
Aisy yang hendak masuk ke kelas, langsung menyingkir saat Arsa hendak keluar dan berhenti di ambang pintu, menyenderkan tubuhnya mengangkat satu kakinya. Menatap Aisy yang menunduk di depanya dengan jarak lima langkah
Kemudian Arsa bertanya "Lo telat"
Aisy menggeleng
"Terus kenapa di luar" tanya nya lagi
"saya mau masuk"ujar Aisy
" Tinggal masuk aja, masih muat kok" Arsa melihat jalan yang masih lebar. Aisy menggelang
"Kenapa??" Aisy diam tak menjawab
"Lo kenapa sih, gue bingung Sama Lo" tukas Arsa blak blakan
Aisy mengerutkan, maksud dari perkataan Arsa apa? Aisy tak mengerti.
"Kamu yang kenapa?" Tanya Aisy balik masih dengan posisinya
"Gue gak kenapa-kenapa. Mungkin Lo yang kenapa Napa?"
Aisy makin tak mengerti sekarang. Pria di depanya bicara apa sih
Aisy memilih berbalik berjalan dua langkah, menyenderkan tubuhnya ke koridor menatap hujan. Berbicara dengan Arsa Memeng tak ada habisnya
Arsa mengerutkan kening, mata coklat nya menatap gadis berhijab itu dengan heran. Ia tak habis pikir dengan setiap tingkah gadis bernama Aisy itu.
"Lo kenapa sih?" Lagi lagi Arsa melontarkan pertanyaan yang sama. Ia merasa heran saja, sudah dua Minggu ini gadis bernama Aisy itu terus menghindarinya. Entah kenapa?? Dan anehnya dirinya malah semakin ingin mendekati Aisy, sungguh Arsa tidak tau.
Dulu ia sangat penasaran dengan Aisy, jadi ia memutuskan untuk mengejar nya dan mendapatkan nya, seperti gadis lainya. Tapi percayalah sungguh susah mendekati gadis berhijab satu ini, sekedar mengobrol pun susah nya minta ampun.
Aisy menghembuskan napas, jujur ia tak mengerti apa yang di maksud pertanyaan pria yang akhir-akhir ini terus mendekatinya.
"Maksud kamu apa sih!? saya gak ngerti dari tadi tanyain itu Mulu" kesal Aisy dia sudah merasa jengah pada Arsa
Arsa mengangguk ngangguk kemudian, menggantung baju di tangan kursi di depan kelas.
Berjalan dua langkah mendekati Aisy. Aisy belum menyadarinya dari tadi ia membuang mukanya melihat koridor yang tampak sepi.
"Kenapa Lo selalu jauhi gue?" Tanya Arsa dengan serius, ia juga tak tau kenapa menjadi seserius seperti ini. Bisanya ia tak seperti ini kalau mendekati gadis gadis lainya. Ya hanya pada Aisy ingat hanya pada Aisy.
"Memang harus seperti itu bukan. Kita tidak saling mengenal, untuk apa deketin kamu?" Sahut Aisy dengan helaan napas nya, jujur ia mulai merasa dingin, apalagi angin bertiup kencang.
"Kalo gitu ayo kita saling mengenal"
Aisy menggeleng tak percaya dengan jawaban pria yang bernama Arsaka ini. Dia melirik sekilas Arsa yang tampak mengepalkan tangannya. Mungkin dia kedinginan, mengingat tadi Arsa hujan hujanan. Aisy tak berani melirik wajah nya, jujur Aisy Takut. Bukan karna takut terpesona tapi dosa, karna telah melakukan zina mata.
"Aku duluan, permisi assalamualaikum" Aisy pergi melenggang begitu saja masuk kedalam, meninggalkan Arsa yang mentap kepergiannya dengan tatapan sulit di artikan berbarengan dengan helaan napas
Bel istirahat telah berbunyi, semua penguni kelas berbondong bondong menuju tempat pengisian perut, apalagi kalo bukan_ kantin.
Si kutukupret Arya pun sudah menunggu tiga sahabatnya dari tadi di koridor depan kelas IPA 1 yang masih ada guru di dalam nya.
"Siang Bu, gimana kabar nya?" Tanya Arya basa basi saat Bu Riri guru yang paling cantik dan dingin keluar. dia salah satu guru killer
Bu Riri menoleh, dia agak terkejut sedikit, tapi masih bisa mengontrol mimik wajahnya "siang, saya baik" jawab nya dengan nada dingin seperti biasa
"Bu mau kemana??" Tanya Arya lagi
" Ke kantor, mau ikut?" tawar Bu Riri, dia sudah tau akal akalan anak murid nya satu ini, malah Riri sudah hapal semua akal akalan anak murid untuk mendekati nya
Tentu saja Arya menolak, mana mau dia ikut keruang BK. Guru cantik di depannya ini adalah salah satu guru BK
"E-engga Bu makasih hehehe. Ibu sana duluan aja"
"Kamu ngusir saya??" Tukas Bu Riri menatap Arya dengan menyipit
Arya kelabakan, tersindir sedikit saja mampus dia. Guru cantik di depannya cukup sensitif dan galak.
