
"aaastagfitullah"pekik Aisy replek memeluk Arsaka saat Arsaka menancap gas dengan kencang. untung saja Aisy menaruh tasnya di depan kalau tidak ia langsung bersentuhan dengan punggung Arsa
ARsaka yang merasa di peluk tersenyum senang dan menambah kecepatan nya dan Aisy mengencangkan pelukan nya
"ARsaka berhenti!!" pekik Aisy menepuk pundak Arsa, seolah tak mendengar Arsa tak menggubris perkataan Aisy.
"saka saya takut"suara Aisy terdengar paruh, tanganya bergetar hebat. Arsa bisa merasakannya
Arsa memelankan laju motor nya. ia merasa bersalah membuat Aisy ke takutan demi kesenangan nya sendiri
"Lo gak papa kan sy?"
Aisy tak menjawab, badanya menggigil dan jantung nya bergetar hebat karna takut. Arsa merasakan cengkraman Aisy di bajunya bertambah kuat dan bergetar, membuat Arsa panik
"sy? Lo gak papa kan? jawab gue!"
"sa-saya takut"seru Aisy dengan suara lemah
"maaf... gue salah" Arsa merasa bersalah semakin memelankan laju motor nya
"rumah Lo di mana?"
"d-di jalan melati nomor 77" jawab Aisy dengan gugup, ia masih ketakutan
keadaan menjadi hening, perlahan tangan Aisy terlepas dari pinggang Arsa beralih memegang tali tas Arsa. Aisy tak berani mengeluarkan suara begitu pun dengan Arsa, ia merasa bersalah hingga memelankan laju motor nya. itung itung berlama-lamaan dengan Aisy pikir Arsa dengan senyuman nya. walau tak mendapat pelukan tak apa, dasar buaya!
badan Aisy merasa semakin dingin, hujan mulai agak reda, azan magrib sudah berkumandang, tapi ia belum juga sampai ke rumah.
"saka, kapan sampai kalo jalan nya pelan, bisa bisa nanti sampai nya isya. cepetin dikit" kata Aisy agak kesal tapi suaranya terdengar lelah
"katanya takut, udah di pelanin kok minta di cepetin. emang ya cewe itu selalu benar!" sahut Arsa tak kalah kesal, diam diam ia tersenyum
"iya gak pelan kaya gini juga saka!"
"iya iya bawel, bilang stop kalo menurut Lo pas" suruh arsa di angguki oleh Aisy. mulai menancap gas
"terlalu kecepatan!" teriak Aisy tanganya kembali memeluk Arsa, membuat sang empu tersenyum senang
"segini?" tanya nya memastikan sambil memelankan laju motor nya
"engga lebih lambat lagi"
"gini"
"engga ini terlalu pelan saka!"
"terus gimana? segini?"
*********
"ini rumah Lo?" Arsa menatap rumah berlantai dua berwarna biru itu, yang terlihat nyaman
"ya, makasih atas bantuannya" sahut Aisy menyerahkan helm pada Arsa
Arsa mengangguk paham lalu beralih menatap Aisy yang hendak melepas jaket hitam miliknya yang melekat pada tubuh gadis mungil itu
"jangan di buka di sini, Lo mau gue liat Daleman Lo?"
gadis basah kuyup itu mendongak, menghentikan gerakannya lalu mengambil tas nya di badan motor. kemudian membuka pagar dan berbalik "makasih"katanya dan melenggang pergi menuju rumah nya
Arsa menepuk mulut nya beberapa kali, bisa bisanya ia berkata seperti itu. tapi memang benar kan? jadi Arsa hanya mengangguk saat Aisy berterima kasih padanya
"Aisyah!" panggil nya dengan berteriak
gadis itu berhenti tapi tidak berbalik maupun menoleh menunggu perkataan Arsa selanjut nya
"gue gak di tawari masuk gitu, gue dingin!"
Aisy menoleh kebelakang dan menggeleng, bukanya ia tak sopan karna tidak menawarkan Arsa kerumah nya. tapi di rumahnya sedang tidak ada siapa siapa, ia tak mau menimbulkan fitnah. sebenarnya ia juga kasihan pada Arsa tapi bagaimana lagi, ia tak bisa membantu kecuali.....
"bentar" ujar Aisy mengisyaratkan Arsa supaya diam dulu di sana menunggu dirinya kembali, Arsa yang mengerti mengangguk menatap kepergian Aisy kedalam rumah nya.
Arsa mengusap usap tanganya yang terasa dingin, baju yang basah di terpa angin membuat dingin nya bertambah apalagi sekarang sudah malam, bukan kah angin malam dingin? bagaimana Arsa kuat menahan dingin yang berkali lipat
wajah nya tampak pucat di dalam helm, ia sengaja tak membuka helm nya supaya kepalanya terasa hangat. badan nya menggigil memeluk diri sendiri di atas motor, netranya terus menatap ke arah rumah Aisy
tepatnya pintu rumah gadis itu yang belum juga terbuka. sumpah Arsa sudah tidak kuat, kepalanya tiba tiba pusing dan berat. badannya bergetar kuat
pria itu turun dari motor bersender di pagar besi sebatas pinggang dengan pelan ia membuka helm nya, kepalanya terasa berat tak kuat menahan beban dari helm nya.
karna tak kuat menahan dingin, Arsa berjongkok memeluk dirinya sendiri mencari kehangatan, tapi matanya tak kuat untuk terbuka kepalanya terus berdenyut lalu Arsa ambruk
Aisy yang baru keluar seketika terkejut mendapati Arsa berbaring di depan pagar rumah nya. gadis itu segera berlari menghampiri Arsa
"saka!"panggil Aisy duduk di hadapan Arsa
keadaan sekarang serba salah, apa yang harus Aisy lakukan. apakah ia harus membantu Arsa yang berujung bersentuhan, ya Allah Aisy harus apa? keluh Aisy dalam hati
tak ada pilihan lain, nyawa lebih penting. Aisy langsung mengangkat kepala arsa dan menaruhnya ke pangkuannya, Aisy tak punya tenaga untuk membopong pria yang pingsan ini, hanya ini yang bisa Aisy lakukan
"saka? bangun!" Aisy menepuk nepuk pipi Arsa, guna menyadarkan Arsa
Arsa membuka mata nya yang terasa buram, lalu mencekal tangan yang menepuk pipi nya itu " gue suka sama Lo!" ujar nya ngelantur dengan senyuman di wajah nya