
"saka udah sadar pah?"
Herman menoleh ke arah tangga sambil menggeleng, menatap sang anak yang baru saja turun. Lalu Herman menepuk sofa di sebelah nya mengisyaratkan supaya anak nya duduk di sisinya
Aisy duduk menghadap ayahnya dengan bersila
"Ayah meminta penjelasan Aisy kan? Biar isy jelasin" ujar Aisy to the poin
Herman tersenyum hangat, mengelus kepala sang anak dengan sayang. Anak nya ini memang sangat peka
"Jelasin! Ayah mau denger"
Aisy menghembuskan napas nya dan tersenyum menatap ayah nya
"Saka teman isy pah, kita satu kelas. Aisy sama saka di tugaskan untuk mengikuti olimpiade"
"Bukanya isy udah kelas 12"
"Iya, kata Bu guru ini olimpiade terakhir sebelum semester genap"
Herman mengangguk paham, kemudian menarik anak nya itu dalam pelukannya
"Maafin ayah gak bisa jadi ayah yang baik buat isy"
Aisy memeluk ayah nya erat "ayah adalah hal terbaik buat isy" balas Aisy, mengundang senyum Herman dan mengecup kepala anak nya itu
"Harus nya isy yang minta maaf sama ayah, karna bersentuhan dengan lawan jenis. Maafin isy" ujar Aisy menahan tangisnya, ia merasa bersalah pada ayah nya dengan melanggar bersentuhan dengan lawan jenis.
"Gak papa, ayah mengerti. Di situasi seperti tadi ayah juga pasti melakukan hal yang sama seperti isy" Herman melepaskan pelukannya beralih menangkup wajah anak yang mata nya sudah berkaca-kaca. Herman tersenyum lucu
Karna tak tahan karna gemas, Herman mencubit hidung mungil gadis itu. Membuat Aisy meringis memejamkan mata dan mengeluarkan Air mata mengalir pada pipi nya
"Ayah sakiiit" keluh Aisy memukul tangan ayah nya kesal sambil memajukan bibirnya. Herman sendiri malah tergelak melihat wajah anak nya yang imut itu
"Ayaaaah!" Rengek Aisy tambah memajukan bibirnya dengan menyilangkan tangan di dada, berubah posisi menghadap ke tv, Melirik ayah nya kesal
*
*
*
Pagi menjelang
Dua orang pria berbeda umur itu masih menikmati mimpi indah nya
Kemudian pria yang masih muda itu mengubah posisinya tidurnya, memeluk sang pria tua. Mereka berdua tak lain Arsa dan Herman
Arsa mengerutkan kening dalam tidurnya, meraba raba dada Herman seperti memastikan sesuatu
Tumben papah tidur di sini, biasakan suka ngusir kalo gue masuk ke kamar nya. Apa papah di usir mamah?
"Pah... Papah di usir mamah yah?" Kata Arsa masih memejamkan mata nya, kemudian memeluk Herman seperti guling
Herman yang terganggu tidurnya membuka matanya. Mengerutkan kening saat pria muda itu mengeratkan pelukannya. Ia juga belum sepenuhnya sadar, jadi membiarkan saja
"Papah sejak kapan banyak lemaknya gini. Tapi enak empuk" katanya lagi.
"Papah apa apaan sih, sakit tau. Main tendang tendang aja, udah ngungsi ke sini malah gak bertema kasih, dasar!" Ujar Arsa mengusap pantat nya yang terasa ngilu
"kamu yang apa apaan, peluk peluk saya segala" kesal Herman berdiri berdecak pinggang
Arsa mendongak cepat saat mendengar suara tak di kenal nya menyaut. Arsa terkejut sampai memundurkan tubuhnya
"O-om si-siapa? ngapain di kamar saya?"Arsa mengerutkan kening nya, menatap takut pria tua bertubuh berisi itu yang terlihat menyeramkan karna matanya hendak keluar dari tempatnya
"enak aja kamar kamu! ini kamar saya" bentak Herman agak kesal
Arsa replek melihat sekeliling, dan ternyata memang ini bukan kamar nya. jauh beda, kemudian berdiri dan tersenyum malu pada Herman
"maaf paman"
"tadi om sekarang paman. apakah saya terlihat setua itu?"
Arsa memasang wajah bingung, menatap pria tua dari bawah sampai atas, yang memakai bawahan sarung dan kaos oblong yang tipis dan robek di pundak nya. memang ada yang salah dengan panggilan nya itu,
bukan kah paman dan om itu terlihat muda sedangkan pria tua ini melebihi tua dari panggilan yang di sebutkan ku tadi, lebih pantas di panggil grand father pikir Arsa
"terus saya harus panggil apa?" Arsa menggaruk tengkuknya tak gatal. ia bingung
"panggil saya brother" kata Herman dengan bangga
"hah" Arsa sampai cengo mendengar perkataan pria tua itu. mengedipkan mata nya beberapa kali "ba-baik lah brother"
Herman terkekeh bangga mendengar perkataan Arsa sambil berjalan ke kamar mandi.
sedangkan Arsa menggaruk kepalanya, mencoba mengingat sesuatu sambil mendudukan diri di kasur.
"seingat gue, ngantar Aisy terus____" Arsa membuka mulutnya kembali dan berdiri cepat, otak nya mulai bekerja
"Omaygaaaat! gu-gue pingsan di lihat Aisyah, aaah malu gue. mau di taruh di mana muka gue"gumam nya
"paman! paman ayah nya Aisy?"teriak Arsa
"saya gak setua itu anak muda!" sahut Herman di kamar mandi
"iya maksud saya brother, Lo ah maksud gue. aishh maksud saya brother ayah nya Aisy?"
"iya, kenapa? jangan Deket Deket sama anak saya!"
berarti gue nginep di rumah Aisy dong, aaah...baju gue siap yang ganti kata Arsa dalam hati melihat penampilan yang memakai kaos oblong dan celana kolor
"brother! siapa yang ganti baju saya? bukan Aisy kan?"
"anak saya mana mau burung nya kecil" ejek Herman sambil tergelak di kamar mandi
"sial" maki Arsa menonjok kepala ranjang
"brother saya ganti panggilan ya jadi camer" usul Arsa mendapat kan ide bagus
"apa tuh camer?" sahut herman keluar dari kamar mandi
"calon mertua" kata nya dengan tersenyum lebar menunjukan gigi rapih nya