
sedangkan Arsa di bawa Herman ke dalam kamar. Herman berdecak pinggang menatap horor pemuda itu, tapi yang di tatap cengar-cengir sambil menggaruk tengkuknya.
"hey anak muda, ngapain kamu keluar dengan bertelanjang dada hah?!"
"gak ada baju camer" sahut Arsa membuat Herman geli dengan panggilan nya
"aiish anak ini, jangan panggil saya camer, geli saya dengerin nya"
"tapi itu panggilan terbagus camer, oh ya seragam saya kemarin mana ya?"
"terserah! nanti saya tanyakan dulu sama Aisy" ujar Herman membuka pintu
"bentar camer"cegah Arsa mendorong pintu jadi tertutup kembali
"apaa?"jengah Herman agak kesal
"e-e maaf om kalo saya lancang" Arsa menelan ludah nya kasar, sedangkan Herman mengerutkan kening nya menunggu Arsa kembali bicara
"apa benda keramat penjaga ular berbisa saya di cuci Aisy?" lanjut nya membuat pria paruh baya itu semakin mengerutkan kening nya
menerka nerka maksud perkataan pemuda tampan di hadapannya ini, tapi pria tua itu tak memahami nya "kamu main ilmu hitam ya?" tuduh Herman
sontak membuat Arsa mengelus dada "ngapain pake ilmu hitam, orang udah banyak uang"ujar Arsa tak sadar menyombongkan diri
"mungkin saja kamu mau pelet anak saya" tuduh Herman lagi, ia sebenarnya sedang berpikir tentang benda keramat yang di sebutkan Arsa tadi
benda keramat?ular berbisa? benda apa itu?
"Astaghfirullah! camer jangan su'uzon"Arsa, soalnya anak camer susah di deketin" hampir saja pria tua itu menampol wajah ganteng Arsa kalo saja tidak cekal oleh korban
"camer jangan emosi dong"Arsa menurunkan tangan Herman "tadi cuma becanda"
"awas kamu bener pelet anak saya! akan saya balas dengan santet"ancam Herman langsung keluar dari sana, Arsa sendiri terkekeh mendengar ancaman camer nya itu
"gue gak bakal pake cara kotor kaya gitu. gue akan tetap berusaha untuk dapetin Aisyah dengan cara gue sendiri"
*
*
*
*
Rara menatap Arsa dengan sinis, menarik Aisy berjalan membuka gerbang menuju mobil terparkir di jalan.
"Rara kita belum pamit sama ayah" ujar Aisy melepaskan tangan nya
"aiish aku sampai lupa, ayo" Rara kembali menarik balik ke teras di mana Arsa dan Herman menatap ke-dua dengan aneh
"ada yang ke tinggalan?" tanya Herman
"iya, belum pamit" balas Rara, sementara Aisy sudah menyalami tangan sang ayah di ikuti Rara
"Aisy sama Rara berangkat, assalamualaikum"
"waalaikum salam" jawab Herman dan Arsa bersamaan menatap kepergian dua gadis itu sampai menaiki mobil
"di pinggir rumah"
Arsa mengangguk dan melangkah ke sana, kemudian matanya membulat karna terkejut melihat nanar pada motor kesayangannya. bagaimana tidak motor nya di tempat kan di tempat layak, tepat nya tempat pembuatan serbuk sayuran dengan bau kotoran yang menyengat
pemuda itu menghampiri Herman dengan wajah agak marah " kenapa? ada kan motor nya" tanya Herman yang sedang mengeluarkan motor metik nya di garasi kecil
"camer kenapa motor saya di taruh di sana!" tunjuk nya ke arah pinggir rumah
"lah emang harus di mana?"
Arsa menghembuskan napas kasar nya sambil mengusap wajahnya dengan kasar "kan bisa di garasi om.." katanya menggertak kan gigi, saking kesalnya ia mengubah panggilan menjadi om kembali
"motor kamu gede gak muat juga kalo di taruh h di garasi, lagian juga berat, mana sanggup saya bawa ke garasi"
"tapi kenapa di taruh di tempat pupuk, kan bau om" masih dengan nada sama
"gak ada tempat lain"sahut Herman memasang helm nya
Arsa menghembuskan napas kembali dengan jengah, mencoba bersabar "yaudah kunci nya mana?" mengangkat tanganya ke depan
"tuh di meja"
Arsa mengambil kunci motor nya dengan kesal. menahan napas kala di pinggir rumah, memundurkan motor nya menjauh dari sana dan menghidupkan motornya menghampiri Herman
"helm nya mana?" tanya Arsa
"di kursi anak muda" sekarang Herman yang di buat kesal oleh Arsa, pemuda itu berlari kecil mengambil helm dan memakai nya.
"saya sangat bersyukur mempunya anak perempuan bukan laki laki" Ujar Herman setelah Arsa menaiki motornya
"kenapa?"
"ternyata anak laki merepotkan!" Arsa berdecih serta tersenyum di dalam helm
"udah sana duluan, sekalian bukain pagar nya!" perintah Herman langsung Arsa turuti
"silahkan camer, semoga hari mu menyenangkan" kata Arsa setelah membuka pagar nya,
Herman sendiri mengangguk dengan bangga "tutup lagi!" peringat nya
"iyaaa" kata Arsa sambil mengunci pagar, lalu naik ke motor nya dengan cepat dan menghampiri motor Herman
"Om Herman, makasih"
Herman menoleh mengerutkan keningnya dalam helm nya "atas?"
"semuanya,"
"saya mau tanya? maksud benda keramat penjaga ular berbisa apa?"tanya pria tua itu penasaran
ARsaka tergelak, ternyata pria tua ini tak tau maksud perkataan nya tadi pagi. pemuda itu kira camer nya tau karna sudah berpengalaman , nyatanya Nok besar
"cari di google!"