As By Inside

As By Inside
Episode 25 Samsul Dibawa Ke Rumah Sakit



Kita berlima sedang berbincang dengan kak Toya dan Kak Siti, mulai dari peristiwa Kak Willie dan kawan-kawan sampai tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 2 dinihari.


Akhirnya kami berlima beserta kaka tingkat itu memutuskan untuk tidak pulang ke kost dan kerumah masing-masing dan kami memutuskan untuk tidur di ruang serba guna kampus.


Pagi pun tiba, suara yang sama dengan semalam membangunkan kami semua dari tidur


Sebagai orang yang pertama bangun dari tidur, aku langsung mencoba melangkahkan kaki ku keluar dari kasurku.


"Ah aku mau keluar ah, suntuk sekali disini. Aku mau berjalan keluar" Gumamku


Disaat yang lain belum tersadar secara sempurna dari tidurnya aku melangkah keluar dari ruang serba guna dengan mengendap-endap.


Namun kondisi yang tidak memungkinkan baru sampai di depan pintu ruang serba guna kampus itu justru aku terjatuh


"Gubrak !!!!"


Suara aku yang tterjatuh itu membuat Panca, Joko, Dira, Kak Siti dan Kak Toya sadar dengan sempurna.


"Waduh bahaya ini mana gua pakai acara jatuh lagi" Batinku.


Dira yang menyadari diriku langsung melompat dari orang yang berada di depannya untuk menyelamatkanku.


"Sayang ?? Kamu ngapain ih ?? Kamu gapapa kan ?" Ujarnya sambil memelukku.


Joko dan Panca yang juga mendengar aku yang terjatuh juga turut menyelamatkanku, mereka berkata "Sul, lu ngapain ?"


"Tadi rencananya aku mau melihat orang yang demo sayang eh tapi kakiku yang belum sembuh akibat kena gebuk preman kemarin malam jadi ya terjatuh"


Panca yang mendengar alasanku menjadi kesal "Lah lu ngapain mau keluar coba ? Udah tahu lu kakinya patah, masih aja lu bandel !!!"


"Iya maafin gua ya Ca, abisnya gua bosan disini. Gua mau menghirup udara segar abisnya" Dalihku.


Dira mengamuk setelah mendengar dalihku "Gak ada alasan seperti itu sayang !!! Kamu mah bandel banget si ihh !! Au ah aku marah sama kamu titik !!!


"Maafin aku sayang, aku janji ga bakal seperti itu lagi" ucapku sambil menunduk dan memegang tangannya


"Ga !!! Lepasin tanganku !!!" Dira yang semakin emosi


Kak Siti dan Kak Toya menghampiri kami bertiga dan menolongku untuk kembali ke tempatku semula


Mereka berdua lalu membopongku kembali ke tempatku.


Sesampainya aku di tempatku mereka berdua bertanya kepadaku "Sul, lu ngapain tadi ?"


Aku yang terus menunduk itu menjawab pertanyaan dari dua kaka tingkat "Aku bosan disini kak, mangkanya itu aku mencoba keluar dari ruang ini"


"Oalah begitu, hmm iya sih kaka bisa mengerti. Tapi kan kamu sedang sakit Sul, sebaiknya jangan terlalu gegabah ya" Nasihat Kak Siti kepadaku.


"Iya kak, maafin aku ya sayang, kak, Ca udah buat kalian repot pagi-pagi ini.


Dira yang sedang mengambek menjawabku dengan singkat "Ya"


Panca yang sedang kesal kepadaku juga membalas permohonan maaf dariku "Ya"


Kak Toya menepuk pundak dari Dira dan Panca "Hey udahlah jangan ngambek begitu, dia juga udah minta maaf ke kita"


"Hmm, iya kak ok" Mereka berdua membatin.


Setelah itu Kak Siti meminta izin kepada orang-orang yang berada di ruang serba guna


"Guys, izin ke lapangan dulu ya. Kaka ingin mengurus demo orang-orang nih, ribet banget"


"Oke kak, Hati-hati ya kak" Sahut kami berlima.


"Siap dek" Ucapnya.


Setelah kak Siti pergi, Kak Toya bertanya kepadaku "Sul, gimana keadaan lu ?"


"Sakit banget kak, kakiku ga bisa aku gerakkan sama sekali" Ringisku.


"Ya sudah kita bawa lu ke rumah sakit aja ya, daripada lu kenapa- kenapa" Usul Kak Toya.


"Setuju kak" ucap Dira.


"Gimana menurut lu Jok, Sul ?"


Mereka dengan berdua kompak "Setuju"


"Kenapa gitu Sul ? Takut masalah biaya ya ?"


