ARsaka

ARsaka
sahabat sebenarnya



Rara melotot mendengar nya, lalu menggeleng keras. tidak membenarkan ucapan Aisy "enak aja, engga lah"


"Tadi kamu bilang gatel pas benget habis garuk rambut kamu. Kalau bukan kutu ketombe dong"


Rara mengeleng kepala keras. Sekarang Aisy yang membuat rarya kesal.


"Bukan sy, sumpah bukan"ucap rara dengan penekanan


"Udah aku ambil buku yang ini aja. Ayo" Rara asal mengambil buku, ia sudah kesal di oloki kutuan dan ketombean. Enak aja, setiap hari perawatan ke salon di bilang kutuan dan ketombean. Aisy mengangguk polos mengikuti Rara


"Kita makan dulu ya, aku lapar belum makan" pinta rara, setelah keluar dari toko buku. Aisy mengangguk tanda persetujuannya


"Emang bi eti engga masak??"


"Masak sih, males aja"


"Masakanya gak ada yang makan dong??" Tanya aisy lagi, Rara menjawab dengan mendelikan bahu. Pertanda ia tidak tau. Aisy menggeleng, menghembuskan napas.


"Gak baik buang buang makanan, lebih baik makan di rumah kamu aja. Mubajir bila di buang"


Rara berhenti berjalan, Aisy pun sama Menatap Rara dengan heran, kemudian Rara mengangguk menyetujui saran nya makan di rumah. Aisy tersenyum senang, menggendeng tangan rara melanjutkan kembali langkah nya.


...♡♡♡♡♡♡...


"Sy emang kamu bolehin main kerumah aku dulu, lagian ini masih lama magrib nya. Kamu bisa pulang sebelum magrib" ujar Rara pokus menyetir


Aisy menoleh menutup layar hp nya di tas yang di pangku nya "engga ko, kan ayah udah kasih ijin tadi, dengerkan gimana kata ayah?" Rara mengangguk


"Lagian engga lewatin rumah aku, kan" Rara mengangguk lagi


"Jadi jangan khawatir. Aku udah ijin tadi sama ayah lewat chat, bilang pulang agak malam mampir kerumah kamu" sekarang Rara menoleh menatap Aisy tak percya, demi ia makan Aisy meninggalkan ayah nya di rumah.


"Makasih" ucap rara tulus


Aisy mengerutkan kening "atas apa??"


"emang ayah kamu engga apa-apa di tinggalin sendiri di rumah??" bukan nya menjawab Rara membalikan pertanyaan atas jawabanya dengan nada hati hati.


"tadi ayah bilang gak apa apa, aku coba telpon aja supaya kamu percaya nanti kamu mikirnya aku bohong lagi" jawab Aisy sambil menelpon pak Rahman


" soalnya aku agak engga percaya kalo ayah kamu ngijinin, kan ayah kamu posesif banget sama kamu. Aku iri tau"


Aisy tersenyum mendengar perkataan Rara, ia tau keluarga Rara sibuk mencari uang dan jarang di rumah. membuat Rara agak bandel dan arogan karna kurang kasih sayang dari orang tua nya. dulu saja Aisy jadi bahan bulyan gadis di sebelah nya ini


karna memakai pakaian tertutup yang selalu menunduk saat berjalan. bila di hina mengucapkan istighfar tanpa menjawab atau membela diri, yang dilakukanya hanya diam dan tersenyum menanggapi kata kata kasar yang di ucapkan Rara dan kawan kawan


saat pulang sekolah Aisy melihat segerombolan siswi bersorak menyenangkan dua siswi sedang Jambak jambakan di pinggir tembok gerbang sekolah, Aisy mencoba menghiraukan melihat seragam sekolah mereka beda. tapi salah satu dari mereka Aisy mengenal nya, yaitu Rara gadis yang suka membuly nya


Aisy langsung menghampiri mereka, menerobos masuk berniat menghentikan perkelahian mereka. menampar pipi kedua gadis itu setelah memisahkan keduanya.


"Apa yang kalian lakukan hah??"


Rara dan gadis di sebelahnya menatap malas pada Aisy, memegang pipi masing masing.


