
Setelah berjalan kurang lebih 15 menit akhirnya Joko, Siti, Toya beserta rektor tiba ke ruang aula.
Sesampainya disana para pendemo mencemooh Joko "Alah, ini toh saksinya ? Bisa apa dia hah ?"
"Benar sekali, dia bisa apa sih ? Dia siapa ? Dia cuma anak ingusan malah di percaya sama kampus ini" Olok salah seorang pendemo.
Dengan santainya Rektor itu membalas perkatan nyinyiran dari mereka.
"Jok, silahkan waktu kamu untuk menjelaskan semua detail kepada mereka"
"Siap Pak" Ujar Joko.
Joko lalu mulai untuk memberikan kesaksiannya.
"Sore bapak-bapak dan Ibu-Ibu, perkenalkan saya Joko. Saya adalah mahasiswa baru tahun ke dua saya berkuliah di kampus ini." Izinnya dengan sopan.
"Pada hari senin, tiga minggu yang lalu aku di ajak oleh Tono. Dia yang membujuk aku untuk mengikuti genknya Kak Willie dengan di iming-imingi kekayaan" Terus Terangnya.
Mendengar perkataan Joko membuat orang tua Tono meradang, mereka pun dengan emosinya berkata "Heh nak muda, jangan fitnah anak saya !!! Anak saya tidak seperti itu !!!"
Dengan tenangnya Joko pun membalas perkataan orang tua Tono "Anda yakin pak? Dia memang menjebak saya kok"
Dengan caci maki, hujatan dengan kata kata yang tidak baik, orang tua Tono menjawab "Heh, mana buktinya !!!!"
Akhirnya Joko memberikan sebuah rekaman berupa flashdisk yang ternyata sudah sengaja di persiapkan olehnya kepada asisten rektor.
Asisten Rektor itu lalu mengambil sebuah flashdisk, setelah itu memutar rekaman video yang ada di file tersebut.
Saat memutarkan video tersebut, sontak saja seisi ruangan tersebut terkejut.
"Alamak, ternyata benar Tono yang mengajak anak ini, sialan kau ya Tono !!!!" Hardik orang tua murid yang lain kepada orang tua Tono.
Suasana di ruang aula menjadi tidak kondusif, aula yang awalnya hening menjadi saling menyalahkan satu sama lain.
Joko tertawa kecil melihatnya, lalu ia meneruskan perkataannya "Saya masih punya rekaman yang lainnya lho, mau lihat ?" Goda Joko.
"Mauu" sahut mereka.
Lalu Joko meminta untuk menyudahi rekaman yang pertama, lalu dia meminta asisten rektor untuk memutarkan video yang berisi tentang pemukulan Samsul di lantai empat dekat lift.
"Kak, saya minta tolong untuk putarkan video lift lantai 4 kak" Pinta Joko.
"Baik Jok" Ucap asisten rektor
Dan video itu pun di putar, lagi-lagi membuat satu ruangan menjadi heboh, Joko menjelaskan kronologinya
"Jadi teman saya yang bernama Samsul, dia sekarang berada di rumah sakit. Dia terkena cedera ACL. Ini peristiwanya saat satu minggu setelah penggerebekan saat di kantin, dia sampai pingsan beberapa jam sampai tulang lehernya patah. Ayo sekarang tanggung jawab kalian yang merasa punya anak yang terekam di flashdisk saya !!!!" Tantangnya.
Semua orang pun kembali saling salah menyalahkan, hingga akhirnya orang tua dari Kak James namanya berdiri "Iya, yang di rekaman itu anak saya. Dan saya akan menanggung biaya yang di keluarkan untuk nak Samsul" Ucapnya.
Joko langsung gembira setelah mendengar dari orang tua James memberikan statement tersebut.
"Yang benar pak ? Tanya Joko kepada orang tua James.
"Iya nak, coba telpon dia"
Akhirnya Joko menelpon Samsul, beberapa saat kemudian Samsul mengangkat telponnya Joko.
"Gua di aula nih yang kemarin kita nginep karna abis di gebukin sama komplotan suruhan Willie"
"Oh oke, kenapa lu telpon gua Jok ?" Tanyaku.
