
Makan malam telah siap di meja makan di kediaman Aditya. Semua orang telah berkumpul yakni teman teman Arsa, kecuali anak pemilik rumah masih belum terlihat batang hidungnya
"Win? Arsa mana?" Tanya Asri
"Di kamar Tan, katanya bentar lagi kesini" jawab Arwin di angguki oleh Arya dan arga
Asri ber oh ria di iringin dengan anggukan kepala
Lima menit telah berlalu, yang di tunggu belum juga menampakkan diri membuat Asri berdecak kesal sedari tadi
Sementara ke empat pria itu asik mengobrol sambil menunggu Arsa
Azri menatap wajah sang istri yang terlihat kesal menatap tangga Langsung bertanya "mah, kenapa?"
Asri menoleh "tuh anak nya gak turun turun" jawab nya dengan nada ketus
Azri menghela napas dan tersenyum "mungkin bentar lagi"
"win, coba kamu panggil Arsa" titah asri sudah merasa kesal
"Iya Tan" jawab Arwin berdiri dari duduk nya
"Win udah gak usah, tuh orang nya udah di tangga" cegah Azri
Arwin mengangguk duduk kembali
"Kok belum pada makan?" Kata Arsa menatap makanan yang masih utuh
"Nunggu kamu!" Seru Asri masih nada kesal "cepet duduk!"perintah nya
Arsa mengangguk mengambil duduk. makan malam bersama dengan tentram hanya suara detingan sendok dan garpu saat menyentuh piring
*
*
*
"Lo di mana sekarang?" Kata Arsa melirik ke kanan dan kiri jalan yang terlihat sepi
"Saya di belakang pohon mangga"jawab orang di sebrang telpon
Pandangan Arsa langsung tertuju pada dua pohon mangga di pinggir jalan sebelah kanan dan kiri
"Kiri kanan?"
"Kiri"
"Oke gue kesana"
"Ya, jangan sampai ketahuan orang"
"Iya bawel"
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Setelah itu pria itu berjalan menuju pohon mangga sambil memasukan ponselnya ke saku
"Lo ngapain pake masker dan kaca mata segala?"
"Nih jaket nya, makasih" gadis itu memberikan Jaket kulit milik Arsa
Pria itu mengambil nya " Syah lo sendiri aja kesini nya"
Gadis itu mengangguk melihat sekeliling sambil membenarkan kaca mata hitam nya
"Gue antar"
Aisy langsung menggeleng cepat, dia tak mau kejadian kemarin terulang lagi. Sudah cukup kemarin saja, berdekatan dengan pemuda ini membuat ia melanggar batasan yang di buatnya
"Gak usah makasih, saya udah pesan taksi"tolak nya cepat dengan nada agak takut
"Tenang Syah gue juga bawa mobil kok, jadi kalo hujan gak akan basah kaya kemarin"
Gadis itu menggelang kembali dan mengambil jarak aman. Tak lama kemudian datang taksi yang di pesan Aisy, membuat gadis itu bernapas lega dan segera masuk kedalam mobil tanpa melihat Arsa yang memasang wajah kecewa.
#####
"sel lama amat Lo, abis kemana Lo?"
"tuh"Arsa melempar pelastik berisikan martabak ke Arya. gara gara kalah permainan ia jadi harus membelinya, tak di sangka Aisy menelpon nya dan memberitahu akan memberikan jaket malam ini. yang otomatis membuat senang bukan kepalang, tapi seketika hanyut kala Aisy menolak ajakan nya
"Weh jangan marah dong, kan udah pelarutan permainan" Arya menangkap pelastik tersebut
Arga memerhatikan Arsa sedari tadi terlihat aneh, ia yakin pasti ada sesuatu saat pria itu membeli martabak. seakan baru menyadari ada nya jaket hitam di tangan Arsa, Arga yakin pasti Arsa tadi sempat menemui Aisy. pemuda itu menghela napas
Arsa baru menyertakan kejadian kemarin malam hanya pada dirinya, sementara dua temannya yang lain belum ia kasih tau. kata Arsa ia malas bercerita dua kali dan mungkin juga kedua sahabatnya itu melupakan nya
"kenapa Lo merhatiin Arsa kaya gitu?"tanya Arwin
Arga tersadar dan tersenyum "lucu aja muka Arsa kalo lagi marah, rasanya ingin membogem muka tampanya itu"
Arwin mengangguk dan kembali memainkan game, malam ini semua nya berniat untuk menginap
Arsa merebahkan tubuhnya di kasur menatap langit-langit kamar nya dengan pikiran melayang kejadian yang baru terjadi. entak kenapa hatinya sakit dengan penolakan Aisy, Arsa bertekad untuk lebih dekat dengan Aisy bagaimana pun caranya.
sedangkan Arya sibuk sendiri memakan martabak dengan lahap di sisi ranjang, ia sengaja bersembunyi supaya temanya tak meminta martabak nya
Arga mencari keberadaan Arya, si kutukupret Arya tak terlihat di mana mana. ia ingin meminta martabak nya, wangi martabak merebak di kamar itu tapi aneh nya makanan tersebut tak di temukan
Arga yakin Arya bersembunyi dan memakainya sendiri, pemuda itu berdiri mencari keberadaan Arsa. perutnya tiba tiba lapar saat mencium bau martabak
"woy bagi Napa!" kata nya saat menemukan Arya yang lahap memakan martabak
sontak Arya lengsung memeluk bungkus martabak itu, tak mau memberikanya pada Arga. dengan mulut penuh Arya menggelang
Arga langsung mengambil martabak yang tersisa dan masukan pada mulutnya hingga penuh "pelit amat lu" kata Arga dengan mulut penuh
Arya menelan kasar martabak di mulutnya "Arga sialan itu martabak terakhir gue!" pekik Arya
Arwin dan Arsa mendengar pekikan Arya memutar bola matanya jengah
"mulai" gumam keduanya malas