ARsaka

ARsaka
berboncengan



Senja kini menampakan keindahannya, dua orang berbeda kelamin baru keluar dari sekolah setelah belajar bersama di dampingi guru untuk persiapan olimpiade


Arsa berdehem "sy...?"


Tanpa menoleh Aisy membalas " ya"


Tiba tiba Arsa merasa gugup jantungnya berdegup kencang dari tadi tidak biasanya, kemudian berdehem kembali


"Mau gue antar?" Tawar nya memasukan tanganya ke saku


Aisy langsung menggeleng "engga makasih"


"Ayah Lo jemput lagi?


Aisy menggelang kembali


"Terus?"


"Naik bis"


"Gue antar sampai halte"


Aisy menghela napas panjang dan menggelang lagi


"Jarak sekolah ke halte jauh sy. Lo serius mau jalan?"


Aisy langsung mengangguk


Arsa berdecak kesal entah kenapa, melirik jam tanganya menunjukkan pukul lima lewat. Membutuhkan waktu dua puluh menit menuju halte, tersisa waktu sepuluh menit sampai waktu magrib belum lagi pasti rumah Aisy jauh. Bisa bisa gadis ini bisa sampai rumah Malam


"Gak ada waktu sy, nanti Lo sampai rumah ke maleman"


Aisy diam sesaat membenarkan ucapan Arsa, tapi bagaimana lagi itu yang terbaik dari pada ia harus boncengan sama Arsa.


"Itu lebih baik. Kamu ngapain ikuti saya?" Aisy menghentikan langkahnya, Arsa di belakangnya sontak saja berhenti sejajar dengan Aisy


"Hah..."gue khawatir sama Lo" Arsa menatap Aisy dengan sayu


Aisy mendongak menetap Arsa sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke jalanan. Arsa menarik sudut bibirnya tak bisa di pungkiri ia sangat senang gadis di depannya menatapnya walau sekilas, itu kebanggaan tersendiri bagi Arsa dan kaum Adam lainya


Karna gadis satu ini jarang sekali mentap lawan jenis.


Aisy sendiri tak tau harus berkata apa, ia bingung sekaligus gugup. Pria di samping nya itu terlalu berani berbicara seperti itu.


Kemudian Aisy mengambil ponselnya dalam tas dan menelpon seseorang serta melanjutkan langkahnya di ikuti Arsa di belakangnya


Pria itu masih saja membuntuti Aisy, membuat gadis itu tidak nyaman


"Assalamualaikum yah"


"....."


"Ayah jemput isy gak?"


"......"


"Belum baru mau"


"......."


"Ayah lembur lagi, yaudah isy naik bis aja"


"......."


"Waalaikum salam"


Aisy menoleh kebelakang, ternyata pria itu tidak lagi mengikuti nya. Ia mengucap hamdalah beberapa kali


Tapi entah kenapa ia menjadi agak takut, benar kata Arsa halte dan sekolah nya memakan waktu cukup banyak, tapi tidak kalau ia berlari


Sesampainya di halte Aisy duduk menunggu bis datang dengan napas memburu. Tenggorokan nya kering butuh air, tapi ia tak punya. Ia harus menahan untuk itu


Sepuluh menit kemudian


Aisy ketar ketir sendiri di halte langit yang Oren berganti menjadi mendung akan turun hujan dan sebentar lagi magrib


Ia harus bagaimana? Aisy mengambil ponselnya lagi tapi naas ponselnya malam mati, ia lupa tak mengisi daya nya tadi malam.


Tak ada pilihan lagi selain berlari menuju rumah atau tempat ramai, di halte terlalu sepi tak ada orang lain selain dirinya.


Seketika Aisy mengingat ucapan Arsa yang katanya mengkhawatirkan dirinya yang memberikan tawaran. Tapi Aisy menolaknya, itu lebih baik dari pada ia bersentuhan dengan lawan jenis.


