ARsaka

ARsaka
manis



Siang ini seperti biasanya gadis cantik yang bernama Aisy memilih ke perpustakaan, akhir-akhir ini memang sudah kebiasaan nya ke perpus saat jam istirahat ke dua.


Kebetulan Aisy sedang tanggal merah, jadi ia bisa berlama-lama di sana, tak perlu meminjam buku lagi. Karna biasanya setelah sholat Aisy ke perpus terlebih dahulu bersama Rara untuk meminjam buku.


Setelah mengambil tiga buku Aisy memilih tempat duduk yang ramai, ia tak mau kejadian kemarin terulang lagi.


Pasti laki laki yang bernama Arsaka itu kembali lagi, Aisy yakin itu


Tak berapa lama, Arsa masuk ke perpus dengan membawa buku yang kemarin ia pinjam dan memberikan pada Bu Mina


Netranya menangkap sosok yang ia cari. Ah ternyata di sini


Tadi nya Arsa hendak langsung pergi dari sini, tapi eh tapi gak jadi setelah melihat gadis sang pujaan hati. What pujaan hati? Apa Arsa sudah mencintai Aisy, sejak kapan? Arsa pun tidak tahu


Lamunan nya buyar saat Bu Mina bertanya "kenapa masih di situ?"


Arsa menoleh ke Bu Mina


"berubah pikiran"


"Terus?"


"Masuk lah" setelah menjawab Arsa melenggang mencari buku, padahal cuma akal akalan nya saja


Memutari rak buku, terlihat seperti mencari buku yang Ia d butuhkan. Percayalah itu bohong, nyatanya ia sedang mengintip Aisy


Karna tak memerhatikan jalan Arsa menabrak seseorang, hingga membuat buku berjatuhan


Arsa berdecak kesal


"Maaf, maaf aku gak sengaja"Ucap gadis yang bertabrakan dengan Arsa langsung memunguti buku-buku yang berjatuhan


"ya gak papa, udah jangan di beresin biar gue aja" Arsa merebut semua buku di tangan gadis itu


Sang gadis mengangguk, tanpa berniat menatap Arsa "sekali lagi aku minta maaf" ucap nya


Arsa berdehem, kemudian menaruh buku yang berjatuhan kembali ke rak. Arsa mengintip ke arah tempat Bu Mina, Arsa tersenyum lega, guru badan besar yang takut kecoa itu ternyata tidak ada di tempatnya.


Tapi sepertinya semua orang membaca terganggu, terlihat mereka sudah ada di pinggir Arsa


"Ini perpustakaan, jangan membuat kebisingan apalagi kerusuhan!" Ucap salah satu dari mereka berdecak pinggang memarahi gadis berambut panjang yang menutup separuh wajahnya beserta Arsa yang membelakangi mereka


Mereka belum menyadari kalau itu Arsa yang mereka bentak


Sementara Arsa beralih menatap Aisy yang nampak tak terganggu dengan keributan yang di buatnya tadi, terlihat dia pokus membaca dan mencatat


Suara bentakan seseorang membuatnya mengalihkan pandangan, menatap mereka yang bertulak pinggang dengan raut marah dan kesal


Saat melihat wajah siapa yang mereka bentak, memang rata rata di perpustakaan berkelamin perempuan. Langsung saja syok, tenyata itu Arsaka idol mereka, sungguh kebetulan sekali bertemu langsung dengan Arsaka di perpustakaan


"Ya gue tau, gue minta maaf ganggu kalian"


Mereka meringis mendengar nya, "e-engga papa kok, hehehe"sahut salah satu dari mereka di iringin tawa garing


"Kak Arsa boleh Poto?"


