
Arya memutar permen lollipop nya, sudah lebih dari tiga puluh menit ia menunggu tiga sahabatnya di parkiran yang tak kunjung datang.
matahari semakin meninggi membuatnya terganggu terkena terpaan sinar nya. pemuda itu beranjak mencari tempat teduh di bawah pohon
melirik jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit. sepuluh menit lagi bel berbunyi tapi salah satu sahabat nya tak terlihat satu pun
ia berpikir pasti ada sesuatu di antara mereka, tapi apa? Arya harus mencari tahu.
"woy kumel ngapain Lo di sana"
Arya menoleh ke arah suara, ia menghela napas jengah. terlalu males meladeni gadis satu ini, setelah kejadian di kedai martabak waktu itu. ia dan gadis satu ini selalu saja bertengkar
"suka suka gue dong" balas nya songong
gadis itu mengangguk ngangguk paham "selera Lo murahan" serkas nya sadis
"l-Lo..." tunjuk Arya tak bisa berkata apa-apa lagi
"Apa? emang benerkan" tersenyum mengejek
Arya yang sudah kesal berjalan menghampiri gadis bernama Rara itu. ber decak pinggang menatap songong Rara
"mau Lo apa sih? gue heran sama Lo kerjaan nya ngehinaaa terus. gak busuk tuh mulut Lo"
tak merasa bersalah dan tertantang Rara balik melawan Arya berjalan maju dengan smirk di bibirnya
"sebenarnya gue gak mau apa apa, kebutuhan gue sudah terpenuhi semua" songong Rara "jadi gak mungkin kaya nya mulut gue busuk, lagian kalau busuk tenang gue bisa obati. gue bukan orang miskin"
Arya berdecih mengalihkan pandangan ke arah lain "gue pernah liat di tv biasanya orang sombong terkena karma yang lebih parah nya azab"
beralih menatap gadis di depannya itu "gue saranin, sebaiknya hati hati dengan sikap Lo. ingat girl"menepuk pundak Rara dan di tepis oleh empu nya
"upsss" tersenyum mengejek mengangkat tanganya "Hidup seperti roda berputar, Lo pasti bukan maksud gue apa?"
Rara menatap tajam Arya dan melenggang pergi dari sana. perkataan Arya bagai tamparan untuk nya
Arya tersenyum kemenangan, ia sampai berjinjit jinjit saking senangnya. seperti memenangkan penghargaan bergengsi
"woy Rya Lo ngapain?"
Arya berhenti berjinjit "gue seneng benget ga, rasa nya ingin berteriak aaaaa gue seneng" kata nya heboh mengguncang badan Arga
Arga mendorong Arya kesal hingga terjatuh "apaan sih Lo gak jelas banget. jijik gue liat nya"
"anjir sakit oon!" maki nya mencoba berdiri
"bentar bentar"cegah Arya "yang lain mana?" mencari keberadaan dua sahabat nya
Arga mengangkat bahu acuh
"gue beneran nanya ga! plis lah jawab. kalian gak lagi ada masalah kan? terus kemana Lo semalam? kenapa gak kerumah Arsa?"
Arga menghembuskan napas nya "Lo Kemana aja kemarin hah?"
"gue"tunjuk nya pada diri sendiri dan tersenyum hambar "ada sedikit urusan"bohong nya, mana mungkin ia bilang berbunyi dari Arsa. yang ada Arya terkena makian Arga
"yakin Lo? bukan lagi ngehindar Arsa" tebak Arga tepat sasaran
"cerita apa? gue gak punya dongeng"
"aish, ya cerita kejadian kemarin lah"
Arga ber oh ria dan mulai bercerita sambil berjalan menuju kelas
"yang bener Lo?" tukas Arya agak kaget
Arga mengangguk "gue juga gak nyangka Arsa mengalah begitu aja"
"wah wah ini rekor bro"sambil bertepuk tangan "Terus Arwin?"
"merasa bersalah, biasalah dia kurang ngontrol emosi nya"
"orang kaya dia emang kek gitu, diem diem menghanyutkan"
"benar! tumben Lo bener"
"emang dari kemarin gue itu____"
"bodoh" selang Arga di iringi tawa
Arya berdecih, ia baru menyadari ternyata ia salah masuk kelas karna terlalu serius meng ghibah sahabatnya.
tak sengaja tatapan nya tertuju pada gadis sombong bermulut pedas itu, yang sialnya dia juga sedang menatap ke arah nya
"apa Lo liat liat" ucap Rara nge gas
"mata mata gue, terserah gue lah" sahut Arsa tak kalah ngegas
"ngapai Lo di kelas gue"
"hah! gue gak salah denger nih, kelas Lo? hohoho ternyata selain sombong Lo juga suka mengaku ngaku ya. apa orang tua Lo gak ngedidik Lo!"
Rara yang sudah kelas menggebrak meja, membuat Aisy yang sedang membaca buku tersentak kaget dan menatap rara bingung
tak hanya Aisy yang terkejut semua orang di kelas pun tak sama terkejut begitupun dengan Arga dia tak kalah terkejut, baru pertama kali ia melihat gadis itu marah gara gara si kutukupret Arya.
biasanya kan anteng anteng aja di kelas, walau pernah mendengar dulu Rara itu gadis nakal tapi ia tak pernah melihat Rara berbuat hal seperti itu
"tau apa Lo tentang gue hah, dasar orang miskin belagu"
Arya tak marah sama sekali di Katai seperti itu, di malah tersenyum menanggapi nya
"Rara!" peringat Aisy tak suka dengan ucapan Rara, yang menurutnya tidak baik
dengan napas memburu menahan emosi Rara menatap Aisy "kali ini gue gak bisa turuti Lo sy" bahkan Rara sudah Menganti panggilan menjadi kasar, tak seperti biasanya
"istighfar Ra!" Aisy mengusap punggung Rara " tarik napaaas, buang"
Rara menuruti instruksi Aisy dan tersenyum kala emosi agak mengurang "makasih"
Aisy berdehem dan mengangguk "lain kali jangan kaya gitu. biarkan orang berkata apa, jangan dengarkan apalagi membalas nya. ingat diam nya seseorang saat di hina bukan tak mampu melawan, tapi tak pantas singa meladeni anjing"