Bu Riri menaikan satu alisnya dan memajukan bibir bawahnya "kamu nyogok saya?"
Sekarang Arya tambah pusing di buat nya, guru satu ini sungguh peka. "Bukan gitu Bu, tawaran tadi emang bener tulus dari hati saya" elak Arya sambil menggaruk tengkuknya tak gatal, ia bingung mau bilang apa lagi
"misi Bu" ucap anak anak santun supaya guru Riri segera keluar dari pintu. Bu guru itu menolak kemudian mengangguk dan menyingkirkan diri, lalu pergi melenggang begitu saja.
Sontak saja Arya menghela napas lega, mengusap dadanya yang dari tadi berdebar karna guru cantik itu
Siang ini, tepat jam istirahat kedua. Ketiga orang berwajah tampan berjalan di koridor menuju kantin dengan mulut tak diam
"gila Lo berani banget sama Bu Riri" salut Arga sambil merangkul pundak Arya
"Gue gitu loh" balas Arya dengan suara di tahan di tenggorokan dan wajah mengesalkan
Plakkk
Arwin menampar wajah mengesalkan Arya
"Widiw sakit anjir" maki Arya memegang pipi bekas tamparan Arwin
"Bodo, lebih sakit mata gue liat muka Lo kek tadi" sadis Arwin di iringi tawa Arga ngakak
Arya mengelus dadanya, emang temanya satu ini diem, kalem sekali ngomong eh buset nyelekit sampai ke hati. Tapi sudah biasa bagi Arya, makanan sehari hari you know??
"Arsa mana sih, lama banget"
"Mana gue tau, palingan ke perpus"
"Kerjaannya cari ilmu Mulu, emang gak pecah apa tuh pala".
"Emang nya elo"sewot Arga tepat di telinga Arya. Arya mengusap telinga nya, ingat sudah biasa, Arya tak emosi Sama sekali
" yeeh gue mah jangan di tanya, emang udah dari sono nya___''
"Bodoh" potong Arga di iringi dengan tawa, sementara Arwin mendengus dengan menarik garis bibirnya sedikit
######
perpus
Setelah mengambil beberapa buku yang di butuhkan, Arsa mencari tempat duduk yang menurutnya nyaman. Netranya menangkap seorang yang entah kenapa membuatnya ingin tahu tentang dia.
Arsa berjalan kerah gadis itu, kebetulan sekali dia duduk di pojok, tepatnya tempat biasa ia membaca di sana. Duduk di sebelah gadis berhijab yang pokus membaca dengan bolpoin di tanganya siap mencatat
Sepertinya belum menyadari keberadaan Arsa. Arsa tersenyum melihat nya, membuka buku hendak membaca. Matanya melirik gadis di sampingnya lagi, rasanya tak bisa pokus membaca kalau dekat dengan Aisy. Ya gadis di samping Arsa adalah Aisy
Sudah satu bulan lalu Arsa mencoba mendekati Aisy, tapi Aisy selalu saja menjauh terkesan menghindar dari nya. bukan Arsa namanya kalau langsung menyerah, gimana pun Arsa harus mendapatkan Aisy bagaimana pun caranya.
Entah kenapa perasaan nya sekarang mulai berubah, dekat dengan Aisy jantungnya berdegup kencang, tak melihat Aisy sehari saja membuat nya ingin sekali melihatnya walau sebentar. Dulu berbeda ia memang merasa penasaran dengan Aisy, seperti terobsesi kepada Aisy, tak ada perasaan seperti sekarang. Arsa pun tak tau perasaan aneh seperti itu muncul
Jujur walaupun sering gonta-ganti pacar, Arsa tak merasakan debaran jantung nya. Pegangan tangan, rangkulan dan pelukan pun Arsa tak merasa deg degan dengan mantan pacarnya dulu, beda lagi dengan Aisy melihat wajahnya saja sudah deg degan padahal Aisy tak pernah menatap balik.
Bukanya membaca Arsa malah menatap Aisy dengan tangan menahan wajah nya, tak lupa bibirnya dari tadi senyum senyum tak jelas. Sepertinya Aisy juga belum menyadari adanya Arsa dia masih pokus membaca
"Cantik" ucap Arsa tak sadar
Aisy menoleh ke arah suara
"Astaghfirullah!"
Aisy sampai menjatuhkan buku yang di bacanya, dan menjauhkan diri hingga membuatnya terjatuh ke lantai bersamaan dengan kursi yang diduduki nya hingga terdengar bunyi cukup keras
Begitupun dengan Arsa dia juga terkejut, di tambah melihat Aisy di lantai sambil meringis. Arsa pastikan itu cukup sakit
Arsa membenarkan kursi, lalu mengulurkan tangannya hendak membantu Aisy. Tentu saja Aisy menolak memilih berdiri sendiri walau agak sulit, pantat dan pinggang terasa ngilu.