ARsaka

ARsaka
kelakuan Arya



"apaan sih ganggu aja, sana bikin martabak lagi" ujar Arya kesal karena terganggu


"Ganggu kesenangan orang aja"gumamnya lagi menatap punggung Abang martabak dengan sinis


Arya mulai berpikir kembali bagaimana cara kabur dari tiga sahabat nya itu, yang emosian. apalagi si Arwin gak tau harus gimana. Tapi yang paling Arya takutkan adalah Arsa bisa bisa ia di keluarkan atau di usir di rumah nya. Tapi kayanya engga deh karna ada Tante dan om, alias orang tua Arsa. Bodo amat mereka kesal, gantian laah.


Netranya menangkap spanduk yang bertuliskan Martabam mang oleng. Oooh pantas saja orang nya seperti itu, namanya juga oleng, ya... Mungkin otaknya agak oleng juga alias miring. Sumpah bikin kesel tuh si Abang nya pengen rasanya Arya menabok mulut yang banyak bicara itu. Andaikan bisa, sudah Arya lakukan


"Kamu ngomongin saya yah. Jangan asal, nama oleng itu bukan orangnya tapi pembelinya. Yang modelnya kaya kamu" ujar Abang matrabak membuat Arya terkelonjak kaget, mengelus dadanya dengan kesal menatap Abang martabak


"Bisa diem gak sih lu. Gatel gue dengernya, bikin emosi" kesal Arya berlalu pergi dari sana keluar. Kalau di dalam terus bisa bisa ia ribut dengan Abang tukang martabak.


Andai saja kalo dia tak kalah taruhan Arya pasti tidak mau, terlalu malas.


Emang di Arga banyak omong doang, laga nya pengen keluar sudah di luar gak mau beli apa apa. Alasannya malas turun dari motor. Jangan tanya Arsa dan Arwin pasti mereka langsung menolak. Apalagi Arsa yang mengaku tak pernah membeli makanan jalanan. Emang si Arsa bikin kesal bawaannya pengen menampol mulut nya. Baru tau rasa.


Arya menghirup udara yang dingin saat masuk kedalam hidung karna cuaca malam ini agak mendung walau sebenarnya tak kelihatan.


Menoleh ke arah dua gadis membuatnya sakit hati dengan perkataan keduanya simpel tapi menusuk.


"Apa liat liat. Mau gue colok" galak Rara melotot ke arah Arya yang menatap nya dan Aisy. Aisy menoleh sebentar kemudian menunduk kembali.


"Pede gila Lo, sayang nya gue liat bangku yang Lo dudukin, ternyata cantik ya" sahut Arya mengelak


"Emang gue udah cantik dari lahir. Baru tau ya Lo" balas Rara kepedean, membuat Arya mendengus


"Gue gak salah denger. Cantik?? Dari mananya?"


Rara mengibaskan rambut hitamnya, menatap sinis kepada Arya. Rasanya ia ingin mencekik Arya.


Aisy menghela napas panjang, memegang punggung Rara dan mengusapnya. Guna meredakan emosi Rara.


Rara menoleh ia tau Aisy sekarang sedang berisyarat supaya ia tak terbawa emosi. Mengehela napas panjang berulang kali dan te senyuman.


"Sungguh mulut kamu seperti mulut ibu ibu belanja di warung. Banyak omong" ujar Aisy membuat Arya bungkam dan pergi masuk kedalam


"Bang udah belum, lama banget dah. Cape gue" keluh Arya berdiri di samping Abang martabak yang sibuk memotong Martabak


"Ini juga udah, bentar lagi. marah marah aja dari tadi. lagu pms ya"


######


"ayo jemput Arya" ajak Arga langsung bersiap memakai jaket


"buat apa??, nanti juga balik" sahut Arwin yang sedari tadi diam bermain PS bersama Arsa. si Arsa gak kapok kapok emang udah kalah berapa kali juga, dia baru memenagkan dua kali sudah seneng bukan kepalang


setelah keluar tadi ketiganya langsung balik kerumah Arsa lagi dan menyuruh Arya membeli martabak karna dia kalah taruhan, jadi dia yang membeli. walau dengan perasaan dongkol, itu salah dia yang salah kenapa juga kalah.


