
Setelah berkejar-kejaran dengan kelompok Joko akhirnya aku, Dira dan Panca sampai di depan pintu ruang kelas dan langsung masuk duduk di kursi kami masing-masing.
Kami lalu melihat jam dinding, jam itu menandakan pukul 2.40 siang. Waktu yang cukup panjang untuk kembali kami mengobrol.
"Gokil amat lu Sul, lu nekat banget asli dah" Ucap Panca.
"Bener banget kata Panca, kamu kok berani banget sayang nekat kaya gitu. Kata orang se universitas ini itu kaka tingkat yang gondrong kita mantan copet di terminal daerah sini tau"
"Maksud kamu Kak Willie sayang ?" Tanyaku dengan heran.
"Bukan sayang, itu lho yang kerempeng" ucapnya.
"Oh itu, ya udahlah paling dia ga tau aku siapa hehehe" ucapku seolah meremehkan.
"Sayang ihh, kok kamu gitu ? Jangan meremehkan gitu sayang, nanti kamu di ajak berduel dengan dia gimana ? Aku kan ga mau kamu kenapa-kenapa" Khawatirnya.
"Tenang sayang, aku gapapa kok" Aku yang menenangkan Dira.
"Oke sip, gua cuma jadi nyamuk buat lu berdua Sul, Dir hehehe" Canda Panca.
Aku dan Dira dibuat salah tingkah setelah Panca berkata demikian.
"Hehehe sorry, kita ga liat lu soalnya" Ucap kami berdua.
Setelah bercanda di antara kami bertiga, tiba-tiba seorang masuk ke dalam ruangan kelas yang kami tempati. Salah seorang dengan perawakan buncit, berambut putih namun berpenampilan stylist.
Pria itu duduk di kursinya dan langsung mulai bicaranya.
"Selamat sore anak-anak" Sapanya.
"Sore pak" ucap seisi ruangan kelasku.
"Apakah semua sudah berada di kelas ini ?" Tanyanya.
"O iya siapa ya yang menjadi ketua kelas di ruang kelas ?
Aku yang mendengar pertanyaan sang professor itu mengacungkan jariku "Saya pak ketua kelas ini" ujarku.
"Oh gitu, kamu silahkan kesini ya" ujar sang professor itu.
Akhirnya aku ke meja dosen untuk mematuhinya, sesampainya aku disana sang professor itu berkata "Nama kamu siapa nak ?"
"Namaku Samsul pak" ucapku dengan ramah.
"Oh begitu, o iya Sul. Siapa yang belum masuk ke ruang kelas ini ?"
"Hmm, mungkin si Joko pak" Gumamku.
"Boleh di panggil dianya ?"
"Boleh kok, sebentar saya suruh wakil ketua kelas dahulu ya pak" Izinku.
"Silahkan nak." Dosen itu mempersilahkanku.
Akhirnya aku kembali ke tempat dudukku lalu aku menyuruh Dira untuk chat Joko. "Sayang, tolong chat si banteng ?" Bisikku.
"Hah, maksudnya kamu si Joko sayang ?" Ucapnya dengan keras sehingga seisi ruang kelas terkejut.
Dira yang menyadari bahwa suaranya yang begitu keras itu pun wajahnya memerah, akhirnya dia pun meminta maaf kepada teman-temannya dan juga kepada dosennya.
"Maafkan saya ya pak dan kawan- kawan juga" ucapnya.
Sang dosen itu tersenyum ke arah Dira dan mengucap "Gapapa nak"
Akhirnya Dira mengetik pesan kepada Joko, ia pun berkata "Woy teng, sini lu masuk kelas, udah ada dosen nih."
Beberapa menit kemudian Joko membalas pesan dari Dira dengan bahasa yg sedikit kasar "Woy jing, rese banget sih lu ? Mau gua sentuh lu hah ?"
Melihat balasan pesan yang di terima oleh Dira membuat Dira mengeluarkan air mata.
Aku yang melihat perempuanku yang menangis langsung ku peluk dan bertanya kepada dia sambil berbisik.
"Sayang, kamu kenapa ? Kok nangis ?"
Dira bungkam seribu bahasa dan menyerahkan hpnya kepadaku.
Aku mengambil hpnya dari tangan dia, ku baca pesan dan ternyata isinya sangat mengejutkan dan sangat menyakitkan hati.
Aku pun langsung tak terima dan langsung meminta izin kepada dosenku "Pak, izin ke kamar mandi ya pak"
"Silahkan nak" ucap dosen itu.
Setelah meminta izin kepada dosen, aku memanggil Panca. "Ca, lu ikut gua sini dan bawa hp nya Dira"
"Oke Sul, otw"
Akhirnya Panca juga meminta izin kepada dosen itu "Pak mohon izin juga ya pak"
Dosen itu bertanya kepada Panca "Mau kemana nak ?"
