ARsaka

ARsaka
Aisyah Asyauki



Aisyah Asyauki adalah gadis  dari keluarga sederhana. Yang dari kecil sudah di tinggal ibu tercinta nya. Dia sangat mencintai jilbabnya, seperti ia mencintai ayah tercinta nya.


Saat sekolah SMP Aisy membina ilmu di pondok pesantren. Dan sudah biasa jika ia menjaga pandangan. Saat lulus SMP ia keluar dari pondok, karna ingin menemani ayah nya yang tinggal sendiri di rumah. Banting tulang membiayai sekolahnya, sementara ia tak memberikan kebutuhan ayah nya. Apalagi ayah nya tak pandai memasak dan mencuci. Bila memperkerjakan orang bukan kah itu lebih boros. Dan lebih baik ia bukan yang mengajarkan.


Pagi ini,Aisy berangkat sekolah agak siangan. Karna cuma melihat nilai terbaik dan paling cuma beres beres kelas. Sudah biasa bila hendak libur sekolah para siswa membersihkan kelas masing masing.


Aisy berjalan melewati gerbang dan tak lupa menyapa pak satpam sekolah yang hendak menutup gerbang. Gadis itu terus berjalan menuju papan pengumuman, dia ingin tau nilai nya sekarang. Apakah meningkat atau menurun, memikirkan itu membuat nya agak gugup.


Dari kejauhan Aisy melihat koridor penuh oleh para siswi dengan sorakan sorakan mereka. Aisy jadi agak penasaran, tapi ia urunkan niat nya. Ia hendak keperpus terlebih dalulu, mengambil buku nya yang ketinggalan kemarin.


"Isy..." Aisy menoleh kebelakang, menatap orang yang memanggilnya. dia memberhentikan langkahnya menunggu orang itu mendekat padanya.


"Apa Ra??"tanya nya setelah orang yang bernama Rara di hadapnya yang mengatur napas, membungkuk dengan tangan menjadi penompang di lutut nya.


"Woaah kamu tau gak sy??"ucap Rara heboh


"Engga"Aisy menjawab seadanya, ya memang ia tidak tau.


Rara berdecak sebal "kamu tuh ya. Emang belum lihat Mading??"


"Belum"


"Aissh padahal ada kabar gembira di sana"sahut Rara mencoba bersabar, supaya tak terbawa emosi dengan keselaun sahabat nya ini.


"Oooh" tuh kan?? Aisy emang bikin emosi kalau lagi kaya gini.


"Ko malah oh doang sih" Rara berdecak kesal


"Terus harus apa??"


"Ya tanya kek.kenapa, kabar apa,  apa yang ada di Mading. Gitu ke"sebal rara


"Nanti ujung ujung nya gibah"


"gak bakal gibah sy. Soalnya orang nya lagi ngobrol sama aku" ucap Rara gemas, rasa nya ingin menggigit Aisy sekarang juga


"Maksud kamu. Aku" Rara mengangguk atas jawabannya. Aisy mengerutkan kening


"Ko aku"


"Karna kamu menjadi murid terbaik di tahun ini"heboh Rara, membuat para siswa yang lewat melihat keduanya.


"Gak mungkin" ucap Aisy tak percaya tapi masih dengan nada bisa tak panik dan heboh sedikit pun.


"Kalo gak percaya ayo aku tunjukkin"


Rara langsung menarik tangan Aisy menuju papan pengumuman dengan agak berlari. Aisy yang di tarik sontak saja terkejut, detik berikutnya Aisy mengontrol larinya, mengikuti langkah Rara.


"Ra malu iih, di liatin orang orang. Apalagi di sana rame" ucap Aisy memberhentikan langkahnya, melihat koridor yang penuh dan di depan papan pengumuman terdapat tiga pria yang tertawa terbahak-bahak. Sementara para siswi memvidio ketiganya.


"Mereka kenapa??" Tanya Aisy kepada Rara. Rara menoleh  mendelikan bahu nya.


"Mana aku tau"


"Nanti aja deh, rame. Lagian aku mau ke permukaan dulu"


"Iiish kamu tuh ya sy, gak penasaran gitu" tanya Rara gas, sampai bertulak pinggang


Aisy menggeleng. Walau sebenarnya ia agak penasaran, tapi mengingat di sana rame, ia tak mau.


Rara menghela napas, beralih menatap ke depan "mereka gila ya??"


"Iih Rara gak boleh gitu" tukas Aisy, sambil memberikan pukulan kecil tangan Rara


Rara meringis, mengusap tangannya yang di pukul Aisy


"Lebay, gitu aja sakit" ujar Aisy lalu melenggang pergi dari sana


Rara mengejar Aisy dengan kekehan, dan mensejajarkan langkahnya dengan Aisy.


"Mereka aneh ya sy??" Aisy menoleh, tak mengerti dengan ucapan Rara


"Siapa??"


"Iish itu tuh mereka" tunjuk Rara dengan ibu jari mengarah kebelakang, tanpa membalikan badan


"Engga boleh gitu. Gak baik su'uzon" seru Aisy menggeleng kepala


"Iya deh" ucap Rara, dan memilih diam. Mengikuti langkah Aisy menuju perpustakaan. Percuma kalau dia melanjutkan, Aisy pasti akan diam  menghiraukannya. Tak bertanya ataupun menimpali. Katanya ujungnya pasti ghibah. Dan itu benar.


