As By Inside

As By Inside
Episode 35 : Keakraban Di Rumah Samsul



Malam pun tiba, anak-anak pun sudah terbangun dari tidurnya. Mereka berhamburan menuju lantai bawah.


Dira yang bergegas lebih dahulu melihat ibunya Samsul sedang memasak di dapur yang ia lihat dari tangga.


Dia pun langsung buru-buru untuk menuju ke dapur untuk membantu ibuku.


Sementara itu Panca, Joko dan May berbincang-bincang di belakangku. Mereka membicarakan tentang Dira.


"Dih, capernya Dira" Ucap Joko dengan sinisnya.


"Iya tuh, mentang-mentang udah di acc sama calon mertua hahaha" Balas Panca.


"Kalian ini, julid saja kerjaannya. Mendingan kalian bantu apa kek, dasar beban kalian" Judes May.


"Tau nih lu pada, udah napa diemin aja, kan lumayan ada istri yang bisa masak nanti hahaha" ucapku.


Dira sudah sampai ke dapur, dia langsung menawarkan diri kepada ibuku


"Ibu, ada yang bisa saya bantu ?" Tawar Dira.


Ibuku menoleh ke arah Dira "Eh nak Dira, udah ga usah Dir. Ibu bisa kok sendiri dan terbiasa sendiri" Tolak ibuku.


"Udah gapapa bu, daripada aku tidak melakukan apa-apa. Please ya bu" Dira memaksa ibuku untuk membantu.


"Ya sudah kalau begitu, silahkan kamu potong sayuran ini ya Dir" Ibuku mempersilahkan Dira untuk memotong kentang.


"Baik bu"


Sementara itu aku, Panca, Joko dan May berkumpul di ruang keluarga.


Ayahku bersama keempat orang lainnya sedang menunggu makanan yang sedang di masak oleh Ibuku dan Dira.


Ayahku lalu bertanya kepadaku tentang penyebab kakiku yang cedera.


"Nak, tolong ceritakan kepada ayah kenapa kaki kamu ?" Pinta ayahku.


"Jadi begini yah, itu sih Joko agak menyimpang. Dia ikut geng pencurian yang di inisiatif oleh Kaka tingkat. Nah aku, Panca, Dira mergokin dia lagi merancang aksi pencurian di kampus dan akhirnya singkat cerita dia sadar. Tapi setelah itu Kak Willie mengejar kami hingga kita semua di sekap di ruangan kosong. Tapi ada May ini yang bantu tolongin kita berempat sama kak ketua BEM sampai akhirnya Willie dan kawan-kawan ditangkap polisi.


"Terus nak, lanjutkan ceritamu" Pinta ayahku.


"Selang semingguan, orang suruhan Willie menyerang kami. Abis itu aku,Panca dan Joko bertengkarlah dengan mereka. Mereka sepuluh orang sedangkan kita hanya bertiga, hasilnya ya aku jadi kena sasaran hingga kakiku rusak dan harus di larikan ke rumah sakit sampai sebulan"


"Terus kamu ga kuliah dong nak ?" Tanya ayahku dengan serius.


"Kita berlima tetap kuliah kok hanya saja untuk semester ini kebanyakan memang online, bahkan kemarin saja kita UAS saja kita online kok yah. Kalau tidak percaya silahkan tanya ke anak-anak" Aku memberikan penjelasan terhadap ayahku.


"Betulkah apa yang disampaikan anak om nak ?" Tanya ayahku kepada Panca.


"Betul sekali om, kita semua tetap belajar tapi dengan media online jadi kuliah kita tidak terganggu." Terang Panca dengan santainya.


"Oh begitu, syukur deh. O iya Jok om mau ingatkan kamu untuk tidak mengikuti hal itu lagi ya" Ayahku memberi peringatan kepada Joko.


"Iya om, maafkan aku ya om, aku janji ga bakal seperti itu" Joko meminta maaf kepada ayahku.


"Ya sudah kalau begitu, mari kita tunggu makanan dari tante dan Dira ya anak-anak" Ucap ayahku.


Akhirnya setelah menunggu selama satu jam akhirnya Dira datang dengan membawa ayam goreng dan tempe goreng.


Dira yang mengeluh karena bawaannya berat meminta tolong kepada kami berempat dengan nada kesal "Woi buruan sini napa, bantuin gua. Kalian jangan cuma taunya makan doang!!!"


Aku langsung berdiri dari tempat dudukku, aku menawarkan diri untuk membantu perempuanku "Sini sayang aku bantu"


Akhirnya Dira memberikan piring yang berisi ayam goreng dan langsung menaruh piring di meja untuk ku susun.


Sementara itu Panca, Joko dan May langsung ke dapur setelah mendapat omelan dari Dira.


Sesampainya disana mereka menawarkan diri untuk membawa piring, gelas dan makanan yang berada di dapur.


"Tante, ada yang bisa kami bantu ?" Tawar Panca.


"Hmm ada sih nak" Gumam ibuku.


"Tolong bawakan sambel terasi, nasi, piring, gelas dan sayur sup ya nak" Pinta Ibuku.


