
Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, sang ketua BEM kampus Universitas Gajah Duduk pun sampai di lantai 4. Dia langsung menghampiri May yang berdiri di samping pintu lift.
Dia langsung bertanya kepada May "Mana orang yang abis kena gebuk genknya Willie ?" tanya ketua BEM itu.
"Itu kak disana" Tunjuk May ke arah Samsul yang tergeletak pingsan di lantai.
"Ayo langsung bawa dia ke klinik kampus kita" ajak ketua BEM tersebut.
Akhirnya Samsul di bopong oleh ketua BEM, Panca dan Dira menuju ke klinik kampus, mereka membawa Samsul dengan sangat berhati-hati
Setelah sampai di klinik kampus, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa langsung me laporkan kepada dokter yang bertugas.
"Dokter, ini ada pasien. Tolong di tangani" Desak ketua BEM.
"Baik, silahkan kalian tunggu di luar klinik ini. Yang di dalam ruangan ini cukup tiga orang saja untuk menemani pasien yaa" ucap perawat itu.
Akhirnya Panca, May, Dira dan ketua BEM itu berdiskusi mengenai siapa yang akan menemani Samsul di klinik itu.
"Siapa yang mau menjaga Samsul di sini ?" Tawar Panca
"Karena gua cewenya Samsul, gua yg menjaga dia"
"Hmm, ya sudah kalau begitu. Siapa selanjutnya ?" Tawar Panca selanjutnya.
"Hmm menurut kalian nih. Apakah kalian setuju untuk gua yg temani Samsul ? karena ya secara dia itu temen gua.
Dira, May itu berteriak "Setuju....."
Mendengar mereka berteriak, Panca langsung mendiamkan mereka berdua "Hussssstt.. Buset dah kalian berisik amat sih ?"
May dan Dira tersipu malu setelah di tegur oleh Panca "Hehehe sory Ca"
"Tau nih para ciwi-ciwi emang suka gitu berisik hehehe" Canda ketua BEM itu.
Setelah melakukan diskusi bersama, mereka keluar dari dalam kinik tersebut.
Ketua BEM Universitas Gajah Duduk itu meminta kepada kami bertiga untuk menceritakan kronologi Samsul di pukul.
"Gua mau tahu tentang kronologi Samsul di pukul oleh genk Willie, ada yang mau cerita ?" Desak ketua BEM.
"Aku kak" Kata Panca.
"Oke sip, tolong di ceritain ya Ca"
Akhirnya Panca mulai menceritakan kepada sang ketua BEM.
Sementara itu di dalam ruang klinik Samsul mulai membuka matanya setelah tiga jam, dia pun mengerang kesakitan.
"Arghh sakit" Teriakku.
Aku pun perlahan mulai menyadari kalau aku berada di sebuah klinik. Setelah itu aku bertanya kepada Suster klinik kampus. "Sus, ini aku ada dimana ?"
"Kamu berada di klinik kampus, kamu di bawa oleh temanmu, pacarmu dan ketua BEM kampus ini " Sahutnya.
"Pacarku ? Maksud suster Dira ? Dira....." ucapku sambil mencoba berdiri
Sang perawat itu mencegah Samsul untuk bangkit dari tempat tidurnya "Jangan berdiri dulu ya, kondisi kamu belum stabil"
"Boleh panggil pacarku tidak sus ?" Tanyaku.
"Boleh kok, tunggu sebentar ya"
Akhirnya sang perawat keluar dari ruang pemeriksaan dan menuju ke luar klinik.
Sesampainya di depan pintu klinik, perawat itu berkata "Yang bernama Dira saya persilahkan masuk"
Dira bertanya kepada perawat itu "Apakah cowokku sudah sadar ?
Perawat itu menjawab "Sudah tetapi kondisinya masih lemah, sepertinya dia kena patah tulang lehernya deh"
Mendengar perkataan dari sang perawat membuat Dira sedih dan pembicaraan dengan perawat itu dilanjutkan dengan Panca.
Panca bertanya kepada perawat itu "Sus, ini beneran teman saya sampai segitunya ?"
"Iya saya serius, ketika saya memegang lehernya ada sedikit retak lehernya yang menyebabkan untuk sementara dia tidak boleh menengok ke arah belakang" ujar perawat itu.
"Kira-kira berapa lama ya dia akan sembuh ?" Tanya Panca.
"Mungkin 2 minggu sampai 1 bulan dia sudah sembuh tetapi harus di kontrol setiap minggunya" Ucap perawat itu
"Memang lama, untungnya kalian cepat bawa dia kalau tidak di akan menerima konsekuensi fatal lho" Tegas perawat tersebut.
