ARsaka

ARsaka
kejadian di kedai martabak



"assalamualaikum" ucap Aisy saat sambungan telepon tersambung


"waalaikum salam, ada apa ?" jawab ayah Rahman di sebrang sana, ia hendak ke masjid tiba tiba telponya berbunyi dan tertara nama anak nya


"emm Aisy boleh kan kerumah Rara dulu mampir??" tanya nya hati hati, padahal tadi udah ijin tapi ia merasa takut entah kenapa


"kan tadi ayah udah bilang"


"nih si Rara gak percayain, katanya dia mau denger langsung dari ayah"


"bilangin sama Rara jangan lupa makan, jangan telat. nanti kalo udah ada mag tau rasa" Aisy langsung menspeker saat ayah Rahman mengucapkan itu dan ia pengang di tengah tengah supaya Rara mendengarnya jelas.


"dengerin tuh"bisik Aisy meledek Rara


"iya yah, ngomong aja nih sama orang nya"


"Ara jangan di biasakan makan telat apalagi melewatkan sarapan itu gak baik buat kesehatan kamu. Di tambah di sekolah makan es dan pedes pedes itu tambah gak baik. jangan di biasakan seperti itu. sekarang udah makan belum??"


"belum"jawab Rara jujur, ia merasa seperti anak ayah Rahman padahal waktu pertama dia galak tapi semakin kenal semakin ayah Rahma menyayanginya seperti anak nya sendiri. padahal papah dan mamah nya tidak seperti itu, boro boro tanya kabar, pulang saja cuma ngusap kepala dan mencium kening tanpa berbicara, langsung masuk ke kamar


"langsung makan kalo udah pulang"


."iya"jawab Rara


Aisy tersenyum kemudian berkata pada ayah nya "bilangin yah jangan iya iya aja"


Rara melotot sambil berdecak kesal menatap Aisy yang menyengir kuda


"Nanti berangkat sekolah kerumah ayah dulu, berangkat nya agak pagian"


"Mau apa??" Tanya Rara heran


"Iya sarapan lah, emang apa lagi?"


"Rara bisa sarapan di rumah"


"Bisa bukan berarti akan" tukas ayah Rahman membuat Rara diam tak menjawab


"Pokok nya mulai besok dan seterusnya kamu sarapan sama ayah dan Aisy" lanjut ayah Rahman dengan memerintah


"Aisy setuju. Kalo gitu Aisy tutup ya, ayah jangan lupa makan. Wassalamu'alaikum"


"Iya. Waalaikum salam"


Aisy memasukan hp ke dalam tas, setelah mematikan sambungan telepon nya. Beralih menatap Rara dan menghela napas


"Kalo berat buat kamu jangan di paksa, walau ayah memaksa" ujar Aisy mengira diamnya Rara karna merasa tak nyaman dengan obrolan tadi dengan ayah nya


Rara menoleh menatap Aisy "engga ko"


Aisy mengangguk ia tak mau memperpanjang obrolan nya lagi


Sementara di tempat lain


"Sa besok bener lu mau ke Korea??"


"Iya, kenapa mau ikut??"


Arya cepat mengangguk "mau banget lah"


Arsa mengangguk ngangguk, menatap Arya dengan menyipit " emang elu bisa bahasa Korea??"


"Engga"jawab Arya cepat memang dia tak bisa dengan menggelengkan kepalanya


"Terus buat apa gue ngajak Lo yang bisa nya nyusahin di sana. Lagian Lu gak punya uang kan??"


Lagi lagi Arya mengangguk membenarkan ucapan Arsa "gue janji gak bakal nyusahin lu kok"


"Jujur gue nya yang gak mau ngajak Lo"


"Terus ngapain tadi tawarin gue"ucap Arya emosi


Sedangkan Arsa biasa biasa saja malah terlihat menahan tawa, sungguh ia senang membuat Arya kesal. Coba saja sekarang ada Arga dan Arwin pasti lebih seru, mereka tidak bisa ke rumah nya sekarang karena ada urusan masing-masing.


Cuma si kutukupret Arya saja yang bisa datang. Biasalah pengangguran, emang gak ada kerjaan si Arya setiap hari pun dia bisa main full di rumah nya.


Mungkin malam, kedua temannya akan datang, mana mungkin gak datang Kan Arsa di Korea akan lama. sekitar sebulan atau lebih di sana, jadi ketiga temanya hari ini harus bermain samapai pagi, walau hanya Arya sekarang, pasti kedua temanya akan datang malam untuk bergadang bersama.


Malam hari nya


" gimana kalo kita beli cemilan dulu sebelum bergadang" usul Arga


"Tenang di dapur udah banyak cemilan, tadi mamah udah buat" ujar Arya masih pokus main PS dengan Arwin


"Itu beda lah, gue mau keluar. Jalan jalan dulu kek bentar"


Arsa berteriak kesal karna ia kalah kembali oleh Arwin padahal sudah tiga kali mengulang nya, tapi tetap ia yang kalah. Dia sangat kesal.


Berdiri dengan kesal mengambil jaket tak lupa kunci motor nya, menatap ketiga temanya satu persatu. Ternyata menatapnya dari tadi. Arsa salah tingkah, menggaruk tengkuknya tak gatal.


"Ayo katanya mau keluar"


Di rumah Rara


"Sy ayah kamu suka makanan apa??" Tanya Rara setelah masuk dalam mobil begitupun dengan Aisy. Sekarang di antar supir, karna Rara tidak di bolehkan menyetir sendiri malam malam.


"Martabak, kenapa??"