"Apa urusan Lo hah?? pake nampar segala, mau jadi jagoan Lo??" sinis Rara mengambil tas nya dengan kasar di salah satu siswa yang menonton


"mau kemana Lo, kita belum selesai" ujar siswi yang ribut dengan Rara. Rara mengiraukan memilih pergi dari sana.


siswi itu mengambil batu dan melemparkannya pada Rara. Aisy yang melihat nya langsung berlari melindungi Rara


Bughh


tepat sasaran yaitu di kepala, batu yang di lempar siswi itu. tapi bukan terkena Rara melaikan Aisy yang melindungi Rara


Rara berbalik saat mendengar suara pukulan keras mengenai seseorang di belakang nya. Aisy tersenyum ia tak berteriak ataupun meringis saat batu itu mengenai kepalanya yang mulai mengeluarkan darah mengotiri kerudung putih nya.


semua orang di sana syok saat melihat darah semakin banyak, sementara Rara mengerutkan kening melihat Aisy tersenyum dan yang lain ketakutan, apalagi siswi yang ribut dengan nya wajah nya pias menatap punggung Aisy.


"kenapa Lo senyum, gak ada yang lucu" ucap Rara pada Aisy


"jangan berantem lagi Ra, gak baik. selain mendapat dosa, berantem juga merugikan kamu dan orang-orang di sekitar kamu" ujar Aisy tanpa menghilangkan senyum nya, penglihatannya mulai kabur, kepalanya berdenyut. ia mencoba untuk sadar tapi semakin lama Aisy mulai tak tahan.


"bukan urusan Lo"


"ini urusan aku, karna kita suadara"


"gue gak ngerasa punya saudara kaya Lo"


Aisy mengedipkan mata nya berkali kali, matanya makin bertambah kabur, wajah Rara pun sudah tak jelas. dan kepalanya berdenyut. Aisy memegang kepala bagian belakang yang terasa basah, ia mengerutkan kening.


saat melihat jari nya Aisy terkejut bukan main, ternyata kepalanya bedarah. tanganya bergetar detik berikutnya ia tak tahan menahan rasa sakit di kepalanya dan ambruk di pelukan Rara


Rara terkejut saat melihat darah di tangan Aisy setelah itu Aisy ambruk di pelukan. netranya menatap kerudung Aisy Yang sudah kotor oleh darah


kemudian beralih pada batu di bawah yang terdapat darah segar di sana. beralih lagi menatap siswi yang ribut dengannya tadi.


"elu kan yang lakuin ini, ya kan??"


"sy bangun sy" Rara menepuk nepuk pipi Aisy yang sudah ia baringkan di pangkuannya


wajah bibir Aisy semakin pucat dan darah semakin banyak, membuat Rara ketakutan. mentap semua siswi yang menonton dengan sinis


"ngapai Lo semua liatin doang, panggil ambulan cepet, jangan diem aja kaya idiot"maki Rara dengan berteriak, salah satu dari mereka mengangguk dan menelpon ambulan


...*****************...


"ayah jangan marah sama Rara dia gak salah" bela Aisy saat pak Rahman tak memberikan ijin Rara untuk masuk keruangan nya saat ini. sudah beberapa hari Rara kesini tapi pak Rahman tak memberikanya ijin. saat mengetahui siapa penyabab anak nya seperti ini, apalagi Aisy di nyatakan koma selama dua hari, dan alhamdulilah hari ketiga keadaannya mulai setabil.


walau dokter menyatakan bisa saja Aisy hilang ingatan, mengingat kepalanya terbentur sangat keras dan mengeluarkan darah banyak, hingga dia ke kurangan darah. hari ke empat Aisy mulai sadarkan diri membuat pak Rahman bernapas lega


hari kelima semua yang menyaksikan kejadian meminta maaf pada Aisy begitupun dengan Rara. gadis itu terlihat merasa bersalah. katanya mereka sudah di kenai hukuman oleh pihak sekolah. saat itu pak Rahman hendak melaporkan nya ke pihak berwajib tapi Aisy mencegahnya.


pak Rahman tidak setuju, setelah mendengar penjelasan Aisy pak Rahman menuruti kemauan anak nya itu, walau dengan hati agak kesal.