"Jadi gini, lu di suruh rektor kampus untuk memberikan kesaksian tentang kondisi lu. Bis kan Sul ?" Tanyanya kepadaku.
"Oke, gua bisa Jok. Tolong ya Jok Video Call"
Akhirnya saluran telpon di gantikan oleh Video Call Whatsapp. Aku mulai memberikan kesaksianku kepada pendemo.
"Siang menjelang sore semuanya. Perkenalkan nama saya Samsul, saya adalah korban dari kebrutalan kalian. Saya di vonis menderita cedera ACL yang mana untuk penyembuhannya memakan waktu paling cepat 1 bulan."
Mereka yang di aula pun terdiam setelah aku menginformasikan kepada mereka.
Setelah lima belas menit pun berlalu mereka merasa bersalah ataupun pura-pura memasang muka memelas untuk aku memaafkan mereka.
"Samsul, maafkan kami semua ya yang ada di aula ini. Apalagi saya yang sudah terang-terangan membuat kamu cedera ACL dan teman kamu bonyok. Untuk itu sebagai tanda permintaan maaf jika saya ingin memberikan uang sebagai tanda kita damai dan mencabut laporan polisi" Ujar ayah Willie.
"Nah tuh benar Sul, kita damai aja ya" Usul lainnya.
Aku pun langsung menolak permintaan mereka
"Maaf ya pak, bu. Kalian sudah terlambat, aku sudah melaporkan kalian semua kepada pihak berwajib" Tolakku.
"Tapi nak, apakah kamu berani menggugat ayahnya Willie ? Ayahnya Willie pejabat daerah sini lho. Jangan macam-macam kamu !!!" Tantang Ayahnya Tono.
"Aku berani Om, siapa takut ?" Tantangku balik.
Dira, Panca pun menenangkan dan mencoba merayu diriku untuk mencabut laporanku
"Sul, lu gila apa ya ? Lu berani banget lawan anak pejabat. Kita ini cuma rakyat jelata men, jangan main-main lu Sul bahaya" Ucap Panca.
"Nah tuh bener apa yang di kata Panca, kita ini di mata mereka cuma remahan rengginang. Udah main aman aja kita" Rayu Dira.
Aku menolak keras usulan Dira dan Panca "Sayang, Ca. Gua berani karena gua benar itu yang pertama, yang kedua gua mau ini sebagai pelajaran dan efek jera juga"
Joko yang terhubung di video call itu turut membujuk untuk aku mencabut laporannya
"Sul, gua mohon. Lu jangan nekat kaya gini, lagi pula orang tua James juga mau memberi ganti rugi sampe lu sembuh" Pintanya dengan memelas.
Rektor juga turut membujukku "Samsul, anakku yang baik. Udah yuk cabut aja laporannya"
Aku yang bingung pun bertanya kepada Rektor "Kenapa pak ? Kok bapak minta di cabut ?" Tanyaku.
"Karena Bapak takut kampus ini di banned dari pusat sana nak, udah ya cabut aja laporannya. Bapak saja rencananya ingin mencabut laporannya kok"
Aku yang emosi pun membalas perkataan rektor "Apakah kampus ini mudah kalah dengan uang ?? Mana katanya kampus berintegritas ?? Lah kok malah kalah sama uang ?? Ayo lindungi mahasiswa yang tertindas pak !!!! Pokoknya saya tidak rela untuk damai untuk manusia seperti mereka !!!!" Ucapku dengan kesal.
Rektor itu pun terdiam, semua orang yang ada di aula itu pun terdiam setelah aku marah-marah.
Aku meneruskan perkataanku "Pak, bu. Aku melakukan hal ini supaya ada efek jera. Coba kalian renungkan ketika anak kalian diperlakukan seperti yang aku rasa ? Aku ga bisa jalan lho, aku susah untuk kembali ke kampus, aku ingin belajar hikss teganya kalian !!!" Ucapku dengan sedih.
Semua orang yang berada di aula ini pun menangis, menyesali keputusan mereka untuk menghakimi aku secara membabi buta hanya demi memperlakukan anaknya yang jelas- jelas bersalah.