"Baiklah, ges bagi-bagi tugas yuk. May bawa sup, gelas dan air dibawa olehku, sambel dibawa Joko piring dan sendok dibawa oleh Panca. Gimana guys ? Setuju ?" Aku mengatur kawan-kawanku.


"Setuju !!!!" Teriak mereka.


Akhirnya kami membawa barang-barang tersebut ke ruang tamu sesuai dengan kesepakatan kita.


Samsul, Panca, Dira, May dan Joko merasa bersyukur memiliki orang tua yang begitu terbuka dan hangat. Mereka berbagi makan malam yang lezat sambil bercerita tentang pengalaman mereka selama beberapa hari terakhir. Orang tua Samsul dengan penuh minat mendengarkan cerita-cerita mereka dan memberikan nasihat bijak.


Setelah makan malam, mereka duduk di ruang keluarga yang nyaman. Suasana hangat dan akrab terasa begitu kental di dalam rumah itu. Buku-buku, mainan, dan kenangan masa kecil Samsul masih terlihat di sekitar, mengingatkan mereka akan waktu-waktu bahagia yang mereka habiskan bersama.


"Apa rencana kalian selama tinggal di sini?" tanya ibu Samsul dengan antusias.


Samsul menjawab dengan semangat, "Kami ingin menjelajahi beberapa tempat bersejarah di kota ini. Dan juga ingin mengenal lebih dekat dengan budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat di sini."


Ibu Samsul tersenyum bangga. "Itu adalah rencana yang bagus. Kota ini memiliki banyak tempat menarik untuk dijelajahi. Kami juga bisa membantu mengatur jadwal kalian dan memberikan rekomendasi tempat-tempat yang menarik."


Mereka pun duduk bersama dan merencanakan perjalanan mereka. Ayah Samsul menyarankan untuk mengunjungi museum sejarah setempat, yang memiliki koleksi artefak dan cerita menarik tentang masa lalu kota tersebut. Ibu Samsul menambahkan bahwa ada pasar tradisional yang layak dikunjungi, di mana mereka bisa merasakan atmosfer khas dan mencicipi makanan lokal.


Dalam beberapa hari berikutnya, Samsul, Dira, Panca, May dan Joko mengunjungi berbagai tempat menarik di kota itu. Mereka berkeliling museum, mendengarkan penjelasan pemandu tentang artefak-artefak bersejarah yang dipamerkan. Mereka terpesona oleh kisah-kisah masa lalu yang menghidupkan kembali sejarah kota tersebut.


Di pasar tradisional, mereka menikmati kehidupan sibuk dan warna-warni yang penuh kehidupan. Mereka mencoba berbagai makanan lokal, seperti nasi goreng, sate, dan kue tradisional. Mereka berbaur dengan masyarakat setempat, berinteraksi dengan pedagang, dan menyerap atmosfer khas dari pasar itu sendiri.


Selama perjalanan mereka, mereka terus membagikan pengalaman dan cerita mereka kepada orang tua Samsul. Setiap hari, mereka pulang ke rumah dengan semangat penuh dan menceritakan petualangan mereka kepada orang tua Samsul. Orang tua Samsul dengan antusias mendengarkan cerita-cerita tersebut, dan mereka turut bangga melihat anak mereka tumbuh menjadi pribadi yang berpetualang dan berbudaya.


Suatu malam, ketika mereka sedang duduk bersama di ruang keluarga, Samsul menyadari bahwa dia ingin mengabadikan momen-momen indah ini. Dia mengambil kamera fotografi dari kamarnya dan mengajak teman-temannya untuk bergabung dengannya.


"Mari kita ambil foto bersama sebagai kenang-kenangan," ucap Samsul sambil tersenyum.


Semua orang setuju, dan mereka berpose dengan gembira. Samsul mengambil beberapa foto mereka yang ceria dan penuh tawa. Saat melihat foto-foto tersebut di layar kamera, mereka merasa bahagia dan terharu. Ini adalah momen yang akan mereka simpan selamanya, sebuah bukti kebersamaan dan keakraban di dalam rumah Samsul.


Malam itu, mereka juga menghabiskan waktu dengan menonton film-film favorit mereka. Mereka memilih film-film yang pernah mereka tonton bersama saat masih kecil. Samsul menyalakan proyektor dan layar putih mengisi ruangan dengan gambar-gambar kenangan masa kecil yang indah. Mereka tertawa, menangis, dan berkomentar pada setiap adegan yang terjadi di depan mata mereka.


Keesokan harinya, mereka merencanakan piknik ke taman yang terletak di dekat rumah Samsul. Mereka membawa bekal dan matras piknik, siap untuk menikmati udara segar dan alam yang indah. Saat mereka tiba di taman, mereka memilih tempat yang teduh di bawah pohon besar.


Di bawah rindangnya pepohonan, mereka duduk bersama, mengobrol, dan tertawa. Mereka mengenang kenangan-kenangan lucu dan mengulang kisah-kisah lama. Momen-momen itu memberi mereka kebahagiaan dan kesenangan dalam liburan mereka