ARsaka

ARsaka
jauhi dia!



Aisy menghela napas lega telah menyelesaikan membuat sarapan berupa nasi goreng kemudian pergi dari sana ke kamarnya


gadis itu mendengus melewati kamar sang ayah, kala telinganya mendengar perdebatan ayah nya dan Arsa. tak mau mengganggu Aisy berjalan kembali menaiki tangga


*


*


"isy..!"panggil Herman di depan tangga


"iya ayah! sebentar" sahut Aisy di atas yang sedang memakai sepatu nya dan berlari menuruni tangga menghampiri sang ayah


"apa yah?"


"Rara di mana? kok belum datang, ini udah siang loh" tanya Herman merangkul pundak Aisy menuntun ke meja makan


"nanti isy telpon dulu" aisy segera menelpon Rara


" assalamualaikum. Rara kapan ke rumah, ayah nanyain kamu!" kata Aisy setelah telponnya tersambung


"waalaikum salam. lagi di jalan bentar lagi nyampe" sahut Rara yang ternyata sudah di depan pagar


"yaudah aku tunggu, jangan lama nanti terlambat"


"iya..." kata Rara gemas dan mematikan ponselnya


"gimana?" tanya Herman


"katanya bentar lagi nyampe" beritahu Aisy menarik kursi untuk ayah nya


"assalamualaikum, orang yang di rindukan telah tiba!" teriak Rara setelah masuk dalam rumah berlari ke meja makan. sudah kebiasaan nya seperti itu.


Aisy dan Herman tersenyum senang dengan kedatangan Rara


"kemana aja kamu? baru keliatan" tanya Herman sambil membalikan piring dan di isi nasi goreng oleh Aisy


Rara menggantung tasnya di kursi dan duduk menyilangkan tangan di meja "tumben mamah Sama papah ngajak sarapan bareng. Rara sampai kaget, sumpah!"


"itu bagus dong" kata Aisy sambil duduk, mengambil menaruh nasi nya ke piring setelah nya Rara. gadis itu mengangguk saja


sedangkan Arsa baru saja menyelesaikan ritual mandinya, kebingungan tak mendapati Herman di sana. ia bingung harus memakai baju apa, sedangkan seragam nya kemari ia tak tau ada di mana.


sepertinya pak Herman melupakan adanya Arsa di rumah nya begitu pun dengan Aisy, terlihat keduanya menikmati sarapan bersama Rara


dengan memberikan diri Arsa keluar dari kamar hanya memakai handuk melilit di pinggang nya, di sana tak ada jubah mandi dan Arsa tak mau memakai baju semalam nya.


Arsa melihat sekeliling rumah yang terlihat rapi dan nyaman, terdapat Poto besar terpajang di dinding, pemuda itu terkekeh menatap Poto anak kecil yang sedang bergaya mengangkat dua jarinya tersenyum dengan senang menampilkan gigi ompong nya


pemuda itu menebak gadis kecil di Poto itu Aisy


karna masih penasaran Arsa berjalan menatap berbagai Poto terpajang di dinding dengan senyum tak lepas dari bibirnya, ada rasa kagum pada gadis kecil di Poto yang banyak sekali mendapatkan piala. ternyata sejak kecil Aisy anak yang pintar pantas saja ia terkalahkan oleh gadis itu.


tak terasa Arsa sudah melihat semua Poto di dinding, pemuda itu melangkah kan kaki menuju meja makan. sesampainya di sana Arsa melihat kedua gadis yang dia kenal dan pria tua yang di peluknya pagi tadi


"astagfirullah!"


seketika Aisy membulatkan matanya dan segera menunduk menutup matanya, begitupun dengan Rara ia sangat terkejut melihat Arsa di rumah Aisy apalagi dengan keadaan seperti itu.


sedangkan Herman tersedak melihat penampilan pria muda itu dansegera bangkit dari duduk nya dengan ekspresi agak marah, lalu menarik Arsa ke kamarnya


"jelaskan!" perintah Rara menatap Aisy dengan menyelidik


Aisy menghembuskan napas berat nya, dengan berat hati ia mulai menjelaskan dari awal Arsa mulai mendekati nya.


"gila Lo sy, baru kasih tau aku" kata Rara agak kesal


"kamu aja yang gak peka, tapi aku udah berusaha Hindari saka kok tapi dia nya aja terus terusan deketin aku. aku harus gimana?" Aisy menangkup wajahnya


"bentar bentar"Rara memajukan badannya ke wajah Aisy di sebrang meja " Lo tadi panggil Arsaka apa? SAKA? aku gak salah denger kan?" tanya nya memastikan yang jelas jelas jawabannya sama


Aisy membuka telapak tanganya, mengedipkan mata nya beberapa kali. ada yang salah dengan panggilan nya? bukan kah Sama saja saka dan Arsaka


"kenapa?" tanya nya dengan wajah bingung


"aissh" Rara mengubah posisinya menjadi menyender di kursi dengan tangan menyilang menatap Aisy dengan jengah


"CK...aiissh" Rara tak jadi berbicara ia merasa gemas dengan sahabatnya nya itu, menggaruk kepalanya yang Tak gatal mencoba berpikir untuk berbicara supaya sahabatnya itu paham


"panggilan kamu buat Arsaka itu terbilang istimewa Aisy..."gemas nya sambil menggigit jari telunjuknya


"hah masa?" polos Aisy


"iya Aisyy... orang lain aja manggil dia Arsa sedangkan kamu saka. orang bisa salah paham dengan panggilan kamu itu" jelas nya membuat Aisy mengerutkan keningnya


"emang iya?"


"aiish, masih gak paham! iya isy!" Rara menggaruk rambutnya sampai berantakan karna kesal sekaligus gemas


"terus aku harus gimana?"


"Jauhi dia!"


salam dari author 🙏


**mohon maaf bila para readers yang kesal karna menunggu up nya lama. author mohon maaf sekali lagi


karna author sedang memperbaiki novel author "kesabaran seorang istri" mohon di maklumi jadi gak sempet up ARsaka


dan insyaallah Arsaka akan up dua hari sekali atau bisa juga satu hari sekali. jadi mohon dukungan nya ya...


supaya author bisa up setiap hari dan membuat readers senang dengan cerita Arsaka. aamiin....


sekian dan terimakasih


wassalamu'alaikum**