
Pagi ini langit berwarna kelabu, padahal jam menunjukan pukul setengah tujuh pagi. biasa matahari menampakan diri dengan indah, kali ini tidak, hanya terlihat awan hitam menggumpal di atas langit
Sementara seorang pria masih nyaman di kasurnya dengan memeluk guling kesayangannya dengan selimut tebal menutupi tubuhnya.
Padahal sang mamah telah membangunkan nya beberapa kali, tapi tak mempan. Sudah ke sepuluh kali Asri bolak balik menaiki tangga hanya untuk melihat anaknya bangun, emang dasar anak susah di bangukan padahal biasanya tidak. Apa anak nya itu begadang sampai pagi, tidak biasa nya. Apa anaknya sedang ada masalah, masa iya pikir Asri percaya tak percaya
Sedangkan di kediaman pak Rahman baru saja selesai sarapan pagi, tapi tidak dengan Rara. Katanya dia gak bisa ikut karna akan sarapan bareng dengan orang tuanya, tentu saja Aisy dan pak Rahman senang, akhirnya hubungan keluarga Rara makin membaik. Alhamdulilah.
"Ayah, kayanya mau hujan deh" ujar Aisy menatap langit ia bersiap untuk berangkat sekolah
"Alhamdulilah dong. Bukanya hujan adalah nikmat.Kita harus bersyukur, bukan mengeluh karna hujan, Dan di anjurkan bagi setiap muslim bersyukur kepada-nya untuk membaca doa"
"Ayo berangkat keburu hujan, nanti gak jadi sekolah" ajak pak Rahman sambil menaiki motor, Aisy mengangguk dan ikut menaiki
#####
"Arsaka bangun!!" Asri menggoyangkan badan anaknya
Arsa menggeliat kemudian menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya. Membuat Asri berdecak sebal
"Arsa bangun sayang, astagaaa!!" Sekarang Asri menarik selimut sampai kebawah kasur, karna gemas sekaligus kesal. Tak lupa si guling kesayangan anaknya pun ia tarik dan ia buang ke lantai.
Arsa terbangun saat guling nya di rampas dengan kuat, ia membelak saat melihat gulingnya di buang begitu saaj kelantai.
Rasanya ingin marah, saat melihat wajah sang mamah ia urunkan. Malah berbalik ia menjadi takut dan susah menelan ludah nya
"Mamah?"
"Apa??"jawab Asri ketus sambil bertulak pinggang menatap sang anak dengan horor
"Engga, kenapa?"
"Kenapa kenapa enak aja kamu. Mamah cape bangunin kamu dari tadi engga bangun bangun. Tidur jam berapa semalam??"
"Semalam" beo Arsa sambil mengucek matanya
"Iya semalam"
"Kalo gak salah jam 4 baru tidur, kenapa?, Arsa masih ngantuk mah"
"Nagapain aja hah"
"Mikirin seseorang" ucap Arsa tak sadar
Langit mulai menurunkan air yang di sebut hujan, saat Arsa masih di tengah jalan menuju sekolah. Dia berdecak kesal lantaran hujan turun begitu tiba tiba, padahal saat di rumah sang mamah sudah memperingatkan nya supaya memakai mobil saja. Ya namanya juga Arsa sekehendaknya dan semaunya saja.
Arsa mempercepat laju motor nya tanpa memikirkan keamanan nya sendiri, yang di pikirkan nya sekarang bagaiman cepat sampai ke sekolah, bodo amat gerbang di kunci mau tidak ia harus kesekolah.itu urusan belakangan, Cape cape berangkat Samapi kehujan masa ia harus putar balik. Ogah.
Motor ia berhentikan tepat di depan gerbang, kemudian membuka kaca helm nya dan berteriak
"Pak Jono buka gerbangnya" dengan tangan menekan tombol klakson dengan beberapa kali. Pak Jono keluar dari tempat nya dengan membawa payung
"Den Arsa tumben baru nyampe?" Tanya pak jono sambil membuka gembok dengan gagang payung ia himpit di leher dan pundak
"Kesiangan, cepet pak dingin" sahut Arsa sudah tak tahan dengan hawa dingin makin bertambah setiap angin besar menghembus. Dengan susah payah pak Jono akhirnya berhasil membuat gembok kemudian membuka gerbang
"Makasih pak, nanti pulang sekolah Arsa teraktir sama tips nya" teriak Arsa setelah masuk dan menjalankan motor nya menuju parkiran. sedangkan pak Jono mengangguk
Lain lagi dengan gadis yang berdiri di koridor di depan kelas nya. Dia tampak cemas memikirkan sang ayah yang pasti kehujanan. Dia sudah menelpon tapi tak kunjung di angkat oleh sang ayah, yang semakin membuat nya cemas.