"Lo tau kan waktu itu Arya pernah kaya gini, pas di gebukin Wolfgang dan kita gak percaya sama dia. sementara Arya selalu percaya sama kita walau kita selalu bikin dia kesal. gimana sih Lo jadi taman gak solid, gue pergi sekarang. kalo kalian mau tetap di sini terserah, kalo terjadi apa apa sama Arya itu salah kita semua" ujar Arga langsung melenggang pergi


sedangkan Arsa dan Arwin terdiam sesaat.kemudian ngibrit mengejar Arga sambil memakai jaket nya.


"kalian mau kemana lagi??" tanya mamah Arsa yang membawa nampan berisi akan cemilan dan minuman


"mau jemput Arya mah" jawab Arsa berteriak melewati sang mamah hendak menaiki tangga


"kenapa Arya??" tanya asri nama mamah Arsa lagi dengan berteriak


"sakit hati" gumam asri, kemudian menggeleng dan melanjutkan jalanya kembali, ia hendak kekamar Arsa menaruh cemilan di sana.


*


*


*


*


*


tiga orang turun dari motornya masing masing tepat di pinggir mobil Rara. kebetulan Rara dan Aisy menunggu di sana tepatnya di kursi kayu, melirik sebentar kemudian pokus kembali pada hp nya masing masing.


Arsa, Arwin dan Arga berlari kedalam kedai setelah membuka helm nya, sumpah sekarang mereka panik.


semetara Arya tersenyum jahil saat telinganya mendengar suara motor khas milik temannya itu. ia tak sabar melihat wajah panik ketiga teman laknat nya itu.


"Pong Lo gak papa??" tanya Arga panik dengan napas ngos ngosan, di ikuti Arsa dan Arwin di belakangnya


Arya menggeleng kepala. ia mulai aktingnya sekarang. memasang wajah sedih sesedih mungkin dan tak boleh berbicara satu katapun.


"Lo di jahatin Wira lagi??" Arya menggeleng lagi


"terus Lo kenapa??" kesal Arsa dengan bertulak pinggang. sementara Arwin diam saja menatap Arya, ia mulai merasakan akan ada sesuatu yang akan menguras emosi nya nanti.


Abang martabak menoleh melihat ketiga anak muda yang baru datang itu dengan heran, karna Arya di tanya tanya oleh mereka. sepertinya mereka mengkhawatirkan dia. kemudian pokus kembali membuat martabak.


"katanya Lo sakit hati, sama siapa??" tanya Arga kembali ia mulai duduk di pinggir Arya,


"bang martabak nya udah belum. lama amat, temen gue juga udah pada Dateng nih" teriak Arya menghiraukan pertanyaan Arga.


"iya bentar gak sabaran amat, dari tadi teriak teriak Mulu!"


...*********...


"kata gue apa? gak denger sih Lo!"


"yeh dia kaya beneran banget sih" sahut Arga dengan napas memburu habis menggebuki Arya dengan bantal, mentap Arsa yang masih mengamuk di atas kasur. sementara Arya terus meminta tolong dan tertawa


"rasain Lo, gue kesel kesel kesel hah hah hah" teriak Arsa masih dengan posisinya, menaiki badan Arya di bawah selimut


"Ampun! ampun, maaf deh. janji gak lakuin lagi" ucap Arya sambil keluar dari selimut dan berlari,


"kejar dia, kita hajar malam ini sama sama" perintahnya pada dua sejoli yang memakan martabak, Arwin dan Arga mengangguk menghabiskan potongan martabak di tanganya dan mengejar Arya yang berlari mencari persembunyian


terjadilah kejar kejaran seperti tom end Jerry, bedanya di sini ada tiga kucing dan satu tikus. siap memecahkan isi rumah.


BRAKKK


PRAAAANG


DUGH


"ARSAKA BISA DIAM GAK, MAMAH SAMA PAPAH GAK BISA TIDUR!!"