"Engga papa, cuma mau beli doang buat ayah kamu"


"Pak nanti berhenti di kedai martabak ya" pinta Rara pada supir nya pak wono


"Iya non"


*******


"Woy bang lama amat sih, gua yang duluan tadi belinya malah yang baru datang yang di kasih duluan, gak jelas Lo kalo dagang Pilih pilih pembeli. Kalo gini gua gak jadi beli. balikin duit gua" maki Arya kesal, uang sudah di pinta duluan dapet paling belakangan. pingin gue tendang rasanya pikir Arya


dari tadi dia sudah menunggu selama setengah jam menunggu martabak pesanannya doang, sementara pembeli baru datang langsung di kasih, mentang mentang bohay pembeli nya. Padahal tidak cantik badan doang yang bohay, lah buat apa?? Pikir Arya


"Gak bisa lah dek, uang yang udah di kasih sama saya gak bisa di balikin lagi. Udah tunggu aja sekarang saya bikinin" ucap Abang nya selau padahal sudah kelewat selau


Lihatlah wajah Arya sejarah tambah merah, setelah mendengar perkataan si Abang martabak yang bikin darah tinggi


"Jadi dari tadi saya tunggu gak di bikinin?? Hah" Abang martabak itu mengangguk tak merasa bersalah


Brakkk


Arya menggebrak meja degan keras milik Abang martabak, semua orang yang menunggu martabak terkejut mengelus dada nya masing-masing.


Menatap Arya dengan sinis, sedang kan Abang martabak yang sedang menggoyang wajan supaya adonan menempel di sekitar nya. Seketika terkejut dan membuat sebagian adonan tabur kepinggir kompor.


"Astaghfirullah, dek ini salah kamu ya. Adonan nya tumpah ke kompor, kalo saya tambahin rugi dong dan ini bukan kesalahan saya, kesalahan kamu sendiri. Jadi kamu yang rugi karna engga saya tambahin apalagi ganti"


"dasar tukang martabak perhitungan. amit amit dapet jodoh kaya dia iiiiiih" maki Arya dengan jijik


"adek gak normal??" tanya abang martabak membalikan badan dengan wajah terkejut


"normal lah, lu kali yang gak normal. sialan lu" seru Arya cepat, ia tambah emosi gara gara tukang martabak. awas saat pulang gue hajar ketiga temanya itu, ya walau ujung ujung nya ia yang terkena hajaran mulut pedas mereka.


"lah tadi doa jodoh kaya saya"


"bukan oon, udah sana lu bikin lagi cepet. lama lama gue setres kalo di sini terus" tukas Arya kembali duduk sambil memaikan hp


mobil berhenti di kedai martabak Abang oleng, dan segera masuk kedalam


"bang martabaknya dua porsi" ucap Rara


Abang martabak menoleh menatap Rara dan Aisy dengan melotot, membuat keduanya agak takut "wah ada bidadari datang ke kedai saya, neng eneng dari kayangan mana??" tanya abang martabak antusias


Aisy dan Rara mengerutkan keningnya kedunya tak mengerti. saling pandang saling ber isarat kemudian menggeleng bersama


Arya yang tadi pokus dengan hp nya beralih menatap kedua gadis yang membuat si Abang martabak heboh sendiri. sepertinya ia mengenal salah satu dari mereka tepatnya wanita berkerudung itu. siapa ya??


"jangan dengerin omongan si perhitungan, omonganya gak bene semua alias bulsit" ujar Arya membuat Aisy dan Rara menoleh ke arah nya tapi tak lama


sedangkan Abang martabak menatap nya dengan kesal. awas saja saya kerjain, tau rasa kamu ujar Abang martabak dalam hati


"martabak manis apa telor??" tanya abang martabak pada Rara dan Aisy


"manis" jawab Rara


"makasih"


"woy Lo kepedean bang, bukan lu yang manis tapi martabak nya. kalo lu mah pahit" sahut Arya di belakang


" berbicaralah sopan pada orang yang lebih tua dari kamu"tukas Aisy karna merasa kesal dengan ucapan Arya


"dengerin tuh, udah sana duduk dulu gih" tawar Abang martabak


"makasih, lebih baik kita di mobil dari pada satu bangku sama orang yang gak punya sopan santun" ucap Rara menyindir


"oh ya bang, beli tiga porsi deh manis dua telor satu" ucap Rara lagu sebelum meninggalkan kedai menuju mobil


"siap neng"


sementara Arya diam tak berkomentar lagi, rasanya ucapan gadis berambut panjang sangat menusuk kelubuk hati nya


kalo saja lu gak cantik udah gue caci dan maki ujar Arya dalam hati


tiba tiba hp Arya berbunyi ternyata panggilan dari Arga. ia memencet tombol hijau dan menempelkan hp di telinga


"woy lama amat, gue laper nih"


"jangan jangan Lo makan sendiri ya" tuduh Arsa menyahut


"gue masih di sini, jemput gue. kesel gue"


"ogah males" seru Arga


"ya udah gue langsung pulang aja. sakit hati gue" keluh Arya


"lebay Lo"


"terserah Lo pada mau bilang gue apa. intinya gue langsung pulang gak balik ke sana" ucap Arya langsung mematikan hp nya. kemudian menyeringai. saat nya membalas teman temanya


pasti mereka langsung bergegas ke sini. hahahah rasakan pikir Arya dengan tersenyum


"adek sehat???" tanya abang martabak melihat Arya tersenyum tak jelas, takut nya dia gila Gara gara lama menunggu martabak


**Bersambung..........


maaf bila ada typo bertebaran di mana mana


jangan lupa like, komen dan vote ya**......