
"si Arsa Sama Aisy kok di suruh kekantor dulu ya"
Arwin mendelikan bahu nya, pertanda ia tak tau
Kedua pria itu berjalan di koridor menuju parkiran, yang masih ada siswa yang berlaku lalang melakukan aktivitas masing-masing
"Gimana malam jadi kan?"tanya Arga memastikan
"Iya" Arwin mengangguk
"Gue liat liat sekarang Lo jadi lebih pendiem. Kenapa?"
Tanya Arga penasaran, dia sudah memerhatikan tingkah Arwin selama sebulan ini. Tepat nya saat Arsaka masuk sekolah, sikap Arwin mulai berubah begitupun Arsa dia jarang sekali berkumpul saat di sekolah alias terlalu banyak menghilang entah kemana
"Cerita, jangan di Pendem" lanjutnya
Arwin menolah sekilas ke arah Arga. dan menghembuskan napas berat, mencoba memejamkan mata
"Makasih, ngerti in gue" Arwin menatap Arga di samping dengan menarik sudut bibirnya
Arga mendengus sebal, bukan jawaban seperti itu yang dia ingin kan. Namun Arga mencoba mengerti keadaan Arwin
Menepuk punggung Arwin tiga kali, dan merangkulnya
"Kalo udah siap, cerita" Arga tersenyum dan di balas anggukan oleh Arwin
Di parkiran
"Bentar" cegah Arwin menghentikan gerakan Arga yang hendak menaiki motor nya
"Kenapa??"
"Gue ada yang tertinggal di kelas, gue ambil dulu" Arwin langsung berlari menuju kelas
Meninggalkan Arga di parkiran dengan menatap nya heran. Sesudah mengambil barang yang tertinggal di kelas, arwin berlari kembali menuju parkiran. Langkahnya terhenti kala melihat dua orang yang di kenalnya, yang tak lain Arsa dan Aisy. Arsa berjalan mundur di depan Aisy, sementara Aisy terus berjalan seperti biasa menunduk
terlihat Arsa seperti mengobrol dengan Aisy, Arwin tak menyangka kedekatan Arsa dengan Aisy sudah sejauh itu.
Netranya terus mengawasi keduanya dengan bersembunyi di balik tembok dengan mengepalkan tangannya. Kemudian Aisy maju ke depan meninggalkan Arsa di belakangnya, yang menabrak tembok
Arwin melihat nya, langsung memejamkan mata dengan meringis
Saat membuka mata, Arwin melihat Aisy tersenyum manis. Sepertinya menertawakan Arsa. Ah tidak Arsa begitu mudah membuat Aisy tersenyum dan seperti nya Aisy nyaman dengan ke hadirnya
Keluar dari persembunyiannya saat Aisy sudah menghilang di balik tembok. Menghampiri Arsa yang masih duduk di lantai dengan terbengong
"Lo gak papa?" Arwin menepuk pundak Arsa
Dia mendongak dan berkata" sakit lah, bantu gue" sahut Arsa mengulurkan tangannya
Arwin menarik tangan Arsa, membantu Arsa berdiri
"Lo belum pulang?" Tanya Arsa sambil menepuk celana di bagian belakangnya yang terasa kotor
"Baru mau. Gue habis ngambil yang tertinggal di kelas"
Arsa mengangguk ngangguk paham "gue mau ke ruang guru dulu. Malam main kan?"
Arwin mengangguk "iya"
"Oke. Lo duluan aja, jangan tunggu gue takut lama" kata Arsa malai melangkah pergi, kemudian berbalik setelah mendengar perkataan arwin
"Pede Lo, siapa juga yang mau tunggu Lo" sahut Arwin, di sambut kekehan oleh Arsa sebelum melenggang pergi
*****
Pukul lima sore, Arsa dan Aisy baru keluar dari kantor guru. Selama sejam keduanya di beritahu kepala sekolah akan mengikuti lomba olimpiade Minggu depan dan di beri ceramah. Aisy dengan senang hati mendengarkan
Beda lagi dengan Arsa , dia terlihat kesal dan muak mendengar ceramah kepala sekolah. Ingin segera pulang. dan sekarang yang di tunggu-tunggu Arsa telah tiba yaitu pulang.
"Sy...?" Panggil Arsa
"iya?"
"Ekheem" Arsa berdehem tak tau kenapa, ia hanya sedikit gugup " gue antar balik ya?" Tawar Arsa
Aisy berhenti sejenak, Arsa pun ikut berhenti "kenapa?"tanya Arsa heran
"Gak papa" jawab Aisy melanjutkan kembali langkahnya
"Lo mau sy?"tanya Arsa tak percaya. Wajahnya terlihat ceria dan senang
Aisy mengerutkan kening nya "mau apa?"
"Lo gak denger tadi gue ngomong apa?" Tanya balik Arsa
Aisy menggeleng, sedangkan Arsa menepuk jidatnya
"Saka duluan ya, udah di jemput ayah" pamit Aisy sebelum berlari kecil keluar gerbang
Arsa mengangguk patuh, masih mencerna perkataan Aisy. Telinganya gak salah denger kan? Aisy tadi sebut dia apa? Apa tadi sa-ka. Aaaah Arsa mendengar nya senang sekali.
Jantungnya mulai berdetak tak karuan, memegang dada sebelah kiri sambil menarik sudut bibirnya
Netranya masih menatap Aisy yang sudah naik ke atas motor metik dengan seorang pria yang katanya-ayah nya
*********
seperti yang di janjikan the Ar. malam ini mereka main ke rumah Arsaka, karna sudah seminggu lebih mereka jarang kerumah Arsaka. terkadang asri mamah nya Arsaka menayakan hal itu, dan berpikir mereka marahan.
