
Kejadian tadi tentu saja mengundang perhatian semua orang yang ada di sana, begitupun dengan Bu Mina penjaga perpustakaan langsung melihat apa yang terjadi
Bu Mina berdecak pinggang, menatap Arsa dan Aisy dengan tajam "kalian tau tata tertib perpustakaan?!"
Aisy dan Arsa mengangguk.
"Apa??"
"Tidak boleh berisik" jawab keduanya bersamaan
"Kenapa kalian bikin keributan??"
"Tadi kecelakaan Bu, Aisy jatuh dari kursinya"Arsa yang menjawab, Aisy mengangguk membenarkan ucapan Arsa
"Kenapa bisa jatuh, gak bakal jatuh bukan kalo kalian tak berulah?!" Tanya Bu Mina masih dengan nada yang sama
"Sungguh kita gak berulah Bu, kita pokus baca aja. Eh tiba tiba Aisy beristighfar kemudian jatuh" lagi lagi hanya Arsa yang menjawab, Aisy hanya bisa mengangguk dengan hati dongkol. Bisa bisanya Arsa bilang seperti itu, emang bener kaya gitu kejadiannya, tapi kalo bukan karna Arsa yang menganggarkan kejadian tadi gak bakal terjadi. Aisy hanya bisa beristighfar dalam hati
"Kenapa Aisy??" Kali Bu Mina bertanya pada Aisy langsung
Aisy mendongak sebentar, kemudian menunduk lagi "saya terkejut Bu"
"Iya kenapa??"
Aisy menghembuskan napas, kalau menceritakan yang sebenarnya, pasti masalahnya akan tambah rumit. mengingat Arsa banyak alasan, lagian Aisy malu. tapi bila ia berbohong Aisy tak sanggup "ada kecoa tiba tiba di samping saya"
Arsa melotot tak percaya, sama saja gadis di sampingnya itu mengatai nya kecoa bukan. Sementara Bu Mina langsung kalang kabut
"Diman kecoa nya, dimana, dimana" Bu Mina sampai berjinjit jinjit melihat kebawah, mungkin takut ada kecoa
*****
"Gue gak nyangka ternyata Lo bisa bohong syi"
"Semua manusia bisa melakukan dosa, begitu pun dengan aku tak luput dari perbuatan dosa" Aisy mengentikan langkahnya, begitu pun dengan Arsa. aisy menghembuskan napas dengan mata terpejam
"Mau kamu apa?"
Arsa mengerutkan keningnya, detik berikutnya menerbitkan senyum. Mencondongkan tubuhnya untuk melihat wajah Aisy
Perlu kalian ingat, tinggi badan Aisy hanya sebatas dada Arsa. Membuat Arsa sulit menatap wajah nya apalagi Aisy selalu menunduk
"Mau kamu" jawab Arsa semakin mengembangkan senyum nya, lantaran ia sedang mengamati wajah Aisy yang sedang terpejam
Alis tebal, bibir kecil ranum, hidung kecil tetapi tidak pesek, namun terkesan imut, bulu mata lentik dan lebat
Aisy membuka matanya, alangkah terkejutnya saat melihat Arsa sedang mentap nya dengan tersenyum. Aisy masih membulatkan matanya lantaran masih terkejut
Sedikit tambahan warna matanya hitam legam, seperti memakai softlens.
Setelah lima detik dengan terkejutnya, Aisy membuang muka. Arsa masih tersenyum manis memandang wajah Aisy
Aisy merasa risih kemudian angkat bicara "jangan pandang saya,Arsa. Kamu gak berhak!!"
Arsa mengangguk ngangguk, menegakkan kembali badanya masih dengan senyum tak lepas dari bibirnya. Sungguh Arsa sangat senang sekarang
Memasukan satu tanganya ke saku, sementara satu tangan lagi memegang buku yang ia pinjam dari perpustakaan
"Caranya??"
"Maksud kamu??"
"Gimana supaya gue berhak??"
...***********...
Di sebuah kamar bernuansakan abu abu berpadu putih, seorang Laki laki menatap dirinya di pantulan cermin, tanganya membenarkan dasi nya yang miring. Setelah merasa rapih, ia memakai jaket kulit kesayangannya dan mengambil tas, dari tadi wajahnya terlihat ceria dengan memamerkan senyum nya di depan cermin
Menuruni tangga dengan bersiul, menikmati pagi ini dengan riang
Sampai membuat sang mamah dan papah melihatnya dengan bingung sekaligus senang, orang tua mana yang ka senang bila melihat anak nya senang
"Pagi pah, mah" sapa nya mencium kening Asri kemudian duduk di sebelah kiri papah nya berhadapan dengan mamah nya yang duduk di sebelah kiri papah nya
"Pagi"sahut Azra sang papah mengelus kepala putranya
"Pagi anak mamah" sahut Asri sambil mengolesi roti degan selai
"ada apa nih hm, keliatan seneng banget" tanya Azri
"Punya pacar ya...." Tambah asri meledek
"Engga dong, emang keliatan banget ya"
Papah dan bunda mengangguk
"Masa sih" lagi lagi papah dan Bundanya mengangguk
"Benerkan punya pacar" tuduh asri lagi
"Engga mah"
"Terus apa?"
"Ya gak papa, ya gak pah?"
"Ya in aja supaya kelar" sementara asri memajukan bibirnya
#####
Arsa masuk kedalam kelas bersamaan dengan Aisy, gadis itu berhenti berjalan menunggu nya masuk. Arsa berdiam diri menyenderkan punggungnya ke pilar pintu, menatap Aisy dengan tersenyum kecil
"Kenapa gak masuk??" Aisy menggeleng
"Lo gak liat? Jalan masih lebar, buat badan Lo yang kecil Kurang besar apa coba"
"Duluan aja" balas Aisy menyenderkan tubuhnya di tembok
"Lo kenapa sih?"
Aisy melirik Arsa, tepatnya hanya badan nya saja. Karna pendek dan tak mau menatap yang bukan mahram
Terdengar helaan napas panjang, berhadapan dengan Arsa Aisy harus beberapa kali menghembuskan dan menghela napas. Menandakan ia sedang mengontrol emosi nya
"Kamu yang kenapa?" Aisy balik bertanya
"Gue engga kenapa-napa, sehat wal apiat" jawab Arsa
"Makasih khawatir in gue"lanjutnya membuat Aisy mengerikan kening, siapa juga yang mengkhawatirkan dia
"Pede sekali"gumam Aisy
"Kenapa masih di situ??" Tanya Aisy mengalihkan pembicaraan, ia malas untuk menjawab pasti gak kelar kelar
"Mau aja" tuh kan laki laki yang satu ini emang bikin kesel orang nya, Aisy beristighfar
"Kenapa Lo masih di situ, kan jalan masih lebar" Arsa mengulang pertanyaan lagi
"yaudah saya juga mau aja, masalah jalan biarkan saja" jawab Aisy mengikuti jawaban Arsa
Arsa berdecak, mengangkat sudut bibirnya " yaudah gue masuk, setelah itu baru Lo"