Rara bersyukur karna mempunya sahabat seperti Aisy,yang menuntun nya kejalan yang benar tidak seperti teman yang lainnya, yang sering mengajak nya keluar dan menghambur uang.


...********...


Siang hari nya semua siswa berkerjasama membersihkan kelas masing masing, begitu pun dengan aisy dan rara. Keduanya bertugas sebagai pembuang sampah yang ada di tong sampah ke belakang sekolah.


Padahal rara malas mendapat bagian ini. Terlihat dari tadi gerak gerik nya yang menghentakan kaki dari tadi, dan raut wajah nya yang malas. Serta mulut nya yang dari tadi tak berhenti mengoceh, membuat aisy pusing mendengar nya.


Seperti sekarang ini keduanya sedang mengambil tong sampah dari kelas paling atas, menggotong tong sampah menuruni tangga.


"Jorok banget nih kakak kelas, bau banget. Sumpah"rara mulai mendumel, menutup hidung nya dengan tisu.


"Nama nya juga sampah ra"


"Tapi bau nya engga kaya gini lah. Sampah di rumah aku juga gak bau,malahan wangi"


"Emang pernah buang sampah di rumah??"


"Engga"jawab rara seadanya


Aisy menghela napas jengah, berhenti melangkah,menoleh kebelakang menatap rara yang menyengir kuda


"Sudah aku duga"sindir aisy melanjutkan langkah nya, tak mau meladeni ucapan rara.


Di bawah


"Sy...aku mau pipis"ucap rara melepaskan pegangan tong sampah dan langsung duduk. Mungkin sudah tak tahan.


"Yaudah sana ke toilet" aisy berbalik badan setelah melepaskan pegangan tong sampah. Menatap rara dengan menahan senyum.


"Terus ini siapa yang gotong"tunjuk rara pada tong sampah di depan nya, lalu ia meringis.


"Aku aja, udah deket ini tinggal belok. Udah sana ke toilet nanti keburu pipis di sini lagi, kan berabe"


"Beneran. Aduh gak kuat" aisy mengangguk dengan senyum tak lepas dari bibir nya, melihat Rara terlihat lucu. Rara berdiri kemudian berlari sambil berteriak.


"Aku duluan ya. Hati hati"


Aisy mengangguk kemudian menggeleng melihat kelakuan rara. beralih menatap tong sampah.


Menghela napas dan mengangkat nya, menuju tempat sampah di belakang sekolah. Untung ini tong sampah terakhir, jadi aisy bisa langsung membakar sampah sampah nya.


Setelah beres membakar sampah aisy duduk terlebih dahulu di kursi besi dekat tembok. Berniat menunggu rara tapi tak kunjung datang.


Akhirnya ia beranjak setelah melihat api di sana agak padam. berbelok berjalan di lorong.


Aisy menghentikan langkahnya, saat netranya melihat  empat siwsa sedang tertawa di kursi dan meja yang sudah tak terpakai. Di atas meja terdapat cemilan dan minuman.


Mereka sedang apa disini?? Tanya nya dalam hati


Aisy menggeleng kepala, ia tak boleh su'uzon. Apapun yang mereka lakukan, positif think saja atau hiraukan saja, lebih baik seperti itu dari pada berburuk sangka.


Melanjutkan langkahnya yang harus melewati ke empat pria itu. Semakin dekat pendengarannya semakin tajam, mendengar mereka bicarakan. Yang menurut nya unfaedah.


"Alif, enun dan Jim. Anjim lu ga" kata salah satu dari mereka


Aisy mendengar nya membulatkan matanya. Huruf Hijaiyah di eja hanya untuk mengatakan kata yang kasar. Aisy beristighfar dalam hati.


"Sa, win. Lu tau gak tips hidup simpel?" Tanya orang yang berbeda dari sebelum nya


"Hidup itu simpel. Pertahankan gilamu, ketika warasmu sudah tak di hargai. Karna kita butuh sedikit gila untuk menghadapi orang-orang penuh sandiwara"


Lagi lagi Aisy beristighfar mendengar perkataan salah satu dari mereka yang mengucapkan nya dengan bangga. Sungguh miris hidup mereka. mempertahankan gila?? Adakah di dunia ini yang ingin mempertahankan kegilaan mereka??.


"Kaya Lu dong"


"Ba,enun, tsa dan ta. Bangsat lu pada"


Dan lagi Aisy beristighfar, lagi lagi huruf Hijaiyah di gunakan untuk berkata kasar. Dengan bangganya mereka tertawa. Astaghfirullah....


Aisy melewati ke empat pria yang tertawa itu, lidah nya gatal ingin sekali mengatakan sesuatu. Aisy menahannya dengan cara beristighfar.


"Sungguh hidup kalian tidak ada gunanya" lolos sudah yang dari tadi Aisy ucapkan. Setelah itu ia merutuki dirinya sendiri, karna tak bisa menjaga lisannya. Dan segera berjalan cepat, ia tak mau berurusan dengan mereka.


Sementara ke empat pria itu mendengar nya, langsung bungkam sekaligus merasa heran. Yang tak lain the Ar.


Saling tatap seolah menanyakan maksud dari gadis berjilbab tadi, dan siapa gadis itu.


...**********...