"Iya kak, selain itu aku takut di omel oleh ayahku"


"Kenapa gitu Sul ?" Tanyanya.


"Ya karena aku tidak bisa menjaga diriku kak" Belaku.


"Udah tenang aja kak, nanti kaka yang tangani persoalan kamu ya" Ucapnya menenangkanku.


"Bagaimana dengan urusan perkuliahan ini ?" ujarku yang panik.


"Tenang aja sayang. Aku, Panca dan Joko yang akan urus. Iya ga guys ?" Liriknya ke mereka berdua.


Joko dan Panca mengangguk.


"Nahkan Sul, mereka bertiga support kamu lho, jadi kamu harus semangat ya Sul buat sembuh. Kasian kamu yang selalu kena musibah di kampus ini" Iba kak Toya.


"Gapapa kak, selagi aku bisa membela Dira dan aku berada di jalur kebenaran aku harus hadapi kak"


Dira merajuk setelah mendengarku mengeluarkan statement "Ih, kamu mah gitu. Ingatkan saat kamu terbaring di klinik kampus ?"


Aku berpura-pura untuk meledek perempuan yang aku sayangi "Aku ga ingat tuh sayang, emangnya apa ?"


"Ihh kamu mah, gemesin banget sih kamu ayangku ini" Ujarnya sambil mencubit pipiku.


Melihat kemesraan aku dan Dira menjadi hiburan untuk Kak Toya, Joko dan Panca. Mereka bertiga tertawa melihat tingkah laku yang kami umbar di depan mata mereka.


"Sul, tolong ya untuk tidak selingkuh dengan Dira ya" Mohon Panca


"Nah tuh bener apa yang di katakan oleh Panca, tuh si Dira udah bucin banget tuh ama lu. Tolong ya jangan sakitin dia ya, apabila lu sakitin Dira, awas lu Sul gua ga segan-segan bogem lu" Ancam Joko.


"Tuh Sul, teman-teman kamu support kamu. Tolong jaga Dira dengan baik ya Sul, kaka harap kalian bisa langgeng sampai kalian menikah ya Sul Dir" harap kak Toya.


"Aamiin kak, terima kasih banyak ya kak atas supportnya"


Lanjutku "Iya Sul, Jok gua bakal temani dia, lindungi Dira walaupun nanti saatnya gua meninggal nanti gua bakal sayang ke dia"


Dira meneteskan air mata "Hikss sayang kok kamu ngomong begitu ? Aku juga ga bakal meninggalkan kamu. Aku bakal selalu berada di samping kamu"


Setelah bercakap-cakap dengan kawan-kawanku Kak Toya memintaku untuk menerima tawaran darinya untuk ke rumah sakit.


"Gimana Sul, lu mau kan kita bawa ke rumah sakit ?" Pintanya.


"Oke deh, gua setuju kak. Lets goo" Semangatku.


Akhirnya Kak Toya dan kawan-kawanku membawaku ke rumah sakit. Sebelum ke rumah sakit Kak Toya menelpon ambulance milik pemerintah.


Setelah menunggu kurang lebih empat puluh lima menit kemudian akhirnya ambulance milik pemerintah Jogjakarta telah sampai di Universitas Gajah Duduk.


Kak Toya bersama Panca dan Joko membopongku untuk di baringkan di tandu lalu aku pun dibawa perlahan menuju ke mobil ambulance.


Sesampainya di depan mobil ambulance, Kak Toya meminta tolong kepada Joko, Dira dan Panca untuk menemaniku menuju ke rumah sakit.


"Ca,Jok,Dir. Gua minta tolong temani Samsul ke rumah sakit ya, soalnya gua udah di telpon Siti untuk menemui pendemo nih"


"Oh, oke kak siap. Uangnya mana kak ?" Sahut mereka bertiga.


"Uang apa guys ?" Tanyanya


"Ih kaka mah, ya buat registrasi rumah sakit dan bayar ambulance ini lah. Gimana sih kak ?" Ucap Dira.


"Oh iya, kaka lupa hehehe. Bentar kaka ambil kartu atm dan uang dulu"


Setelah itu kak Toya memberikan kartu ATM dan uang bernilai 100 ribu rupiah berjumlah 3 lembar kepada Dira.


"Nih Dir uangnya. Itu uang yang tiga ratus ribu untuk bayar ambulance lalu kartu atm kaka untuk kalian pakai registrasi rumah sakit ya.


"Oke kak, terima kasih banyak kak atas bantuannya"


"Sama-sama dek, hati-hati di jalan" ucapnya.


Dan mobil yang membawa Samsul meninggalkan kampus.