Sementara itu Dira yang ditemani oleh May langsung masuk ke ruang pemeriksaan sambil berlari. Sesampainya di ruang pemeriksaan Dira langsung berpelukan dengan Samsul dan menangis se jadi-jadinya"
"Sayang, hiks.... Aku khawatir banget sama kamu, kamu gapapa kan sayang ? Kok bisa sih kamu di hantam sama gerombolan bangsat itu ?"
Aku pun tersenyum melihat rengekan manja dari Dira "Hey kok kamu nangis ? Udah aku gapapa kok"
"Ihh kok kamu bilang begitu, au ah aku bete sama kamu" Rengek Dira.
Aku tersenyum melihat Dira yang manja, ku peluk tubuhnya lalu ku elus rambutnya dan ku cium pula pipinya yang membuat Dira berhenti menangis.
Aku bilang ke Dira "Tenang aja ya sayang, selagi ada aku. Kamu dijamin bakal aman denganku"
Mendengar perkataan dan perlakuan lembut dari lakinya membuat Dira terenyuh.
"Tapi sayang, kamu tidak perlu memperlakukanku seperti ini. Aku ga mau kamu kenapa-kenapa" ujarnya
"Husst" Aku mendiamkannya.
Aku pun melanjuti perkataanku "Sayang, aku begini karena aku sangat sayang ke kamu. Aku rela seperti ini untuk memastikan kamu tidak apa-apa"
May yang berdiri di ujung tempat tidur celetuk berbicara kepada Dira "Tuh Dir, jangan buat kecewa Samsul. Dia berkorban buat lu, lu harus tulus sama Samsul yak"
"Iya May, gua bakal setia sama cowo gua dan gua juga mau berkorban hal yang sama seperti halnya cowo gua berkorban ke gua.
Aku yang bergeletak di kasur perawatan itu mencoba membangunkan diriku tapi langsung di cegah oleh cewekku "Hey sayang, jangan begitu. Kamu masih lemah sayang. Dah ya km rebahkan diri kamu aja" Larang Dira.
"Hmm, okelah kalau begitu" Gumamku
Aku pun bertanya kepada Dira "Sayang"
Ia menjawab "iya ada apa sayang ?"
"Mau tanya, itu yang berdiri di ujung ranjangku ini siapa ya ? Kok akrab banget denganmu sayang ?"
"Oh ini, kenalkan nama dia May, dia kebetulan sahabatku dari kelas sebelah sayang" ucapnya
"Oh gitu, salam kenal gua Samsul"
"Salam kenal juga, gua May, gua dari fakultas hukum 2, kebetulan di mata kuliah Professor kita sekelas lho Sul"
"Oh ya ? Gua ga inget apa - apa lho, bentar gua ingat-ingat dulu"
Dira langsung membentakku "Sayang ihhh, jangan inget- inget dulu. Kamu tuh masih lemah sayang ihh !!!" Bentak Dira
"Kok kamu marahi aku sayang ?" Ngambekku.
"Ya abisnya kamu kaya gitu uhh, aku tuh khawatir sama kamu sayang" ucap Dira.
"Iya deh iya, maafin aku sayang" Ucapku
"Iya sayang gapapa, lain kali jangan terlalu keras dalam berfikir ya sayang. Love you" Ucap Dira.
Setelah Dira dan May masuk ke dalam ruangan, kini Panca dan kak ketua BEM memasuki ruangan pemeriksaan di klinik kampua itu.
Sesampainya di ruangan pemeriksaan, Panca bertanya kepadaku
"Bro, gimana kabar lu ?
"Masih rada sakit sih, apalagi di leher gua. Emang kenapa sih Ca ?" Tanyaku.
"Tulang leher lu patah Sul, kata perawatnya lu harus absen selama 1 bulan kuliah.
"Apa ??? Lu ga salah omong kan Ca ? Gua ga mau bolos kuliah !!!!" Teriak Panca.
"Iya gua ga bohong Sul, lu harus di rawat di rumah sakit." Ujarnya.
"Gua ga mau Ca, Gua ga mau !!!" Emosi ku semakin memuncak
"Duh guys, ini gimana ? Tanya Panca.
"Ya sudah kita berfikir nanti aja, sekarang biarkan Samsul menenangkan dirinya dulu" Ucap Ketua BEM.
"Hmm, ya sudah. Ok" ucap Panca