Arsa langsung membantah, mana ada mereka marahan. biasanya setiap ada masalah, mereka akan merundingkannya dan mencari solusi bersama.
kembali ke the Ar, yang sekarang ada di dalam kamar Arsa
"Jangan ngaco Lo" balas Arga tanpa mengalihkan pandangannya dari layar, dia dan Arwin sedang pokus bermain ps
Arya berdecak sebal, lalu berbisik lagi "gue beneran, coba liat tuh kelakuannya. Bikin merinding"
Arga menolah ke belakang, terlihat Arsa di atas kasur yang menyender di kepala kasur king size nya sambil memeluk guling dengan senyum tak jelas nya
"Kenapa dia?" Tanya Arga pada Arya, pasal nya si Arsa tak pernah seperti itu
"Mana gue tau?"
"Win" pangggil Arga menepuk pundak Arwin
Arwin melirik sebentar dengan kesal dan membalas dengan deheman
"Win.." panggil Arga sekali lagi, tak lupa pukulannya juga
"Apa sih" sahut Arwin kesal, mematikan bermain
"Liat tuh"tunjuk Arga pada Arsa
Arwin mengikuti arah tunjukan Arga, yang mengarah pada Arsa di atas kasur
"Arsa? Kenapa?"Arwin mengerutkan kening
"Ngeri gue liat nya" Arga bergidik ngeri sampai bersembunyi di balik badan Arya, sementara Arya masih menatap Arsa tanpa ekspresi
"Dari kapan dia kaya gitu?"
"Gue gak tau, tuh Arya mungkin tau. Dia yang ngasih tau gue tadi"
"Dari kapan rya?"Arwin beralih pada Arya
"hmm" Arya menoleh ke Arwin, seolah berkata apa?
"Sejak kapan dia kaya gitu"ulang Arwin mengangkat dagu nya mengarah ke Arsa
"Sejak kalian main PS"
Arwin dan Arga membulatkan matanya, seolah tak percaya. Pasalnya mereka main sudah satu jam lebih
"Yang bener Lo, Jangan ngadi Ngadi"
"Sumpah! Gue gak Bojong, kalo Lo gak percaya tanya aja sama pak haji"ujar Arya meniru dialog film kartun ke sukaan nya
Arwin menatap malas Arya, beranjak dari duduk nya menghampiri Arsa. sedangkan Arga mengigit bahu Arya, membuat sang empu meringis kecil
"sakit oon. gue bukan daging ayam yang bisa Lo gigit"Arya mengusap bahunya. Arga tak mengindahkan perkataan Arya
"kata Lo reaksi Arsa gimana?"bisik Arga
Arya berpikir sebentar "ah gue tau.."
"Apa??"
"Apa ya gue lupa" Arga langsung memukul kepala Arya dengan kesal, dia menyesal bertanya pada si kutukupret Arya.
"Sakit anjir"sewot Arya, membalikan badan dan membalas memukul Arga
"Impas!" Kata Arya dengan wajah songong
"Sialan Lo, gue mukul pelan, Lo balas keras" Arga mengelus tanganya, matanya menatap Arsa dengan permusuhan
"Suwer gue tadi pukul nya sedang. Gak keras gak pelan, tengah tengah lah. Pas" ujar Arya mengangkat dua jari berhuruf V
"Nih coba Lo rasain"
Plakkkk
Kata Arga langsung memukul keras lengan Arya, membuat sang empu berteriak keras
Arga melihatnya langsung tertawa senang, detik kemudian dia berteriak kencang. Saat merasakan kulit lengan ya terasa panas, akibat pukulan keras Arya membalas nya
"Rasain, gue juga kaya gitu" kata Arya tersenyum bangga, sebelum melenggang pergi keluar kamar. Ia tau teman nya satu ini akan membalas nya lagi
"Bangsat sini Lo" teriak Arga mengejar Arya
Sementara Arwin mendengus sebal, dari tadi ia memerintahkan keduanya dengan jengah. Bila sudah berkumpul pasti saja ada tingkah lakunya keduanya yang bikin nguras emosi
Kemudian beralih menatap Arsa yang seperti nya tak terganggu dengan teriakan Arya dan Arga . Masih sama dengan posisi memeluk guling tak lupa dengan senyum tak lepas dari bibirnya
Arwin meringis melihat itu. Memang akhir-akhir ini tingkah Arsa aneh, ia kira perubahan sikap biasa. Tak tau nya bukan hal biasa
Berjalan lebih mendekat dan duduk dengan pelan di sebelah Arsa. Arsa sama tak terganggu dengan gerakan di buatnya saat naik ke atas kasur
Dengan gugup, Arwin menepuk pundak Arsa. Jujur ia takut Arsa ternyata kesurupan seperti yang di katakan Arya. lalu mencekiknya seperti di film-film horor ia Tonton
"Sa, sa, Lo gak papa kan?" Tanya Arwin agak takut
Arsa tak bereaksi, malah tambah mengembangkan senyum nya dan menggigit sarung guling, matanya pokus menatap gordeng
"ARsaka Lo denger gue kan?"
Masih sama tak bereaksi
"ARsa Lo gak kesurupan kan? Lo denger gue kan?" Tanya nya sekali lagi
Sukses membuat Arsaka menoleh kearahnya dengan tatapan tajam
Tentu saja membuat Arwin ketakutan, dia menelan ludah kasar. Duduk nya beransur mundur hingga membuatnya kehilangan keseimbangan saat di pinggir kasur dan terjatuh
Arsaka tertawa ngakak saat Arwin terjatuh dari kasurnya, beda lagi dengan Arwin dia malah tambah ketakutan. membenarkan Arsa kesurupan seperti di film horor yang ia tonton. tanda kesurupan tertawa tak jelas, senyum tak jelas. semua ada pada Arya