"Maksudnya?" Arsa tak mengerti, bukanya tadi mereka marah, Sekarang kok minta poto


"Minta Poto, soalnya aku ngefens banget sama kakak"


"Iya kak boleh ya boleh" mohon mereka


"Kalian the king school?" tebak Arsa


"Iya kak, iya. Kami selalu tunggu kakak untuk reuni loh, sudah lama kakak gak reuni"


"Maaf ya gue sibuk, gak ada waktu"


"Oh ya boleh"


...######...


Terdengar bel berbunyi nyaring, pertanda waktu pulang telah tiba. terlihat semua siswa berhambur keluar kelas masing masing, menuju parkiran.


beda lagi dengan dua anak murid kelas 12, yang di suruh ke kantor terlebih dahulu. kata wali kelasnya ada yang di bicarakan penting


Meraka berdua tak lain Arsa dan Aisy. mereka berdua berjalan di koridor dengan beriringan, Arsa berjalan di depan Aisy, sementara Aisy di belakang Arsa


padahal Arsa sudah menawarkan untuk jalan beriringan, tapi Aisy menolak memilih tetap di belakang. yasudah Arsa bisa apa, nih anak kalo gak di turut malah memilih pergi sendiri, kan Arsa nya yang gak enak, tepat nya gak mau.


"Lo kenapa sih, gak mau beriringan sama gue" kata Arsa memulai topik, dari tadi gadis di belakangnya diam tak bersuara


"kenapa kamu mau jalan beriringan dengan saya?"


Arsa menoleh kebelakang tanpa menghentikan langkahnya, berdecak sebal dan berkata "kalo orang NANYA itu jawab bukan balik BERTANYA"


mendengar perkataan Arsa yang terdapat penekanan di kata tanya dan bertanya serta kekesalan, membuat Aisy mendongak sebentar ternyata Arsa sedang menatap nya


Arsa menerbitkan senyum saat melihat wajah cantik Aisy melihatnya, membalikan badan menghadap Aisy dan berjalan mundur. memasukan tanganya ke saku celana membuat siapa saja yang melihatnya terpesona, tapi tidak dengan Aisy


"kamu nyindir saya?"


Arsa terkekeh pelan, membuang wajahnya merasa lucu dengan gadis di depanya ini. kembali menatap Aisy


"Lo merasa tersindir?"


"berarti kamu nyindir saya?" Aisy mengulang kembali pertanyaan nya


"Lo merasa tersindir gak?" gemas Arsa


"kamu ngapain jalan kaya gitu?" tanya Aisy mengalihkan pembicaraan, sekaligus ia baru tau saat melihat sepatu Arsa yang berjalan mundur


"suka suka dong"


"gimana nanti menabrak tembok dan tesandung" Arsa tersenyum mendengarnya


"Lo khawatir sama gue?"


seolah baru menyadari nya, Aisy membulatkan mata. ia lupa bahwa laki laki di depanya ini sangat pede dan suka salah paham


"kamu salah paham"


"gue yakin gak salah paham, yang Lo katakan tadi adalah sebuah kekhawatiran"


"terserah" kata Aisy dan melanggang pergi dari sana


"hati hati" ucap nya cukup pelan tapi masih terdengar oleh Arsa, mendengar kata singkat itu membuat Arsa begitu senang


BUGH


saat berbalik Arsa terkejut bukan main, wajahnya mencium tembok begitupun badan nya, karna berbalik terlalu cepat membuat nya terpental setelah menabrak tembok


Aisy menoleh kebelakang, dengan bibir terangkat tipis "di bilangin ngeyel sih" katanya tak melepas senyum di bibirnya


"manis" gumam nya tak sadar


Arsa menatap Aisy tak berkedip, gadis itu tersenyum kepadanya. aaaah cantik sekali


Arsa rela menabrak tembok beberapakali, kalau itu membuat Aisy tersenyum. sontak saja rasa sakit di kepala dan pantatnya hilang seketika


memandang kepergian Aisy yang menghilang di balik tembok. Arsa masih terbengong di sana, saat tepukan di pundak menyadarkannya


"Lo gak papa?"