"Assalamualaikum yah. Ayah gak kehujanan kan? Ayah baik baik aja kan? Ayah kenapa gak jawab telpon isy" tanya Aisy bertubi tubi setelah telokn tersambung
"Wa'alaikusalam, tanya nya satu satu dong" Jawab pak Rahman dengan kekehan
"Ayah isy cemas"
"Iya ayah tau, alhamdulilah ayah gak papa, ayah baru nyampe jadi baru bisa angkat. Ayah cuma sedikit kehujanan, jangan khawatir"
"Ayah habis ini langsung minum teh hangat" Aisy memperingati
"Iya princess nya ayah. Udah dulu ya ayah kerja dulu, jangan lupa belajar yang rajin"
"Iya ayah, yang semangat kerjanya, assalamualaikum"
"Pasti dong, wa'alaikusalam"
Aisy mematikan panggilanya, memasukan hp nya kesaku rok nya, menatap Air hujan dengan tersenyum, entah kenapa ia sangat suka sekali hujan kalo tidak sekolah pasti ia sekarang main hujan hujanan dengan anak tetangganya. sebutlah dia kekanak Kanakan, sungguh Main hujan hujan sangat senyenangkan
"sial basah semua"
Aisy terkejut mendengar makian seseorang dengan suara keras, dia menoleh netranya menangkap seorang yang dia kenal. Aisy beristighfar beberapa kali dengan kepala menggeleng.
Pagi pagi begini Arsa sudah marah marah tak jelas, melihat penampilan dari atas sampai bawah seperti nya Arsa kehujanan. Arsa seperti nya tak mengetahui keberadaan, karna mulutnya berkomat Kamit dengan memerhatikan tubuhnya yang basah.
"abis Main hujan hujan Lo" tanya Arga dengan menahan tawanya, begitupun dengan Arwin keduanya berdiri di depan pintu menghadang Arsa
"Kehujan oon, minggir gue mau masuk" kesal Arsa dengan melepaskan tasnya dan melemparkannya ke Arga, replek Arga menangkapnya dengan badan meloncat kebelakang, jadi tanganya saja yang menangkapnya
"Hampir aja gue ikut basah" protes Arga dengan kesal, membenarkan posisinya
Arsa tak menggubris perkataan Arga ia memilih membuka jaket kulit kesayangannya dan menggibaskan tepat di hadapan kedua temanya
"Gue ikut basah anjir" maki Arga dan Arwin berbarengan menutup wajahnya dengan tangan menjadi pelindung.
"Bodo amat, sumpah dingin" Ujar Arsa sambil membuka seragam nya, menyisakan kaos oblong berwarna hitam yang pasti nya basah.
"Sini gue peluk, biar nambah kehangatan" tawar Arga dengan tawanya, membuat Arsa bergidik ngeri. Menatap Arga dengan ilfel
"Kalo mau ganti mending di toilet" ucap Arwin membuka suara, sebenarnya ia tau ada Aisy yang sedari tadi, sepertinya menunggu mereka masuk
"Gak ada waktu, dingin anjir. Minggir"
Arwin dan Arga akhirnya menyingkirkan diri dari pintu, memberi jalan untuk Arsa masuk. Pria itu masuk dengan mengibas ngibaskan rambutnya yang basah, ia tak peduli dengan para siswi menatapnya Dengan terpesona.
"Ga ambilin gue celana di loker sama baju nya jangan lupa"perintah Arsa setelah duduk dengan menyisir rambut nya dengan tangan
Tentu saja Arga kesal, melempar jaket milik Arsa ke meja. Tetap dia melakukan apa yang di perintahkan Arsa
"Sono mending Lo jemur di luar" usul Arwin memeperhatikan Arsa, ia masih betah menyender dipinggir pintu
"Lo aja gimana?" Tawar Arsa dengan kekehan
"Ogah males" ketus Arwin
"Sekalian kan Lo di pintu tinggal keluar" Arsa menyodorkan seragam dan jaket nya yang basah
"Ogah, gue ada tugas yang belum di isi" bohong Arwin berjalan ke tempat duduk nya. Arsa mendengus sebal, sungguh dia sangat dingin. Bila keluar dan angin berhembus menambah kedinginan nya tembus ke tulang