum setelah mendengar perkataan kami berdua "Tenang saja Dek, dia tidak galak seperti yang kalian bayangkan."


Setelah melihat raut wajah kekhawatiran dari kami berdua membuat kak Siti menyuruh temannya untuk menaruh kursi yang ia bawa.


"Wil, tolong taruh kursi itu ya, soalnya kasian mereka tuh yang takut."


Pemuda yang dipanggil oleh kak Siti itu akhirnya menaruh bangku yang ia bawa dan langsung mendudukinya.


Ia berkata "Kalem boy, gua ga mungkin berbuat hal konyol seperti itu ke lu pada."


Ia meneruskan pembicaraannya "Boy, lu pada kenapa ? Kok dipanggil sama Kak Siti ? Bukankah lu pada harusnya ada di belakang lapangan bukan ?"


"Iya kak, karena kita berdua telah membuat ulah sehingga kita dipanggil kesini" Ujarku.


Aku menjawab "Jadi aku kan lagi melihat bunga di sebelah sana, eh abis itu si Joko malah meledekku. Katanya sih aku lagi melihat wanita cantik di sebelahku terus aku teriak dan ya akhirnya kita dipanggil kesini kak."


Kakak itu menjawab "Oh begitu, yaudah begini. Kalian berdua siap kan kalau kena hukuman ?


Kami berdua pun mengangguk sebagai tanda kami setuju atas hukuman yang diberikan oleh kakak tingkat kami.


Kakak tingkat itu berkata "Sebelum kalian berdua kena hukuman, gua mau perkenalkan diri gua dulu ke kalian, karna gua yakin lu berdua ga dengar kan ? Perkenalkan nama gua William. Gua dari fakultas hukum,gua saat ini ada di semester 4. Salam kenal bro."


Kami berdua menjawab "Salam kenal juga kak."


Ia meneruskan pembicaraannya "Ok, kali ini hukumannya yaitu, lu harus bernyanyi sambil mengelilingi tiang bendera sebelah sana. Bagaimana ? Ok kah ?"


"Ok kak, sepertinya tidak berat banget deh untuk kami." Ujarku.


"Tapi lagu apa kak ?" Tanya Joko.


"Untuk lagunya, hmm mungkin kalian tanyakan ke teman kalian saja deh." Ujar kak William.


Akhirnya aku bertanya kepada rekan-rekanku tentang lagu yang harus aku nyanyikan sebagai hukuman.


"Guys, kalian mau lagu apa nih ?"


Suasana pun menjadi hening, tiba-tiba Indira celetuk lalu berkata "Bagaimana kalau kalian berdua nyanyi lagu blackpink tapi setiap lirik akhirannya huruf O aja ?"


Kami berdua terkejut setelah Indira mengucapkan itu, aku pun berusaha bernegosiasi kepadanya "Dir, lu gila apa yak ? Jangan lagu dari blackpink juga lah. Gua ga bisa nih."


Indira pun menjawab "Lagian sih, siapa suruh lu ngeliatin gua kek gitu ? Ok guys gimana ? Setuju kan ?"


Sebelum para peserta menjawab tawaran dari Dira, Kak Siti bertanya kepada Dira "Hai Dir, kalian tau dua laki-laki ini ?"


Dira menjawab "Iya kak aku kenal mereka berdua dan tahu mereka. Mereka berdua bertemu denganku pada saat daftar ulang kak."


Kak Siti menjawab "Oalah begitu, pantas saja kamu sepertinya sudah akrab dengan mereka."


Selang beberapa menit kemudian, Kak Siti bertanya kepada peserta murid baru.


"Guys, bagaimana dengan usulan Dira ? Apakah kalian setuju ?" Tanyanya.


Peserta menjawab "Setuju kak, kalau boleh si sambil goyang saja kak hehehe."


Kak Siti berucap "Nah karena kalian sudah setuju, untuk Samsul dan Joko kalian harus tanggung hukuman ini ya."


Mereka berdua menjawab dengan pasrah "Yasudah, tidak apa-apa kak ?"


Setelah jenis hukuman yang diterima telah diketahui, Samsul dan Joko langsung berjalan menuju ke tiang bendera yang letaknya tidak jauh dari posisi Kak Siti dan Kak William duduk.


Selang kurang lebih lima belas menit kemudian akhirnya hukuman untuk kami berdua telah selesai dilakukan. Dengan nafas yang terengah-engah dan baju kami berdua yang basah terkena keringat, kami berdua kembali ke tempat Kak Siti dan Kak William duduk.


Sesampainya di tempat semula, Kak Wil sapaannya bertanya kepada kami berdua "Bagaimana dek ? Lelah tidak ?"


Kami berdua menjawab "Iya kak, kita lelah sekali."


Kak Wil tersenyum kearah kami, lalu ia berkata "Ya sudah kalian boleh kembali ke tempat asal kalian ya. Mohon jangan diulangi kembali ya."


Akhirnya kami berdua meninggalkan kak Siti dan Kak Wil, seraya berdiri kami berdua menjawab "Oke kak, kita pamit kembali ya kak."


Kak Siti dan Kak William menjawab "Ok dek."