As By Inside

As By Inside
Episode 28 : Samsul di Vonis Terkena Cedera ACL



Setelah berkomunikasi dengan dokter, kami bertiga masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Dira langsung memeluk tubuhku sambik menangis.


"Sayang, kamu ga apa-apa kan ?"


Aku langsung memeluk Dira, dengan lambaian senyum tercurahkan dari bibirku, setelahnya aku berkata "Sayang, aku gapapa kok. Jangan takut ya, aku janji bakal sembuh kok.


"Huhuhu, aku khawatir sama kamu, kamu bakal lama sembuhnya" ucapnya sambil terisak.


"Tenang ya, aku janji bulan depan sembuh ya sayang. Cup cup cup" aku menenangkannya.


Joko bertanya kepadaku "Sul, lu gimana kondisi lu ? Sakit ga ?"


"Tenang aja Jok, gua gapapa kok"


"Bro, lu mau gua telfonin ke bokap lu ga ?" Tawar Panca.


"Hmm, ga ah Ca, tumben lu ngomong gitu ?" Tolakku ke Panca.


"Ya karna tadi bokap lu telpon gua Sul" Info Panca.


"Oh ya ? Terus lu bilang apa ke bokap gua ?"Tanyaku.


"Ya gua bilang kepada bokap lu kalau lu gapapa" Ucapnya dengan santai.


"Oh begitu deh, bagus deh Ca. Gua ga mau dia khawatir selama gua di kampus ini" Kataku.


Dira mendengar perkataan kami berdua langsung memarahiku.


"Ih sayang, kok gitu ? Itu kan orang tua kamu "


"Aku ga mau buat orang tuaku khawatir sayang, mangkanya aku ga mau memberitahukan mereka sayang" Alasanku.


"Tapi kan km lagi kaya begini syg, pasti mereka cemas sayang" rengeknya.


"Ga kok sayang, Jangan takut ya. Justru mereka akan bangga kepadaku" Kataku.


"Kenapa gitu ? Bukankah orang tua kalau tau anaknya di bantai sampai kamu cedera malah sedih ya ? Kok orang tua kamu malah bangga sama kamu ?" Anehnya.


"Sini sayang ku peluk dulu, kangen kamu" Manjaku.


"Uhh, ayang mah.. Aku takut kamu kenapa-kenapa" Rengeknya


"Tenang ya, o iya sayang mau dengerin alesannya kalau orang tuaku ga takut kalau aku seperti ini ?"


"Apa tuh ?" Tanyanya dengan penasaran.


"Karena kita membela kebenaran sayang, mangkanya orang tuaku bangga jika aku membela kebenaran walaupun tubuhku bonyok dan cedera sayang" Jelasku.


"Oalah begitu, ya sudah deh kalau begitu"


Sementara itu Kak Toya dan Siti telah sampai di rumah sakit untuk menjengukku.


Mereka berdua langsung masuk ke dalam rumah sakit, sesaat kemudian mereka telah berada di ruang administrasi.


Kak Siti bertanya kepada petugas medis yang berjaga di meja administrasi


"Yang bernama Samsul Bahtiar di rawat di ruang apa ya Sus ?"


"Oh dia di rawat di ruang Ortopedi kak"


"Baik terima kasih banyak atas informasinya sus"


"Sama-sama" Ucapnya.


Setelah bertanya kepada pihak yang bertugas di meja administrasi, akhirnya mereka berdua langsung menuju ke ruang Ortopedi


Setelah berjalan kurang lebih lima belas menit, akhirnya mereka berdua sampai di ruang ICU.


Mereka tidak melihat orang-orang di depan ruang Ortopedi, lalu mereka langsung masuk ke ruang Ortopedi tersebut.


Sesampainya di dalam ruang ICU, Kak Toya dan Kak Siti bertemu Samsul dan kawan-kawan.


Toya langsung menanyakan kabar dariku "Sul, apa kata dokter ?"


"Gua kena cedera ACL kak, lumayan parah sih soalnya lutut gua geser tulangnya"


Kak Siti bertanya kepadaku "ACL itu apa Sul ?"


Kak Toya menjawab pertanyaan Kak Siti lontarkan kepadaku "Sit, lu inget ga ?"


"Soal lu jatuh pas lagi main basket pas kompetisi basket antar kampus ?"


"Inget kok kak, emang kenapa ?"