"belain terus anak nakal itu, dia yang buat princess ayah kaya gini. untung kamu gak hilang ingatan" ujar pak Herman sambil membuka buah pemberian kepala sekolah tadi.


"aku gak belain ayah... itu kenayataan, kasian Rara ayah. kata suster Rara setiap pagi dan malam kesini tapi ayah usir"


"kenyataan apanya, orang dia ngaku kok. anak nakal itu yang bikin kamu kaya gini"


Aisy menghembuskan napas, ia tak tau harus ngomong apalagi ke ayah nya. "setidak nya ijinin Rara untuk minta maaf, supaya Rara tidak terlalu merasa bersalah karna ayah"


pak Rahman menghentikan mengupas buah nya, menatap sang anak heran, dan berkata "kok ayah sih"


"iya ayah. karna ayah tak memberikan Rara ijin, itu membuat Rara semakin bersalah nantinya ayaaah. kasian dia setiap hari selalu kesini tapi ayah gak ijinin masuk"


pak Rahman berpikir sebentar kemudian mengangguk, menyetujui apa yang di katakan Aisy "baiklah"


Aisy tersenyum dengan bibir pucatnya, lalu pak Rahman beranjak setelah memotong buah dan memberikan piring berisi kan buah pada Aisy. membuka pintu dan keluar.


"sana masuk, saya ijinkan kali ini saja" ujar pak Rahman di hadapan Rara yang sudah berdiri dari kursi saat melihat pak Rahman keluar tadi


"beneran pak" Rara tersenyum senang, pak Rahman mengangguk


"makasih pak makasih"


"jangan sama saya, sama Aisy berterima kasih nya. karna kalau bukan karna Aisy saya tidak mengijinkan"


Rara mengangguk dan segera membuka pintu "jangan sakiti anak saya. saya hendak keluar sebentar" ujar pak Rahman dan di angguki oleh Rara


Rara masuk dengan ragu ragu, menatap Aisy yang berbalut perban di kepalanya seperti pertama kali ia menjenguk Aisy.


terus melangkah mendekati Aisy dengan mengepalkan jarinya karna ia sangat gugup, apalagi Aisy menatapnya dari tadi. Rara sangat merasa bersalah.


"maaf" ucap Rara setelah di sisi brankar Aisy dengan wajah menunduk


"untuk apa??" tanya Aisy


"kejadian waktu itu"


"oooh itu ya. aku udah maafin kok. kamu gak sekolah??"


Rara menggeleng kepala nya masih sama dengan posisi tadi "aku di skor"


Aisy membulatkan matanya, Aisy sangat terkejut "berapa hari??"


"sampai kamu sembuh" lagi lagi Aisy terkejut belum juga terkejutan nya tadi belum sirna. ia kasian melihat Rara seperti ini.


"maaf ya.."ucap Aisy, membuat Rara menatap nya dengan heran


"kok lo minta maaf, gue yang disini salah bukan Lo"


"aku juga salah, karna aku sakit kamu gak bisa sekolah"sekarang gantian Rara yang di buat terkejut oleh jawaban Aisy


"Lo sakit gara gara gue"


"engga ko, aku sakit karna takdir Allah dan aku sembuh juga karna Allah. bukan karena dokter dan obat. karna atas ijin Allah lah aku akan sembuh"


"maksud Lo apaan sih" kesal Rara


"ya intinya aku sakit bukan karna kamu tapi Allah mentakdirkan aku untuk sakit. gitu aja gak tau"


"ya tapi kalo gue gak berantem Lo gak bakal kaya gini"


"mangkanya jangan berantem. kan aku udah ingetin"


"ternyata Lo banyak omong dan nyeselin tau gak" ujar Rara baru menyadari sesuatu. ternyata Aisy tak seburuk dia duga, Rara menjadi tambah menyesal karna serung membuly Aisy dulu.


"emng ya??"


"tuh kan...udah dek gue minta maaf sekali lagi" Rara mengulurkan tanganya


Aisy membalas uluran tangan Rara setelah menaruh piring ke naskah "kembali kasih" balas Aisy dengan tersenyum


flacback off


Bersambung....


tunggu kelanjutannya di episode berikutnya ya.


jangan lupa like, komen dan vote ya..


gak banyak basa basi


wassalam