Air dari langit mulai berhamburan ke bumi membasahi isi nya. Aisy menaruh tasnya di kepala saat hujan mulai turun dengan derasnya


Di sepenjang jalan tak ada tempat meneduh, jadi tak ada pilihan lain selain terus berlari. Aneh nya jalan yang biasanya ramai kini sepi tak ada kendaraan yang berlalu lalang membuat Aisy takut


Dari kejauhan Arsa terus memerhatikan Aisy ada rasa iba melihat gadis itu kehujanan. Tapi bagaimana lagi gadis itu selalu saja menolak bantuan nya


Karna gerget arsa menancap gas menghampiri gadis kehujanan itu


"Sy...gue antar ya" tawarnya memelankan jalan motornya mengikuti langkah Aisy


Aisy menoleh dan menggelang ia masih berlari kecil


"Jangan keras kepala! nanti Lo sakit. Hujan makin deras Aisyah" geram nya


Entah kenapa Aisy jadi gugup saat Arsa memanggilnya Aisyah, jantungnya berdegup kencang


Tak ada jawaban. Arsa berdecak kesal menatap penampilan Aisy, kemudian terbersit ide dalam otak pintar nya. Lalu


"Ternyata body Lo boleh juga" kata Arsa dengan seringai


Aisy mendadak berhenti menatap Arsa yang di pinggir nya dengan tajam, kemudian menaruh tasnya di depan badannya


"Gue gak bohong sy, badan Lo beneran ba__"


"Stop jangan di lanjut!"


Arsa tersenyum tipis, menyilangkan tanganya distang motor. Terbersit ide lebih gila lagi untuk membuat Aisy mau di ajak nya


"Daleman Lo warna hit__"


"Stop Arsa jangan di sebutkan!! Dasar cabul!" Potong Aisy sambil mengusap wajah nya yang terkena air hujan


Arsa terkekeh "Lo mau pulang dengan ke adaan kaya gitu? Yang ada Lo bakal di lecehkan. Untung gue yang liat bukan laki laki lain"


Aisy menunduk, yang di katakan Arsa kenapa selalu benar. Gadis itu memeluk tas dengan erat


"Ini tawaran terakhir kali nya. Ayo gue antar"


Aisy tetap diam tak berniat menjawab, hatinya bimbang.


"Lo gak mau kan? Yaudah gue duluan. Hati hati, jangan nyesel"ujar Arsa menghidupkan motornya


Melirik Aisy sebentar sambil tersenyum tipis. Sepertinya kali ini dia akan menjadi rekor, orang yang pertama membonceng gadis ini.


Satu


Dua


Hitung nya dalam hati


Dan tiga


"Tunggu!"


"Apa?"


"Yaudah"


"Yaudah apa?" Arsa belaga tak tau dia tak bisa menahan senyum di balik helm nya


"Ikut sama kamu"


"Beneran Lo"Aisy mengangguk


Arsa turun dari motor nya, mendekati Aisy dan membuka jaket kulit nya memasangkan pada pundak Aisy


"Pake, badan Lo terekspos"


Aisy Mendongak netra keduanya bertemu hanya dua detik saja, Aisy menunduk kembali dan membenarkan posisi jaket milik Arsa


"Ayo" Aisy mengangguk mengikuti langkah Arsa


"Nih pakai"Arsa memberikan helm pada Aisy, Aisy menerimanya dan memakainya


Arsa sudah siap menaiki motor tapi tidak dengan Aisy, ia diam memerhatikan motor Arsa


Arsa menoleh "cepet naik, gue dingin"


Aisy melirik sebentar kemudian diam lagi membuat Arsa berdecak kesal


"Cepet naik!"


"Gimana cara naik nya?"


Arsa terkejut bukan main, ia kira diam nya Aisy karna enggan


"Ya naik aja Aisy"gemas Arsa


"Ya gimana"


"Pegang pundak gue, terus pinjakin kaki Lo ke situ"


"Ke sini?" Kaki Aisy menginjak besi kecil


"Iya itu. Cepet gue dingin"


Dengan ragu Aisy memegang pundak Arsa dan duduk seperti di kursi


"Bukan gitu duduk nya Aisy" gemas Arsa menepuk jidatnya yang tertutup helem


"Terus gimana?"


"Emang Lo gak pake celana"


"Pake"


"Yaudah kaya gue duduk nya"


"Kan biasanya gini kalo di bonceng ayah"


"Beda motor Aisy. Lo mau jatuh"


Lantas Aisy menggeleng


"Yaudah cepet duduk kaya gue"


Aisy pun mem benarkan duduk nya "udah"


"Pegangan"


"Gak mau"tolak Aisy cepat


"Terserah Lo, yang penting gue udah ingetin" ujar Arsa dengan menyeringai