ARsaka

ARsaka
meminta nomor Aisy



Setelah selesai sarapan ARsaka sudah ada di depan gerbang rumah nya dengan motor kesayangannya berniat berangkat sekolah pagi, karna sedikit ada urusan.


" Pagi den Arsa, tumben udah tampil"sapa pak Tono Supir sekaligus satpam di rumah nya,saat membuka gerbang


"Juga, ada sedikit urusan pak" sahut Arsa tersenyum di balik helm


Arsa melirik jam tanganya menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, masih terlalu pagi bila masuk sekolah


"Hati hati den" peringat pak Tono


Arsa mengangguk paham, kemudian menjalankan motornya keluar dari gerbang.


*******


ARsaka masuk kedalam kelas yang masih sepi, membuang tasnya asal ke tempat duduk nya


Tak berniat duduk di sana, Arsa keluar dari kelas menuju perpustakaan. Mengeluarkan ponsel nya, berniat mengirim pesan pada seseorang


Oh ia lupa bahwa dia tak mempunyai nomor orang itu, akhirnya memasukkan kembali kedalam saku


Berjalan di koridor yang masih sepi, hanya ada beberapa Siswa yang berlalu lalang.


Menghela napas panjang, saat melihat pintu perpustakaan masih tertutup rapat


Mengeluarkan ponsel nya dalam sakunya, menyender di koridor. Mencari nomor yang akan dia telpon, jatuh pada nama sahabatnya bernama Arga


"Ada apa sa??" Tanya Arga setelah sambungan telepon tersambung


"Lo di mana sekarang?" Arsa berbalik tanya, tak berniat menjawab pertanyaan Arga


"Di rumah, kenapa?" Tentu Arga masih penasaran, pasal nya Arsa tak pernah telpon sepagi ini


Arsa tak langsung menjawab, berpikir sebentar dan merubah posisinya dari menyender Mulai berjalan menyusuri koridor


"Gue butuh nomor seseorang" akhirnya Arsa memberanikan diri, jujur ia gugup dan malu menayakan ini. Biasanya ia tak segugup ini bila ingin nomor gadis gadis lainya


"Siapa?" Arga agak penasaran


Arsa berdehem menghilangkan kegugupan nya "A-aisy"


Arga di sebrang sana menarik sudut bibirnya, merasa lucu "cari aja di grup kelas, pasti ada" saran Arga


"Iya yah, kok gue gak kepikiran ke situ ya"


"Mana gue tau. Nanti jemput gue ya, motor gue di bengkel"


"Gak bisa, yang lain aja"


"Kenapa?"


"Udah di sekolah"


"Widih jam segini udah di sana. Emang beda ya orang pinter mah" ledek Arga agak kaget


"Gue tutup"


Arsa mematikan ponselnya dan memasukan nya kembali kedalam saku.


Melihat sekeliling koridor yang sepi dengan helaan napas, tak ada pilihan lain selain pergi dari sana dan menunggu


Duduk di bangku di depan perpustakaan, mengambil kembali ponselnya dan mencari nomor Aisy di grup kelas


Ternyata semuanya sudah ia save, ingat bukan Arsa yang mau, melainkan mereka yang meminta. kecuali dua nomor yang masih belum tertara nama nya, mungkin salah satunya Aisy


Arsa yakin kontak Aisy yang tak memaki Poto profil, iya yakin itu, sementara nomor yang satunya pasti punya teman sebangku nya yang tak lain Rara, terlihat dari Poto profil nya.


Arsa menamai kontak Aisy terlebih dahulu, dia menarik sudut bibirnya kala menamai kontak Aisy di ponselnya


Kemudian mengirim pesan pada Aisy dengan beberapa kali di hapus lantaran gugup dan tak tau hendak apa


P


Save back Arsaka


******


Notifikasi ponsel membuat lamunan Aisy buyar. Mengambil ponselnya di tas, di pangkuannya


Belakangan ini Aisy memilih naik angkutan umum, tak mau membuat ayahnya repot harus balik arah untuk ke kantor tempat bekerja nya.


Aisy mengerutkan keningnya, melihat pesan dari Arsa. Anak itu mengirim pesan hanya ingin di save kembali dan tak mengucapkan salam melaikan p. Dasar anak jaman sekarang. Kelakuan yang tak boleh di tiru. Harusnya saling mendoakan dengan mengucapkan salam, malah mengganti dengan huruf P


Tak berniat membalas, Aisy memasukan kembali ponselnya ke dalam tas


Sementara di tempat lain seorang pria menghembuskan berat nya, menatap nanar layar ponselnya.


Gadis satu ini emang bener bener beda banget, pesan nya tak di balas sama sekali, cuma di lihat saja, terlihat dari centang biru dengan ceklis biru.


Dengan memberanikan diri Arsa, menelpon gadis yang berkali-kali menjauhi dirinya


"Halo assalamualaikum"


Arsa bergetar mendengar suara itu, ia tak berani bersuara entah kenapa


"Halo assalamualaikum" ucap nya sekali lagi, tetap Arsa masih diam lidah nya terasa Kelu. Dia sampai merutuki dirinya sendiri. Diamana Arsa yang dulu tak kenal takut dan gugup


"Halo ada orang? Siapa ya?"


Tak mendapatkan jawaban, Aisy langsung mematikan sambungan telepon nya. Mungkin saja o salah sambung ia memasukan kembali tasnya ke dalam tas, memilih membaca buku menunggu bis sampai


Arsa sendiri langsung menendang tembok dengan sambil mengeram kesal. Bisa bisanya dia diam saja, harusnya menjawab bukan diam membisu karena gugup. Apa apaan?


"Siaal, bangsat! Dimana Arsa yang dulu!? Payah Lo" makinya pada diri sendiri, menjambak rambut nya kasar


"Sial, sial sialan!!"


"Lo kenapa?"tanya seseorang di belakang Arsa


Arsa menoleh kearah suara. Kemudian menghela napas berat menatap Arya malas lalu duduk


"Lo kenapa?" Tanya Arya kembali karna belum mendapatkan jawaban dan ikut duduk di sebelah Arsa


Arsa menggeleng, nadanya menyender pada tembok "Lo gak kesurupan kan?"


Arsa langsung menoleh menatap Arya dengan tajam "emang nya gue apa? kesurupan, kesurupan macam tai" ucap Arsa ngegas dan melenggang pergi