ARsaka

ARsaka
terjatuh



esok pagi Arsa dan kawan nya telah siap berangkat ke sekolah, ke empat pria itu sudah menaiki motor masing masing, setelah sarapan. bersiap meluncur membelah jalanan kota yang padat.


"hati hati di jalan gak boleh ngebut" peringat asri yang memerhatikan ke empat anak muda itu di teras


"iya mah, mamah baik baik di rumah" sahut Arsa, mulai menjalankan motornya. asri mengangguk


"oke Tan" seru Arya semangat sementara Arga dan Arwin mengangguk saja sambil mengangkat ibu jarinya dan mengikuti Arsa


"assalamualaikum Tan"ucap Arya sebelum menjalankan motornya


"waalaikum salam, hati hati" jawab asri "jangan ngebut" lanjutnya berteriak


*****


di sekolah semua siswi memerhatikan ke empat pria yang baru saja lewat menuju parkiran sekolah dengan tatapan memuja


"kak Arsa"panggil salah satu siswi memberanikan diri mendekat


yang di panggil menoleh setelah membuka helm nya "Apa?"


siswi berambut panjang itu malu malu memberikan kotak makan pada Arsa "tolong kak terima"


Arsa melihat kotak makan tersebut "buat gue?" tanya nya


gadis itu mengangguk memamerkan senyum nya "makasih" kata Arsa hendak mengambil kotak makan itu


tapi kalah cepat dengan Arya yang sudah duluan mengambilnya "makasih ya, pasti Arsa makan kok. tenang aja" katanya tak kalah cepat


Arwin dan Arga tersenyum lucu melihat nya. gadis itu sendiri menatap marah Arya, seakan tak ikhlas kotak makan nya di rampas begitu saja


"itu___"


"tenang Arsa bakal makan kok, iya kan sa?" Arya memberi kode agar Arsa mengiyakan


"i-iya, thanks ya" kata Arsa membuat gadis berambut panjang itu tersenyum senang


"kalo gitu kita ke kelas dulu ya, ayo sa" Arya langsung menarik Arsa yang masih duduk di motor nya, dan alhasil


Brukkk


Arsa terjatuh karna belum siap, tarikan Arya terlalu kencang "auwww"ringis nya


"aaaaaa"ringis para siswi yang di sana


"mampus" kata Arya merutuki kebodohan nya, ia harus segera pergi dari sini. kalau tidak mau kena makian seseorang Arsa


dengan langkah seribu Arya telah pergi dari sana dengan memeluk kota makan menuju tempat paling aman. di iringi teriakan tak suka dari siswi yang melihat kejadian tadi, mereka tak terima Arsa di perlakukan seperti itu.


sementara Arwin dan Arga meringis melihat nya dan terkekeh geli, tak ada niatan untuk membantu taman nya itu


sedangkan gadis berambut panjang segera membatu Arsa berdiri "kak Arsa gak papa?"


"kak Arsa ayo ke UKS takut nya ada yang cedera atau lecet"


"gak papa, gue baik baik aja" kata nya sambil menyingkirkan tangan gadis itu


"tapi kak Arsa tadi___"


"gue baik baik aja Lo tenang aja"


"jadi mau di sini aja atau ke kelas?" tanya Arwin mengeluarkan suara nya


"gue duluan, thanks ya" kata Arsa berjalan mendekat sahabat nya dengan menahan sakit. lalu di tuntun oleh Arga menuju kelas


"kak Arsa kapan kita bisa kumpul lagi" kata salah fens nya Yang ada di kerumunan


Arsa menghentikan langkahnya, menatap fens nya itu "maaf gue gak ada waktu, tapi gue bakal usahain buat kumpul bareng lagi. nanti gue kabarin" ujar nya di balas anggukan kepala siswi yang ada di sana memamerkan senyum paling manis mereka punya


"gue duluan"pamit nya mulai melangkah kembali


"gue ke toilet bentar, kalian duluan aja" ucap Arwin langsung berlari


"mau ngapain dia ke toilet?" tanya Arsa pada Arga dengan nada heran


"Lo bodoh atau apa sih, atau jangan jangan otak Lo sengklek gara gara jatuh tadi"


"apaan sih gak jelas banget!"


"Lo yang gak jelas Arsa... orang ke toilet di bilang mau apa. ya mau buang air lah masa iya beli minuman" gemas nya


******


sepulang sekolah Arsa masih duduk di kursi nya, tepat ya Menunggu gadis di belakang nya yang masih menulis apa Arsa tak tau. diam diam tadi dia mencuri pandang


"sa, ayo pulang malah bengong"


"Lo duluan aja, gue sedikit ada urusan"


Arga menghela napas, lalu membungkuk kan badannya berbisik di telinga Arsa "Aisy lagi"


mau tam mau Arsa mengangguk, terdengar arga menghela napas kembali "sebaiknya Lo jangan terlalu berharap Arsa, cewek kek dia susah di dekati. gue takut Lo sakit hati" nasihatnya masih berbisik


Arsa menghembuskan napas lelah nya, memang perjuangan kaya nya sia sia. percuma saja Aisy selalu menolak nya kalau saja tidak ke adaan mendesak seperti kemarin kemarin. "tenang aja itu urusan gue"


"ayo balik malah ghibah" sahut Arwin menepuk pundak Arga


Arga menyengir kuda "Arsa masih ada urusan katanya, yuk duluan" ia menarik tangan Arwin


"bentar!" cegahnya melepaskan tangan Arga "Lo akhir-akhir ini gue lihat gak ada waktu buat kita, sesibuk apa sih urusan Lo?" ujar Arwin pada Arsa, di setiap katanya terdengar kekesalan