"Oh ya sudah, ati-ati di jalan" ujarnya
Akhirnya Panca keluar dari ruang kelas dan menghampiriku di kamar mandi.
Sedangkan itu suasana ruang kelas menjadi tegang, salah seorang teman di ruang kelas ku yang bernama May itu bertanya kepada Dira yang sedang bersedih itu
"Dir, lu kenapa ? Kok nangis ?"
"Aku sedih abis di kata- katain oleh Joko May" ujarnya yang terisak.
"Di kata-katainnya gimana ?"
Saat May sedang bertanya sang dosen menghampiri Dira yang sedang sedih, ia menyimak percakapan antara May dan Dira.
Dira menjawab pertanyaan May "Gua di kata-katain sama Joko dengan kalimat anjing dan dia juga mengancam gua kalau gua bakal di perkosa sama dia. Mangkanya gua shock banget sama dia sampai gua nangis begini"
"Wah kacau banget Joko jir, pantesan lu nangis. Emang bangsat dia tuh" Murka May.
Pak Dosen itu bertanya "Mohon maaf, Joko itu siapa ? Apakah kalian berdua mengenal dia ?"
May menjawab "Dia itu teman sekelas ini pak"
May memeluk Dira dan menenangkan Dira "Dah ga usah takut. Ada gua, cowo lu si Samsul, bestie lu si Panca, kita selalu ada buat lu."
"Atau tidak kamu bisa melaporkan ke pihak berwajib dengan pasal percobaan perkosaan dan penganiayaan" ujar sang dosen itu.
Akhirnya Dira berhenti menangis dan hatinya lega setelah mendapat penjelasan dari sang dosen itu.
Setelah 30 menit berlalu dan kondisi di ruang kelas kembali kondusif akhirnya Pak Dosen mulai memberikan penjelasan.
Dira terus di peluk oleh May dan mata kuliah pun dimulai.
Setelah 1,5 jam berlalu Dira khawatir dengan cowonya dan Panca karena mereka belum kembali ke ruang kelas. Sambil mendengar penjelasan dari sang dosen tersebut.
Dira mengetik pesan ke nomor Samsul namun tidak membalas.
Sementara itu Panca dan Samsul sedang mencari dimana posisi Joko dan kawan-kawan.
Saat mereka sedang mencari keberadaan Joko tiba-tiba Samsul merasakan ada sebuah benda panjang yang mengenai lehernya dan ia mengerang kesakitan.
"Arrrghhhh" teriak Samsul hingga dirinya jatuh pingsan.
Panca panik setelah Samsul pingsan lalu dia mengabarkan Dira melalui handphone Samsul.
"Dira !!! lu cepet kesini dah. Gua ama Samsul ada di deket lift lantai 4" ketik Panca.
Sementara itu Dira dan May masih memperhatikan dosen itu berbicara. Tiba-tiba notifikasi handphone May berdering.
"Kringggg...."
May pun mengecek notifikasi hpnya, setelah beberapa saat kemudian terdapat notif dari Samsul dan langsung saja membuka aplikasi Whastapp
"Napa Sul ?" Lu kemana aja woy ? Gila sih Dira khawatir banget ama lu Sul" ketik May.
Panca membalas pesan yang dikirimkan oleh May "Lu siapa ? Dira kemana ?" Ketiknya.
"Gua May bestienya sih Dira. Lu siapa ?" balas May
"Gua Panca temennya Samsul May, si Samsul pingsan nih" balas Panca.
"Ya udah tolong sampaikan ke Dira ya May suruh dia ke depan lift kampus lantai 4" lanjut Panca.
"Oke Ca, abis mata kuliah Prof gua sama Dira kesana ya."
"Oke May ditunggu"
Setelah berkomunikasi dengan Panca, Dira bertanya kepada May tentang dimana Samsul dan Panca.
"May, cowo gua dimana ? Kok belum sampai sih ?"
May menghela nafas dan bicaranya dengan terbata-bata "Ga, ga, ga, gapapa kok Dir, Samsul gapapa.
Dira emosi melihat sahabatnya menyembunyikan sesuatu darinya "Lu bohong May, gua tau lu lagi menutupi sesuatu"
"Hmm, lu yakin sanggup lu menerimanya kalau gua sampaikan berita tentang cowo lu ke lu ?" Gumamnya.
"Iya gua sanggup, cepet bilang apa ?" Desak Dira.
"Cowo lu pingsan Dir. Maafin gua ya Dir gua sembunyiin ini dari lu"
"Lu kenapa bohongin gua May ? Yaudah sekarang dia ada di mana ?"
"Kata Panca sih ada di depan lift lantai 4 Dir" jawab May.
"Oke abis mata kuliah ini kita langsung ke depan lift ya May" bujuk Dira.
"Oke Dir" Sahut May