"Iya, cedera yang Samsul alami itu sama kaya lu Sit Tapi ini lebih parah dari lu Sit" Jelasnya.


"Hah ???? Serius lu ?" Kak Siti terkejut.


"Iya, gua serius, tulang lututnya banyak retak, sendinya juga geser" Terang Toya.


"Waduh, terus katanya berapa lama penyembuhannya ?" Tanyanya


"Kata dokternya sih kurang lebih 1 tahun kak"


"Waduh, lama banget Sul. Ya sudah yang sabar ya Sul dan semoga cepat sembuh ya" Iba Kak Siti.


Saat Kak Siti dan Toya sedang menjengukku, Tiba-tiba telpon Panca berdering "Kringgggggg"


Akhirnya Panca mengambil handphonenya yang di taruh di meja.


Dia mengecek notifikasi handphonenya lalu tertera atas nama rektor Universitas Gajah Duduk.


Akhirnya dia mengangkat telponnya "Iya pak, Ada apa ?"


"Ca, kamu dimana ?" Tanya rektor.


"Aku di rumah sakit pak, ini Samsul dia kena cedera ACL pak"


"Waduh seriuskah ? Boleh bapak video call dia ?"


"Boleh kok pak" Sahutnya di telpon.


Akhirnya telponnya di alihkan kepadaku, aku yang mengambil telpon yang dikasih Panca.


Aku mulai berkata kepada Rektor kampus dengam sopan.


"Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, siang pak"


"Waaalaikum Salam Sul, Kamu kenapa Sul ? Kok bisa sih ?"


"Jadi begini pak, dua sampai tiga hari yang lalu, gerombolan orang suruhannya genknya Willie datang ke kampus" Terangku


"Terus mereka menyerang kamu kah ?" Tanyanya .


"Betul sekali pak, mereka juga menyerang Panca,Joko, Dira dan May. Aku rasa kalau ga salah ada kok rekamannya di CCTV" Terangku.


"Terus kondisi kamu sekarang gimana Sul ?"


"Hmm kondisiku waktu itu bonyok semua pak, tapi tinggal kakiku sebelah kanan yang terkena cedera ACL" Jelasku.


"Kira-kira kejadiannya jam berapa Sul ?"


"Kurang lebih pukul 8 malam pak, iya ga sih ? Aku lupa guys.


Mendengar percakapan dengan rektor. Panca, Joko dan Dira kompak menjawab "Iya pak, kejadiannya jam 8 malam ketika selesai mata kuliah Professor Bambang"


"Baik kalau begitu, saya sebagai rektor Universitas ini akan mengobati cedera kamu sampai sembuh, terima kasih yang sudah membongkar kejahatan yang di dalangi oleh Willie ya. Sampaikan juga terima kasih banyak kepada Panca, Joko, Dira dan May ada sedikit rezeki dari pihak kampus ya nak Samsul" Terangnya.


"Baik Pak, terima kasih banyak" Ucapku di telpon.


Akhirnya percakapan antara Aku dan Pak Rektor selesai dilakukan, aku mengembalikan handphonenya Panca kepada Panca.


"Ca, thank you ya"


"Lho kok aku Sul ? Yang pertama kali mengungkap kasus pertama kali kan kamu Sul. Kenapa aku ?"


"Bukannya aku ya Sul ? Kalau bukan aku yang ikut genk Willie kamu gaakan kaya begini"


Dira yang kesal melihat kami bertiga debat akhirnya menengahi kami bertiga.


"Hadeh kalian selalu saja ya berdebat, kita semua berpengaruh. Syukuri saja rezeki kita dan May" Ujarnya.


"Nah benar apa yang dikata Dira, jangan ada pihak klaim yang berjasa salah satu pihak" Kak Siti menengahi perdebatan kita.


"Betul itu apa kata Dira, kalian anak-anak hebat, sebagai ketua BEM mengacungkan jari kaka untuk kalian deh. Maaf ya kalian ketika penyerangan kaka telat" Kaka tingkat mengajukan permohonan maaf kepada kami.


"Gapapa kak, kalau ga ada kaka juga mungkin nyawaku sudah melayang dihajar oleh preman itu kak. Terima kasih banyak ya kak" Ujarku.


"Sama-sama Sul, Ca, Jok, Dir. Usaha team yang sangat bagus" Pujinya kepada kami berempat"